Makan dan Makanan di Jepang (Part II)

Lanjut lagi ceritanyaâ¦

Di bagian sebelumnya, aku sudah bercerita banyak tentang makanan Halal di Jepang, toko halal, serta restoran halal. Nah, di postingan yang ini, aku ingin menyampaikan pengalaman dan praktek âmakanâ? dalam keseharianku di Saijo â Higashi Hiroshima. Sekedar informasi, Saijo merupakan kota kecil yang terletak sekitar 40 km dari pusat Kota Hiroshima.

Aku masih ingat sekali, malam pertama di Saijo, yang menjadi makan malamku pada saat itu adalah nasi + semur daging sapi lada hitam pake paprika + bakwan jagung plus es degan. Makanan yang spesial, bukan? He..he⦠oya, hari pertama aku di Saijo pas masih bulan Ramadhan.

Foto di atas merupakan gambar dari "My First Dinner in Saijo"

(spesial buatan Mb Pipit)

Alhamdulillah, saat itu aku beruntung sekali karena keluarga senpai yang skaligus menjadi âpembimbingâ? penelitianku di Hirodai, berbaik hati mengantarkan satu paket bento lengkap dengan isi yang telah kusebutkan tadi ^o^. Makanan tersebut dimasakkan oleh Mbak Pipit, istri dari Andy âsenpaiâ? sensei. Andy sensei dan keluarganya sudah banyak membantuku, mulai dari masa-masa pencarian professor pembimbing saat tahap seleksi, hingga hari terakhir kepulanganku. (Eh, berhubung tema tulisan ini tentang makanan, jadi aku fokusin ke tentang makanannya aja ya. Cerita tentang pengalaman penelitianku akan aku sampaikan di tulisan laen).

Makan besaaar!! Undangan lunch dari mbak Mai + mas Fajar

Sebenarnya waktu 8 pekan yang diberikan padaku, tidak sepenuhnya aku habiskan di Saijo. Hampir setengahnya aku pakai untuk berputar-putar ria dan menyesatkan diri ke tempat lain. He..he.. tapi, tetep dong selama di Saijo aku harus makan.

Alhamdulillah, aku beruntung (skali) karena di pekan pertama tinggal di Saijo, pas ada kumpul-kumpul PPI Hirodai (Hiroshima Daigaku = Hiroshima University), pas ada acara pengajian mingguan, pas ada perayaan lebaran, serta pas ada acara syawalan. Do you know what these activities mean??

Artinya adalah selama satu minggu aku bisa makan GRATIS. Wa..haâ¦ha..ha⦠(wah, ketahuan nggak punya modal dan masih berwatak âanak kosâ?). Dan yang lebih penting adalah aku bisa makan masakan âhalalâ? Indonesia sepuasnya ^_____^! Janganlah engkau mengira saat aku merayakan lebaran di negeri nan jauh ini, aku merindukan lezatnya ketupat dan lontong opor ala Lebaran di Indonesia.

Acara "makan-makan" buka bersama PPI Hiroshima – Saijo

Tidak, tidak sama sekali wahai kawan. Karena, dengan adanya berkah dari NYA dan kepiawaian para Ibu Indonesia yang ada di Saijo, aku tak kekurangan citra rasa masakan Indonesia apapun. Aku tetap bisa menikmati lezatnya nasi kuning, ketupat sayur, opor ayam, empek-empek, dll (banyak bener ya??). Nggak hanya selama acara saja, bahkan mereka juga berbaik hati padaku (yang newbie ini) dengan menyangoni banyak lauk pauk dan makanan untuk dibawa pulang. HOREâ¦â¦!! (wah, pancen tukang gratisan XD)

Gado-gado ala Saijo buatan Mbak Anis

Bakwan wortel buatan ibu-ibu pengajian Saijo ^^

Langsung ke inti pengalaman. Berhubung di apartemenku ndak ada dapur (zannen datta >__<), kegiatan makanku didominasi dengan membeli makanan siap saji di supermarket deket apato. Nama supermarket itu adalah YOU ME TOWN.

Hampir setiap sore atau malam aku ke yumeton yang letaknya hanya sekitar 300 meter. Dengan ditemani akai-chan (my lovely bike ;D), aku melaju ke sana tanpa perlu banyak mengayuh pedalnya. Maklum, letak yumeton ada di âbawahâ?, sehingga jalannya menurun.

Harus hati-hati dan senantiasa mengerem agar ndak mbablas, kalau ndak, bisa gaswat. Nah, kalau berangkatnya menurun, berarti pulangnya menanjak. Hosh..hoshâ¦buat makan aja perlu perjuangan lebih!! Dengan membakar lebih banyak kalori = membuat tubuh semakin lapar. Thatâs nice!

Makanan yang biasanya aku beli di yumeton adalah nasi putih matang (harganya 180 yen) dan ikan ato seafood lainnya (bervariasi harganya, tergantung jumlah dan ukuran). Nah, dalam membeli makanan siap saji, kita tetep harus mengecek ingredients-nya satu per satu. Untuk makanan siap saji di supermarket/minimarket di Jepang, pasti tertera bahan-bahan makanan tersebut dan cukup detail. Namun, ya ituâ¦.semuanya ditulis dalam kanji, hiragana atau katakana >__< . Walau ribet, tapi tak mengapa. Demi memastikan kehalalal bahan makanannya (termasuk minyak gorengnya harus minyak goreng tumbuhan/sayur dan penyedap rasanya).

Pada masa-masa awal tinggal di sana, aku menghabiskan waktu yang sangat lama untuk mengecek satu per satu makanan yang bisa dimakan. Supaya makan bisa lebih variatif, memang harus rajin mengecek makanan-makanan seisi supermarket tersebut. Heâ¦heâ¦Bosan dong, kalau setiap hari cuma makan nasi putih dan ikan aja (plus sambal sachet yang kubawa dari Indonesia. Sayangnya, satu bungkus besar sambel sachet, langsung habis dalam 1 minggu ^^â?).

Oya, jadi teringat sebuah cerita yang diberikan oleh dosenku di KWJ. Beliau pernah berbagi pengalaman dan tips bagaimana cara untuk menghemat uang makan di Jepang. Caranya adalah membeli makanan siap saji di supermarket tersebut di atas jam 7 malam. Berhubung masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi kualitas makanan, maka makanan yang dianggap âkadaluarsaâ? (melebihi jam layak saji, padahal di hari yang sama) akan di diskon. Tapi tenang saja, kata temanku,standar âkadaluarsaâ? Jepang berbeda dengan Indonesia. Kadaluarsa-nya Jepang masih aman dimakan, karena yang berubah kualitasnya hanyalah kesegaran dan rasanya.

Jadinya, makanan siap saji yang gagal terjual pada hari yang sama, terpaksa harus dibuang. Karena keesokan harinya, mereka akan membuat yang baru (mubadzir amat!!). Mungkin, kalo di negara kita tercinta ini, makanan yang tak terjual habis hari ini, besok paginya akan âdiangetinâ? lagi, diangetin lagi, dan pada akhirnya ia menjadi tak memiliki rupa, baik dari segi rasa maupun bentuk. Haâ¦ha.. (pengalaman pribadi).

Diskonnya bertahap sesuai dengan waktu lebihnya âkadaluarsaâ?. Missal, suatu makanan dianggap âlayak sajiâ? sampai jam 4 pm. Maka, apabila waktu menunjukkan pukul 5 pm, makanan tersebut akan diberi diskon 10 persen (ada stiker label bertanda 1 jam). Kemudian, pukul 6 pm diskon naik menjadi 20 persen (stiker label tanda 2 jam). Dan begitu seterusnya, jam 7 pm diskon 30 % untuk âkadaluarsaâ? 3 jam. Maksimal diskon adalah setengah harga ato 50% yang dapat terjadi ketika makanan tersebut telah âkadaluarsaâ? di atas 4 jam.

Sebelum tahu peraturan tentang diskon ini, aku pernah menyakan pertanyaan bodoh pada temanku yang sudah lama tinggal di sana. âEh, mungkin nggak makanannya jadi gratis kalau kadaluarsanya di atas 10 jam, kan berarti bisa diskon 100% ??â?

Bentou dan berbagai ikan goreng siap saji

Stiker berwarna kuning dengan tulisan 1 ato dua menandakan besaran diskon

Sejak tahu peraturan diskon itu, aku pun rela pergi ke supermarket di atas jam 7 malam, padahal sebelumnya, rata-rata setiap harinya aku ke sana sekitar jam 5 sore. Tapi, demi menghemat uang dan diskon setengah harga, berdingin-dingin ria di malam musim gugur kulakoni juga ^^â?. Sempat, suatu malam (sekitar pukul 8.30 pm), stok makanan diskon hampir habis. Dan ternyata, yang memiliki cara berpikir sepertiku ada cukup banyak. Alhasil, terjadilah perebutan makanan. wakakak..Waktu itu, ada seorang laki-laki yang hendak mengambil makanan yang sudah ku"tek". Trus, spontan aku tarik makananku en bilang "gomennasai ne, kore wa watashi no desu". ck..ck…^^"

Lanjut….

Diskon juga berlaku bagi produk-produk makanan dan minuman segar maupun kemasan yang hampir "kadaluarsa". Ada satu pojok spesial di supermarket tersebut bagi produk yang sudah dianggap âtidak layakâ? untuk standar Jepang. Biasanya, setiap aku ke sana, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi bagian ini untuk sekedar membeli pisang, kaki (kesemek) ato buah-buahan lain yang hanya setengah harga.

Terus, ada juga diskon untuk susu segar kemasan yang 3-4 hari lagi âkadaluarsaâ?. Biasanya, satu kotak susu cair kemasan ukuran 1 liter berharga 200 yen, tapi kalau sudah hampir âkadaluarsaâ?, harganya bisa jatuh, hingga hanya 99 yen. Setelah melihat angka yang menyilaukan itu, aku harus meyakinkan kehalalannya dengan mengecek ingredients-nya terlebih dahulu. Barulah kemudian, produk-produk setengah harga tersebut âterpaksaâ? kuborong. Demi menjaga keseimbangan 4 sehat + 5 sempurna. He..he.. (malu-maluin aja ^^")

To be continuedâ¦.

7 thoughts on “Makan dan Makanan di Jepang (Part II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s