Sekilas tentang Kepercayaan Masyarakat Jepang

Kali ini aku ingin bercerita tentang materi kuliah matrikulasi Kejepangan yang aku dapat dua pekan ini. Senang rasanya bisa mendapatkan banyak pengetahuan baru yang diberikan oleh ibu dosenku, yang memang ahli sejarah dan budaya Jepang. Dari penjelasan beliau, kudapatkan jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaanku seputar budaya dan sistem masyarakat Jepang. Nah, yang ingin kubahas pada postingan ini terkait dengan sistem kepercayaan masyarakat Jepang (termasuk agama dll).

Pernah dengar or krasa gak, kalau orang Jepang itu sistem kepercayaannya âmembingungkanâ?? Misal, di satu sisi mereka merayakan natal dan valentine, namun di sisi lain mereka juga merayakan tahun baru ala Shinto dengan pergi ke Kuil saat matahari pertama di awal tahun muncul, dan lain sebagainya.

Kebingungan ini terjelaskan saat ibu Ety (dosenku) memberikan pernjelasan bahwa sistem kepercayaan di Jepang tidak sama dengan sistem agama/kepercayaan di negara lain. Mereka menerapkan agama/kepercayaan tidak secara doctrinal, tetapi hanya sebatas permukaan saja. Sehingga, tidak menjadi masalah bagi mereka untuk mengikuti acara keagamaan manapun.

Sebelum membahas lebih dalam, berikut ini sedikit gambaran mengenai sistem kepercayaan masyarakat Jepang. Dikatakan bahwa tidak ada Negara lain di dunia ini yang memiliki sistem kepercayaan primitive sekuat Jepang. Hal ini bisa dipahami dari masih kuatnya nilai-nilai tradisional kepercayaan Shinto dalam masyarakat.

Sering mendengar kata Shinto kan? Apalagi kalau sering menonton anime en dorama Jepang. Pasti nggak asing lagi deh. Namun, sudah pahamkah apa itu Shinto? Shinto, yang berarti â?Jalan dewaâ? merupakan kepercayaan asli Jepang. Shinto didasarkan pada pemikiran yang percaya dengan banyak dewa (polytheisme) dan kekuatan alam (matahari, bulan, gunung, laut, ombak, angina, petir, dll). Sehingga, hal ini berpengaruh pada sikap hormat yang sangat tinggi masyarakat Jepang kepada alam, ditunjukkan dengan sikap merawat alam, hingga saat ini.

Shinto pada dasarnya merupakan keyakinan yang terbentuk karena adanya pengaruh Budha yang masuk dari China dan Korea, sehingga Butsudo (Jalan Budha) disebut sebagai kepercayaan dari â?luarâ?. Pada prosesnya, nilai-nilai Budha disesuaikan dengan nilai-nilai Jepang (di-Jepangkan).

Sebenarnya, kepercayaan Shinto sangat sekuler (dalam arti hanya bersifat kepercayaan keduniawian), dan mereka percaya tidak ada kehidupan setelah mati. Kepercayaan inilah yang menjadi dasar orang Jepang untuk mengejar keduniawian dan tidak takut mati (karena tidak percaya adanya neraka). Sedangkan di sisi lain, dalam Budha ada kepercayaan tentang kehidupan setelah mati (akhirat) dan ada surga. Maka, hampir 98% masyarakat Jepang menggunakan tata cara Budha dalam upacara kematiannya.

Bisa dikatakan bahwa masyarakat Jepang menyatukan kepercayaan Shinto dan Budha (disebut Shinbutsu shugo à shin = Shinto, butsu = budha, shugo = penyatuan). Maksudnya, ada dualisme pada orang Jepang dimana dewa Budha disamakan dengan dewa Shinto (Honji suijyaku). Selain itu, dualisme ini ditunjukkan dengan kepercayaan Jepang kepada keduanya, yaitu Shinto sebagai kehidupan dunia, dan Budha sebagai kehidupan akhirat. Dengan kata lain, dualisme ini menunjukkan pragmatisme masyarakat Jepang dalam memandang agama, bukan secara doktrinal. Pun dalam Shinto tidak ada kitab suci, hanya ada babad mitologi saja sehingga Shinto bukanlah termasuk â?agamaâ?.

Lanjut lagi. Dari penjelasan tersebut bisa ditarik pemahaman bahwa apa yang terjadi dalam masyarakat Jepang adalah agama tidak dijalankan sebagai doktrinal filosofis, namun sebatas nilai-nilai umum saja. Maka, tak heran apabila kita sering melihat kasus bunuh diri (harakiri) dalam masyarakat Jepang, karena mereka memang tidak takut mati dan tidak percaya adanya kehidupan sesudah kematian.

Sekarang mau menjelaskan tradisi orang Jepang terkait dengan Shinto. Sering kan kita lihat ada banyak sekali Matsuri atau festival, yang sering menjadi daya tarik wisata Jepang? Pembagian Matsuri berdasarkan macamnya adalah sebagai berikut :

  • Tsukagirei : upacara ritual terkait daur ulang hidup ; ex : upacara kelahiran, hamil, tujuh bulanan, shichi go san, kematian, dll
  • Nin I girei : upacara ritual yang sifatnya insidental (sewaktu-waktu, kapan saja dan di mana saja)
  • Nenchugyoji : upacara ritual yang dilakukan sepanjang tahun. Setiap doa yang dilakukan termasuk Matsuri, karena matsuri pada dasarnya adalah bentuk pendekatan diri pada dewa (berdoa).

Menurut Yanagita Kunio, Matsuri merupakan upacara ritual Shinto (memuja dewa), yang berfungsi sebagai bentuk pendekatan diri kepada dewa-dewa. Maka, dari pengertian dan pembagian tersebut, maka tak heran apabila ada sekitar 50.000 macam matsuri setiap tahunnya (wuakeh tenan!!). Begitulah sekilas mengenai sistem kepercayaan dan tradisi Matsuri di Jepang. Ntar kalau ada tambahan pengetahuan lagi dari kuliah selanjutnya, akan ku-posting lagi.

â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan…â?

*) Inti sari diambil dari materi kuliah Matrikulasi Kejepangan, PPS KWJ 2008

9 thoughts on “Sekilas tentang Kepercayaan Masyarakat Jepang

  1. chikupunya said: â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan………â?

    yap, tentunya jika hal itu berkaitan dengan ritual (yang baik dari segi manfaat), kita sebagai muslim tidak boleh mengambilnya….

    Jadi nambah pengetahuan neh… terima kasih untuk berbagi…

  2. chikupunya said: â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan………â?

    Campur2 ya… Belakangan, di tv banyak orang Jepang mengikuti trand menikah di gereja juga, padahal kristen juga nggak, hehehe…

  3. chikupunya said: â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan………â?

    weee
    makasih yaaah!!!😀
    TFS

  4. chikupunya said: â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan………â?

    kalo kepercayaan pada dewa matahari tuh gimana mbak? kayake pengaruhnya besar di politik jaman kuno

  5. chikupunya said: â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan………â?

    alow alow:D:D

    kebetulan saya juga kuliah ttg budaya dan agama di Jepang.
    btw nama dosen nya kok sama yah .. ? hehehehe

  6. chikupunya said: â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan………â?

    Ho~..onaji desu ka? Tabun, senseinya memang sama. Beliau (Bu Etty) kan memang mengajar di banyak tempat ^^…Jaa, benkyoushimashou ^___________^

  7. chikupunya said: â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan………â?

    sya sempet juga ngobrol sama orang jepang dan dia bilang kalo di jepang cenderung "mixing everything" seperti ngerayain thn baru ala shinto trus malah katanya natal jg cuman buat having fun aja sama pacarnya. hmmm…dia sendiri bilang kalo dirinya "hampa" hehe…ya emang agak membingungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s