My Life Chapter Wonosobo (1998-2001)

Wonosobo merupakan kota kecil yang terletak di Propinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara (sebelah Barat) dan Kabupaten Temanggung (sebelah Timur). Waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan dari Jogjakarta menuju Wonosobo adalah sekitar 3 jam (menggunakan mobil pribadi) atau 4 jam (menggunakan kendaraan umum).

Jalan yang berkelok-kelok, khas daerah dataran tinggi, mulai ditemui ketika perjalanan sampai di daerah Parakan, Temanggung. Jalan menanjak dan menikung, ditemani dengan tebing curam dan jurang di kanan kiri membuat perjalanan menjadi mendebarkan. Namun, keseraman ini terbayarkan dengan pemandangan alamnya sungguh indah. Hawa yang sangat sejuk terasa dikarenakan Wonosobo berada di daerah pegunungan, dikelilingi oleh sosok anggun dua gunung ; Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Selama tiga tahun tinggal di kota ASRI ini (ASRI = motto kota Wonosobo, kependekan dari Aman Sehat Rapi Indah), banyak kenangan tentang perjuangan dalam menjalani hidup. Kenapa perjuangan? Dibandingkan kota-kota lain yang pernah aku singgahi, Wonosobo merupakan kota yang melatihku untuk harus cepat beradaptasi, baik dari segi kultur maupun fisik.

Sebagai perantau di daerah yang sama sekali berbeda, tentulah Bahasa menjadi kendala paling utama ketika masa-masa awal di sana. Dan itulah yang ku alami sebagai perantau asal Sumatra yang menetap di pulau Jawa. Bahasa Jawa dengan berbagai tingkatan penggunaannya (ngoko dan kromo) kerap membuat pusing, bahkan hingga sekarang. Ketika memasuki dunia baru tersebut, tentulah aku harus berjuang keras untuk memahami bahasa Jawa.

Ada kenangan manis dan pahit ketika itu ^^. Saat pertama kali ikut pelajaran bahasa jawa di kelas (SMP), aku merasa tertekan luar biasa. Cara pelafalan bahasa Jawa yang serba membuatku canggung. Tak jarang aku ditertawakan oleh teman-teman karena berlogat aneh dan tak jarang pula aku dipermainkan dengan tebak-tebakan bahasa Jawa yang rada nyleneh. Nah, yang paling berkesan adalah ketika ulangan harian bahasa Jawa. Saking ndak pahamnya, aku menangis. Bagaimana bisa menjawab, wong pertanyaannya aja aku ndak ngerti!!

Selain itu, dalam tahun-tahun pertama beradaptasi dengan kultur jawa, aku sering mengalami mis-komunikasi. Dalam daily conversation, aku sangat mengandalkan dua kata sakti yaitu nggih dan mboten diiringi dengan senyuman ^^. Apapun yang dikatakan atau ditanyakan orang padaku, kujawab dengan salah satu kata sakti tersebut aja. Cukup mengkhawatirkan juga sebenarnya ^^. Namun, alhamdulillah, justru dari situlah aku merasa bersemangat untuk mempelajari bahasa baru ini. Hampir setiap hari aku berlatih hanacaraka dan privat basa Jawa dengan budhe.

Finally, usaha ini membuahkan hasil. Bukan bermaksud sombong, tapi aku cukup bangga bisa mendapatkan nilai rapor 9 pada pelajaran bahasa Jawa kelas 3 SMP cawu III ^o^/. Ini merupakan peningkatan yang luar biasa apabila dibandingan dengan nilai rapor kelas 1 cawu 1 yang merah (bayangkan, dapat nilai 5 !) Ternyata memang benar, jika manusia dalam keadaan terjepit, ia bisa mengeluarkan kemampuan survive-nya yang luar biasa besar.

Setelah dipikir-pikir, mungkin latar belakang pengalaman inilah yang membuatku sangat suka mempelajari berbagai bahasa, terutama bahasa yang memiliki karakter huruf yang aneh-aneh (simbol-simbol, termasuk bahasa Jawa dengan hanacaraka-nya), sehingga aku sangat bersyukur bahwa pengalaman ini justru memberikan hikmah dan membuatku bisa belajar untuk tetap struggle dalam menghadapi situasi atau lingkungan baru yang bagaimanapun.

Wonosobo juga melatihku untuk hidup dengan disiplin waktu yang tinggi. Rumah tempat tinggal nenekku yang berada cukup jauh dari akses jalan utama (tepatnya di kaki gunung Sindoro), membuatku dan orang-orang yang berada di desa aku harus berkejaran dengan terbitnya matahari pagi.

Perjuangan baru dimulai. Hampir setiap hari aku harus bangun dini hari untuk bersiap-siap ke sekolah. Apalagi, aku harus bertempur dengan dinginnya air ketika mandi. Kadang aku menggambarkan dinginnya air dengan perkataan ini, siapa sih orang yang kurang kerjaan nuangin air es ke bak mandi? haha…^^ Sembari menahan dinginnya pagi, aku memulai ritual jalan pagi menuju jalan utama yang berjarak sekitar 3 km dari desa. Mungkin, dikarenakan oleh kontur jalan yang menurun dan perasaan tergesa-gesa, hal ini membuat cara berjalanku cukup berada di atas rata-rata orang biasa. Sangat cepat! Begitu kata teman-teman yang sering jalan bareng denganku, bahkan tak jarang mereka sering menarik-narik tanganku untuk mengerem laju kecepatan berjalan.

Tak ada pilihan, aku memang harus selalu berjalan cepat-cepat pada masa itu. Dan terkadang sampai sekarang, secara tak sadar kebiasaan itu masih berlaku. Alasan pada saat itu, terlambat sedikit saja mencapai jalan utama, aku bisa terlambat masuk sekolah karena angkot maupun bus akan penuh sesak dengan penumpang, yang berarti aku tak memiliki peluang untuk menaikinya, kecuali aku harus berani mengambil resiko baru bisa naik angkot di atas pukul 07.00. So, strategi yang harus diterapkan adalah harus sampai di jalan besar paling lambat pukul 06.00!

Apabila lebih dari batas waktu itu, tamatlah riwayatku. Pasti akan terlambat ke sekolah. Mengapa demikian? perjuangan menuju sekolah tak selesai dengan naik angkot/bus, karena aku masih harus berjalan lagi dari terminal pasar menuju SMP yang berjarak kira-kira 500 meter. Maka jangan heran apabila sering melihatku berlari-lari mengejar waktu.

Aku dan orang-orang desa akan merasa sangat beruntung apabila dapat tumpangan untuk turun gunung, istilah untuk menuju jalan besar. Terkadang, ada mobil pengangkut sayur yang berbaik hati untuk memberi tumpangan pada kami. Bahkan, mobil pengangkut kambing pun menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan. Walau harus bercampur dengan bau plengus kambing, tapi sangat lumayan membantu mempersingkat waktu perjalanan turun gunung.

Apabila dihitung dengan skala angka antara 1-8, berangkat sekolah memiliki tingkat kesulitan level 6 dan pulang sekolah level 8!! Perjuangan masih harus dilakukan ketika aku pulang sekolah. Untuk berangkat ke sekolah, jalan yang dilalui cukup enak karena kontur menurun. Sebaliknya, pulang sekolah berarti jalan menanjak!!! Biasanya sih ada mobil angkutan menuju desa-desa yang berada di kaki gunung. Tapi ini berarti harus menunggu lama. Kalau beruntung, minimal dalam waktu 15 menit mobil sudah bisa berangkat. Tapi kalau lagi apes, harus menunggu 1 jam lebih. Kalau ndak ada pilihan lain, mau tak mau harus berjalan kaki mendaki gunung!! Bayangkan, berjalan kaki 3 km dengan kontur menanjak!

Tak ayal lagi, betis-betis kaki akan terolah dengan sedemikian rupa sehingga menjadi kokoh tak terkira (betis kokoh = ameliorasi dari kata betis gedhe ^^!). Sebenarnya, kami bisa saja menyewa jasa tukang ojek. Tapi itu akan sangat menguras kantong, karena perbandingan biayanya ; jalan kaki = gratis, naik angkot = Rp 500, dan naik ojek = Rp 2.000. Pada waktu itu, nilai rupiah masih cukup kuat sehingga angka rupiah itu begitu berharga. Sebagai makhluk ekonomi, tentu saja akan kita berpikir untuk “mendapatkan hasil semaksimal mungkin, dengan biaya seminim mungkin”.

Dari pengalaman-pengalaman itu, lagi, pasti ada hikmahnya. Aku merasa bersyukur karena dengan olah kaki ini, selain membuat tubuh sehat, aku juga bisa belajar untuk menghargai waktu dan uang. Kedisiplinan dalam waktu kerap membuatku cukup ontime dalam banyak hal. Sebagai contoh, sewaktu SMA, aku sudah berada di sekolah pada pukul 05.50 pagi ketika gerbang sekolah baru akan dibuka. Aku sering berlomba-lomba siapa yang lebih pagi dengan pak penjaga sekolah. Kalau dipikir-pikir, kekhawatiran dan kedisplinanku akan waktu cukup berlebihan juga ya?? Haha… Karena jarak antara kos dengan SMA hanya sekitar 200 meter, sehingga dering bel sekolah pun bisa terdengar dari kos.

Begitu juga pada waktu kuliah. Rekor terpagi aku tiba di kampus adalah pukul 06.00, padahal kegiatan perkuliahan baru akan dimulai pukul 07.30 ^___^! Maklum, masih anak baru yang lugu. Tapi tak apa, asyik juga menikmati suasana sekolah dan kampus yang masih lowong, belum banyak suara-suara riuh teman-teman 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s