Fukuoka (Part II)

Yang ini bagian keduanya. Di postingan yang terdahulu, aku menjadikan satu tulisan ini. Tapi setelah dibaca-baca, ketoke kedhawan (kepanjangan). Jadinya tak bagi dua supaya bisa istirahat matanya (capek euy, mbaca panjang-panjang ^^). Oya, saat aku membaca tulisanku di postingan lama (maksude tulisan di awal-awal baru punya multiply), ketok banget gaya bahasa dan tulisane masih canggung en aneh. he..he.. Paling ndak, sekarang sudah lumayan lah~ (lumayan masih aneh. ha..ha.. :D!)

Kami tiba di Seminar House dengan disambut oleh LO (guide) para mahasiswa Fukudai peserta lain dari China. Oya, seminar house merupakan wisma khusus untuk mahasiswa tamu asing Fukudai. setelah ditunjukkan kamar masing-masing, kami diajak untuk berjalan-jalan di sekitar seminar house. Melihat pemandangan kota Jepang untuk pertama kali, sungguh luar biasa! Nah, deskripsi kota Fukuoka seperti ini ; Fukuoka merupakan salah satu kota utama di pulau terbesar paling selatan Jepang, Pulau Kyushu. Walaupun tergolong kota utama di selatan Jepang, Fukuoka tidak seramai Tokyo (tentu saja). Mungkin perbandingannya seperti Medan di Pulau Sumatra dengan Jakarta di Pulau Jawa.

Latar belakang diadakannya acara The 2005 International Seminar with Asian Sister Universities at Fukuoka University yang diikuti oleh 21 orang peserta dari 5 negara (dengan rincian ; 10 orang dari Korea, 6 orang dari China, 2 orang dari Indonesia, 2 orang dari Taiwan, dan 1 orang dari Nepal). Kerjasama antara Fukudai dengan UGM telah dijalin sejak ditandatanganinya MoU pada tahun 2003. Program seminar internasional yang mengundang sister-universities yang tersebar di penjuru Asia ini, merupakan program tahunan dari Universitas Fukuoka. Ada l1 sister-universities, yang tersebar di 5 negara. Universitas-universitas tersebut antara lain ; Yantai University, Yangzhou University, University of Political Science and Law (RRC), Dong-eui University, Korea University, Pusan Nastional University, University of Ulsan, danEwha Womans University (ROK), Fu Jen Catholic University (Taiwan), Universitas Gadjah Mada (Indonesia), dan Tribuvan University (Nepal).

Untuk mendekatkan hubungan antar-sesama peserta, panitia melakukan pengacakan teman sekamar dengan negara yang berbeda. Satu kamar dihuni oleh 3 peserta. Teman sekamarku berasal dari Taiwan (Yuki-chan ^^) dan China (Fangyu-chan). Sangat menyenangkan untuk mengenal dan memiliki teman yang berbeda suku dan bangsa. Selama dua pekan acara tersebut, kami bertiga (ku, Yuki-chan dan Fangyu-chan) selalu bersama. Maka, hubungan kami lebih dari sekedar teman sekamar. Bahkan, kami bisa menciptakan hubungan persahabatan beda bangsa, walau kadang sering terjadi mis-komunikasi gara-gara perbedaan bahasa. Dalam percakapan sehari-hari, kami berbicara dalam 3 bahasa ; Jepang, Inggris, dan bahasa ibu masing-masing (aku memakai bahasa Indonesia, Yuki-chan dan Yu-chan dengan bahasa Mandarin).

Yang paling berkesan adalah ketika aku merasa iri karena mereka berdua berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, mereka langsung memahaminya dengan langsung beralih ke bahasa Inggris atau Jepang agar aku bisa bergabung dalam percakapan itu. Terkadang, kalau kami sedang bercanda, kami sering ledek-ledekkan dengan menggunakan bahasa ibu masing-masing (bahkan daku menggunakan bahasa Jawa), dan saling menirukan pengucapannya. Sangat lucu! Cara ini cukup efektif untuk mempererat hubungan kami sekaligus sebagai ajang untuk belajar bahasa. Aku merasakan manfaatnya sampai sekarang, karena mereka lah, aku jadi tertarik untuk belajar bahasa Mandarin dan ingin sekali suatu hari nanti pergi mengunjungi mereka di China dan Taiwan. Dua kalimat dalam bahasa Mandarin yang masih kuingat dari ajaran mereka ;wo bu zhidao (i donât know) dan bu xie (youâre welcome). Dan ku juga mengajari mereka dua kalimat sakti dalam belajar bahasa apapun ; â?Aku cinta kamuâ? dan â?terima kasihâ?. He….he…

Sekarang beralih ke cerita rangkaian acara seminar internasionalnya. Sesuai dengan temanya, kegiatan-kegiatannya âberbauâ? ke-Jepang-an. Kegiatan kebudayaannya berupa mempelajari & mempraktekan tradisi-tradisi Jepang, seperti ; merangkai bunga alias ikebana (kado), upacara minum teh (sado), pertunjukan drama tradisional Jepang (Noh), dan musik tradisional (shamisen). Ada pula kegiatan-kegiatan akademis berupa perkuliahan di kelas, seperti ; kelas bahasa Jepang, kelas komputer, English class, Japanese Mind & Japanese Literature, Sastra puisi pendek (Haiku), Japan in Global Society, Japanese Grammar, Family and Law in Japan, kunjungan ke kelas Matematika, Focus Group disscussion, performing arts dari tiap negara bersama-sama dengan pelajar dari Ohori High School (sstâ¦ini SMA khusus cowok lho! Heâ¦heâ¦.oops!), serta diskusi dengan sensei / profesor dari Fukudai.

Nah, ini dia yang paling dinanti-nanti. Study Tour alias jalan-jalan!!! Kalau belum jalan-jalan, belum kerasa deh Jepang yang sebenarnya!! Tour ke beberapa yumeina tokoro ini sekaligus dimaksudkan untuk mempelajari kebudayaan, alam, masalah sosial, dan sejarah Jepang. Tempat-tempat yang dikunjungi antara lain ; Fukuoka Tower yang merupakan simbol Fukuoka (berupa menara tinggi yang indah), Kyushu National Museum, bermacam kuil Budha dan Shinto, benteng Kumamoto & Shimabara, Amakusa (jembatan penghubung antar-pulau yang luar biasa & Christian Hall, memoir tempat dimana agama Kristen pertama kali masuk ke Jepang), Dejima (replika kota pusat perdagangan negara-negara Eropa di Kyushu pada zaman dulu), Nagasaki (musium Bom Atom & peace statue), Gunung Aso (Merapi-nya Kumamoto), Unzendake (tempat memorial pasca meletusnya Heisei-shinzan dan Fugen-dake), dan pantai. Kontur wilayah Jepang sangat unik, yaitu berupa pegunungan dan perbukitan yang berdekatan dengan pantai. Jadi, sekali merengkuh dayung, gunung dan pantai didapat. He…he….

Ada juga kunjungan ke NHK Fukuoka (kayaâ TVRInya Jepang) dan beberapa kunjungan bebas. Di acara bebas ini, ku paling suka berjalan-jalan dengan mencoba bis danchikatetsu (kereta bawah tanah) ke Tenjin (canal city, sebuah pusat perbelanjaan di Fukuoka, seperti Malioboro) bersama-sama dengan mbak Diah dan Takako-chan (LO). Sedangkan tempat paling sering kukunjungi sendirian adalah toko buku / Hon ya, yang khusus menjual buku dan komik bekas yang masih bagus dengan setengah harga. Puas sekali rasanya bisa berburu buku, sampai-sampai, berat koperku melebihi kapasitas dikarenakan banyaknya buku yang kubeli dan bawa pulang. He….he….

Walaupun hanya beberapa hari di Jepang, bukan berarti aku ndak menemui masalah. Dari beragamnya latar belakang negara tiap peserta, maka beragam pula kebiasaan dan lifestyle. Maka, tidak heran apabila sering terjadi ketidakcocokan dan ârasa anehâ? dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Tapi, mungkin hal itulah yang dimaksudkan seminar internasional ini, yaitu untuk menjalin hubungan persahabatan antar-negara, serta menciptakan mutual-understanding melalui grassroot diplomation. Dalam penciptaan kondisi ini, diperlukan suatu sikap saling memahami dan mau beradaptasi satu sama lain, tentunya tanpa harus menghilangkan identitas diri. Sebagai contoh, selama acara ini berlangsung, bertepatan dengan pelaksanaan puasa Ramadhan. Aku yang tetap berpuasa selama di sana, sering kali merasa tergoda dan tertekan oleh kondisi di lapangan. Belum lagi kalau banyak yang selalu bertanya, kenapa tidak makan babi atau minum sake, kenapa memakai kerudung, dan pertanyaan-pertanyaan senada lainnya. Namun, tentunya kewajibanku untuk menjelaskan kepada mereka. Walaupun pada awalnya sulit sekali melaksanakan puasa seorang diri dan menjalankan ibadah di negeri orang, tapi alhamdulillah dengan penjelasan dan keterusteranganku pada teman peserta lain, mereka justru sangat menghargaiku dalam menjalankan ibadah (termasuk penggunaan jilbab dan sholat lima waktu).

Hikmah yang bisa diambil, jangan ragu untuk mengutarakan dengan terus terang, apa-apa yang menjadi kebiasaan dan identitas kita kepada orang lain yang berbeda kultur. Jangan sungkan atau enggan berkata jujur karena takut ditinggalkan! Justru dengan berterus-terang, mereka akan meng-appreciate pendirian kita. Dengan kata lain, kita tetap harus bisa menyesuaikan diri dengan yang lainnya, tanpa meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi prinsip (termasuk dalam hal makanan dan minuman halal).

Permasalahan lain yang ku hadapi di sana adalah Cultural Shock. Ikon negara Jepang sebagai negara maju dan penuh dengan teknologi canggih memang 100% terbukti. Sejak awal kedatangan di Osaka, aku tak henti-hentinya tercengang oleh kecanggihan dan kemajuan teknologi Jepang. Sistem transportasi yang maju seperti kereta bawah tanah, monorel, bis dengan mesin kartu otomatis (yang disertai dengan kualitas kenyamanan dan kebersihan tingkat tinggi) merupakan hal yang jarang kurasakan di Indonesia. Tentu saja kecanggihan-kecanggihan tersebut, secara jujur, membuat ku mengalami cultural shock.

Walaupun ku menemui banyak permasalahan, aku sangat menikmatinya. Aku bersyukur bisa mempelajari kultur Jepang secara langsung. Yang kurasakan adalah pada nilai-nilai sosial moral Jepang (asli). Masyarakat Jepang menomorsatukan pelayanan (full service)yang langsung rasakan sejak ku di bandara. Tidak hanya di bandara, pelayan di supermarket, toko buku, sampai bus pun memberikan pelayanan terbaiknya. Setiap pelanggan yang keluar masuk selalu disapa. Service, keramahan dan kebersihan yang diberikan membuat setiap pelanggan merasa seperti ârajaâ?.

Selain itu, walaupun Jepang merupakan negara produsen industri otomotif terbesar di dunia, masyarakatnya secara sederhana menggunakan fasilitas transportasi umum atau sepeda. Hemat dan ramah lingkungan. Mungkin, selain karena kebijakan pemerintah serta tingginya harga BBM dan kendaraan bermotor di Jepang, kualitas transportasi umum tersebut cukup memuaskan sehingga orang akan lebih memilihnya.

Melihat hal tersebut, mungkin bisa dikatakan bahwa aku mengalami cultural shock karena jarang kutemukan di Indonesia. Shock-shock lainnya terkait dengan gaya hidup masyarakat Jepang, seperti mandi yang hanya satu kali sehari dan dilakukan pada tengah malam, dry toilet, makan dengan sumpit, serta kedisiplinan yang sangat tinggi (tepat waktu & cara penyebrangan jalan).

Dalam acara ini, diakui atau tidak, aku menjadi perwakilan Indonesia selama acara berlangsung, sehingga menjadi kewajibanku untuk membawa nama Indonesia dengan melakukan diplomasi âkecil-kecilanâ?. Ini dia saatnya aku mempraktikkan secara langsung mata kuliah di jurusan HI, khususnya Diplomasi. Dari kegiatan yang dilakukan, baik yang bersifat individual maupun kelompok, ada banyak kesempatan bagiku untuk melakukannya. Kesempatan untuk mempromosikan Yogyakarta dan Indonesia, didapatkan saat presentasi kebudayaan ; kemudian kelas bahasa Jepang, asosiasi internal sesama peserta seminar internasional, group discussion, & asosiasi kebudayaan bersama pelajar lokal. Pada saat mengikuti English class, aku berkesempatan untuk memperkenalkan Indonesia secara umum, seperti isu politik maupun isu-isu hangat yang terjadi di Indonesia, seperti ; pemilu, partai politik, berita tentang mantan presiden Megawati, Aceh pasca tsunami, bom Bali, sampai masalah kenaikan harga BBM.

Yang paling menyentak hati dan menggugahku untuk selalu terus menuntut ilmu adalah keterbatasanku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diluar perkiraanku. Ada sebuah pertanyaan dari seorang mahasiwa Jepang mengenai isu terorisme dan tuduhan keterkaitan islam dengannya. Begitu mendengarnya, aku langsung kelabakan, karena aku menyadari bahwa sangat sulit menjelaskan permasalahan itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami oleh orang-orang yang masih sangat awam dengan studi Islam kontemporer. Akhirnya, peristiwa ini menjadi cikal bakal semangatku untuk mendalami studi Islam (terutama yang kontemporer) lebih jauh. Agar suatu saat, jika aku ditanya dengan pertanyaan yang serupa, aku bisa menjelaskannya dengan bahasa yang paling mudah dipahami, sebagai salah satu jalan dakwah yang seirama dengan studi ilmu HI ku.

* FIN *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s