Makan dan Makanan di Jepang (Part I)

Setelah sekian lama absen (habis ujian akhir euy), kini saatnya kembali menorehkan kata-kata. Kali ini, aku ingin menulis tentang pengalamanku makan dan mencari makanan di Jepang. Btw, jangan keburu suâudzon dengan posturku yang menampakkan bahwa aku âdoyan makanâ? ya! Bagaimanapun, makan adalah kebutuhan pokok manusia, jadi harap dimaklumi dah. wakakakâ¦

Selama perantauanku di Jepang selama hampir 2 bulan, banyak hal yang kupelajari mengenai bagaimana cara makan âyang amanâ?, cara memilih makanan, tips en trik belanja makanan, serta hal-hal lain terkait makanan.

Pelajaran terpenting dari soal makan-memakan adalah tentang ke-HALAL-annya, baik dari bahan-bahan maupun proses memasaknya. Tentu teman-teman sudah paham apa urgensi HALAL â HARAM dari asupan makanan/minuman yang kita masukkan ke dalam tubuh, kan?? Sungguh, aku beruntung bertemu dengan teman-teman yang mengajariku dan mengingatkanku untuk selalu menjaga âprinsipâ? yang satu ini. Mereka yang mengingatkanku tidak hanya para saudari seiman saja, bahkan beberapa teman Jepangku (yang cukup paham) juga mengingatkanku.

Kesulitan utama makan dan mencari makanan di Jepang adalah makanan-makanan tersebut (terutama yang bungkusan) ingredients-nya ditulis dalam kanji, katakana atau hiragana. Sangat jarang yang ada tulisan romajinya, atau arti bahasa inggrisnya. Bagi yang bahasa jepangnya mepet, tentu sulit sekali. Tapi, bagaimanapun tetap harus diusahakan, sehingga harus menghapalkan list zat-zat yang haram. Ayo berjuang!! Informasi mengenai list halal-haram ingredients, bisa dilihat di website ini.

Pig’s legs…

Foto ini diambil sewaktu ke Pasar Ueno. Di sana ada beragam bagian dari babi ; kuping, paha, dada, etc. Sayangnya gak nemuin kepala babi utuh. wakakak…

Oya, hal lain yang perlu diketahui adalah masalah halal haram itu gak cuma sekedar âasal bukan daging babi dan bukan alkohol". Pertama kali menginjakkan kaki ke negeri sakura, pemahamanku masih seperti itu. Aku sangat menyesal karena tidak mencari tahu dulu. Namun Alhamdulillah, sekarang aku menjadi lebih paham bahwasanya semua binatang yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah swt, hukumnya haram. Maka, daging ayam, daging sapi, atau daging lainnya yang tidak diketahui asal usulnya (halal atau tidak), lebih baik dihindari. Apalagi, di negeri non muslim yang proses penyembelihannya belum halal seperti Jepang. Harus hati-hati! Lebih lanjut bisa membaca tautan ini.

Cara aman untuk tetap mendapat asupan protein di negeri non-muslim adalah dengan cara menjadi vegetarian (sumber protein dari nabati seperti; tahu, tempe dll) atau pilih sea food (bagi yang doyan). Sea food Jepang terkenal dengan kesegarannya dan jumlahnya yang melimpah, jadi jangan takut kekurangan protein ^^. (oya, Udangnya mantaps euy, gedhe-gedhe. Sebagian hasil impor dari Indonesia lho. Jadi bangga ^^! He..heâ¦)

Aneka macam seafood….

Dare to try these ‘tako’ (gurita)??

Pilihan ini cenderung lebih aman, terutama bila kunjungan ke Jepang telah diatur oleh pihak penyelenggara, dimana makanan mereka-lah yang menyiapkan. Untuk program seperti ini, biasanya pihak pengundang akan bertanya kepada peserta yang diundang tentang preferensi makanan mereka. So, ada baiknya menyampaikan hal ini sejak awal. Jangan sungkan atau merasa tidak enak. Orang Jepang biasanya bisa memahami, dan menghormati prinsip ini. Walau terkadang mereka merasa aneh dan ribet ^^â?

Nah, bagi yang tinggal di Jepang untuk waktu agak lama dan harus menyiapkan sendiri makanannya, cara aman untuk menyantap panganan berdaging adalah dengan membelinya di HALAL STORE. Di kota-kota besar, sudah cukup banyak toko bahan pangan halal yang menyediakan bumbu-bumbu halal maupun daging-daging halal. Trus, bagaimana dengan yang tinggal di kota kecil? Dengan kecanggihan teknologi modern yang ada saat ini, memesan dan membeli daging halal secara online di Toko Halal bisa menjadi solusinya. Toko Halal yang menyediakan fasilitas pesanan online ini contohnya adalah Toko Azhar di Fukuoka.

Sewaktu aku berkunjung ke Fukuoka, aku sempat mengunjungi Toko Azhar. Oya, toko ini dimiliki dan dijalankan oleh orang Indonesia lho! Letak tokonya tak terlalu jauh dari Kyushu University. Mereka memiliki peternakan ayam dan pemotongan hewan sendiri yang letaknya di Kumamoto. Jadi, tak perlu ragu lagi dengan prosesnya. insyaAllah sudah Islami dan dijamin halal. Mereka melayani pemesanan daging halal di seluruh Jepang. Proses distribusi dagingnya pun sudah ter-manage secara apik.

Selain di toko yang khusus menjual makanan halal, di Tokyo atau tepatnya di Ueno, ada sebuah pasar yang menyediakan banyak bumbu-bumbu dari negara-negara Asia (Thailand, Malaysia, India, etc), termasuk bumbu masakan negara tercinta (ada label halal MUI-nya lho!). Harganya memang lebih mahal, tapi kelengkapannya bisa menandingi pasar-pasar yang ada di Indonesia (daripada bolak balik ke Indonesia, biayanya berapa coba?? He..he..)

Sebuah warung bumbu Asia "halal" yang ada di Ueno

Toko Halal milik imigran Bangladesh di Beppu, Oita (Kyushu)

Seperti yang sudah kusebutkan, banyak toko halal yang dijalankan oleh orang Indonesia, secara Indonesia merupakan negara asal Muslim terbanyak yang ada di Jepang (Sakurai, 2008). Ada pula toko halal yang di-manage oleh muslim Pakistan, Bangladesh, atau India. Nah, khususnya untuk India dan Pakistan, mereka juga memiliki restoran khas masakan negara mereka. Biasanya, mereka juga menyediakan masakan halal. Oleh karena itu, restoran INDIA menjadi pilihan utamaku ketika mencari makanan di luar. Masakan India maknyuss tenan, cukup sesuai dengan lidah orang Indonesia. Karinya begitu mantap, aroma rempahnya menggiurkan, dan kelezatan makanannya tiada duanya ^o^. Saking doyannya, aku selalu memilih masakan India saat berkunjung ke Ueno (Tokyo), Kobe, Osaka dan Beppu.

To be continuedâ¦..

10 thoughts on “Makan dan Makanan di Jepang (Part I)

  1. makasih infonya… ini yg suka jadi pertanyaanku sbg muslim. gmn caranya ‘makan’ di negara-negara yang mayoritas bukan muslim, apalagi klo kita sedang jadi musafir.

    just share aja, temenku yg pernah liputan seminggu di Shanghai terpaksa minum jus dan air putih doang karena sulit banget nemuin makanan halal…

  2. Jangan cuma mupeng aja, wujudkanlah ke-mupeng-an itu (?) dengan cara merealisasikannya. Anyway, Ibunda jadi berangkat ke Kagoshima? Bisa tuh, membawa sangu bumbu dan sambal dari Indonesia ^^.

  3. sami-sami mbakyu ^^. Memang jadi tantangan tersendiri.
    Ho~ ternyata pengalaman temannya mbak sama denganku. Aku dan teman Malaysiaku pernah hanya makan buah dan minum jus selama 5 hari, sebelum akhirnya menemukan restoran India halal (restoran India selalu menjadi penyelamatku :D). ho..ho…

  4. Nice info mbak chiku!
    Baru menyadari enaknya jadi muslim yang hidup di negara mayoritas muslim ya..hehe..
    Tapi tidak mengurangi keinginan untuk ke Jepang, hoho^^
    Ganbarimasu..

  5. maturnuwun sanget 🙂
    Betul2. Tapi kadang walo kita hidup di negeri mayoritas muslim, kadar "alert" kita terhadap makanan halal jadi agak mengurang. Jadi, tetep harus pilah pilih 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s