Wanita Mandiri (?)

Standard

Suatu waktu, my dear mom tiba-tiba memberikanku sebuah nasihat. “Dek, sekali-kali jadilah seorang wanita yang wanita.”

Saat itu, aku jadi bengong en bingung. “Maksudnya gimana, Mak?” tanyaku.

“Adek terlalu mandiri dan apa-apa dikerjain sendiri. Itu bikin laki-laki pada takut en merasa minder”, jelas mak-ku.

Akupun terdiam cukup lama. Hm… Benarkah begitu? Saat itu aku sempat berpikir itu cuma kekhawatiran ibuku saja yang agak berlebihan, mengingat putri bungsunya yang satu ini belum juga menggenapkan separuh dien-nya di umur yang udah cukup “matang” (#atau tua ya ^^”, gak berasa dah 26 tahun).

Terlepas dari jodoh itu memang sudah ditentukan Allah (termasuk waktunya), namun sebagai bentuk ikhtiar untuk terus memperbaiki diri dan tidak berlebihan dalam segala sesuatunya (#menjadi terlalu mandiri), maka aku coba telaah lagi kejadian-kejadian yang kualami selama ini.

We_Can_Do_It_-5464

Kalau dipikir-pikir, ada beberapa kasus yang menyimpulkan bahwa aku memang “menyeramkan”. Salah satu contohnya, aku sering menolak untuk dibantu untuk membawakan barang or angkut-angkut sesuatu pas ada kegiatan organisasi or lainnya. Simply, karena aku memang merasa kuat dan bisa membawanya. Dalam beberapa kejadian, kayaknya aku pernah juga dengan sangat keras kepalanya gak mau dibantu walaupun aku sendiri kepayahan (ckckck, parah juga ternyata gw).

Evenmore, sore ini aku mendapat cerita tak terduga dari kawan akrabku. Bahwasanya ia juga pernah mendengar seseorang memberi “testimoni” tentang diriku, yang nadanya itu kurang lebih sama dengan ibuku. Yang membuatku agak shock, testimoni itu datangnya dari kawan lain (dia laki-laki). Penyebabnya simple, ketika itu si temanku tersebut pernah menawarkan bantuannya untuk membawakan barang untukku, namun kutolak (kayaknya dengan gayaku yang memang sok cuek ^^”).

Pemikiranku, karena memang sudah terbiasa untuk angkat-angkat barang sendiri even itu galon air sekalipun :D, en apa-apa ngerjain sendiri, maka ketika ada tawaran itu, aku merasa tidak membutuhkannya. Is that too much? Terlebih, background dan pengalamanku selama ini memang melatihku untuk menjadi seorang wanita “perkasa” dan mandiri. In some cases, ada juga yang menyebutku sangat “jantan”. hahaha…. -___-“. Ini smua mungkin secara ndak sadar membuatku jadi berlebihan.

Here, I’m not trying to blaming the others ataupun membuat suatu excuse untuk diriku sendiri. Namun pada intinya, dari kejadian ini cukup membuatku tersadar bahwa kayaknya daku memang perlu evaluasi diri. Benarkah daku ternyata punya masalah yang sebenarnya  sudah agak akut? Sementara selama ini aku pribadi gak pernah merasa itu menjadi masalah (atau akunya yang memang gak sadar itu MEMANG masalah ya?)

Tapi, sungguh aku gak sadar kalau itu bisa menjatuhkan harga diri para kawanku yang laki-laki. Kodratnya bukan begitu. Benarkah? Anyone can help me to answer it?

Di kasus paling ekstrim, bisa saja ada orang yang beranggapan “terlalu mandiri” untuk ukuran seorang wanita tu memang gak boleh dan jadi menyeramkan. Too high! MaasyaAllah… Sedihnya hatiku. Benarkah?

Jika memang benar, sungguh aku harus banyak-banyak beristighfar kalau sikap “normalku” itu bisa menyakiti harga diri seseorang, terlebih laki-laki. Banyak orang yang bilang kalau laki-laki itu inginnya dihargai. Jadi ketika ada yang menawarkan bantuan untuk angkut-angkut barang, ya diterima aja walaupun kita-kita kaum hawa bisa membawanya. Itung-itung turut memberi kontribusi dalam penyebaran dan pemerataan perbuatan baik.

Karenanya, skarang ini aku mau berpikir ulang dan mengevaluasi diri lagi jikalau kebiasaanku ini memang menjadi masalah yang harus segera ditangani. So, untuk para kawanku semua, mohon maafkan yang sebesar-besarnya atas sikap yang berlebihan ini. Sungguh, itu ndak ada sama sekali maksud untuk merendahkan atau menjatuhkan. Na’udzubilah….

Jaa, let me try to re-evaluate myself and solve this “problem”, and be a more “wanita” :). Terima kasih banyak makku sayang, sudah mengingatkan :”)

About these ads

6 thoughts on “Wanita Mandiri (?)

  1. dian saraswati

    Hahaha mbakyu.. yang dsebutkan mmg adanya begitu.. dirimu mmg tlalu perkasa.. :D
    Ga sabat ngu mba chiku yang sedikit ‘lemah’ .. hahaha

  2. Burniadi

    He he … The classical problem of all independent women.

    Kalau kata orang jawa, kuncinya adalah menunjukkan bahwa, you are capable of “3 ng” :

    1. NGLADENI. mampu berempati dan melayani.

    2. NGALEM. mampu memberi ruang bagi pria untuk menunjukkan maskulinitasnya.ini faktor penentu pencitraan dan elektabilitas kalau pakai bahasa pilkada. kayanya banyak wanita yg salah mengartikan ini dg “menghargai”.

    3. NGLEMBAH MANAH. mampu menyelesaikan konflik dg “cara wanita”, dg hati, dg perasaan, bukan dg negosiasi maupun konfrontasi. Yang satu ini, saya baru tahu setelah menikah.

    wallahu a’lam …

  3. bagiku pandangan tentang wanita mandiri itu a/ sikap yang mulia, mbak. Salut buat kemandiriannya.. Apalagi sungkan untuk meminta bantuan orang lain karena merasa diri sendiri mampu menyelesaikannya. Mungkin cara penyampaian yang baik agar orang lain tidak tersinggung.
    Orang yang berjiwa besar adalah orang yang mau menerima masukan.
    Semoga menjadi pribadi yang lebih baik, mbak.. khususnya baik di mata Alloh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s