Mari Berfilosofi

Dari dulu, jika mendengar kata filsafat, rasanya jadi pusing duluan.Terlebih (entah kenapa), teman-temanku yang sangat mem-filsuf itu orangnya aneh-aneh (oopsâ¦.maaf ya ^^). Maksudnya, perkataan mereka tidak dapat kucerna dengan mudah, sehingga diperlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk bisa mengerti arti yang sesungguhnya.


Itu tak mengapa jika ada masa. Tapi, kalau sedang kondisi mepet en mendesak, gimana?? Sampai-sampai, aku pernah bilang, âkalau mau ngomongin sesuatu, lebih baik langsung pada intinya. Jangan berputar-putar, nggak ngerti! Waktu diskusinya selak habisâ?. Ditambah lagi, ketika mendapat pelajaran filsafat sewaktu S1 dulu, âimageâ? filsafat di mataku semakin membingungkan, walaupun di mata kuliah itu aku mendapatkan nilai A (hahaha… sombong :p). Maksudnya filsafat apaan sih? Tetep aja nggak ngerti. Mungkin penyebabnya karena aku masih ingin santai dulu, belum mau berpikir yang berat-berat.

Setelah sekian waktu berselang, aku bertemu lagi dengan mata kuliah filsafat saat menempuh studi jenjang master; tepatnya adalah mata kuliah "Filsafat dan metodologi ilmu pengetahuan". Pada awalnya, aku sempat menganggap pelajaran âberatâ? ini akan membuatku pusing lagi. Tapi, Alhamdulillah dosen yang mengajarkan kuliah tersebut memiliki cara penyampaian yang berbeda dan asyik sehingga membuat filsafat menjadi lebih mudah dimengerti.

Begini garis besar isi kuliahnya: Filsafat merupakan pencarian sikap kritis terhadap sesuatu hal dengan memahami soal sampai seakar-akarnya. Berfilsafat itu juga berarti perenungan yang mendalam terhadap sesuatu, misalnya terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat, relasi dengan sesama, dll. Dengan kata lain, filsafat adalah proses upaya berpikir kritis manusia terhadap suatu fenomena kehidupan sehari-hari (diambil dari buku Realitas dan Objektivitas ; Refleksi kritis atas cara kerja ilmiah, ditulis oleh Dr. Irmayanti M. Budianto, Wedatama Widya Sastra 2005).

Secara historis, filsafat dilatarbelakangi oleh kebudayaan bangsa Yunani, dimana philosophia diartikan sebagai mencari pengetahuan yang berguna bagi manusia ataupun mencari suatu kebenaran melalui proses berpikir manusia. Kemudian, ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji seluruh fenomena yang dihadapi manusia secara kritis refleksif, integral, radikal, logis, sistematis, dan universal.

Tema ilmu filsafat ; (1) Ontologi ; mengkaji keberadaan sesuatu, membahas tentang âADAâ? yang dapat dipahami baik secara konkret, factual, transdental ataupun metafisis. (2) Epistemologi ; membahas pengetahuan yang akan dimiliki manusia apabila manusia itu membutuhkannya. (3) Aksiologi ; membahas kaidah norma dan nilai yang ada pada manusia.

Manfaat Filsafat, antara lain ;

  • Dengan filsafat mengajak ,manusia bersikap arif dan berwawasan luas terhadap berbagai problem yang dihadapi, dan manusia diharapkan mampu memecahkan problem tersebut dengan cara mengidentifikasikannya agar jawaban-jawaban dapat diperoleh dengan mudah.
  • Berfilsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara lebih kreatif atas dasar pandangan hidup atau ide-ide yang muncul karena keinginannya.
  • Filsafat dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam menghadapi permasalahan, baik kehidupan sehari-hari maupun kehidupan lainnya secara lebih rasional, arif dan tidak terjebak dalam fanatisme yang berlebihan.
  • Filsafat membantu kemampuan menganalisis, ananlisis kritis secara komprehensif dan sitesis atas berbagai permasalahan ilmiah yang dituangkan dalam suatu riset, penelitian atau kajian ilmiah lainnya. Sehingga filsafat menjadi wadah sikap kritis dalam menghadapi kemajemukan berpikir dari berbagai ilmu dan ilmuwannya.

Hmâ¦Mungkin masih sedikit membingungkan ya? Tapi pada intinya, filsafat itu, baik secara sadar ato nggak, sudah sering kita lakukan setiap hari. Aku saja baru sadar kalau proses berpikir dan merenung yang sering kulakukan itu termasuk dalam kategori âberfilsafatâ?. Hehe⦠Pun aku baru sadar saat menganalogikan suatu peristiwa yang satu dengan lainnya –> itu termasuk berfilsafat. Yang menyadarkanku adalah ketika seorang teman berkata, âChik, kamu koq mem-filsuf banget sih!â? Aku sontak langsung heran, âooooooooâ¦.yang barusan itu termasuk berfilsafat to?â? ^^â?


Sekarang, aku baru sadar bahwa Filsafat bukanlah sesuatu yang aneh dan selalu membuat pelakunya menjadi orang-orang âanehâ?. Hanya saja memang mereka agak sedikit "berbeda", ketika ia berpikir lebih dalam daripada orang yang diajak bicara, sehingga pembicaraannya seperti nggak nyambung.

Berpikir secara mendalam dan mencari rezeki yang tercecer dari suatu peristiwa (dengan kata lain mencari hikmah peristiwa tersebut), juga bisa dikategorikan berfilsafat. Kita perlu sesekali merenungi sejauh mana hidup kita, apa, mengapa, bagaimana. Misal ; Sudahkah aku bermanfaat untuk hidupku, orangtuaku, keluargaku, masyarakatku, bangsaku dan agamaku?

Hm, tapi kadang kemampuan berpikir manusia itu menyeramkan. Oleh karenanya, janganlah terlalu jauh mempertanyakan sesuatu, karena bisa berbahaya. As I said before, yang namanya âTERLALUâ? itu bermakna negatif. Banyak aku lihat kasus orang-orang yang terlalu berfilsafat dan mempertanyakan Tuhannya, menjadi seorang yang gila bahkan Atheis. Naâudzubillah, jadi, hati-hati ya ^^!

Akhir kata, pada intinya aku ingin menyampaikan bahwa perlulah sekali-kali kita berpikir secara âberatâ? alias serius untuk memaknai hidup ini, in other word âberfilsafatâ?. Jangan hanya santai, senang-senang saja, bercanda, dan hanya berbicara diseputar permukaan. Ada baiknya sesekali melihat lebih dalam tentang suatu masalah atau peristiwa. Namun juga jangan sampai kebablasan hingga melanggar batas-batas kewajaran. InsyaAllah akan membantu cara berpikir dalam problem solving, temasuk ketika menulis skripsi atau thesis. he..he… Kita bisa mengendalikan pikiran kita lho! So, take care of it wiselyâ¦

4 thoughts on “Mari Berfilosofi

  1. chikupunya said: InsyaAllah akan membantu cara berpikir dalam problem solving, temasuk ketika menulis skripsi atau thesis. he..h.e…

    spertinya ini yang utama yaaak???^_^

    *baydeway dulu waktu di pesantren tertarik banget sama filsalat, soalnya pas waktu ituh banyak "oknum2" pesantren yang gek bener menggunakan filsafatnya.
    alhamdulillah "setelah perjalanan panjang" semuanya bagai puzle raksasa yang akhirnya menyatu dan menjadi sebuah "jawaban" atas dahaga yang tlah lama hilang (glek!!!!) *mendadakserius.com

  2. chikupunya said: InsyaAllah akan membantu cara berpikir dalam problem solving, temasuk ketika menulis skripsi atau thesis. he..h.e…

    Kalau ciri2 anak yg suka berfilsafat tu pembicaraannya suka mutar-muter berarti orang jawa berbakat jadi filsuf donk mbak. Kan orang jawa sukanya ga to the point. Hehe

  3. chikupunya said: InsyaAllah akan membantu cara berpikir dalam problem solving, temasuk ketika menulis skripsi atau thesis. he..h.e…

    Hidup itu memang penuh dengan misteri yang indah…ho…ho~…That’s the arts of life ^^

  4. chikupunya said: InsyaAllah akan membantu cara berpikir dalam problem solving, temasuk ketika menulis skripsi atau thesis. he..h.e…

    He..he….gitu ya? memang premis minor, premis mayor dan kesimpulannya harus benar, jangan ampe bikin fallacy. Kalau seperti itu, ntar saya diprotes orang se-Jawa, termasuk bapak saya. he..he… Inget kata fallacy, jadi inget kuliah filsafat bersama bapak yang suka bilang fallacy "sesat pikir".

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s