Re-post : Cerita dari Bukit Entah Apa di Majene

Tulisan dalam postingan ini diambil dari FB note milik Wiwin, salah satu Pengajar Muda – Indonesia Mengajar yang sedang bertugas di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Banyak hal bisa dipetik dari sharing-nya. Semoga bermanfaat dan bisa diterapkan kita semua :D!




***


Cerita dari Bukit Entah Apa di Majene

Wiwin mau siaran langsung dari pedalaman Majene,Sulbar..boleh ya?

Mungkin di sana kamu sedang menarik napas sejenak dari penatnya kerjaan seharian ini dan akan lanjut lembur sampai nanti malam. Mungkin kamu juga lagi dalam perjalanan pulang dari kantor, atau sedang masak buat suami & anak-anak, atau lagi mikirin weekend nanti mau ngapain.

Atau lagi marah-marah? Anak buahmu kerjanya ga karuan?

Oke, baca ini dulu, lalu,

apapun itu, semoga bisa membuatmu bersyukur dan tersenyum.

Aku tulis ini "live" di atas bukit, sore yg terik, keringat bercucuran.

Duduk PUTUS ASA dan pengen TERIAAAAK karena lelah berjalan dari satu bukit ke bukit lain UNTUK:

1. Cari air bersih untuk diminum sekeluarga (desa krisis air)

2. Sekedar cari sayur, kacang panjang, dan sukur-sukur dapat kacang tanah untuk dijadikan lauk makan malam nanti.

3. Kalau gak dapet apa-apa buat makan malam, terpaksa ambil daun langurru’ dan batang rotan itu dimasak jadi sayur. Rasanya? Jangan tanya. Sayurnya licin selicin daging tanaman "lidah buaya." Buat menelan saja butuh perjuangan.

Ya, aku pengen TERIAAAK, pengen tetep PUTUS ASA dan pulang dengan tangan kosong karena belum mendapatkan apa yang kami cari-cari.

Well, tapi sekarang dadaku jadi sesak karenaâ setelah menarik napas panjang, aku berpikir lagi dan mafhum bahwa inilah keseharian orang-orang di sini. Suatu komunitas yang tinggal di rumah panggung, di pedalaman bukit-bukit, jauh dari gemerlap apalagi teknologi. Saudara kita. Satu tanah air. Beginilah susahnya keseharian mereka: dulu, sekarang, dan entah sampai kapan.â

Just wanna say to everyone in this world bahwa jika hari ini pekerjaanmu melelahkan, alangkah indahnya jika kamu bersyukur karena keringat dan jerih payahmu itu dihargai lebih dari sekedar air bersih, sayur, kacang panjang dan batang rotan untuk menyambung hidup😦

Dan jika nanti kamu hanya makan "apa adanya", atau makan yang tidak sesuai seleramu, syukurilah karena itu hanya hari ini saja. Atau bahkan, itu hanya KALI INI saja.

Maka jika nanti malam kamu akan beranjak tidur, sampaikan salam hangat yang paling hangat dari saya untuk kasur empuk dan mungkin AC di kamarmu. Baru 7 bulan lagi aku akan meninggalkan papan tidur dan bertemu kasur tidur seempuk kasurmu malam ini.

Dan jika saat ini, besok, atau esok dan esoknya lagi kau ingin mengeluh karena listrik padam, maka bersyukurlah karena itu hanya akan 1,2,3,7,8,10 jam saja. Di sini, listrik pun bahkan tak ada.

Oiya, jadi ingat sama uang 18 ribu di dalam kantong.

Yah, saat 10 hari lalu aku ambil uang 50 ribu dari ATM dan hari ini masih tersisa 18 ribu, aku jadi pengen ngasih tahu kamu bahwa pendapatan rata-rata perbulan di sini adalah 150-200 ribu/KK.

Jadi, hari ini kalau kamu ke PIZZA HUT atau restoran lain entah apa namanya dan membayar setidaknya 150 ribu untuk santapan yg tersaji di mejamu, ingatlah bahwa uang sebesar itu adalah penyambung hidup kami di sini selama sebulan. Lalu, bersyukurlah atas apa yang kau punya…

(^_^)

Eh, jadi panjang ya?

Hehe, maap.

Temans, makasih ya.

Dengan menyalurkan energi positif untuk bersyukur ini, aku jadi semangat lagi.

Pada detik ini, aku sudah menghapus peluh.

Tersenyum.

Membayangkan papa-indoq, ayah ibu hostfam-ku yang bakal senyum dan senang melihat aku pulang dengan tempat air yang terisi dan segenggam sayur di keranjang bambu.

Tepat di detik ini, aku sudah berdiri.

Aku akan mencari air lagi. Dan menengok beberapa kebun sebelum gelap tiba. Siapa tahu ada sayur yang bisa dibawa pulang.

Dan sekarang aku sudah menggendong keranjang bambuku.

Tersenyum.

Matahari indah, hampir tenggelam di atas laut sana.

Adalah menjadi indah juga membayangkan november nanti aku akan kembali. Dan membuang sepatu lapang usang yang kupakai sekarang ini, menggantinya dgn high heels dan mendaki kembali tangga-tangga eskalator,menjejak lift,

…menikmati makanan2 lezat. Lagi.â

Pada detik ini, kusudahi.

Aku harus berburu air dan sayur lagi.

Berkah Yang Kuasa bersama kalian semua, sahabatku. Terimakasih sudah membaca ini.

Ayo, tersenyum dan bersyukur.🙂

Peluk jauh dari bukit entah apa namanya di Majene

By : Erwin Puspaningtyas aka Wiwin

One thought on “Re-post : Cerita dari Bukit Entah Apa di Majene

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s