[Story] Benim Adim Esma

Sudah lebih dari dua tahun berlalu, sejak pertemuan pertama kami.

Istanbul, 17 Mei 2006

Pertemuan itu, di suatu pagi dalam sebuah bis yang akan membawa kami menuju Ankara,Turki. Entah kenapa, sesaat begitu aku memasuki bis, aku langsung memilih untuk duduk di sebelahnya, padahal masih ada banyak pilihan bangku kosong lainnya. Semangat muda dan keluguan terpancar dari wajahnya yang saat itu masih berumur 17 tahun. Mungkin itulah yang menjadi alasanku untuk memilih berada di sampingnya.

Sambil tersenyum, kusapa ia, “Hello, my name is Retno. I came from Indonesia. Nice to meet you :)”

Kemudian ia membalas, “Merhaba, Adim ne*??”

Pertama-tama aku rada gak dhong, maksudnya apaan tuh?

Ia buru-buru menjelaskan, I mean, Hallo, What’s your name??

Mungkin ia bertanya lagi karena kurang jelas mendengar sapaanku. Memang, agak susah sih bagi orang asing untuk mengeja dan menyebut namaku dengan benar untuk yang pertama kalinya. Kusebutkan lagi namaku, RETNO. R-E-T-N-O….RETNO.

“Ooh…My name is Esma. E-S-M-A. Very nice to meet you too”, jawabnya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

Dia bernama Esma, lengkapnya Esma Aslan. Dia adalah seorang asli Turki. Gadis yang berwajah khas Turki dan raut wajah ke-Arab-araban ini (alis matanya tebel banget! Kalo perumpamaan dalam bahasa kita, kaya ada ulet bulu di atas matanya ^___^), menjabat tanganku dengan erat. Malah, sangat erat! Kemudian, terlihat dari matanya binar-binar rasa penuh ingin tahu. Iki bocah, siapa to?? (Javanese version…^^). Mungkin dia rada kaget, ketika tiba-tiba aku menyapa dan duduk di sebelahnya. Atau mungkin karena terlalu terpesona akan aura keramahanku, kali ya…? (hu…narsis!!!)

Cerita kulanjutkan. Perjalanan dari Istanbul menuju Ankara menghabiskan waktu sekitar 7 jam. Cukup jauh. Walaupun begitu, perjalanan ini tak terasa membosankan karena selama rentang waktu tersebut, aku dan Esma asyik bercakap-cakap. Oya, Esma bertugas sebagai LO (liason officer) selama kunjungan ke Ankara ini.

Memang, ada sedikit permasalahan dalam komunikasi, karena kosakata bahasa Inggrisnya yang cukup terbatas. Namun, hal itu tak menghalangi kami untuk saling bertukar informasi dan ilmu. Ia mengajariku beberapa kata penting dalam bahasa Turki, dan begitu pula sebaliknya. Aku mengajarkannya bahasa Indonesia. Tentunya teman-teman sudah bisa menebak, kata apa yang pertama kali ingin kita tahu, ketika kita belajar bahasa asing??? Tentu saja. I LOVE YOU (halah.).

Kami sama-sama tersenyum. Kemudian, dengan segera ia menuliskan SENI SEVIYORUM di atas buku agenda yang menjadi alat bantu kami dalam berkomunikasi. Dan kubalas, AKU CINTA KAMU.

Dan kami pun terbahak-bahak ^^”

Dilanjutkan dengan kata-kata lainnya, seperti : merhaba (halo), tesekkur ederim (terima kasih. Oya, kalau pake banyak, ditambah Cuk. So, jadi Cuk tesekkur ederim), rica ederim (bacanya : reja ederem, yang berarti youre welcome), dan banyak lainnya. Ia juga mengajariku cara berhitung angka satu sampai sepuluh. Pokoke, sangat menyenangkan!

Tak hanya selama perjalanan ke Ankara itu saja, tetapi kami juga selalu bersama dalam rangkaian acara Youth and Sport Festival in Istanbul yang berlangsung selama 5 hari ini. Secara tak langsung, ia menjadi LO yang khusus, hanya untuk menemaniku. Hehe…

Selama 5 hari itu, banyak hal yang membuatku terkagum-kagum padanya. Walaupun ia lebih muda 2 tahun dariku, dan berperawakan kecil mungil, ternyata ia sangat pandai menawar dan cenderung agak galak malah….he…he…Waktu itu, seluruh peserta festival diberi kesempatan untuk berbelanja aksesoris khas Turki di Canali Bazaar (pusat oleh-oleh seperti Pasar Bringharjo). Sangat beruntung ditemani oleh Esma, karena ia menjadi pembela bagiku, yang tak segan-segan beradu mulut dengan para penjual itu, demi menghemat beberapa NTL (New Turkish Lira, mata uang Turki). Salut deh! Cuk tesekkur ederim ^^!

Hari perpisahan pun tiba. Tentu saja kami sedih dan saling menangis. Hehe…(sentimental banget tuh suasananya!). Sebagai tanda mata dan benda pengingat kenangan, sebuah selendang biru dan sebuah cincin perak ia berikan padaku. Sangat bagus!

Pun walau kami terpisah beribu-ribu mil jauhnya, sampai sekarang kami masih keep in touch. Sesekali saling berkirim kartu pos (lebih bermakna euy! tapi lebih mahal juga ongkosnya. He…he..), dan beberapa kali berkirim email or ber-chatting ria. Seperti malam kemarin. Perbincangan kami itu berisi perihal menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing saat ini. Dan juga, belajar beberapa kalimat baru dalam bahasa Turki, yaitu: Savasmaya devam et! yang berarti keep on fighting ^__^. Kemudian, baru kutahu bahwa ia akan berulang-tahun pada tanggal 13 besok. Sehingga aku bertanya, apa bahasa Turkinya, selamat ulang tahun. Ia menjawab, IYIKI DOGDUN.

Wah….memang sangat menyenangkan memiliki teman dari negara lain. Dan benar-benar terbuktilah bahwa DIA menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal…….Ureshii da yo :D!

Esma & Me
Esma & Me

Dear Esma, Savasmaya Devam Et! Keep on fighting untuk semuanya yak :). Smoga Allah memperkenankan kita untuk bertemu kembali, suatu hari nanti….

PS: Yang di atas itu bahasa Turki, yang berarti Halo, siapa namamu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s