Economic Partnership Agreement ; Japan – Brazil

Latar Belakang

Jepang dikenal dunia sebagai negara dengan banyak gelar. Hal ini dikarenakan oleh keberhasilan ekonomi Jepang yang sudah berkembang menjadi super power ekonomi dengan GNP yang mulai menggeser kedudukan AS. Teknologi Jepang pun berhasil menyaingi kemampuan AS. Dilihat dari besarnya cadangan devisanya, Jepang dapat dikatakan sebagai negara termakmur di dunia.[1] Hampir di setiap negara terdapat produk-produk buatan perusahaan Jepang, mulai dari barang keperluan sehari-hari, sampai dengan produk berteknologi canggih.

Walaupun perkembangan dan ekspansi pasar Jepang telah mendunia, namun tetap saja masih ada beberapa wilayah yang masih di dominasi oleh produk negara besar lain seperti AS dan Uni Eropa. Memang, dalam segi pemberian bantuan ODA kepada negara berkembang, Jepang adalah yang nomor satu. Akan tetapi, tidak begitu pada pengaruh pasar dan ekonominya. Sebagai contoh, pasar ekonomi di Amerika Latin.

Mungkin hal ini disebabkan oleh prioritas utama pasar Jepang yang kebanyakan berada di wilayah Asia, sehingga pasar di Amerika Latin menjadi prioritas ke-sekian. Dibandingkan dengan AS dan Eropa, pasar Jepang di Amerika Latin masih terbilang kecil dan terbatas. Hal ini timbul karena adanya beberapa permasalahan. Selain karena kondisi geografis yang cukup jauh dari Jepang, akses hubungannya pun masih minim. Selain itu, keterbatasan sumber informasi mengenai hubungan keduanya menjadikan Amerika Latin kurang diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan Jepang. Padahal, apabila Jepang ingin memperbesar ekspansi pasarnya ke seluruh dunia, kawasan Amerika Latin ini juga harus turut diperhatikan.

Sebagai awal dari pengembangan ekonomi Jepang di Amerika Latin, Jepang berusaha memulainya dahulu di Brazil, yang merupakan negara utama di kawasan Selatan benua Amerika ini.

Rumusan Masalah



Dalam perkembangannya, ternyata masih banyak permasalahan dalam hubungan ekonomi politik antara Jepang dan Brazil, sehingga muncul beberapa permasalahan yang menarik untuk dibahas :

  1. Apa yang melatarbelakangi hubungan Jepang dengan Brazil ?
  2. Apa saja yang menjadi pendorong hubungan Jepang â Brazil ?
  3. Sejauh mana hubungan kerjasama ekonomi antara Jepang dan Brazil ?
  4. Apa yang menjadi penghambat dalam kerjasama ekonomi keduanya?
  5. Bagaimana cara yang efektif untuk mengatasi hambatan dan mempererat hubungan keduanya ?

Awal Hubungan Jepang-Brazil



Jepang dan Amerika Latin memiliki hubungan yang kuat berdasarkan sejarah migrasi orang Jepang. Orang Jepang mulai bermigrasi ke Amerika Latin pada akhir abad ke-19 dengan pelayaran yang dipimpin oleh Kasato Maru. Perjalanan ini dilakukan pada saat dibukanya kembali Jepang terhadap dunia luar (Restorasi Meiji) di akhir isolasi nasional Jepang dan ditariknya larangan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Kehadiran Jepang di Amerika Latin pertama kali ditemukan di pantai Selatan Brazil. Arus migrasi pertama dimulai pada tahun 1890-an ketika 132 orang Jepang memindahkan tanaman gula Hawaii ke Guatemala. Tahun 1897, 35 orang Jepang mendirikan Enomoto Colony di Chiapas, Selatan Mexico untuk menanam kopi[2]. Kemudian arus itu semakin besar dan menyebar ke seluruh Amerika Latin.

Hubungan resmi antara Jepang â Brazil (hubungan diplomatik) dimulai pada November 1895 dengan ditandatanganinya Treaty of Amity, Commerce and Navigation. Diantara kawasan lain di dunia, Amerika Latin-lah yang memiliki jumlah masyarakat Jepang yang tinggal di luar negeri dan keturunan Jepang yang paling besar. Di Brazil, diperkirakan ada sekitar 1.6 juta orang Jepang dan orang Jepang-Brazil yang sebagian besar tinggal di Sao Paolo, kemudian Peru 82.000, Argentina 30.000, Meksiko 20.000, Bolivia 14.000, dan Paraguay 7000 (perkiraan tahun 2000)[3].

Saat ini, 1.6 juta orang keturunan Jepang tersebut membentuk suatu komunitas terbesar keturunan orang Jepang yang tinggal di luar Jepang, yang menjalankan peran sebagai â?pembantuâ? untuk membangun kesepahaman antara dua budaya dalam grass root level. Di Jepang sendiri, terdapat sekitar 300.000 orang Brazil yang bekerja di sana, yang diharapkan dengan aktivitas orang-orang tersebut dapat semakin memperkuat hubungan keduanya.

Sedangkan perusahaan Jepang datang ke Brazil melalui 2 gelombang, pertama kali pada pertengahan 1950-an dan yang kedua tahun 1970-an. Saat ini, sudah ada sekitar 350 perusahaan berada di Brazil.

Pentingnya Brazil-EPA[4] bagi Jepang dan Sebaliknya

Dalam menjalin hubungan antara satu negara dengan negara lain, tentunya terdapat beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Tentunya, dalam konteks hubungan ekonomi, yang menjadi pertimbangan adalah keuntungan apa yang akan diperoleh dari hubungan tersebut. Sesuai dengan hukum ekonomi, mencapai keuntungan dengan semaksimal mungkin, dan menekan kerugian seminim mungkin. Oleh karena itu, berikut pandangan Jepang dan Brazil mengenai hubungan dan kerjasama ekonomi diantara keduanya.

Sebagai major power di Amerika Latin, GDP Brazil mencapai lebih dari US $ 500 milyar (2001), yang berarti skala tersebut sama dengan kesepuluh negara ASEAN. Sebagai negara yang penting dalam Mercosur[5], Brazil berperan untuk mencapai target pasar seluruh Mercosur yang mencapai 218.9 juta orang dengan total GDP US$ 800 milyar (2001).

Brazil memiliki peran dalam menjalankan produksi dan basis penjualan di Amerika Latin, yang merupakan salah satu dari pasar dunia terpenting berdampingan dengan Asia, Amerika Utara dan Eropa. Selain itu, Brazil berusaha untuk mencapai integrasi pasar dengan negara tetangganya dan untuk mengintegrasikan infrastruktur ekonomi, serta membuat langkah maju dalam penciptaan sistem transportasi yang efisien antar perbatasan. Hal ini ditujukan tidak hanya mencakup Mercosur saja, tetapi juga negara lain di regional ini. Hal ini berarti dengan melalui Brazil, dapat memberikan kemungkinan bagi Jepang untuk mengikat aktivitas kerjasama dengan Amerika Latin secara keseluruhan.

Maksud dari investor Jepang menanamkan modalnya di Brazil adalah mencapai pasar regional yang lebih luas ; Pertama, dari Brazil menuju Mercosur, kemudian, ke negara-negara Amerika Selatan[6], kemudian apabila memungkinkan menuju pasar Amrika Utara dan Eropa. Amerika Latin sebagai pusat keempat dari kegiatan bisnis global Jepang semakin meningkatkan peran penting Brazil bagi Jepang.

Selama ini, di sisi Brazil partner dagang dan investasi yang paling besar adalah AS dan Uni Eropa. Hal ini dikarenakan pasar dan hubungannya dengan Asia sangat jauh. Sehingga, dengan adanya Jepang dapat memberikan kemungkinan sebagai batu loncatan bagi Brazil untuk mengekspor barang-barang manufaktur ke pasar Asia.

Mengingat adanya keuntungan perdagangan yang strategis antara Jepang dan Brazil, maka mereka saling berbagi kepentingan untuk memperkuat hubungan ekonomi. Hal ini membuat keduanya mengembangkan dialog, tidak hanya secara bilateral tetapi juga regional dan global. Hal ini mengingat posisi Jepang di Asia dan Brazil di Mercosur serta Amerika Selatan.

Perkembangan Hubungan Kerjasama Ekonomi Jepang-Brazil

Aktivitas impor Jepang terhadap perdagangannya dengan Brazil lebih besar daripada ekspornya. Pada tahun 1996, Jepang adalah negara urutan ketiga dalam tujuan ekspor Brazil dan sumber impor. Brazil menempati urutan ke-11 di dunia dalam FDI Jepang, setelah AS, Indonesia dan Inggris. Jumlah nilai ekspor antara Brazil dengan Jepang (perdagangan tahun 1998) sekitar $ 2.903 juta, berupa biji besi, produk logam, baja, kopi, ayam, kedelai. Sedangkan nilai impornya sekitar $ 2.610 juta berupa mesin dan peralatannya, produk kimia, produk logam. Jumlah kumulatif FDI (31 Desember 1998) sekitar $ 8,7 milyar dan meningkat menjadi US$ 28.5 milyar tahun 1999.. Kerjasama ekonomi dalam FY 2003 ; dana pinjaman sebesar 287.431 juta yen dan dana hibah 131 juta yen. Kerjasama teknis (Technical cooperation) sebesar 67.901 juta yen (urutan ke-1 di Amerika Latin dan urutan ke-6 di dunia).[7] Jumlah kumulatif bantuan keuangan dalam bentuk Cultural Grant dari tahun 1975-2004 adalah sebesar 106 juta yen (Cultural Grant Aid), dan 24.4 juta yen (Grant Assistance for Cultural Grassroots Projects).

Ekonomi antara Jepang dengan Brazil adalah saling melengkapi (economic complementary). Brazil menyediakan bahan mentah dari sumber daya alamnya yang sangat besar, seperti ; bahan tambang, sumber hutan dan produk pertanian yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan Jepang. Sedangkan perusahaan Jepang yang beroperasi di Brazil, memberikan kontribusi dalam perkembangan industri Brazil.

Bentuk Investasi langsung Jepang di Brazil, meliputi beberapa sektor antara lain ;

  • Industri automobile / autoparts ;
  • Elektronik / teknologi informasi ;
  • Telekomunikasi ;
  • Agribisnis / bahan pangan ; dan
  • Pertambangan

Proyek-proyek yang dilaksanakan dalam kerjasama ekonomi Jepang dan Brazil ;

  • Usiminas (Usinas Siderurgicas de Minas Gerais) yang memproduksi 4.03 juta ton baja mentah dalam 1 tahun,
  • Amazon aluminum refinery yang memproses 340,000 ton aluminium setahun,
  • Senibra project ; pengembangan sumber bubur kertas yang memproduksi 370,000 ton bubur kertas dalam setahun,
  • Cia. Siderurgica Tubarão ; memproduksi 3 juta ton papan per tahun,
  • Carajá iron mine development ; memproduksi 33 juta biji besi setahun,
  • Pengembangan agrikultur di Cerrado plain seluas 180,000 ha.

Hambatan dan Tantangan dalam Hubungan Jepang-Brazil



Selama perjalanan dalam hubungan antara Jepang dan negara-negara di Amerika Latin, tidak ada sejarah buruk seperti yang dialami Jepang dengan Amerika Serikat, Asia Timur atau di Asia Tenggara. Amerika Latin merupakan suatu kawasan yang dapat berkembang dengan kemampuan dan kapasitasnya tanpa hambatan. Akan tetapi, kehadiran Jepang di Amerika Latin mengalami kemunduran sejak dekade 90-an, dikarenakan oleh ketatnya persaingan dengan perusahaan-perusahaan dari Barat.

Sumber permasalahan yang paling sering dialami oleh perusahaan Jepang dalam berpartisipasi di pasar Brazil lainnya adalah masih terbatasnya kesepahaman dan informasi mengenai geografi, linguistik, budaya dan perbedaan sejarah antara kedua negara. Selain itu, dalam pelaksanaan teknis bisnisnya, perusahaan Jepang merasa ;

  • Tidak familiar dengan pasar,
  • Sistem distribusi yang tertutup,
  • Sistem tarif dan pajak yang kompleks,
  • UU Buruh,
  • Ketidakstabilan keamanan,
  • Keterbatasan pengetahuan brand / merk, serta
  • Jarak dan biaya pengangkutan barang

â?Resepâ? menghadapi Hambatan

Japan-Brazil Alliance for the 21st Century

Keidanren dan Confederação Nacional da Indústria (CNI) merupakan dua komunitas yang mendukung kerjasama ekonomi Jepang dan Brazil (the Japan-Brazil Economic Cooperation Committe), sejak tahun 1974, untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara kedua negara. Sejak akhir tahun 1990, kedua negara selalu mengadakan pertemuan bersama hampir setiap tahun, untuk menanggapi perubahan ekonomi yang terjadi di Brazil.

Untuk mencapai revitalisasi yang lebih nyata dari hubungan ekonominya, kedua negara mencetuskan Joint Meeting of the Japan-Brazil Economic Cooperation Committee ke-8 di Tokyo, 2 September 1999. Para peserta konferensi menyetujui strategi perkembangan dan menamainya "Alliance for the 21st Century". Tujuannya, untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara sektor swasta di dua negara tersebut.

Strategi dalam menjawab tantangan hubungan Jepang-Brazil melalui Alliance for the 21st Century antara lain[8] ;

  1. Promotion of Mutual Understanding,
  2. Promotion of Exchange of Information,
  3. Promotion of Grass Roots Mutual Understanding ; Usaha ini bisa diwujudkan dalam bentuk pemberian kesempatan oleh sektor privat dan publik Jepang kepada masyarakat Brazil untuk melakukan pelatihan kerja dan pendidikan. Selain itu dapat pula melalui bidang pariwisata yang dirasa lebih person-to-person.
  4. Intensifying and systematizing the economic dialogue between Brazil and Japan.

Permasalahan teknis yang ada antara Jepang dan Brazil (yang sering disebut sebagai Brazil costs), sebenarnya merupakan kunci pertumbuhan dari investasi baru oleh perusahaan Jepang. Maka, tantangan tersebut dapat diatasi dengan ;

  • Me-reformasi sistem perpajakan yang kompleks menjadi lebih mudah dan transparan,
  • Deregulasi dan reformasi undang-undang,
  • Regulasi prosedur administratif (birokrasi) agar urusan lebih mudah, stabil dan transparan,
  • Mempercepat pengeluaran visa serta memperpanjang waktu efektif visa.

Selain resep-resep di atas, terdapat pula solusi bernama âPerencanaan Strategi Bisnis Baruâ?, yang berisi antara lain :

1. Globalisasi

Perusahaan Jepang perlu melihat Brazil tidak hanya sebagai dirinya sendiri, tetapi juga dalam konteks strategi bisnis global. Bagi perusahaan Barat, Brazil merupakan negara yang bernilai strategis dalam peta dunia mereka. Hal ini juga penting bagi perusahaan Jepang untuk menyusun strategi di Brazil dalam hubungannya dengan wilayah lain. Brazil merupakan pemimpin dari integrasi ekonomi di regional Amerika Selatan (Mercosur). Tidak dapat dipungkiri bahwa Mercosur memiliki kekuatan geo-ekonomi dan politik di benua Amerika. Mercosur sudah diakui di dunia, dibuktikan dengan adanya keberadaan perusahaan-perusahaan dari Amerika Utara dan Uni Eropa. Kemudian, ada pula pembentukan blok ekonomi di Amerika bernama the Free Trade Area of the Americas (FTAA) [9], yang dimulai pada tahun 2005 kemarin. Oleh karena itu, Jepang perlu lebih memperhatikan keberadaan Brazil.

2. Pemberian kekuasaan pada Staf lokal

Kesulitan Jepang dalam berbisnis dengan Brazil karena adanya perbedaan bahasa, kebudayaan, sistem legal dan perpajakan yang kompleks, dapat diatasi dengan cara lokalisasi manajemen. Sebagai contoh, AS dan Eropa berafiliasi dengan perusahaan Brazil dan yang mengoperasikan perusahaannya adalah staf lokal, dengan cara mendelegasikan kekuasan dari perusahaan induk. Hal ini memungkinkan mereka untuk membuat keputusan dengan cepat dan fleksibel untuk menghadapi perubahan yang mendadak dalam lingkungan bisnis. Perusahaan Jepang dapat belajar dan meniru cara yang sangat efektif ini. Terlebih mengingat banyaknya jumlah imigran Jepang yang ada di Brazil, semakin dapat mempermudah hambatan tersebut.

Kesimpulan

Sebenarnya, Jepang memiliki hubungan yang cukup dalam dengan Brazil dalam sejarah, kebudayaan, dan interaksi antara masyarakatnya. Namun, bagaimanapun juga perdagangan dan hubungan investasi antara kedua negara menunjukkan tanda-tanda yang kurang kuat. Jepang harus menyadari bahwa Brazil tak lagi merupakan negara yang âuntrustworthyâ? ataupun âunprofitableâ?. Dengan adanya kerjasama ekonomi, kedua negara tersebut dapat saling melengkapi dan menjadi partner global yang dapat menciptakan âuangâ? secara bersama. Bagi Jepang, adanya EPA dengan Brazil adalah kunci untuk mengembangkan akses pasar barang dan jasa, memperkuat perdagangan dan investasi, dan untuk meningkatkan kompetisi internasional di Brazil. yang kemudian diharapkan pasar Jepang di Brazil tersebut dapat berkembang, meluas menuju pasar Amerika Latin, kemudian Amerika Utara, Eropa dan akhirnya dapat meluas secara keseluruhan yaitu mencapai Pasar Dunia.

Potensi-potensi yang dimiliki keduanya sebaiknya dipergunakan dan diolah dengan sebaik-baiknya, dan mereka harus menemukan jenis dan jalan baru dari hubungan tersebut agar dapat berkembang lebih maju.

Daftar Pustaka

Buku

  • Drifte, Reinhard. Japanâs Foreign Policy. Council on Foreign Relations Press : New York. 1989
  • Hook, Glenn D., et.al. Japanâs International Relations ; Politics, economics and security. Routledge : London & New York. 2001.
  • Irsan, Abdul. Jepang Politik Domestik, Global dan Regional. Hasanuddin University Press ; Makassar. 2005.
  • Siti Daulah K., Catatan Mata Kuliah Politik Luar Negeri Jepang serta Jepang dan Tata Ekonomi Internasional, HI, FISIPOL UGM. Semester Genap 2006.
  • Regional Diplomacy ; Japan â Latin America & Caribbean Relations ( pdf file )
  • Japan Foreign Policy in Major Diplomatics Fields ; ODA ( pdf file )
  • ODA policy ( pdf file )

Internet

***

[1] Lihat : Irsan, Abdul. Jepang Politik Domestik, Global dan Regional. Hasanuddin University Press ; Makassar. 2005. hal 96

[2] Lihat : http://www.bookrags.com/history//

[3] Ibid

[4] Economic Partnership Agreement (EPA)

[5] Mercosur merupakan Pasar Bersama Amerika Selatan (Southearn Common Market / MERCOSUR), yang terdiri dari Brazil, Argentina, Paraguay, Uruguay, Chile, Bolivia dan Peru. Lihat : Regional Diplomacy ; Japan â Latin America & Caribbean Relations ( pdf file )

[6] sebagai hasil dari integrasi ekonomi regional Mercosur

[7] http://www.mofa.go.jp/region/latin/Brazil

[8] http://www.keidanren.or.jp

[9] FTAA beranggotakan semua negara di Amerika, kecuali Kuba, dengan nilai total GDP sebesar US$ 12.7 trilyun dan populasi regional mencapai 830 juta jiwa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s