Re-post : Kereta Api !

Tulisan di bawah ini merupakan posting ulang dari tulisanku yang pernah kuunggah ke dunia maya sekitar 3 tahun yang lalu. Hoho~ Berhubung dalam waktu dekat aku akan melakukan perjalanan (lagi) dengan Kereta Api tercinta, maka dari itulah malam ini aku memposting ulang tulisanku tentang alat transportasi yang satu ini. Here it is… Sumonggo, silahkan dibaca (kalau mau :p)


***


Naik kereta api tut tut tut

Siapa hendak turut

Ke Bandung Surabaya

Ayolah naik dengan percuma

Ayo kawanku lekas naiiiik!

Kretaku tak berhenti lama!


Itulah sepenggal syair lagu masa kecil kita. Masih ingat kah? Sekarang masih ada ndak ya? Mungkin lagu ini sudah tak lagi populer di generasi anak-anak masa kini karena sudah dikalahkan dengan lagu-lagu yang (maaf) kadang gak jelas ditujukan untuk usia berapa.


Judul tulisan ini tentu mencerminkan apa yang hendak aku tulis kali ini. Ya, tentang KERETA API! Kereta api sudah menjadi sahabat karibku dalam menemani perjalanan, terutama untuk jurusan Jakarta-Jogja PP. Kereta Api Fajar Utama jurusan Jakarta â Yogyakarta (berangkat pukul 06.30 dari Stasiun Jatinegara), dan Kereta Api Fajar Utama jurusan Yogyakarta â Jakarta (berangkat pukul 08.00 dari Stasiun Tugu). Dengan berbekal tiket kelas bisnis seharga Rp 100.000,- ++ , perjalanan yang menyenangkan dan penuh makna pun dimulai!!!


Mengapa aku lebih memilih menggunakan kereta api daripada bis, travel, ato pesawat? Alasannya banyak! Kalau menggunakan bis, aku merasa stress dengan cara menyetirnya Pak Sopir bis yang ugal-ugalan dan kebut-kebutan. Jadi sport-jantung! Dan tentu saja jadi nggak nyaman! Kalau travel??? Sama halnya dengan bis, pak sopirnya takkalah ugal-ugalannya. Apalagi aku selalu mengalami pengalaman tak menyenangkan bepergian dengan travel. Jadi trauma. Kalau Pesawat?? Selain menguras kantong, sensasi berkendaraannya kurang karena hanya sebentar. Lebih lama nunggu boarding-nya daripada tempo perjalanannya. Jadi tak berkesan (bukan bermaksud sombong lho!). Nah, kalau menggunakan kereta api, selain karena harganya yang cukup terjangkau, lintasan relnya lurus-lurus ajah. Jadi, pak masinisnya ndak perlu belok sana belok sini. Cukup nyaman!


Trus, mengapa aku memilih kereta siang daripada kereta malam? Dan kereta bisnis, bukannya kereta ekonomi atau eksekutif? Alasannya, kereta siang lebih mengasyikkan daripada kereta malam. Perjalanan siang hari berarti bisa melihat indahnya pemandangan dan hamparan sawah yang lagi musim panen. Sedangkan malam hari, tentu saja nggak bisa lihat apa-apa. Yang dilakukan hanya tidur, karena memang waktunya untuk tidur. Belum lagi selalu was-was, takut kecopetan pas lagi lelap-lelapnya tidur. Jadi nggak nyaman!


Trus-trus, kenapa nggak naik kereta kelas ekonomi? Padahal harga tiketnya lebih murah, hanya Rp 38.000,-??? Alasannya, karena kereta ekonomi terlalu sesak dan penuh penumpang. Bahkan terkadang harus berbagi dengan â?si Jagoâ? dan berebut udara dengan rokok yang â?minta ampunâ? bau asepnya. Nyaris tak ada celah untuk bernapas, apalagi berleluasa. Terlebih kereta ekonomi pasti selalu mengalah kepada kereta lain. Jadinya, mau tak mau harus banyak berhenti. Capeknya jadi berkali-kali lipat! Kenapa nggak yang kelas eksekutif? Perbedaan harga dengan kelas bisnis Rp 80.000,- (jadi, harga tiketnya Rp 180.000,-). Memang sih, jauh lebih nyaman. Pakai AC, non-smoking area, nggak ada pedagang asongannya, dapet lunch gratis pula! Tapi, gimana ya?? Sensasinya kurang (ha…..ha…lagi-lagi ngomongin masalah sensasi !but it doesnât mean the arrogance).

Sebenernya, apa sih yang aku cari??? Ini dia penjelasannya.


Memang sih, lebih capek menggunakan kereta bisnis siang, apalagi kalau mataharinya gakbersahabat. Panasnya bisa bikin sauna gratis! (jadi langsing donk!) Maka, yang sering aku harapkan adalah AC, angin cepoi-cepoi dari jendela kereta. He…he…. Walau begitu, tetep aja sensasinya bedha! Kereta Bisnis siang lebih bermakna dan ada pelajaran berharga yang bisa ku ambil darinya. Yang tidak akan bisa kudapatkan dari perjalanan menggunakan alat transportasi lainnya.


Selama 8 jam perjalanan (kalau nggak ngaret) ini, kereta bisnis siang memberikan â?pemandanganâ? rutinitas tiap-tiap orang yang berbeda. Ada kesan dan keasyikan tersendiri ketika melihat dan meng-observasi orang-orang tersebut, terutama para pedagang asongan dan â?pemohon-mohon uangâ? (bahasane aneh tenan!! He….maksudnya, ameliorasi dari pengemis) yang bersliweran di sepanjang koridor gerbong. Sungguh luar biasa, melihat perjuangan seorang ibu atau ayah yang mencari nafkah dari para penumpang di kereta, demi menghidupi keluarganya. Padahal, sering aku berpikir, keuntungan yang mereka dapatkan tidak seberapa. Harga barang yang dijual berkisar Rp 1000,- sampai Rp 10.000,-. Tentu keuntungan yag didapatnya sedikit sekali, dan lagi belum tentu dalam sehari dagangannya itu akan terjual habis. Sering aku renungkan diriku sendiri, yang masih dengan mudahnya menghabiskan uang Rp 100.000,- dalam semenit!!


Pelajaran pertama : Hargailah kerja keras orang tua kita, jangan menghamburkan uang demi sesuatu yang tidak penting dan tidak mendesak. Apalagi kalau hanya sekedar buatGaya!! Nggak penting banget deh ! Ingat-ingatlah bagaimana perjuangan dan susahnya mendapatkan uang. Kemudian, sering-seringlah melihat â?ke bawahâ?. Kadang kita sering lupa bersyukur karena terlalu sering melihat â?ke atasâ?. Jangan lupa untuk selalu bersyukur, minimal dengan ber-tahmid, ALHAMDULILLAH


Lanjut lagi….!!

Kesan kedua yang kudapatkan dari mereka adalah â?betapa kreatifnya orang Indonesia!!â? Para pedagang itu sangat kreatif, baik dari sisi barang dagangan yang dijual maupun dari cara menjualnya. Produk-produk â?anehâ? yang belum pernah kulihat sebelumnya, dapat kujumpai di sini, di dalam perjalanan kereta bisnis siang. Sebagai contoh, ada alat kerikan otomatis (maksudnya otomatis, ndak perlu lagi mencari uang logam seratusan gambar wayang buat kerikan). Karena alat tersebut sudah memberikan bentuk dan fungsi yang serupa dengan uang logam seratusan tadi. Otomatis, bisa langsung dipakau! Trus cara penyampaiannya, khas banget! Beragam nada diiringi pitch-control dan variasi kata yang diberikan, sering membuatku mengangguk-angguk tanda kagum. Contoh ; seorang penjaja es dengan kekhasannya menyebut kata â?ES…ES…â?, atau â?ayo beli oleh-olehnya…..buat yang sayang anak, sayang istri, sayang keluargaâ?….dan jurus-jurus rayuan maut lainnya. He…he…


Begitu pula dengan para â?pengemis terselebungâ?. Tiap-tiap mereka memiliki ciri khas tersendiri. Yang paling membuatku terkaget-kaget adalah cara yang dilakukan para â?pengemis terselubungâ? tersebut yang aneh-aneh. Ada yang secara tidak langsung â?memaksaâ? penumpang kereta untuk memberikan uangnya. Modus operandi pengemis itu adalah dengan menyemprotkan minyak wangi/parfum ruangan di hadapan kita. Kadang aku berpikir dengan jengkelnya, â?siapa juga yang minta disemprotin minyak wangi. Malah bikin pusingâ?. Tapi mau bagaimana lagi, â?produkâ? sudah diberikan kehadapan konsumen. Modus lainnya, â?tukang sapu terselubungâ?. Aku lebih suka dan lebih menghargai cara ini, dibandingkan tukang semprot parfum tadi. Setidaknya, penyapu itu sudah membersihkan lantai dari sampah-sampah para penumpang yang dibuang begitu saja ke lantai gerbong (Indonesia masih sangat perlu belajar bagaimana menjaga kebersihan). Selain itu, ada juga pengemis yang masih menggunakan cara klasik, yaitu dengan langsung meminta uang atau dengan cara menyumbangkan suaranya (alias pengamen).


Ngomong-ngomong soal pengamen, ada satu kelompok pengamen yang rutin selalu kulihat dalam perjalanan kereta antara stasiun Wates sampai stasiun Tugu Yogya. Kelompok pengamen itu adalah kelompok pengamen Waria, dengan ciri khas ; lagu apapun (mau dangdut, keroncong, jawa, pop dll) yang selalu ditambahi kata â?wer….ewer….ewer….â?. Hihihi… Aku selalu tersenyum dan kadang tertawa geli melihat aksi mereka (tentu saja harus kutahan saat mereka melewati kursiku). Tanpa mengurangi rasa hormat, aku selalu gumun melihat para waria itu. Koq bisa ya???? Disertai dengan sederatan pertanyaan-pertanyaan lain yang memberondong di dalam kepalaku. Haaaah~ (menghela napas). Tapi itulah hidup!


Pelajaran kedua : Siapkan selalu uang receh tiap melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta ekonomi/bisnis. Tidak ada salahnya memberi para pengemis itu uang. insyaAllah dengan niat yang ikhlas dan tanpa disertai dengan omelan-omelan dalam hati, uang yang walaupun hanya seratus rupiah pun bisa bernilai ibadah sedekah. Dan satu lagi, menurutku, orang Indonesia itu walaupun hidupnya susah, tetap saja bisa kreatif demi menyambung hidup! He…he….


That’s all…


Foto-foto terkait perkereta-apian bisa dilihat di SINI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s