Would me marry me?

Issue yang dibahas bukanlah seratus persen tentang pernikahan or sesuatu yang berhubungan dengan rencana "nembak" dengan mengatakan "would you marry me" gitu. Tapi lebih pada melihat ke dalam diri sendiri, istilah bekennya INTROSPEKSI. Sebelum mengatakan 4 kata di atas, ada baiknya bertanya pada diri sendiri. Apakah aku mau menikah denganku?

Maksude pie to?

Kalau berpikir tentang ini, ada perlunya dipahami secara mendalam dan perlahan. Karena agak mem-filsuf sebenernya. Menikahi diri sendiri maksudnya, kalau "aku" diposisikan menjadi orang lain dan melihat sosok kepribadian "aku" di sisi lainnya, maukah aku dengan "aku"? Seberapa pantaskah "aku"? sudah pantaskah "aku"? Kalau diri sendiri saja sudah tidak mau, bagaimana orang lain mau dengan kita?

Oleh karenanya, wahai kawan, marilah kita terus menerus menjadi orang yang selalu berintrospeksi dan menjadi lebih baik lagi. Hingga pada suatu waktu nanti, "aku" akan mantap berkata, "Yes, I wanna marrying myself"

PS: terinspirasi dari cerita teman sepekan yang lalu, plus tadi siang habis kuliah filsafat ^__^!

3 thoughts on “Would me marry me?

  1. chikupunya said: Kalau diri sendiri saja sudah tidak mau, bagaimana orang lain mau dengan kita?

    Jadi kalau ditinjau dari filsafat ilmu definisi ‘menikah’ yg seperti itu menurut konteks yang mana ya dek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s