Perbandingan Zaman Monarki dengan Zaman Feodal Jepang

Karakteristik Zaman Monarki

Zaman Monarki dalam pembabakan sejarah Jepang dimulai dengan Zaman Yamato (tahun 250 â 552), Zaman Asuka Hakuho (552 â 710), Zaman Nara (710 â 794) dan berakhir pada Zaman Heian (tahun 794 â 1185). Dalam rentang waktu lebih dari sembilan ratus tahun ini, banyak terjadi peristiwa yang menjadi pembentuk dasar negara Jepang, baik dari sisi politik, ekonomi, sosial maupun budaya.

a. Bidang Politik

Dalam bidang politik dan pemerintahan, pada intinya, kekuasaan politik tertinggi pada zaman monarki berkiblat pada istana (istana sentris). Pada zaman Monarki sudah ada pembagian-pembagian kerja. Roda pemerintahan dijalankan oleh para kepala klan (gouzoku) yang membawahi bidang-bidang yang berbeda. Mereka juga merupakan pembantu kaisar. Susunan pemerintahan cukup terorganisasi berdasarkan sistem pembagian kerja klan (shisei seidou). Namun, pada masa pemerintahan Pangeran Shotoku, ia melakukan reformasi yaitu memusatkan semua kekuasaan politik pada satu titik (kaisar), menghapuskan sistem pemerintahan yang berdasarkan klan dan menggantikan sistem tingkatan-tingkatan menurut kepandaian (Kanâi Juni Kai no Seido). Pada zaman monarki akhir, kekuasaan politik tertinggi negara dipegang oleh golongan bangsawan.

b. Bidang Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, karakteristiknya adalah disusunnya mekanisme pemerintahan terpusat. Pada zaman monarki, dilakukan pembaharuan taika di bidang ekonomi dan sosial, yang dapat dilihat dari kebijaksanaan pemilikan tanah, pajak dan sensus penduduk. Selain itu, juga diresmikan kitab undang-undang (Ritsuryou). Terkait dengan kepemilikan tanah, pada awalnya tanah dimiliki oleh tennou dan para klan. Namun, pada perkembangannya tanah-tanah yang dimiliki oleh para kepala klan disita dan dianggap menjadi milik negara, yang kemudian dibagikan kembali pada rakyat (kouchi koumin).

Hubungan dengan China memberikan dampak pada sistem ekonomi Jepang masa Monarki, yaitu dengan peniruan terhadap sistem politik dan ekonomi Dinasti Tang di China. Hal ini mendorong munculnya sistem ekonomi uang purba (sudah ada pemakaian uang logam) walaupun masih dalam jumlah dan area yang terbatas.

c. Bidang Sosial

Dalam bidang sosial, struktur politik mencerminkan struktur kelas dalam masyarakat (tennou merupakan kelas tertinggi). Sehingga, golongan dari keluarga istana memiliki posisi yang tinggi dibandingkan dengan golongan-golongan yang lain (petani, pedagang, dan lainnya).

d. Bidang Budaya

Dalam bidang budaya, Zaman Monarki menunjukkan adanya perkembangan budaya yang menjadi fondasi dasar bagi kebudayaan Jepang selanjutnya. Kebudayaan monarki yang paling awal dapat terlihat dari adanya peninggalan sejarah berupa kuburan-kuburan besar (kofun).

Pada perkembangannya, kebudayaan Jepang mendapatkan banyak pengaruh dari China, karena pada saat itu Jepang sudah menjalin hubungan yang baik dengan China dan Korea. Para Toraijin (pendatang dari China dan Korea) tersebut membawa kebudayaan China ke Jepang, seperti kebudayaan huruf China (Kanji), ajaran Konfusianisme, dan juga termasuk agama Budha. Agama Budha sempat menjadi agama negara, kemudian didirikan banyak kuil dan patung Budha di berbagai penjuru Jepang. Perkembangan agama Budha yang sangat pesat tersebut turut memberikan pengaruh pada seni arsitektur, seni ukir, seni lukis, seni kesusastraan. Selain itu, Toraijin juga mengajarkan cara bertani yang lebih maju. Pengaruh China lainnya adalah dalam sistem tata kota (seperti tata kota dinasti Tang China).

Seni mulai berkembang, seperti seni arsitektur kapal, pembuatan tembikar, sistem kalender, cara memelihara ulat sutera, pembuatan minuman keras. Pada masa ini, penulisan Sejarah Negara (Kokushi) yang berisi bahwa kekuasaan politik berada secara turun-temurun untuk menghormati kaisar ditulis.

Salah satu karakterisitik yang paling khas pada zaman monarki Nara dan Heian, adalah adanya pengurangan pengaruh China secara berkala, dalam artian ide-ide yang masuk ke Jepang dari China disesuaikan dengan kondisi Jepang (diJepangkan). Begitu pula dengan sekte Budha yang berasal dari China, juga diJepangkan. Dengan kata lain, masa ini adalah masa pematangan pengaruh-pengaruh kebudayaan Tang yang disesuaikan dengan kebutuhan dan rasa keindahan orang Jepang. Hal ini mendorong berkembangnya kebudayaan nasional, yakni kebudayaan asli yang mempunyai ciri-ciri khas local genius. Sinkretisme juga dilakukan antara agama Budha dengan agama Shinto. Pada zaman ini pula, tulisan Kana diciptakan sebagai tulisan Jepang.

Karakteristik Zaman Feodal

Zaman Feodal di Jepang dimulai sejak pemerintahan Kamakura Bakufu (tahun 1192 â 1333), dilanjutkan dengan Muromachi Bakufu (1333 â 1573) dan kemudian Zaman Azuchi Momoyama, sampai pada masa Edo Bakufu (1603 â 1867).

a. Bidang Politik

Kelahiran Feodalisme Jepang bersamaan dengan kelahiran kelas militer. Dengan hancurnya sistem Ritsuryou, kekacauan bidang politik dan tindak kejahatan meningkat. Hal ini mendorong lahirnya kelompok militer dan memicu kemerosotan sistem politik perwalian (Sekkan seiji).. Dua kelompok militer yang paling kuat adalah Keluarga Minamoto (Genji) dan Keluarga Taira (Heiji). Pada kelanjutannya, berkembanglah sistem insei dimana pemerintahan berpusat pada kuil, sehingga kuil mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai lambaga politik di samping sebagai lembaga keagamaan. Untuk mempertahankan kekayaan dan politik kuil dibentuk tentara pendeta (shohei).

Pada perkembangannya, pusat kekuasaan politik berpindah dari istana ke markas besar militer (yang pertama adalah di Kamakura). Para keturunan kaisar dan bangsawan diisolasi dari dunia politik di Kyoto, dan kekuasaan politik dikuasai oleh shougun (jendral berkuasa penuh) dan daimyou. Isolasi kelompok istana dari dunia politik cukup ketat, terlihat dari banyaknya peraturan-peraturan yang diciptakan untuk membatasi gerak politik kelompok istana.

Dalam politik keagamaan, ajaran Kristen mulai masuk ke Jepang melalui pedagang-pedagang Eropa. Oleh beberapa pemimpin zaman feodal, ajaran agama Kristen ini dilarang secara keras karena dianggap mengganggu persatuan negeri. Puncaknya pada masa Feodal akhir, dimana pemerintahan Tokugawa menerapkan kebijakan pintu tertutup (sakoku).

b. Bidang Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, karakteristik yang paling khas dari zaman feodal adalah adanya sejumlah peraturan mengenai kepemilikan tanah dan pengolahannya, yang lebih spesifik dan ketat dibandingkan zaman monarki. Misal, lahir sistem ryougoku yaitu sistem pemilikan tanah yang berpusat pada daimyou (pembesar tuan tanah).

Selain itu, sektor-sektor lain seperti pertukangan industri rumah tangga, bidang pertambangan, pertanian, alat-alat pertukangan, dan bidang perdagangan berkembang lebih pesat. Perkembangan ini mendorong pertumbuhan kota di sekitar kuil atau puri (Joukamachi). Sistem mata uang yang sudah ada sejak zaman monarki, pada zaman feodal lebih dimantapkan. Sistem ini ditiru dari Dinasti Sui di China, dimana penggunaannya mencakup seluruh negeri (termasuk daerah pelosok).

c. Bidang Sosial

Pada zaman feodal, struktur pelapisan sosial masyarakat / kelas tetap ada. Namun, berbeda dari zaman monarki, golongan tertinggi adalah kelas bushi / militer. Kelas-kelas lain di bawahnya adalah noumin / petani, kousakunin / tukang, dan shonin / pedagang, serta kelas eta dan hinin (budak). Sistem kelas ini bersifat ketat, dimana masyarakat tidak diperbolehkan menukar status, dilarang melakukan perkawinan campuran dan peraturan ini berlaku secara turun temurun. Hal ini menyebabkan terciptanya diskriminasi sosial yang sangat tinggi.

d. Bidang Budaya

Dalam bidang budaya, zaman feodal ini terdapat perkembangan yang sangat menakjubkan dimana banyak tercipta kebudayaan khas Jepang yang bahkan masih bertahan hingga saat ini. Kebudayaan ini berkembang, tak hanya mendapat pengaruh dari budaya militer, tetapi juga mendapat pengaruh dari budaya istana dan bangsawan. Sebagai contoh, perkembangan nilai-nilai Bushido (moral militer) seperti sifat-sifat kesederhanaan, sifat ekonomis , kesetiaan dan kesatria. Selain itu, kebudayaan tradisional Jepang seperti seni upacara minum teh (saado), seni merangkai bunga (kadou) dan seni membuat kue Jepang, drama Noh (nou), seni arsitektur puri, musik samisen, drama boneka joururi, drama kabuki tumbuh pada masa. Dapat dikatakan bahwa masa ini adalah masa keemasan perkembangan budaya tradisional Jepang. Kemudian, pada masa Genroku mucul karya sastra bermutu tinggi, seperti karya Ihara Saikaku. Selain itu, Ilmu Belanda, Konfusianisme, Kokugaku / studi nasional dan terakoya / sekolah-sekolah juga berkembang pesat.

Persamaan dan Perbedaan Zaman Feodal Awal dan Feodal Akhir

Zaman feodal dalam sejarah Jepang dibagi menjadi dua pembabakan, yaitu zaman feodal awal (Kamakura Bakufu tahun 1192 â 1333, dilanjutkan dengan Muromachi Bakufu tahun 1333 â 1573 dan Zaman Azuchi – Momoyama), sampai pada zaman feodal akhir (Edo Bakufu tahun 1603 â 1867).

Bidang Politik

Karakter dari sisi politik yang menyamakan feodal awal dan feodal akhir adalah pusat kekuasaan politiknya sama-sama berada di markas besar militer dan kekuasaan politik dikuasai oleh shougun (jendral berkuasa penuh). Para keturunan kaisar dan bangsawan pada kedua zaman ini, sama-sama diisolasi dari dunia politik. Namun, kondisi sedikit berbeda pada zaman feodal awal dimana pada zaman Muromachi, bakufu yang didirikan di Kyoto ini memiliki ciri-ciri khas yakni sebagai penjamin dan pendukung politik istana kaisar, sedangkan pada zaman Kamakura kekuasaan politik kaisar sangat dibatasi secara ketat . Selain itu, melalui restorasi Kenmu oleh Kaisar Godaigo, antara kaum bangsawan dan kaum militer dalam bidang pemerintahan diberikan kedudukan yang sama.

Pada zaman feodal akhir, Edo Bakufu menetapkan peraturan terhadap istana Kyoto secara lebih spesifik dibandingkan pada zaman feodal awal, dimana kaisar tidak diperbolehkan untuk melibatkan diri dalam kehidupan politik, tetapi harus memperdalam ilmu dan kebudayaan Jepang. Selain itu, kenaikan pangkat para bangsawan istana harus atas izin bakufu, dan para daimyo dilarang memasuki atau menghadap langsung kaisar di Kyoto. Tujuan dari peraturan ini adalah untuk mengawasi kaisar dalam kegiatan politik, termasuk untuk menghindari agar kaisar tidak berkomplot dengan para bangsawan istana dan para daimyou.

Dalam struktur politik, yang membedakannya adalah pada feodal awal (Kamakura Bakufu yang berpusat di Kamakura), dibuat struktur pemerintahan militer yang langsung berada di bawah pengawasan shogun dengan pembantu-pembantu yang ditunjuknya. Pemerintahan Kamakura Bakufu juga membentuk tiga kantor utama yaitu samurai Dokoro, Madokoro dan Monchujou. Sedangkan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Shugo dan Jitou. Sedangkan pada feodal akhir (Edo Bakufu yang berpusat di Edo), shougun dibantu oleh rochu/penasehat, yang mengawasi seluruh administrasi pemerintahan. Sistem yang berjalan adalah sistem Bakuhan (Bakufu dan han), dimana sistem pemerintahan berdasarkan mekanisme pemerintahan semi otonomi/desentralisasi. Bakufu sebagai pemerintah pusat dan han sebagai daerah administratif setingkat propinsi. Dengan kata lain han berfungsi sebagai lembaga pemerintah tingkat daerah yang mendukung pelaksanaan pemerintahan semi otonomi. Kemudian, kedudukan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi tingkat bakufu adalah Shougun, sedangkan pemegang kekuasaan tertinggi tingkat han adalah daimyou.

Terkait kebijakan politik terhadap perkembangan agama, pada masa Feodal Awal pemerintahan Oda Nobunaga, ia menjadi pelindung agama Kristen dengan maksud ingin menghancurkan agama Budha yang dianggap menghalangi politiknya, dan ingin melancarkan perdangangan luar negeri yang kebanyakan dilakukan oleh penganut agama Kristen tersebut. Sedangkan pemerintahan Toyotomi Hideyoshi, ia melarang penyebaran agama kristen di Jepang karena dianggap mengganggu orientasi penyatuan negeri. Dan pelarangan ini mencapai puncaknya pada masa Feodal akhir, dimana pemerintahan Tokugawa menerapkan kebijakan pintu tertutup (sakoku).

Bidang Ekonomi

Dalam bidang perekonomian secara umum, dapat dikatakan bahwa pada zaman feodal awal perekonomian tumbuh dengan pesat, lebih maju dan lebih spesifik dibandingkan zaman feodal akhir. Hal ini disebabkan oleh sistem ekonomi dan sistem keuangan pada zaman feodal akhir mulai goyah, yang mengakibatkan terjadinya inflasi. Selain itu, perkembangan jokamachi yang tidak seimbang dan struktur kelas yang ketat mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial yang semakin tajam.

Khusus untuk hal yang terkait dengan kebijakan pertanian dan kepemilikan tanah, kedua zaman ini sama-sama memberikan perhatian yang cukup serius melalui pembuatan sejumlah peraturan. Pada zaman feodal akhir, dibuat peraturan untuk mengontrol petani, dimana mereka dilarang berpindah tempat tinggal, dilarang untuk menjual sawah / ladangnya, dilarang pindah pekerjaan, dilarang menanami sawah dengan tanaman lain kecuali yang ditentukan oleh bakufu, wajib menyetor pajak dengan jumlah yang telah ditentukan oleh Bakufu, dan petani diharuskan hidup berhemat.

Sedangkan pada zaman feodal awal, lahir sistem ryougoku yaitu sistem pemilikan tanah yang berpusat pada daimyou (pembesar tuan tanah) sehingga tanah-tanah milik pribadi tak ada lagi. Kebijakan daimyou antara lain; mengontrol para petani dan pedagang, mengembangkan pertanian, pertambangan dan perdagangan luar negeri. Dalam sistem pertanian, kaum militer membantu melipatgandakan produksi dengan cara sistem penanaman ganda. Selain itu, pertukangan industri rumah tangga lebih berkembang secara pesat.

Dengan adanya perkembangan di bidang pertambangan, pertanian, dan alat-alat pertukangan, bidang perdagangan juga mengalami perkembangan pesat, yang juga mendorong pertumbuhan kota di sekitar kuil atau puri (Joukamachi). Untuk mendukung kegiatan perekonomian tersebut, dibangunlah sejumlah sarana transportasi yang baru (termasuk jalan-jalan). Sistem transportasi yang lebih lancar, mendorong munculnya warung-warung minum dan tempat penginapan di sepanjang jalan besar. Kemudian, muncul kongsi dagang komoditi sejenis (Za) oleh para pedagang dan pengrajin rumah tangga. Pada masa feodal awal ini pula, diterapkan sistem mata uang yang ditiru dari Dinasti Sui di China yang penggunaannya mencakup seluruh negeri (termasuk daerah pelosok). Hal ini mendorong berdirinya tempat peminjaman uang berbunga tinggi (kashiage).

Khusus pada zaman Azuchi Momoyama, Oda Nobunaga menerapkan peraturan yang menghapuskan pajak-pajak liar, menghapus hak-hak monopoli dagang yang dilakukan oleh pedagang sejenis, membubarkan rakuza (kongsi dagang sejenis). Sedangkan di bawah kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi, ia menerapkan kebijakan Taiko Kenchi ; berisi pendaftaran tanah yang menyangkut luas, hubungan antara pemilik dan penggarap, dan jumlah pajak yang harus dibayar.

Bidang Sosial & Budaya

Baik pada saat pemerintahan feodal awal dan feodal akhir, sama-sama menerapkan struktur pelapisan sosial masyarakat feodal. Pada zaman feodal awal, struktur masyarakat feodal berdasarkan goon dan houkou dengan sistem feodal yang didasarkan atas hubungan shuujuu no kankei (hubungan-hubungan yang ada kaitannya dengan masalah tanah goon dan houkou). Selain itu, undang-undang hukum kelas militer (Goseibai shikimoku atau Jou ei shikimoku) ditetapkan untuk pertama kalinya.

Sedangkan pada zaman feodal akhir, ada pengetatan sistem pelapisan sosial (yang lebih ketat dibandingkan zaman feodal awal). Masyarakat dibagi menjadi empat kelas (Shinoukousho), antara lain ; bushi / militer (sebagai kelas tertinggi), noumin / petani, kousakunin / tukang, dan shonin / pedagang. Ada pula kelas eta dan hinin (budak). Hal ini ditujukan untuk melaksanakan pengawasan feodal militer secara ketat. Masyarakat tidak diperbolehkan menukar status dan peraturan ini berlaku secara turun temurun. Selain itu, masyarakat dilarang melakukan perkawinan campuran, sehingga tercipta diskriminasi sosial yang sangat tinggi.

Dalam bidang budaya, dalam dua masa feodal ini terdapat perkembangan yang sangat menakjubkan dimana banyak tercipta kebudayaan khas Jepang yang bahkan masih bertahan hingga saat ini. Pada masa feodal awal, kebudayaan militer berkembang dengan pesat hingga menyebar sampai ke pelosok-pelosok negeri. Selain itu, berkembang pula ajaran Budha baru dari bermacam-macam sekte. Seni ukir berkembang pesat, misal patung Budha dengan ekspresi jantan bergaya realisme. Seni lukis beraliran realisme/lukisan gulung. Bentuk perumahan berupa buke zukuri, yakni bangunan rumah yang dikelilingi tembok dan parit. Sifat-sifat Bushido (moral militer) seperti sifat-sifat kesederhanaan, sifat ekonomis , kesetiaan dan kesatria juga dipelihara dan dikembangkan dengan sungguh-sungguh.

Lebih spesifik pada zaman Azuchi â Momoyama (feodal awal), berkembang kebudayaan campuran yakni kebudayaan istana yang bersumber dari kaum bangsawan dengan kebudayaan kaum militer. Selain itu, berkembang pula kebudayaan Kitayama yang dicirikan dengan pendirian Kinkakuji dan kebudayaan Higashiyama dengan pendirian Ginkakuji. Sejumlah kebudayaan tradisional Jepang seperti seni upacara minum teh (saado), seni merangkai bunga (kadou) dan seni membuat kue Jepang, tumbuh pada masa ini. Perkembangan lainnya adalah pantun bersambung (renga) dan haiku (pantun bebas), drama Noh (nou), seni arsitektur puri, musik samisen, drama boneka joururi, drama kabuki serta penyempurnaan sado. Pendukung utama kebudayaan pada masa ini adalah tentara, para daimyou dan para pedagang kaya di sekitar Joukamachi dan Minato Machi. Kebudayaan Azuchi memiliki ciri khusus yaitu adanya keluwesan/lebih bebas dari kebudayaan ningrat. Dapat dikatakan bahwa masa ini adalah masa keemasan perkembangan budaya tradisional Jepang.

Pada masa kepemimpinan Tsunayoshi (Edo Bakufu, feodal akhir) tercipta suatu masa ketenangan dan kemakmuran (Genroku), yang mendorong munculnya karya sastra bermutu tinggi, seperti karya Ihara Saikaku. Selain itu, Ilmu Belanda, Konfusianisme, Kokugaku / studi nasional dan terakoya / sekolah-sekolah berkembang pesat. Terdapat pula bentuk-bentuk baru dari haiku dan drama boneka serta muncul gaya lukisan Ukiyo-e. Ciri khas pada kebudayaan zaman ini adalah sifat egalitariannya.

5 thoughts on “Perbandingan Zaman Monarki dengan Zaman Feodal Jepang

  1. Kayane akhir-akhir ini daku tidak kreatif sekali. Demi atas nama "update", blog ini aku postingkan dengan tugas-tugas kuliah yang pernah kubuat. he…he…

  2. wuah thank you untuk infonya..bisa jadi data untuk tugas kuliahQ..
    tapi tenang Q gak suka membajak karya orang lain tanpa meyebutkan sumbernya..
    he..he..
    thank you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s