Tak Perlu Malu Berkata "Tidak Tahu"

Kuposting sebagai pengingat untuk diriku…..

Pernah ndak mengalami kondisi ini; jika dalam suatu ketika ada orang yang bertanya mengenai suatu hal, namun kita sebenarnya tidak tahu jawabannya. Tapi, karena demi menjaga "gengsi" kita menjadi enggan berkata "TIDAK TAHU". Oleh karenanya
, kita jadi "terpaksa" berbohong dan menjadi "sok tahu" agar "terlihat" bisa menjawabnya.

Namun, di sisi lain, ada hal yang lebih krusial dari sekedar "gengsi" yaitu kejujuran yang kita lupakan. Karena bagaimanapun, apabila kita memang benar-benar tidak tahu (terlebih mengenai suatu hal yang di luar kemampuan kita) kejujuran menjadi satu nilai tersendiri di mata NYA.

Pernah suatu ketika aku membaca nasihat bijak ini: "Tidak tahu bukanlah hal yang memalukan, melainkan yang memalukan adalah membiarkannya (untuk tetap tidak mencari tahu). Maka, apabila suatu ketika ada orang yang bertanya, namun kita benar-benar tidak tahu, tak perlulah kita malu untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa kita TIDAK TAHU. Tapi setelah itu, sebisa mungkin kita berusaha untuk mencari tahu.

Berikut tulisan di bawah ini yang menjadi inspirasiku untuk postingan ini…. Selamat membaca :D!

Diambil dari :

Rabu, 15 Juli 2009 18:01

Ulama saja tidak gengsi berkata, âsaya tidak tahuâ?, kenapa justru kita malu berterus terang kalau memang kita tidak tahu?

Para ulama terdahulu tidak pernah malu berterus terang jika mereka benar-benar tidak tahu. Karena mereka tahu, bahwa konsekwensi berfatwa tidak didasari ilmu adalah berat. Dan sifat mereka yang hati-hati inilah yang justru menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu. Banyak yang bisa kita tiru dari sifat-sifat baik mereka.

Al Khatib Al Baghdadi mengisahkan bahwa Imam Malik ditanya 48 masalah, hanya dua yang dijawab, dan 30 masalah lainnya dijawab dengan, âla adriâ (saya tidak tahu) (Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/170).

Kejadian ini tidak hanya sekali. Dirwayatkan juga oleh Ibnu Mahdi bahwa seorang lelaki bertanya kepada Imam Malik, akan tetapi tidak satupun dijawab oleh beliau hingga lelaki itu mengatakan:âAku telah melakukan perjalanan selama 6 bulan, diutus oleh penduduk bertanya kepadamu, apa yang hendak aku katakan kepada mereka?â Imam Malik menjawab, âkatakan bahwa Malik tidak bisa menjawab!â (Nukilan dari Al Maqalat Al Kautsari, 398).

Seorang faqih besar Madinah, Imam Madzhab yang dianut ribuan ulama hingga kini, yang madzhabnya menyebar hingga Andalusia tidak segan-segan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu menjawab. Tidak hanya beliau, para ulama Madinah juga amat berhati-hati dalam menjawab masalah halal dan haram. Karena jika tidak mengetahui masalah, kemudian memaksakan menjawab, sama dengan menisbatkan suatu perkara yang bukan syariâat kepada syariâat. Beliau menyatakan:âTidak ada sesuatu yang paling berat bagiku, melebihi pertanyaan seseorang tentang halal dan haram. Karena hal ini memutuskan hukum Allah. Kami mengetahui bahwa ulama di negeri kami (Madinah), jika salah satu dari mereka ditanya, sekan-akan kematian lebih baik darinya.â (dari Maqalat Al Kautsari, 399).

Abu Hanifah, Imam Madzhab paling tua dari empat madzhab juga pernah ditanya 9 masalah, semua dijawab dengan âla adriâ?. (lihat, Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/171).

âLa Adriâ, Bagian dari Ilmu

Sampai saat ini ada juga yang masih mengira, jika seseorang tidak tahu, lalu ia terus terang mengatakan âsaya tidak tahuâ, maka sederet stigma negatif akan menempel kepadanya, seperti kurang pengetahuan, bodoh, kuper dll.

Padahal tidak demikian, beberapa ulama seperti Al Mawardi dan Al Munawi menjelaskan, justru merupakan sifat orang alim, jika ia tidak tahu maka ia terus terang. Sebaliknya sifat orang bodoh, jika ia takut mengatakan kalau dirinya tidak tahu, dan hal itu bukanlah sebuah aib.

Beliau menjelaskan:âKedudukan seorang alim tidak akan jatuh dengan mengatakan âsaya tidak tahuâ terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui. Ini malah menunjukkan ketinggian kedudukannya, keteguhan dien-nya, takutnya kepada Allah Taâala, kesucian hatinya, sempurna pengetahuannya serta kebaikan niatnya. Orang yang lemah dien-nya merasa berat melakukan hal itu. Karena ia takut derajatnya jatuh di depan para hadirin dan tidak takut jatuh dalam pandangan Allah. Ini menunjukkan kebodohan dan keringkihan diennyaâ. (Faidh Al Qadir, 4/387-388).

Imam Al Mawardi juga menyebutkan: âJika tidak memungkinkan mendapat kesempatan untuk menguasai seluruh ilmu, maka jahil terhadap beberapa masalah bukan merupakan suatu aib. Jika demikian maka janganlah engkau malu mengatakan,âsaya tidak tahuâ, menyangkut hal-hal yang engkau tidak tahuâ. (lihat, Adab Ad Dunya wa Ad Din, 82)

Sehingga tidaklah heran jika para salaf menyatakan bahwa âla adriâ (saya tidak tahu) adalah bagian dari ilmu. Seperti Abdullah bin Umar yang menyatakan: âIlmu ada tiga: Kitab yang dibaca, Sunnah yang ditegakkan, dan la adri.â (Riwayat Ibnu Majah).

Begitu pula Ibnu Masâud: âSudah masuk bagian ilmu, dengan mengatakan âAllahu Aâlamâ, bagi hal yang tidak diketahui. (Riwayat An Nasai).

Bahkan Al Ghazali menilai bahwa pahala mereka yang mengaku terus terang, tentang ketidaktahuannya, tidak lebih sedikit, jika dibandingkan mereka yang mampu menjawab. Beliau menjelaskan: âLa adri adalah setengah dari pengetahuan. Barang siapa diam karena tidak tahu dan itu dilakukan karena
Allah, maka pahalanya tidak lebih rendah daripada mengatakan (karena dia tahu). Karena mengakui ketidaktahuan amat berat. Karena kabaikan diam disebabkan tidak tahu karena Allah adalah bentuk kewaraâan (kehati-hatian) seperti mereka yang menjawab karena tahu adalah tabaruâan (pemberian). (lihat, Ihyaâ âUlum Ad Din, 1/69).

Jika demikian, janganlah kita malu mengatakan terus terang , âsaya tidak tahuâ, terhadap apa yang tidak kita ketahui. Dan janganlah kita memaksa untuk berbicara tentang hal yang tidak kita ketahui.

*hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s