"Sebuah Paradoks" on Me

Paradoks

Kata ini pertama kali kudengar dari seorang Profesor dalam sebuah perbincangan ringan mengenai image universitasku, saat aku masih menjadi undergraduate student. Pada saat itu aku hanya manggut-manggut saja, walo sebenarnya aku tak terlalu paham arti kata tersebut. Jujur saja, agak segan dan malu untuk menanyakan maksud kata itu pada beliau. Egoku saat itu berkata, "gengsi donk! Mahasiswa gak ngerti arti paradoks". Memang, perbendaharan kosakataku, terutama yang terkait dengan istilah-istilah "tinggi", sangat terbatas. hehe….

Paradoks

Kali kedua aku bertemu dengan kata ini, kutemui saat aku membaca buku Tetralogi Laskar Pelangi. Akhirnya aku pahami arti dan maksud kata "paradoks" karena Andrea Hirata dengan apik memberikan analogi dan penjelasan yang gamblang mengenai makna paradoks.

Paradoks

Bisa berarti adanya suatu kontradiksi dalam sebuah hal. Sesuai judul tulisan ini, maka "sebuah hal" tersebut refers to myself. Paradoks itu berupa kontradiksi antara perawakan fisikku yang "bermutu" (kata ibu, bermutu = bermuka tua ^^") versus umurku yang masih tergolong muda (untuk angkatanku, 2004, aku termasuk orang yang termuda, secara umurku sekarang masih 21 tahun). Pada awalnya aku tak terlalu terganggu dengan paradoks ini. Namun, akhir-akhir ini, terasa cukup membuatku tak nyaman.

Karena perawakanku yang "semampai besar" (ameliorasi dari bongsor), hampir setiap orang yang menyapaku, baik itu ibu-ibu, bapak-bapak, mbak-mbak, mas-mas yang aku temui di berbagai tempat, selalu memanggil "IBU". Aku coba berpositive thingking bahwa panggilan "IBU" lebih sopan dan memang lazim dipakai. Tapi gimana ya, susah juga..

Belum lagi, ada juga orang-orang yang bertanya padaku, "Putranya sudah berapa?". Pertanyaan ini semakin mendukung asumsi bahwa "aku memang sangat terlihat ke-ibu-ibu-an". Hehe…sebenernya ndak masalah sih, toh suatu saat nanti aku akan menjadi seorang ibu juga (Aamiin ^^)

Nah, di sisi lain umurku tak seperti "yang terlihat". Orang-orang yang baru mengenalku, biasanya menebak bahwa aku (minimal) angkatan 2003. Ada juga yang mengira angkatan 99. Tapi, ketika aku beritahu jawaban mengenai umur/angkatanku yang sebenarnya, PASTI, mereka terkaget-kaget. Kata PASTI di sini berarti 100% orang yang kutemui tidak menyangka! "I’m proudly to say that I’m a 2004 student, and I still 21 years old".

Kalau mereka masih gak percaya, terpaksa kutunjukkan kartu sakti mandraguna "KTP ato SIM", yang memampang angka kelahiranku 14-01-1987. Sebenernya, angka 21 tahun bukan jaminan bahwa status masih single. Tapi gimana ya, I just wanna tell them that "Saya belum jadi ibu-ibu, tapi I will". hehe…Itu saja.

Aku memang tak mau dikatakan "ibu-ibu" (maksudnya, a bit elder), tapi juga tak mau disepelekan karena umurku yang "masih 21". Pernah, pada suatu ketika saat wawancara, seorang interviewer mengatakan, "Anda masih terlalu muda. Kami membutuhkan orang yang lebih berpengalaman". Kata berpengalaman kuartikan sebagai "harus lebih tua". Jujur, aku sempat nggonduk pas mendengarnya, walaupun aku tahu bahwa sebenarnya beliau tak bermaksud begitu.

Tapi aku jadi teringat dengan iklan sebuah produk, yang intinya di zaman sekarang, masih saja banyak orang yang memandang sebelah mata kepada orang-orang muda. Tak selalu yang muda itu tak berpengalaman.

Tapi, rezeki, jodoh dan umur sudah ditentukan NYA sebelum kita lahir. Maka, janganlah pernah berputus asa, karena kalau memang rezeki dan jodoh, tak akan kemana. Mau tua ato muda, yang penting Usaha dan Ikhtiarnya!

TETEP SEMANGAT en IKHTIAR aja deh :)!

Ganbatte Kudasai! JIA You….

Aja-aja Fighting ^^!!

Advertisements

4 thoughts on “"Sebuah Paradoks" on Me

  1. Aku tahu rasa itu Chiku…
    meski kadang, aku kebalikannya….
    orang menyangka aku lebih muda dari usiaku karena polahku yang pencilatan kayak kutu loncat dikejar pake sapu…
    tapi,pas mereka tahu usiaku sebenarnya, mereka terkaget2….dan kasih muka,"kok ada ya, anak model kayak gini"

    terserah, aku mau dianggap dewasa atau belum..
    toh,nggak ada gunanya juga aku berkoar2,"eh, aku udah kepala dua lho, udah dewasa"
    konsistensi (istilah apalagi ini??!!) kita sehari2 yang akan menunjukkan kredibilitas dan eksistensi kita…

  2. bagus….. tadi aku chat ma teman di ym dan dia mengatakan sebuah istilah PARADOKS, karena kau tidak paham maka aku cari tahu di "Kakek Google" dan dia menyarankan untuk merujuk pada tulisanmu, sekarang jadi sedikit lebih paham, apalagi temenku jg akhirnya menjelaskan makna PARADOKS jdiny tambah lebih paham…. makasih

  3. ardyt said: bagus….. tadi aku chat ma teman di ym dan dia mengatakan sebuah istilah PARADOKS, karena kau tidak paham maka aku cari tahu di "Kakek Google" dan dia menyarankan untuk merujuk pada tulisanmu, sekarang jadi sedikit lebih paham, apalagi temenku jg akhirnya menjelaskan makna PARADOKS jdiny tambah lebih paham…. makasih

    yup, adakalanya paradoks menjadi pilihan yang paling nyaman, namun jg menjadi pilihan yang menyakitkan, sering kali hanya terjebak dg satu kenyataan yang menuntut kita menangis padahal kita sedang ingin tertawa, atau sebaliknya,,,begitu kah?

  4. ardyt said: bagus….. tadi aku chat ma teman di ym dan dia mengatakan sebuah istilah PARADOKS, karena kau tidak paham maka aku cari tahu di "Kakek Google" dan dia menyarankan untuk merujuk pada tulisanmu, sekarang jadi sedikit lebih paham, apalagi temenku jg akhirnya menjelaskan makna PARADOKS jdiny tambah lebih paham…. makasih

    terkadang emang ironis jg ketika kita merasakan paradoks tetapi semua pasti ada hikmahnya…so pede aja lg….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s