Me and My bike

* Ditulis dalam rangka menyambut perayaan 10 tahun (kurang 1 bulan) atas kepemilikanku atas SIM C (btw, SIM C adalah SIM buat naik motor. * Info bagi yang belum mengetahui). he..he…

Hari Kamis yang lalu, setelah sekian lama, akhirnya aku bisa “berduaan” seharian bersama si hitam manis Supra X 125 ku (ha..ha.. jangan mengira yang iya-iya :p). Sudah lama sekali kami tidak melakukan perjalanan jauh seharian bersama. Semenjak diriku sudah tak menyandang predikat “mahasiswa” lagi, walhasil pengembaraan dan waktuku bersamanya semakin sedikit mengingat semakin jarangnya mobilitasku. Pun saat ini, pasca resminya diriku ber-SIM-kan A, aku jadi semakin jarang bersamanya. GeJe ^^” (mellow ria~)

Ngomong-ngomong, my dear bike yang pertama bukanlah si X 125 ini, melainkan si Shogun hitam dengan larik-larik ijo-oren🙂. Skarang ini si Shogun sudah berpindah tangan. (huwe….) Tapi tak mengapa, tenang saja gun (panggilan untuk si Shogun), aku akan selalu mengenang jasa-jasamu.

Lanjut lagi ceritanya…. Berlandaskan pada agenda yang kuputuskan secara spontan pada hari Rabu, 8 Desember 2010 di siang hari (saksi sejarahnya adalah si boss. blame you, ha..ha.. :-p), maka aku memutuskan untuk berduaan dengan si hitam manis pada keesokan harinya (Kamis, 9 Desember 2010). Lokasi yang kami tuju adalah kampus IPB di Dramaga, Bogor. Kalau dihitung-hitung, jarak yang kami tempuh dari rumah sampai Dramaga, sekitar plus minus 60 km (yang berarti PP jadi 120 km) dan memakan waktu 1,5 jam untuk perjalanan Pondok Gede – Dramaga (hitungan ini tidak termasuk waktu untuk acara tersesat, dll. he..he..)

Diriku dibilang “nekat” oleh mereka yang tahu kelakuanku ini. Mungkin, mereka-mereka merasa khawatir dengan kesehatan dan keselamatanku, mengingat pada saat itu langit diliputi awan mendung (rawan hujan), rawan bahaya, rawan macet dan rawan-rawan lainnya (trima kasih sudah mengkhawatirkanku, dears ^^). Tapi, demi memenuhi rasa penasaran dan jiwa petualanganku (untuk nyobain jalan/rute baru), dengan mengucap bismillah, diriku memantapkan niat untuk tetap berangkat menuju IPB dengan bermotor ria. ahahay~

Sekilas beralih pada topik yang lain. Hm…. entah mengapa, aku merasa semenjak diriku pindah tempat tinggal ke ibukota ini, banyak orang-orang yang merasa “kagum” sekaligus “ngeri” melihat kebiasaanku naik motor. Padahal selama aku di Jogja, sudah menjadi hal yang lumrah apabila seorang wanita menaiki motor, secara kondisi jalannya memang tidak terlalu parrah. Sedangkan di Jakarta, memang, kondisinya sangat berbeda dengan Jogjakarta, dimana Jakarta merupakan lautan angkot dan bis kota *yang kau tahu bagaimana*. he..he.. Terlebih apabila ditambah dengan kondisi jalan banjir, macet total, asap tebal, dll. Muantebs tenan dah!

“THAT’S CRAZY !!!”, begitu respon para pendengar setelah mereka mendengar jawabanku apabila ditanya, “biasanya naik apa kalau bepergian di Jakarta?”. he..he..

Ya..ya.. I know that. Memang, it sounds crazy. Karena para pengemudi kendaraan yang ada di Jakarta (entah itu sesama pengemudi motor, atau mobil, angkot, bis kota, bajaj, dll), memiliki kecenderungan “ganas” (* istilah ganas dipakai untuk menunjukkan tingkat keparahan dalam cara mengemudi di Jakarta).

Tampaknya, bagi mereka-mereka, lampu abang-ijo itu (sebenarnya) tidak memiliki warna, zebra cross hanyalah sebagai penghias jalanan agar warnanya tidak melulu hitam, rambu-rambu lalu lintas dianggap sebagai pelengkap penderita zebra cross (hanya untuk meramaikan jalanan), pak polisi yang berpatroli dianggap invisible man, trotoar adalah track khusus di kala darurat, dan mungkin, pejalan kaki dan penyepeda dianggap “tidak berhak” melintas di jalanan. ck..ck.. Bagaimana kah ini, ibukotaku?

Kata bapakku, para pengendara motor di Jakarta itu nyaingin kucing, karena seperti memiliki 9 nyawa. Mereka ndak takut kalau-kalau jatuh, kesenggol bis, kepala terantuk, atau hal-hal buruk ekstrim lainnya jikalau berkendara seperti itu (eh, berarti termasuk aye ndak ya?? wah..wah.. gaswat!! Smoga ndak =>kagak nyadar mode ON).

Tapi, setiap kali aku bepergian dengan motor, insyaAllah, akan slalu kumulakan dengan mengucap bismillah dan doa safar. Juga senantiasa berkonsentrasi dan fokus saat berkendara (eh, tapi kadang-kadang suka nyetir tanpa kesadaran 100%. bahaya nih!!!). Juga senantiasa TETAP mematuhi rambu-rambu lalu lintas, walaupun itu berarti aku menjadi MUSUH BERSAMA alias minoritas di tengah lautan pengendara Jakarta ini. ho~ho~

Nah, sekarang kembali ke topik utama. SIM C pertamaku dibuat saat aku masih muda belia (hah??), yaitu ketika aku masih kelas 1 SMA. Padahal, kalau mau tahu, pas itu aku kan sebenarnya belum genap 17 tahun. ahahah… (ketahuan => rahasia umum yang tidak baik). Namun, karena kebutuhan yang mendesak, mau tak mau aku jadi punya SIM C. Untungnya, karena didukung dengan fisikku yang cukup bongsor, kakiku bisa “sampai” ke tanah alias iso nyagak kalau naik motor walo aku masih imut-imut (hiyyah~)

Selama hidupku di Jogja selama 7 tahun (SMA ampe kelar kuliah S1), dengan beragam rupa kegiatan yang kuikuti, diriku dan my bike menjadi tertempa untuk melakukan perjalanan dengan berbagai sikon. Hampir setiap sudut Yogyakarta sudah kami lalui, mulai dari ujung utara dekat Gunung Merapi, sampai ujung selatan pelosok pedesaan di Gunung Kidul. Rekor perjalanan terjauh dan terlamaku dengan motor tanpa henti adalah 3 jam, yaitu ketika aku baru pulang dari kegiatan sukarelawan di pelosok selatan Gunung Kidul, hendak menuju Kota Magelang – Jawa Tengah (approx. 150 km) untuk njagong manten. Mantab… mantab….

Selain itu, berbagai jenis track jalanan juga pernah kami lewati. Mulai dari jalan mulus alus, sampai sejelek-jeleknya jalan dengan kombinasi batu-lumpur ala off-road. Kemudian, pernah juga kami melewati kontur jalanan khas pegunungan yang naik terjal (always pake gigi 1), juga turun gunung dengan sembari matiin mesin. ha..ha.. Unforgettable moment on biking in Jogja!

Jika ditanya, apa tantangan dalam bermotor ria di Jakarta (bagi wanita, khususnya), jawabanku adalah dalam hal kelincahan, kelihaian, kecermatan dan tentu saja kesabaran dalam berkendara. Berbeda dengan Jogja yang lebih dipengaruhi pada faktor jenis jalan, kalau di Jakarta, kita-kita para pengendara motor harus selalu cermat dan hati-hati dalam berkendara. Terlebih, seperti yang sudah kukatakan di atas, di Jakarta, hukum dan UU lalu lintas tidak diterapkan dan dipatuhi dengan baik.

Jadi teringat, saat aku baru pindah dari Jogja ke Jakarta, aku sempet shock dengan pola Jakarta karena aku sudah terbiasa berkendara dengan tertib selama di Jogja (oh~ Love you so much, Jogja!). Walhasil, di awal-awal aku tinggal di Jakarta, hampir di setiap lampu merah aku selalu “disemprot” (maksudnya diklakson) oleh orang-orang “cerewet” yang tidak tahu warna lampu. Mereka dengan “sangat ramahnya” menyuruhku untuk TERUS SAJA, walo lampunya masih merah. ck…ck… Wis ah, sing sabar wae…. ketimbang marah-marah gak jelas, mending segera diakhiri saja tulisan ini…

Sebagai penutup tulisan GJ en gak nyambung atas-bawahnya (^^”), aku berikan beberapa tips bagi para pengendara motor, khususnya yang ada di Jakarta :

1) Selalu gunakan “helm standar” yang sesuai SNI. Besarnya penghargaan kita kepada kepala dan nyawa kita bisa dilihat dengan jenis dan harga helm apa yang dipakai😀. Ciri-ciri dan karakteristik helm standar / SNI bisa dilihat dengan googling.

2) Gunakan sarung tangan. Bisa yang full jari ato setengah jari. Ini ditujukan supaya tangan gak mudah licin karena keringat, juga bisa melindungi warna kulit kita dari teriknya mentari (maksude, ben gak belang hitam :p)

3) Gunakan masker atau kain slayer untuk penutup hidung-mulut. Berhubung kondisi udara Jakarta yang sangat tidak ramah lingkungan, penggunaan masker amat disarankan!

4) Biasakan menggunakan jaket atau penutup dada/rompi motor untuk menjaga agar paru-paru dan badan kita tidak mudah sakit. Memang efektif lho, karena pengendara motor rentan masuk angin. Aku prefer memakai jaket daripada rompi motor. he..he.. tapi kadang-kadang, aku juga memakai rompi untuk kasus-kasus ekstrim. Misal; untuk perjalanan super jauh

5) Gunakan juga alas kaki yang nyaman, supaya tidak mengganggu kenyamanan perjalanan. Gak kebayang deh, kalau naek motor pake high heels 10 cm. he..he…

Sementara ini, cukup begitu saja ya… Kapan-kapan aku tuliskan tips dan hal-hal lain terkait dunia motor-memotor. Smoga inget dan kelaksana, nulisnya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s