Japanese Societies and Cultural Dynamics from Past to Present

Intro

Hampir selama dua tahun waktuku di PPs KWJ UI, ada banyak kegiatan seminar, konferensi dan semacamnya yang diadakan di jurusan. Biasanya yang menjadi panitia adalah dari kalangan mahasiswa KWJ itu sendiri. Nah, ada sebuah posisi dalam kepanitiaan yang selalu menjadi "jatahku", yaitu NOTULEN. Aku selalu memilih posisi ini dengan pertimbangan, biasanya kalau jadi panitia, kebanyakan riwuh sendiri dengan amanahnya. Walhasil kadang ndak bisa mendengarkan isi dari seminar tersebut. Maka, aku mengambil peran notulen agar, selain bisa tetap menjalankan amanah, juga bisa menyimak (dengan detail) isi seminar / konferensi tersebut. he..he…

Hikmahnya, setiap kali ada seminar etc atau orang yang berbicara dengan "isi" yang memukau, aku selalu mencatatnya bak seorang Notulen. Selalu siap alat tulis dan kertas serta sigap untuk mencatat poin utama pembicaraan. Kebiasaan yang cukup menguntungkan :D!


Berikut ini salah satu hasil notulensi yang pernah kubuat (sewaktu muda dulu. he..he..)

==========================================================================

Notulensi Seminar Yoshihara Sensei

Hall KWJ, 31 Maret 2009


JAPANESE SOCIETIES AND CULTURAL DYNAMICS FROM PAST TO PRESENT

Seminar ini dimulai pukul 13.10, diawali dengan pembukaan & pembacaan jadwal acara oleh MC. Setelah itu, Opening Speech dari Bapak Sudung Manurung, ketua PPS KWJ (pukul 13.13). Kemudian, presentasi dari Prof. Yoshihara Naoki (Tohoku University) dimulai 13.15, dengan dimoderatori oleh Ibu Sri Ayu Wulansari (FIB).

ISI Presentasi dari Prof Yoshihara Naoki :

I. Perspektif baru Jepang setelah Perang Dunia II

Kesuksesan dari okupasi di Jepang menjadi kisah keberhasilan sebuah bentuk pendudukan atas negara lain. Sudah menjadi pendapat umum bahwa Jepang sebelum PD II adalah Negara militer dan non-demokrasi, dan sesudah pendudukan dan reformasi Jepang, Jepang menjadi Negara demokrasi dan non-militer. Ini adalah sebuah dikotomi sebelum dan sesudah PD II. Pendapat tersebut di atas tidak sepenuhnya benar karena sebelum kalah perang pun Jepang sedang mengalami proses menjadi Negara yang modern dan demokratis. Sesudah PD II berakhir, Jepang melanjutkan modernisasi negaranya dengan pengkristalan nilai-nilai demokrasi dan modernisasi. Pengaruh keberhasilan okupasi terhadap Jepang yang digembar-gemborkan Amerika hanyalah sebagai faktor penunjang dari keberlanjutan modernisasi Jepang. Hal ini dapat digambarkan pada penjelasan berikut.

Sebelum PD II Jepang adalah Negara yang sudah memiliki hubungan sosial masyarakat modern dan setara. Setelah PD II Jepang melanjutkan modernisasi dan persamaan hak dalam hubungan sosial kemasyarkatan. Orang Amerika beranggapan telah membantu pemulihan Jepang yang hancur akibat perang. Sebenarnya tidaklah demikian karena sebelum perang masyarakat Jepang sudah tertata dengan

II. Masa Pertumbuhan Tinggi dan Keadaan Masyarakatnya

Masa pertumbuhan yang tinggi dan keadaan sosial kemasyarakatan terlihat antara tahun 1950-1973. Pada masa pertumbuhan tinggi ini ada beberapa faktor yang dapat dilihat sehingga bisa disimpulkan bahwa Jepang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat yaitu,

1. Menuju negara yang mempunyai kekuatan ekonomi yang besar. Terlihat bahwa secara kuantitas Jepang maju dengan sangat pesat. Semua orang pada masa itu mempunyai mimpi-mimpi yang sebagian besar berhasil mereka raih sehingga mereka mempunyai tingkat kesadaran berada pada ekonomi kelas menengah.

2. Pada masa pertumbuhan ini pula terjadi urbanisasi yaitu perpindahan masyarakat dari desa ke kota. Masyarakat desa pindah ke kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka dan Nagoya. Tokyo adalah kota yang paling banyak dituju oleh penduduk desa ini. Perpindahan penduduk ini terjadi baik yang berasal dari keluarga kaya maupun dari keluarga miskin.

Sebelum PD II, pada keluarga Jepang, anak pertama adalah pewaris dari kekayaan keluarga sebagai bentuk dari manifesatasi sistem ie sehingga tidak diperbolehkan untuk pergi menetap di kota besar. Pada keluarga kaya anak kedua, ketiga dan seterusnya dikirim ke kota besar untuk melanjutkan sekolah. Setelah tamat mereka tidak pulang ke kampungnya tetapi membuka berbagai usaha di kota besar. Dari hasil survey diketahui bahwa pemimpin perusahaan besar di kota tidak ada anak pertama. Sedangkan pada keluarga miskin, anak kedua dan seterusnya pergi ke kota sebagai pekerja atau buruh pabrik. Pada keluarga miskin ada juga yang menjadi buruh tani musiman di daerah di luar kampungnya.

Setelah PD II anak-anak yang dikirim ke kota besar dijadikan sebagai tulang punggung keluarga dikampungnya terutama pada keluarga miskin. Gaji yang mereka peroleh dikirim ke kampung halamannya sebagai penunjang perekonomian keluarga. Sedangkan bagi keluarga yang mampu terus menyekolahkan anak-anaknya sehingga populasi populasi masyarakat kota berpendidikan SLTA meningkat.

3. Karena penduduk terus berdatangan ke kota-kota besar dalam jumlah yang cukup besar maka terjadi perubahan struktur dan gaya hidup masyarakat perkotaan seperti terbentuknya keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Sebelumnya dipedesaan keluarga Jepang adalah keluarga besar yang di dalam satu rumah tinggal bersama-sama tiga generasi yaitu ayah, anak dan cucu. Perubahan lainnya adalah terbentuknya kota-kota satelit disekeliling pusat kota yang menjadi tujuan perpindahan penduduk desa tadi. Para pendatang yang tinggal di kota tinggal di rumah-rumah yang relatif kecil, yang dikenal dengan istilah nDK ( Living room, Dinning room and Kitchen) yaitu rumah yang minimal terdiri dari ruang makan dan dapur. Kehidupan masyarakat perkotaan ini juga menuju ke kehidupan yang modern.

4. Kemakmuran dan persamaan pada masyarakat perkotaan data dinilai dari gaya hidup, kesadaran akan kelas dan kebendaan yang dimiliki. Untuk kesadaran kelas kebanyakan masyakarat Jepang menjawab kuisioner bahwa mereka berada pada kelas menengah walaupun secara standar kelas menengah mereka belum mencapainya. Hal ini berkaitan dengan keinginan masyarakat untuk berada pada tingkatan kelas menengah tersebut. Secara kuantitaf, masyarakat perkotaan di Jepang tinggal di rumah-rumah yang kecil tetapi memiliki benda-benda mewah seperti mobil BMW. Keluarga yang dianggap berada ada kelas menengah mempunyai 3C yaitu Car, Cooler dan Color TV.

5. Akibat dari pertumbuhan yang pesat ini terlihat beberapa fenomena dalam masyarakat yaitu konsumsi yang berlebihan seperti ada yang memiliki dua buah televisi sementara mereka tinggal hanya pada rumah yang memiliki satu kamar saja. Kemudian terlihat kehancuran dari pedesaan, contohnya pada musim dingin salju yang menumpuk di rumah atau dijalanan harus dibersihkan agar masyarakat bisa menjalankan aktifitas bekerja dan lain sebagainya sementara anak-anak muda yang mempunyai tenaga untuk membersihkan salju-salju tersebut sudah pergi ke kota. Akibatnya orang-orang tua yang tinggal di desa secara alami meninggal atau meninggalkan desa tersebut. Fenomena selanjutnya adalah terjadinya polusi dan pengrusakan kota dan masyarakat yang bersifat lebih individu. Pada masyarakat perkotaan ini ada keengganan untuk mengingatkan orang lain seperti tidak membuang sampah sembarangan, karena akan mendapat perlawanan dari yang diingatkan.


III. Masa Setelah Pertumbuhan Tinggi dan Keadaan Masyakaratnya

Masa ini dimulai setelah tahun 1973 â sekarang (after oil shock/oil crisis tahun 1973).Jepang setelah mengalami pertumbuhan tinggi mengalami hal-hal sebagai berikut,

1. Rusaknya lingkungan alam

2. Pudarnya kesadaran akan pentingnya keluarga. Hal ini terlihat pada keluarga inti, yaitu peran ibu yang dulunya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan anak-anak ditambah dengan peran baru yaitu juga sebagai pencari nafkah sehingga tugas-tugas rumah tangga dikerjakan oleh semua anggota keluarga tanpa ada pemisahan kerja rumah tangga berdasarkan jenis kelamin. Perasaan untuk bekeluargapun menjadi semakin menipis, banyak yang merasa tidak perlu menikah karena pemenuhan kebutuhan biologis yang dulunya didapat dalam ikatan suami istri dalam diperoleh diluar berdasarkan hubungan suka sama suka tanpa ikatan apa-apa. Selain itu rasa individualitas juga meningkat sebagai contoh dahulu pesawat telpon diletakkan di ruang tamu karena dianggap orang yang menelpon adalah tamu dari keluarga tersebut berubah menjadi penggunaan line pribadi yang langsung tersambung ke kamar masing-masing.

3. Timbulnya individu yang tertutup. Banyak anak muda yang tidak mau diketahui aktifitasnya oleh masyarakat banyak, mereka jadi tertutup dan mengurung diri di kamar (hikikomori) dan tidak mau pergi sekolah. Tetapi anak-anak muda ini sangat membutuhkan alat-alat untuk dapat terus berkomunikasi sesama mereka.

4. Berakhirnya masyarakat yang makmur dan lahirnya perbedaan yang tajam dalam masyarakat. Sebagai contoh adalah tidak adanya perbedaan yang jelas antara karyawan dan buruh, adanya perbedaan kelas dalam tingkat konsumsi, dari segala sesuatu yang diperlakukan sama berubah menjadi efisiensi dan adanya perbedaan dalam sosial kemasyarakatan.

IV. Masyarakat Jepang yang Menciut

Kondisi sosial kemasyarakatan Jepang saat ini mengalami kemunduran yang terlihat pada hal berikut,

1. Peningkatan jumlah penduduk berusia lanjut lebih dan penurunan jumlah anak-anak.

2. Menghilangnya daerah pedesaan, meningkatnya jumlah masyarakat marginal dan keruntuhan dari rasa kebersamaan.

3. Bermunculan kota-kota baru.

4. Penciutan dari sosial kemasyarakatan

Penjelasan di atas lebih kepada hal-hal negatif yang menjadi fenomena di Jepang saat ini. Tapi tidak berarti tidak ada hal positif dalam masyarakat Jepang. Hal ini disebabkan karena hal-hal negatif ini perlu diperbaiki dan dapat menjadi acuan bagi audience ( orang Indonesia ) untuk merefleksi diri untuk perbaikan ke depan

Tanya Jawab

Pertanyaan :

1. Sigit (Mahasiswa FIB)

Seperti dijelaskan bahwa di Jepang sebelum perang sudah ada modernisasi. Apakahmodernisasi tersebut terjadi di kalangan petani atau pada kelas-kelas tertentu saja?

Jawab:

Jepang sebelum memulai perang sudah memikirkan apa kendala yang akan dihadapi kalau ikut perang. Diantaranya adalah mengenai masyarakat. Bila masyarakat berada pada kondisi tidak seimbang akan menjadi halangan untuk berperang sehingga dibentuk organisasi yang disebut dengan chonankai, sama dengan RT RW di Indonesia sekarang. Semua masyarakat diperlakukan sama sehingga terbentuk masyarakat yang seimbang dalam hak dan kewajibannya.

2. Endah KWJ

a. Bagaimana menghidupi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan akan beras sementara masyarakat desa yang bertani melakukan urbanisasi ke kota serta lahan pertanian semakin minim?

b. Terkait dengan protocol Kyoto, Jepang merupakan salah satu pelopor diadakannya pertemuan ini. Akan tetapi, kesepakatan ini sangat merugikan negara maju/industri termasuk bagi Jepang sendiri yang mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, bagaimana cara Jepang mengatasi hal itu?

Jawab :

a. Untuk pemenuhan kebutuhan beras dalam negerinya masih tercukupi dengan jumlah produksi beras yang dihasilkan. Selain itu sekarang ada kecendrungan masyarakat Jepang untuk tidak mengkonsumsi beras saja tapi juga diselingi dengan gandum. Untuk kebutuhan yang tidak bisa dihasilkan sendiri akan diimpor dari negara lain terutama China dengan menggunakan standar penilaian yang sangat tinggi atas produk-produk tersebut. Akan tetapi, akhir-akhir ini Jepang berusaha untuk membatasi impor terutama produk pertanian (termasuk beras) dan bahan makanan dari luar negeri karena pernah terjadi kasuskeracunan/bahan berbahaya pada makanan dari luar (china), sehingga jepang berpikir untuk tidak mengimpor makanan dari luar negeri. Dan oleh karenanya, Jepang berusaha untuk menghidupkan kembali sektor pertanian dan kehidupan desa

b. Cukup sulit untuk menjawab pertanyaan ini secara spesifik. Benturan dari ekonomi dan sosial memang tidak bisa dihindari. Namun, yang terpenting bagi Jepang bukanlah masa kini, tapi sustainability. Jepang berusaha untuk berpikir jauh ke depan, tidak hanya untuk bidang ekonomi saja tetapi juga bidang yang lain. Jepang sangat ingin mempertahankan keberlanjutan masyarakat jepang terutama karena ada masalah shrinking dalam masyarakatnya. Oleh karenanya, diusahakan untuk berpikir dan bertindak secarasustainable dari sekarang dan dari masing-masing pribadi.


3. Eva KWJ

a. Apakah ada batasan usia untuk wanita mulai bekerja?

b. Apakah ada diskriminasi bagi pekerja wanita? Dan bagaimana bentuk diskriminasi tersebut?

Jawab:

a. Batasan usia tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan, tidak ada ukuran yang seragam.

b. Diskriminasi tergantung pada 3 faktor, yaitu;

· Jenis perusahaan

· Jenis karir yang dimiliki. Ada 2 jalur karir yaitu shogoshoku/full time dimana ada peningkatan karir, dan ipanshoku / part-time dimana tidak ada peningkatan karir

· Terkait dengan siklus kehidupan wanita yang berbeda dengan pria.

Wanita memiliki siklus kehidupan yang berbeda, dimana siklus hidup wanita seperti Kurva M ; usia belum menikah (25 â 29 tahun) seorang wanita cenderung naik karirnya. Namun setelah itu, jika menikah (usia 30 â 40 tahun) diperlukan waktu untuk melahirkan dan mengurus anak sehingga harus berhenti bekerja (kurva turun). Wanita baru bisa bekerja setelah anak terakhirnya memasuki SD. Setelah anak-anak mereka sekolah dan tumbuh besar, wanita mulai bekerja lagi tapi hanya sebatas part-time (kurva naik) hingga ia berumur 60 tahun.Setelah usia ke 60 tahun atas, wanita memasuki usia pensiun/berhenti bekerja (kurva turun).

Dalam mengkaji pekerja wanita mungkin akan lebih baik dikaji bukan dari sudut diskriminasinya melainkan dari segi fasilitas yang diperoleh pekerja wanita seperti bagaimana perkembangan karirnya, apakah mendapatkan cuti melahirkan dan pengasuhan anak dan lain sebagainya yang data diimplementasikan secara konkrit. Bagaimana aturan untuk pekerja wanita diberlakukan tergantung pada jenis perusahaan dan jenis pekerjaan yang dilakukan . Di Jepang sendiri pekerjaan wanita identik dengan pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga dan perawatan lansia.

Presentasi dan sesi tanya jawab selesai pukul 15.10. kemudian diakhiri dengan penutupan berupa pemberian sertifikat kepada Prof. Yoshihara dan Ibu Sri Wulan yang diberikan oleh Bapak Sudung Manurung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s