[Academic] Nilai-nilai Bushido (Menurut Nitobe)

Dalam postingan ini, aku ingin membahas karakteristik dan nilai-nilai dalam masyarakat Jepang, khususnya nilai Bushido. Sering dengar kata bushido kan? Pasti tahu deh, apalagi kalau sering lihat or baca komik yang setting-annya zaman Jepang era Tokugawa.

Menurut Inazo Nitobe dalam bukunya yang berjudul Bushido, Bushido atau Jalan Samurai (bushi = samurai, do = jalan) merupakan kepribadian bangsa Jepang, dan jiwa ksatria yang merangsang pikiran, emosi dan sikap hidup sehari-hari masyarakat Jepang, serta menjadi azas moral yang harus dihayati golongan ksatria. Inazo Nitobe (1862 – 1933) yang merupakan bapak liberalisme Jepang, menulis buku ini pada tahun 1897. Nitobe berjasa dalam memperkenalkan Jepang kepada dunia Barat. Karena jasa tersebut, gambar Nitobe diabadikan dalam lembar uang 5000 yen. Lanjut lagi. Bushido juga menjadi pengganti pelajaran agama dan pedoman moral serta etika bangsa Jepang. Sehingga tak heran apabila nilai bushido ini amat terpatri dalam jiwa orang Jepang hingga saat ini.

Menilik dari sejarah perkembangannya, nilai-nilai bushido mulai muncul dan berkembang pada era / zaman feodal memegang pemerintahan Jepang kuno. Pada zaman feodal ini, stratifikasi sosial atau pengelompokan dalam masyarakat amat ketat dijalankan, dimana bushi / samurai menempati posisi tertinggi dalam sistem pengkelasan. Golongan samurai amat disegani dan ditakuti oleh masyarakat golongan lain di bawahnya, terlebih pada zaman Tokugawa, saat diterapkannya politik sakoku (penutupan diri) dari dunia luar.

Hampir selama 250 tahun samurai berada di posisi tertinggi, sehingga nilai-nilai kesamuraian menjadi sangat tersosialisasikan dalam masyarakat Jepang. Pun walau akhirnya sakoku berakhir, dan Jepang melakukan pembukaan diri secara paksa oleh Comodor Perry dari Amerika Serikat (saat restorasi Meiji) terjadi, nilai-nilai ini tetap tidak tergoyahkan karena sudah terfragmentasi dalam masyarakat secara kuat (sudah terproses selama ratusan tahun).

Jika melihat dari sumbernya, nilai-nilai bushido berasal dari :

  • Ajaran Budhisme. Dimana terdapat perasaan percaya, tenang pada nasib, pasrah damai dalam hal-hal yang tidak terelakkan. Contoh : ketenangan hati menghadapi bahaya/bencana, rasa bosan hidup, akrab dengan maut. Selain itu, dalam Budha hinayana tidak ada konsep Sang Pencipta dan konsep dosa. Maka dalam kasus ini, mati bunuh diri tidak ada sangkut pautnya dengan nilai norma doktrinal agama. Yang ada hanyalah konsep karma dimana perbuatan yang baik akan berakibat baik pula, dan begitu pula sebaliknya.
  • Shintoisme. Nilai-nilai kesetiaan pada kaisar / pemimpin dan hormat pada arwah leluhur

Masih berdasarkan buku Nitobe, nilai-nilai Bushido antara lain mencakup;

  1. Keberanian
    Keberanian ini dapat dilihat dari sikap orang Jepang dalam mempertahankan kelompoknya (pengaruh sistem ie). Orang Jepang bahkan sampai berani dan rela mati demi membela kelompoknya tersebut.
  2. Ketabahan hati
  3. Kehalusan budi dan lemah lembut
  4. Kejujuran
    Diibaratkan bahwa kejujuran itu seperti tulang, dimana ia berkedudukan sebagaipenopang utama. Bila tidak ada tulang, maka mustahil apabila tubuh dapat berdiri. Seperti itulah urgensi kejujuran bagi orang Jepang. Hal ini masi bertahan hingga sekarang, misalnya dalam prinsip orang Jepang dalam berdagang, dimana kejujuran kepada konsumen adalah yang paling utama.
  5. Cinta nama baik
    Saking cintanya orang Jepang pada nama baik, mereka takkan segan untuk keluar atau mundur dari institusi tempatnya bekerja (bahkan pergi meninggalkan keluarganya) demi menjaga nama baik. Pada tingkatan ekstrim, banyak orang Jepang yang memilih mati bunuh diri daripada nama baiknya tercemar.
  6. Setia kepada tugas dan sumpah
  7. Memegang teguh janji kehormatan
  8. Tidak mengenal takut dalam melaksanakan tugas dan kewajiban
  9. Bertanggung jawab
  10. Rela menjalani hukuman mati secara mulia (seppuku / harakiri)
    Sikap ini sangat terkait dengan nilai-nilai bushido lainnya. Apabila pada suatu ketikadimana orang Jepang merasa tugas yang dijalankannya gagal, ia merasa bertanggung jawab dan sangat malu. Sebagai konsekuensinya, ia rela menjalani hukuman mati dengan melakukan seppuku/ harakiri demi menjaga nama baik dirinya dan lembaga tempatnya mengabdi. Ia lebih memilih mati, karena masyarakat Jepang menganggap mati lebih terhormat daripada hidup menanggung malu.
    Tegas, bersedia menanggung segala konsekuensi

Dari semua gambaran tentang nilai Bushido ini, dapat diambil beberapa pelajaran positif yang bisa kita tiru. Bahwa, Indonesia tidak kunjung maju karena orang-orangnya tidak mau iintrospeksi diri dan selalu mencari kambing hitam apabila terjadi kesalahan. Dengan kata lain minim rasa tanggung jawab dan rasa malu! Perlulah kita belajar dari Jepang tentang budaya malu, bertanggung jawab dan sikap tegas. Selain itu, Indonesia sebagai negara beragama, masih perlu dikoreksi secara besar-besaran, terutama dalam pola pikirnya. Walaupun Jepang bukan negara beragama, nilai-nilai universal dalam agama (kejujuran, tanggung jawab, dll) sudah terimplementasikan secara baik dan sudah menjadi sistem kepribadian bagi setiap orangnya. Sedangkan di Indonesia, nilai-nilai agama masih sebatas sistem pengetahuan saja, bukan sebagai sistem kepribadian. Alias hanya sebatas teori, no action. Miris…

Nah, yang JANGAN kita tiru adalah BUNUH DIRInya…!! Kita sebagai seorang yang beragama, memiliki aturan dan norma tersendiri. Dan dalam agama kita, BUNUH DIRI = DOSA BESAR. So, jangan sampai gitu deh, walau sesusah apapun kondisi yang kita hadapi. Yang ditiru sikap tanggung jawab dan mau mengakui kesalahannya ya😀

(Diambil dari Catatan Kuliah Matrikulasi Kejepangan, KWJ-UI 2008 by Mrs. Etty)

8 thoughts on “[Academic] Nilai-nilai Bushido (Menurut Nitobe)

  1. Halo,
    saya dapet artikel ini dari email,
    dan setelah ditelusuri beberapa lama, akhirnya ketemu juga sumbernya
    boleh ngga saya masukin artikel ini ke web gue ??

  2. konbanwa, artikelnya bagus nih. boleh saya ambil beberapa potong buat tugas MPKT besok nggak? please? udah gada sumber bagus lagi nih…

  3. hai mbak, aku ceritanya lg nyari info2 ttg s2 kwj ui. terus nemu blognya mbak heehe, mau nanya dikit2 boleh ga mbak? aku kan basic ilmunya jg bkn sasjep, berarti hrs ikt program matrikulasi juga. kl di kwj ui program matrikulasinya itu sblm msk smstr berjalan atau berbarengan sm smstr 1? makasih banyak sblmnya mbak (^-^)

    1. Halo, salam kenal ilma🙂. Terima kasih komentarnya. Tidak masalah klo backgroundnya bukan sastra jepang, saya juga dulu S1nya hubungan internasional. Ada juga teman saya yg background S1-nya teknik🙂. Untuk matrikulasi, dulu saya tidak ada (tahun 2008 – 2010). Tp kurangtw kalau sekarang bagaimana sistemnya. Ada baiknya Ilma mengontak langsung KWJ UI untuk informasi terkini terkait updatenya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s