Fukuoka (Part I)

Tulisan ini merupakan daur ulang postinganku yang dulu (gak kreatif mode : ON). He…he…Jadi mohon dimaafkan ya :D! Postingannya bercerita tentang pengalamanku menginjakkan kaki untuk yang pertama kali ke negeri sakura. Wa.. gak kerasa, lima tahun berlalu sejak daku ke sana, ke Fukuoka :D!
Subhannallah! Alhamdulillah ! AllahuAkbarâ¦
Ternyata memang benar bahwa janji-NYA adalah pasti, dan rezeki dari NYA datang dengan tak disangka-sangka. Itulah yang kurasakan ketika mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan The 2005 International Seminar with Asian Sister Universities at Fukuoka University, di Fukuoka, Jepang. Keinginan sedari kecil untuk ke Jepang terwujud melalui sebuah peristiwa yang tidak pernah kusangka dan rencanakan sebelumnya. Kesempatan ke luar negeri untuk pertama kali, ke Jepang pula! Sebuah kebahagiaan yang luar biasa…..Subhannallah…..
Kesempatan itu datangnya ketika aku sedang mengikuti kuliah, mata kuliah Sistem Masyarakat Jepang. Saat itu, aku dan teman-teman yang sedang asyik-asyiknya menyimak pelajaran, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah tawaran dari Dekanat yang mencari seorang mahasiswa untuk dijadikan perwakilan dari Fisipol UGM dalam acara tersebut, yang akan diselenggarakan pada 17 â 28 Oktober 2005.
Dibutuhkan segera pada saat itu juga! Syarat yang diajukan hanya satu ; memiliki kemampuan bahasa Jepang. Diriku yang sewaktu SMA pernah mengenyam les bahasa Jepang sampai level 4, dengan spontan langsung mengangkat tangan tanda mengajukan diri. Ternyata, tidak banyak mahasiswa yang pernah mengambil les bahasa Jepang sampai level tersebut, karena rata-rata kebanyakan dari kami yang masih semester 2 saat itu, baru saja memulai les bahasa Jepang. Alhasil, aku langsung diarahkan untuk mengikuti mbak sekertaris dekanat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Daku yang tadinya hanya spontan tunjuk tangan, langsung terbengong-bengong dan bingung ketika ditunjuk.Nggak nyangka!!! Tema kegiatan yang diadakan oleh Center for International Program Universitas Fukuoka ini adalah Japanese Language and Culture.
Ketika di ruang dekanat, aku masih bingung, dan malah jadi gemetar karena saking kagetnya. Serasa mimpi…..sampai-sampai mbak sekretaris itu berkali-kali meyakinkanku bahwa ini benar-benar terjadi. Subhannallah!
Kemudian, aku diminta untuk melengkapi persyaratan untuk mengikuti acara tersebut, seperti CV, transkrip nilai, TOEFL/sertifikat bahasa inggris, sertifikat bahasa jepang, rekomendasi dosen dll. Semua kelengkapan itu harus segera dipenuhi karena waktu yang diberikan pihak penyelenggara sangat mendesak. Alhasil aku harus pontang-panting melengkapinya. Tapi tak mengapa, segala sesuatu perlu perjuangan! Perjuanganku menuju Jepang ternyata baru saja dimulai. Perlu banyak persiapan untuk pergi keluar negeri, apalagi untuk pertama kalinya.
Dalam perjuangan ini, aku tidak sendiri. Perwakilan dari UGM ada 2 orang, dan seorang lagi adalah mbak Diah dari Sastra Jepang.
Oya, satu hal lagi yang kupelajari, rencanaNYA memang sungguh indah. Aku dan mbak Diah, secara tidak disangka, ternyata bertetangga di Jakarta. Hanya berbeda kompleks perumahan yang berjarak hanya sekitar 1 km (untuk ukuran Jakarta, ini sangat dekat). Oleh karenanya, hal ini mempermudah kami dalam berkoordinasi selama pengurusan persiapan di Jakarta. Di Jakarta, kami harus mengurus paspor, visa, surat bebas fiskal, dll. Kami berdua menjalani betapa sulitnya mengikuti alur birokrasi dalam departemen pemerintahan kita. Aku membuktikan bahwa birokrasi itu sangat rumit, kompleks dan memang akan seret jika tanpa pelicin. Alhamdulillah, aku cukup polos untuk tidak mengetahui â?sistem pelicinâ? tersebut. Akhirnya, kami harus berkali-kali terlempar-lempar ke berbagai departemen demi mendapatkan pembebasan uang satu juta rupiah untuk fiskal. Memang susah, tapi ada hikmahnya. Daku jadi tahu bagaimana menjalani dan mengikuti alur birokrasi melalui â?jalan biasaâ?. Cukup mendebarkan sekaligus menyenangkan, karena bisa berkeliling jakarta dengan Trans-Jakarta demi bolak-balik menuju departemen-departemen yang jaraknya cukup berjauhan dan tidak efektif itu dengan deg-degan dan berkeringat karena sering lari-lari. He……he…..
Hari-hari menuju the day semakin dekat. Aku yang tadinya mencoba untuk santai ternyata tidak bisa mengelak dari perasaan takut dan khawatir. Istilah lainnya, seperti terkena demam panggung. Karena pengalaman ini adalah untuk pertama kalinya ke luar negeri. Susah untuk mengungkapkan betapa galaunya hatiku saat itu, sehingga aku menangis. Alhamdulillah aku ditenangkan oleh sahabatku (itâs you mbak isti ^^) bahwa walau kita berada di negara yang berbeda, tetapi kita melihat langit yang sama.
Aku dan mbak Diah berangkat dari Jogjakarta pada hari Sabtu tanggal 15 Oktober 2005 pukul 20.00 dengan diantarkan oleh keluarga masing-masing. Ada satu peristiwa yang mengejutkan kami ketika di Bandara Adisutjipto. Ternyata, penerbangan kami yang seharusnya dari Bali langsung menuju Fukuoka ditiadakan! Penerbangan kami dialihkan dari Bali menuju Osaka, baru kemudian dari Osaka ke Fukuoka. Memang, kami sempat panik. Tapi lagi-lagi, hikmahnya adalah kami diberi kesempatan untuk mengunjungi kota lain di Jepang yang sangat terkenal, OSAKA! Walaupun itu hanya transit pesawat. He….
Pada pukul 21.00 WIB, kami menuju Bandara Ngurah Rai Bali menggunakan GIA.
Sesampainya disana, kami harus menunggu penerbangan ke Kansai International Airport (KIX, Osaka) pada tengah malamnya, dengan GIA seri Boeing 747-500. Okiina hikouki da ne! Hajimete miseru….ternyata di dalam pesawat itu cukup banyak orang Indonesia yang mungkin dalam rangka dinas kerja, juga terlihat orang-orang Jepang yang hendak pulang kampung ke negaranya. Kami tiba di KIX keesokan harinya. Pertama kali menghirup udara dan menginjakkan kaki di Jepang, kami langsung disambut oleh rangkaian kereta monorel untuk transit ke ruang utama. Sugoi! Jepang memang benar-benar high-tech!
Hm….kekaguman kami terhadap bandara KIX itu tak boleh terlalu lama, karena penerbangan selanjutnya menuju Fukuoka tinggal 2 jam lagi. Ketika melihat ke papan jadwal penerbangan, kami dikejutkan lagi oleh suatu peristiwa!!! Kode Penerbangan kami tidak ada di jadwal penerbangan itu! Doushite!!! Bagaimana bisa? Finally kami memberanikan diri untuk bertanya kepada mbak-mbak petugas bandara. Walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas, mbak petugasnya dengan ramah dan sepenuh hati menjelaskan bahwa penerbangan kami bukanlah dari KIX ini, tapi melalui bandara lain yang bernama Iitami Airport. Iitami Airport berjarak satu jam perjalanan dengan bis yang khusus mengantarkan penumpang dari KIX menuju Iitami.
Setelah pemberitahuan itu, kami segera meluncur ke luar gedung untuk mencari bis yang dimaksud. Alhamdulillah, kami masih keburu untuk menaiki bus tersebut. Nyaris saja kami ketinggalan bis karena bis itu akan berangkat 5 menit lagi. Sistem transportasi di Jepang yang dikenal sangat ontime, membuat kami harus berlari-lari mencari mesin penjual tiket bis. Ya, di Jepang segala sesuatu serba menggunakan mesin. Diriku yang pertama kali melihat dan menggunakan alat tersebut menjadi canggung karena everything serba kanji, termasuk petunjuk pembelian tiket di mesin. Namun, alhamdulillah temanku itu adalah jurusan Sastra Jepang yang jago membaca kanji, sehingga kami berdua bisa terselamatkan. He…tasukatta ^^!
Mungkin peristiwa-peristiwa tak terduga yang berkali-kali membuat jantung kami hampir copot itu terkesan sangat menyusahkan dan menghambat. Tapi, insyaAllah apabila kita tetep keep on positive thingking bahwa segala sesuatu ada hikmahnya, membuat kita lebih legawa dan tenang. Justru menurutku ada hikmah besar yang menyenangkan dibalik itu. Perjalanan satu jam dari KIX menuju Osaka itu memberikanku kesempatan untuk melihat-lihat kemegahan kota Osaka, walau hanya dari dalam bis. Subhannallah! Tak mengira kami bisa merasakan kota Osaka.
Sesampainya di Iitami Airport yang berukuran lebih kecil dari KIX, kami langsung disambut ramah oleh petugas JAL yang langsung berbaik hati menguruskan boarding pasdan bagasi untuk kami, walaupun tidak kami belum berkata apa-apa. Tampaknya petugas itu sudah terbiasa untuk sigap apabila melihat turis asing yang kebingungan seperti kami. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa selamat sampai ke Fukuoka pada hari Ahad, 16 Oktober 2005 pukul 14.00. Dari bandara, kami langsung menuju Seminar House Fukudai (Fukudai ; singkatan dari Fukuoka Daigaku / Fukuoka University) yang akan menjadi tempat tinggal kami selama di Fukuoka, dengan menggunakan taxi.
Wow….taxi-nya sungguh lux dan canggih. Taxinya menggunakan navigator penunjuk jalan, sesuatu yang belum biasa terlihat di Indonesia. Pantas saja harga sewa taxinya sangat mahal! Btw, dimana-mana sewa taxi mahal dink! He…he…
to be continued….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s