Eh, halal gak ya?

Started with a question…"Which one you’ll choose??"

Ada tiga pilihan tempat makan di kantin kampus kita, dengan menu yang sama, namun berbeda dalam rasa, harga dan besarnya porsi. Tempat pertama, rasa masakannya enak, tapi mahal dan porsinya sedikit. Tempat kedua rasa masakannya standar tapi banyak, dan tempat yang ketiga rasa masakannya enak, harga murah dan porsinya besar…..Pilih mana?

Secara naluriah, manusia sebagai makhluk ekonomi, pasti memilih pilihan yang ketiga. Apalagi kalau yang menjawab adalah anak kos… (betul gak??Jujur ajah….^^). Sudah enak, murah, banyak lagi!!

Namun, tidak demikian jawaban seorang Pak Dosen dari FEB UGM (aku lupa namanya. Maaph). Walo lupa nama beliau, tapi jawaban beliau masih terngiang dan teringat di benakku hingga saat ini (dan semoga sampai akhir hayat. Aamiin). Beliau berkata, "Pasti orang-orang dengan mudahnya akan memilih pilihan ketiga.

Tapi, ada sebuah pertanyaan simple namun sering terlupa. Seharusnya, pertama kali yang harus kita pikirkan dalam memilih makanan or tempat makan adalah HALAL ato tidaknya makanan tersebut. Barulah kemudian kita pikirkan tempat mana yang memiliki lebih banyak keunggulan. Lebih enak, lebih murah or lebih banyak".

Beliau melanjutkan penjelasannya, "Inilah pola pikir orang-orang zaman sekarang yang sangat economically minded bahkan cenderung kapitalis, dan melupakan nilai-nilai moral".

Begitu mendengar jawaban beliau, jujur aku merasa tersentak sekaligus malu. Sebenarnya pertanyaan di atas itu pertama kali dilontarkan oleh beliau kepadaku pada saat wawancara, dan akumenjawab seperti orang kebanyakan; Pilihan nomor 3!

Benar juga, di zaman yang serba semakin mahal dan kapitalis ini, orang-orang lebih menomorsatukan yang paling murah, paling banyak, or paling enak. Tapi, Halal or nggaknya menjadi prioritas kesekian (itupun kalau ingat..)

Maka, aku cukup prihatin sekaligus miris dengan keadaan bangsa kita, yang notabene negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia (gelar yang sering dibangga-banggakan), namun kalah "Islami" dengan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia or Thailand dan Singapura yang bahkan bukan negara mayoritas Muslim.

Pertama-tama, kita lihat dulu dari sisi produsen dan kebijakan pemerintahnya.

Aku cukup kaget sekaligus kagum dengan pemikiran negara-negara tersebut yang berpikiran maju dalam hal pemasaran. Mereka memandang bahwa labelling HALAL product bukanlah suatu nilai keagamaan yang kesannya strict, namun justru mereka berpikir sustainable bahwa label Halal merupakan jaminan mutu bagi kepuasan dan kenyamanan para pembelinya…. Mereka menyadari bahwa sebagian besar customer mereka adalah masyarakat Muslim, dan labelling itu juga tidak merugikan siapapun, termasuk para konsumen yang non-muslim sekalipun.

Lihat saja, produk-produk makanan kemasan bertulisan made-in Malaysia, Singapore ato Thailand. Pasti tertera pula logo lingkaran bertuliskan "Halal" dari Pemerintah (tak sekedar tulisan Arab ; Halal, seperti kebanyakan produk di Indonesia).

Sering aku berpikir, "Apa sih yang menjadi kesulitan dalam menyertakan logo halal di negeri kita??".

Aku menerka-nerka jawaban dari pikiran para produsen or penjual makanan itu. "Wah, repot tuh ngasih logo halal. Ntar bisa ngurangin pasaran.Nanti rasanya nggak enak klo gak pake minyak B***. Ntar mengurangi citra rasa, dsb…dsb…"

Sekali lagi. Bukankah kalau ada logo Halal malah justru bisa memperluas pasar?? Toh orang non-muslim pun tak merasa keberatan untuk ikut menikmati makanan berlabel halal tersebut??? Justru membantu dalam hal jaminan mutu. Karena makanan Halal, insyaAllah terjamin. Bukannya justru kalau ada yang "aneh-aneh" dengan ingredient produknya malah bisa menyebabkan pelanggan pada lari? Gampangnya, lihat saja kasus ajinomoto pada masa yang lalu, ato isu-isu seperti bakso daging tikus/ daging sapi+babi yang marak beberapa waktu lalu.Tidakkah kita mengambil pelajaran darinya????

Kemudian, ada satu hal yang sangat kukagumi dari negeri Jiran. Ada sebuah kebijakan khusus mengenai pengaturan tata letak food court di berbagai tempat umum. Bahwa, tempat makan di tempat umum itu harus menyertakan label HALAL Pemerintah, baik itu masakan lokal, barat or chinese food. Dan tanpa menghilangkan rasa hormat pada pemeluk agama lainnya, mereka tetap bisa menyantap masakan-masakan mengandung babi ato makanan yang untuk pemeluk Islam "haram". Namun, tempat itu akan ditempatkan di lokasi khusus sehingga JELAS, bisa dibedakan dan tak akan tercampur dengan masakan halal. Kalau seperti itu, akan lebih mudah dan menguntungkan semua pihak kan? Deshou?

Namun, lihat!!! Bagaimana dengan kondisi di negara kita?? Masih saja sering kita rasakan kebingungan dan keraguan yang melanda ketika hendak memilih tempat makan di tempat keramaian (ex : Mall, etc). Sungguh sulit membedakan, tempat itu menyediakan makanan bercampur daging babi or khamr gak?? Semuanya halal or gak?? Jadi gak jelas

Ini Logo Halal "Resmi Pemerintah" kita dari MUI

Sekarang, kita beralih pada individu kita sendiri. Sudahkah kita menjadikan HALAL sebagai prioritas pertama dalam memilih makanan & minuman???

Mungkin akan sulit bagi teman-teman Muslim kita yang berada di negara non-muslim. Akan sangat sulit dan repot untuk mencari makanan halal. Pernah kurasakan sendiri betapa sulit dan repotnya. Namun, janganlah alasan itu menjadi halangan kita untuk menjalankan perintah-NYA, di manapun, kapan pun. Jangan mudah tergoyahkan pendirian kita ketika berada di lingkungan yang "sulit".

Banyak kutemui kasus-kasus orang yang menyerah karena kesulitan dan kerepotan itu. Ada pula yang beralasan "menghormati" , "tidak enak", atau "demi menjaga pergaulan", bahkan sekedar "iseng-iseng nyicip" sehingga dengan mudahnya menegak anggur, wine, bir, alkohol, sake, or sejenisnya. Na’udzubillah >__<"

Ketika ditanya alasan mereka, ada yang menjawab, "gak apa-apa koq, kan cuma minum sedikit, nggak sampai mabuk" or "nggak apa-apa. Kadar alkoholnya sangat sedikit, nggak bakal mabuk".

Bukan permasalahan sedikit ato nggaknya minum/kadar alkoholnya. Permasalahannya terletak pada status minuman/makanan tersebut. Mau minum segentong ato minum setetes, kalau hukum dasarnya adalah HARAM, ya tetep HARAM! Kedengeran sangat strict sekali ya? Tapi ya memang begitu.

Pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang tema ini. Diskusi yang sangat seru…Satu hal yang bisa kupetik pelajarannya adalah masalah Halal-Haram bukan terletak pada banyak/tidaknya kita konsumsi, memabukkan/tidak, ada tidaknya cacing pita pada daging babi, dll. Kalau berbicara tentang alasan-alasan ini, pasti tak akan ada habisnya. Yang ada hanyalah pembelaan-pembelaan dan pembenaran-pembenaran untuk mengkonsumsi makanan & minuman Haram.

Yang jelas, aku mengambil satu kesimpulan. Sikap memilih makanan halal/haram menunjukkan kadar seberapa jauh ketaatan kita pada peringatan Allah SWT. Seberapa jauh kita memahami perintah-NYA. Seberapa dalam keyakinan kita pada-NYA. Bahwa segala sesuatu yang dilarang-NYA pasti memiliki penyebab/alasan dengan mudharat yang besar.

Yang bahkan dengan penemuan tercanggih sekalipun, manusia belum bisa mendeteksinya. Tapi, satu hal yang pasti, DIA Maha Mengetahui.

Yakinlah bahwa perintah dan larangan NYA adalah benar adanya demi kebaikan manusia. Karena DIA adalah Maha Segalanya.

So, jangan asal makan & minum "yang penting enak", "yang penting banyak", or "yang penting murah".

Tapi, we have to change our mind, YANG PENTING HALAL!

Mulai saat ini juga ^^!

Advertisements

One thought on “Eh, halal gak ya?

  1. Setuju bgt mbak..ga bs bayangin, benda haram itu, walo sedikit mengalir di dalam darah kita (termasuk ke otak..iihhh!!)

    Iya sih, kdg ada org yg rikuh klo nolak…Pdhl ak pikir, org yg makanan haramnya ditolak ga akan marah. Malah hrsnya org yg ditawari itu ‘marah’ cz udah diintervensi otonomi pemilihan makanannya

    Sip, setuju bgt…yg pntg HALAL =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s