Your Day, Your Way

Sore ini aku membaca note facebook milik salah seorang teman. Isinya, mengingatkanku pada pembicaraan dengan seorang sahabat di suatu malam beberapa waktu yang lalu. Dari tulisan temanku ini, aku jadi terinspirasi untuk memantapkan rencanaku for “my day” secara lebih terstruktur dan tertulis. Walau entah, pelaksanaannya kapan (dan dengan siapa, hahaha…). Yang penting, ide-ide atau crazy plan yang terlintas di dalam pikiranku wajib untuk dituangkan dalam bentuk tertulis (walo sekarang pun belum sempat kutulis ^^”) sehingga jika waktu “itu” tiba, proses lobi-melobi akan lebih mudah karena sudah disosialisasikan sejak dini. wkwkwk.

Nah, sekarang ini untuk sementara dibaca dulu aja tulisan dari temanku yah. Semoga bisa memberikan inspirasi bagi kita semua untuk lebih memantapkan rencana yang kita inginkan di masa depan. Tulisan di-copas dari Mb Ayu.

Jaa, selamat membaca:

***

YOUR day, YOUR way

by: Ayu Kartika Dewi on Sunday, July 17, 2011 at 11:10am

It is YOUR day so you should do it YOUR way. Ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya dilamar ^0^/ dan acara nikahnya rencananya akan diadakan tanggal 19 November nanti.

Nah, acara menikah (dan mempersiapkan pernikahan) seharusnya adalah kegiatan yang menyenangkan dan exciting. Sayangnya, sudah beberapa kali saya mendengar kisah-kisah kurang enak tentang acara pernikahan teman-teman saya. Ada yang mengadakan acara besar yang ternyata didanai dengan hutang (yang kemudian teman saya itu masih harus mencicil hutangnya sampai bertahun-tahun kemudian). Ada juga beberapa teman saya yang selama proses persiapan pernikahan harus berdebat panjang dengan keluarga (baik orang tuanya maupun calon mertuanya) karena perbedaan keinginan, yang kemudian biasanya berujung pada teman saya yang menyerah dan menurut pada keinginan keluarga, hanya karena sudah capek bertengkar. Ada juga yang terpaksa menunda keinginan untuk menikah karena belum punya cukup âmodalâ untuk melangsungkan acara pesta pernikahan.

Bagi saya, itu mengenaskan. Karena menurut saya, YOUR wedding is YOUR day so you should be able to do it YOUR way. Saya tidak menyarankan siapapun untuk menikah dengan cara yang gila-gilaan yang jauh melenceng dari norma kebiasaan dan adat dan agama, atau untuk mengacuhkan masukan dan sumbang-saran dari keluarga, tapi sekali lagi, menurut saya, kita berhak menentukan apa yang akan terjadi di hari milik kita.

Maka mulailah saya menyusun rencana acara pernikahan saya, dibangun dari ide-ide orisinal dan prinsip anti-keformalan, serta memasukkan prinsip-prinsip yang saya pegang, dan dipagari dengan apa yang wajib ada untuk menjadikan sebuah acara pernikahan sah secara agama dan hukum.

Setiap kali saya menceritakan ide-ide saya tentang acara nikahan nanti, banyak sekali reaksi menarik dari teman-teman. Wah, keren Yu! Acara lu akan jadi benchmark untuk acara nikahan gw ntar!. Wah, mantap! Gw akan ngajak nyokap gw ke acara lu sehingga doi punya gambaran nyata tentang acara nikahan yang gw mauin?. Wow, salut.. salut.. sebagai anak teknik lingkungan gw salut..?. Dan ada juga yang bilang Yu, lu harus nulis jurnal tentang acara ini Yu! Termasuk apa aja yang harus disiapin, gimana nyiapinnya, dan berapa duitnya..

Nah, tulisan ini menceritakan secara apa adanya rencana pernikahan saya nanti, dan saya juga mengundang siapa saja untuk berbagi ide-ide orisinal untuk acara pernikahan, baik itu acara kalian sendiri maupun acara yang kebetulan pernah kalian hadiri.

Catatan: saya tidak pernah anti dan juga tidak sedang mengajak siapapun untuk anti pada suatu cara atau adat tertentu. Saya juga tidak sedang melecehkan acara pernikahan yang dilaksanakan berbeda, karena, ya itu, berbeda saja. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Juga, yang saya tidak ingin hanyalah semua orang bisa memiliki sebuah acara pernikahan yang dijalani tanpa keterpaksaan dan tanpa beban finansial yang mencekik.

Semoga tulisan ini bisa mencerahkan dan memercikkan ide-ide segar.

LAMARAN ACARA. Saya sejak awal sudah mewanti-wanti Edwin untuk tidak membawakan berbagai macam seserahan untuk acara lamaran. Alasannya sederhana saja, karena bagi saya yang paling penting dalam acara lamaran adalah bertemunya kedua keluarga untuk saling bersepakat menikahkan anak mereka. Titik. Jadi, tidak akan ada acara lain selain pembicaraan lamaran dan makan siang. Tidak ada seserahan. Tidak ada cincin tunangan. Yang datang pun saya minta hanya keluarga inti dan wakil dari keluarga yang ditunjuk sebagai juru bicara. Dari keluarga saya, yang hadir menerima lamaran hanya saya, Mom, Dad, dan adik saya.

MAKAN-MAKAN. Biasanya, acara lamaran akan diakhiri dengan makan-makan bersama di rumah mempelai yang dilamar. Untuk praktisnya, saya memutuskan untuk kita makan di restoran saja. Jadi saya tidak perlu berberes rumah, memasang tenda, menyewa katering + tenda + piring + gelas, dan sesudah selesai acara harus beberes dan mencuci piring + gelas yang kotor. Uh.

DRESS UP. Saya juga secara spesifik meminta agar tidak ada siapapun dari keluarga manapun yang datang dengan berpakaian yang berlebihan dan berdandan yang di luar kebiasaan. Saya sendiri hanya mengenakan baju batik cokelat yang biasa saya pakai mengajar di SD saya, tanpa polesan make upapapun, dan dengan memakai sandal crocs saya yang setia.

TANGGAL. Penentuan tanggal lamaran sama sekali tidak menggunakan primbon betaljemur ada makna maupun hitungan weton lainnya, tapi kami menggunakan Kalender Akademik Dinas Pendidikan Nasional Tahun Ajaran 2010-2011 sebagai pedomannya. Maksudnya, karena saya adalah guru SD, jadi kami sepakat mengadakan acara lamaran ketika sedang libur panjang kenaikan kelas.

COST. Ketika hari lamaran tiba, meskipun saya sudah berpesan untuk tidak perlu membawa apa-apa, keluarga Edwin tetap membawakan sebuah kue tart, sekeranjang buah-buahan, dan sebentuk kue puding. Perkiraan saya sih biayanya tidak lebih dari Rp 200-300 ribu.

Setelah acara lamaran selesai (dan, ya, lamarannya diterima), kami bergerak menuju restoran ayam goreng kesukaan saya, Ayam Goreng Lombok Idjo di Yogya. Untuk makan siang 25 orang, tidak sampai sejuta.

Malamnya, kami mengundang makan malam lagi, di restoran kesukaan Mom, Jejamuran di Yogya. Sekali lagi, untuk makan malam 25 orang, tidak sampai sejuta.
Jadi total biaya lamaran, tidak lebih dari 2,5 juta.

ACARA PERNIKAHAN

ACARA. Sejak awal saya sudah mengatakan pada Edwin ketika ia mengajak menikah, bahwa saya ingin 1) acaranya tidak besar dan tidak formal dan kami berdua yang menentukan acaranya, dan 2) seluruh biaya harus berasal dari kantong kami berdua.
Saya tidak mau pakai adat apapun. Jadi acara saya benar-benar hanya akad nikah, yang kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan di restoran pilihan Dad, Pring Sewu di Yogya. Tidak ada dekorasi, tidak ada MC, tidak ada organ tunggal dan penyanyi, tidak ada pelaminan, tidak ada antrean panjang untuk bersalaman dan berfoto. Jadi kami mengundang teman-teman dan keluarga benar-benar hanya untuk acara makan malam.

Oh ya, restoran Pring Sewu di Yogya ini adalah restoran outdoor ini berbatasan langsung dengan sawah, jadi udaranya segar. Dan hal yang paling keren, di sini ada sebidang tanah rumput yang disediakan untuk arena bermain. Di sana ada gawang lengkap dengan bolanya, egrang, dan hula hop.

UNDANGAN. Saya pemuja prinsip keefisienan dan kepraktisan. Buat saya, selama bisa dibuat efisien dan praktis, mengapa harus ribet. Dengan menggunakan undangan konvensional yang dicetak di kertas indah, akan ada beberapa inefisiensi, yaitu 1) kami harus mengeluarkan biaya untuk mendesain dan mencetak undangan, 2) kami harus meluangkan waktu khusus untuk mengecek ejaan nama + gelar setiap tamu yang akan diundang dan alamat lengkapnya. Maka kami memutuskan tak akan pakai undangan konvensional. Cukup pakai email, sms, facebook, twitter, dan blackberry message. Rasanya sudah lebih dari cukup.

MAKAN-MAKAN. Sesuai dengan prinsip kepraktisan, saya menghindari mengadakan acara di rumah (yang berarti saya harus beberes rumah + memasang tenda (sehingga menutupi jalan dan menyusahkan banyak orang) + menyewa katering lengkap dengan piring dan gelasnya), dan saya juga menghindari acara di gedung pertemuan, karena, well, saya tidak sedang mengadakan pesta resepsi, tapi saya hanya mengundang makan-makan. Maka restoran adalah tempat yang paling pas. Keuntungannya, karena acaranya di restoran, 1) kemungkinan untuk kekurangan makanan kecil, karena dapurnya ya di situ juga, 2) saya tidak perlu lagi mengeluarkan biaya sewa gedung atau tenda dan peralatan pesta lainnya.

Oh ya, karena saya tidak suka konsep antrean di meja prasmanan, maka makanan akan langsung dihidangkan di meja-meja oleh waitress. Jadi tamu hanya perlu memilih tempat duduk dan makan. Piring-piring kotor, karena ini restoran, ya akan langsung dibereskan oleh waitress.

DRESS UP. Saya tidak ingin di hari pernikahan saya, saya justru tidak bisa berjalan-jalan dengan bebas kesana kemari untuk menyapa teman-teman saya. Atau justru saya harus berhati-hati makan karena takut make up saya luntur. Duh, restoran ini makanannya enak, dan saya pasti akan kelaparan sekali hari itu.

Maka kriteria saya untuk pakaian saya hari itu adalah sederhana (karena saya memang tidak terbiasa dan tidak terlalu suka mengenakan pernak-pernik dan pakaian yang megah) dan harus nyaman sehingga saya bisa berlari-larian ketika mengenakannya.

Jadi, saya memutuskan untuk mengenakan kebaya sederhana yang terbuat dari bahan cotton. Tidak gampang, ternyata, untuk menemukan kebaya yang saya maksud, karena sebagian besar kebaya terbuat dari bahan brokat yang penuh dengan pernak-pernik yang mengkilat-kilat, ataupun kalau ada yang terbuat dari bahan cotton biasanya lengannya tidak panjang. Akhirnya saya menemukan kebaya yang saya inginkan di toko ke-10, setelah mencari selama 3 jam. Kebaya cotton berwarna krem, lengan panjang, tanpa manik-manik, dan tepiannya dihiasi dengan bordir sederhana. Persis seperti yang saya bayangkan.

Untuk bawahannya, saya memilih memakai kain batik coklat tua kepunyaan Mom yang sudah disimpan belasan tahun, dan saya hanya tinggal menjahitkannya menjadi rok yang nyaman.

Edwin akan mengenakan baju muslim krem, dan celana kain coklat tua.
Oh ya, dan tentu saja tidak ada seragam keluarga yang mahal dan merepotkan.
Saya masih berharap saya bisa menjalani hari itu tanpa make up sama sekali, tapi tampaknya saya harus nurut dan setidaknya pakai bedak dan lip gloss. Kompromi di sana-sini memang harus dijalani. Setidaknya saya tidak perlu mengikuti paket luluran pengantin yang lama dan membosankan itu.

CINCIN. Kami memilih cincin platina 75% tanpa tatahan batu berharga, yang diukir nama kami di dalamnya.

BUKU TAMU. Buku tamu biasanya berat dan tidak pernah dibuka-buka lagi selama-lamanya, setelah hari pernikahan. Maka saya tidak mau menggunakan buku tamu biasa. Rencananya, kami akan menggunakan beberapa foto yang kami cetak besar dan diletakkan di pigura yang lebih besar lagi, dan para tamu akan kami persilakan untuk membubuhkan tandatangan di pinggiran foto-foto tersebut. Juga, karena beberapa teman saya pandai menulis puisi, saya akan mengeprint puisi mereka besar-besar, dan orang-orang juga bisa tanda tangan di sana.

SUVENIR. Suvenir biasanya juga merupakan elemen yang merepotkan dan menghabiskan banyak biaya. Belum lagi karena semakin banyaknya acara pernikahan, biasanya suvenir-suvenir takkan bertahan lama. Bisa jadi benda pernak-pernik kecil itu, maaf, pada akhirnya dibuang karena hanya akan menumpuk di sudut meja dan mengumpulkan debu. Maka kami memutuskan memberikan suvenir yang tidak biasa dan tidak boleh dibuang, serta mencerminkan kepedulian kami akan keadaan bumi yang sedang dilanda global warming. Kami akan memberikan bibit pohon alpukat dan sirsak.

FOTOGRAFI. Kami menolak acara pengambilan foto pre-wedding, sebenarnya karena kami tidak akan punya waktu untuk itu. Tapi selain itu, demi menegakkan prinsip keefisienan, rasanya foto pre-wedding tidak perlu-perlu sekali. Fotografer selama acara pernikahan akan ada (temen saya sendiri, jadi gratis!), tapi kami meminta dia untuk mengambil foto-foto candid, bukan foto yang disetting.

Dan, ide kerennya adalah, kami akan meletakkan beberapa kamera disposable di meja-meja tamu, dan semua tamu dipersilakan untuk ikut menjadi fotografer dadakan. Kami sudah tak sabar melihat hasil jepretan amatiran ini!

COST. Mari saya mulai dari biaya yang sudah kami hemat. Biaya gedung bisa mencapai 25 juta. Seserahan 5 juta. Biaya undangan 10 juta. Makan-makan mewah dengan undangan ribuan orang bisa 100 juta. Acara dengan MC dan band bisa 10 juta. Baju pengantin bisa 5 juta, ditambah dengan seragam keluarga 15 juta. Cincin berlian 50 juta. Buku tamu mungkin sejutaan. Suvenir 10 juta, dan fotografi lengkap bisa 10 juta. Berapa? 240 juta! Uh.

Tarik napas.

Baiklah, sekarang biaya yang akan kami keluarkan.
Gedung 0 rupiah. Makan-makan untuk kira-kira 100 orang, 2-3 juta. Undangan 0 rupiah. Seserahan 0 rupiah. Baju kebaya saya 600 ribu, ditambah dengan bajunya Edwin dan ongkos jahit total sekitar sejuta. Seragam keluarga 0 rupiah. Cincin berdua 3 juta. Buku tamu 0 rupiah tapi kami akan ada pengeluaran untuk memperbesar foto dan beli pigura, anggaplah sekian ratus ribu. Bibit pohon sekian ratus ribu. Fotografer 0 rupiah. Berapa? Ditambah dengan ongkos KUA dan menyumbang masjid tempat akad, plus beberapa hal yang belum diperkirakan, total jendral mungkin sekitar 10 juta.
Maka sisa tabungan kami akan kami gunakan untuk memulai hidup kami yang baru.
Sampai di sini, ada catatan kecil. Ada juga yang bertanya, apakah biaya menyewakan hotel untuk saudara-saudara tidak dihitung? Nah, itu kan tinggal tergantung kesepakatan saja. Karena secara kesahihan, acara nikah sudah sah tanpa menginapkan saudara-saudara di hotel, bukan? Terserah kita saja, apakah kita akan memberikan undangan pada saudara-saudara dan mewanti-wanti, kalian dateng tapi hotel bayar sendiri ya; ataukah akan membayari biaya hotel mereka.

Dan sungguh, besar kecilnya acara (dan biaya), adalah kita sendiri yang menentukan.
Sekali lagi, teman-teman, saya tidak sedang sangat kekurangan uang, meskipun tidak berlebih. Dan dengan sedikit rayuan sana-sini saya yakin saya bisa menyelenggarakan acara pernikahan yang lebih heboh. Tapi saya tidak mau.

Saya tidak mau terbosankan dengan rangkaian acara adat yang panjang dan tidak saya pahami.

Saya tidak mau duduk saja di pelaminan dan menyalami ribuan orang sampai bibir saya capek tersenyum dan tangan saya pegal, dan perut saya merintih kelaparan; sementara saya hanya bisa menyaksikan teman-teman saya berreuni sambil makan-makan di bawah panggung.

Saya juga tidak mau mengenakan pakaian pengantin gemerlapan yang sungguh bukan sejatinya kebiasaan saya untuk berpakaian gemerlapan, dan saya juga tidak mau mengenakan pakaian pengantin yang menyesakkan sehingga saya tidak bisa berjalan bebas atau makan banyak.

Saya juga tidak mau bermakeup tebal yang membuat saya seperti sedang memakai topeng, meskipun kata orang-orang kalau mau tampak bagus di foto saya harus bermake up tebal. What the heck, saya lebih memilih saya merasa nyaman selama hari itu dan peduli amat bagaimana saya nanti akan tampak di foto.

Saya tidak mau menyebar undangan terlalu banyak yang pada akhirnya saya tidak kenal lagi siapa yang sedang saya salami. Saya tidak mau membuang uang untuk membuat undangan dan suvenir yang pada akhirnya hanya menambah sampah di bumi.

Tulisan ini bukan tentang bagaimana cara berhemat, tapi ini tentang apa yang kita mau punyai ketika hari pernikahan kita. Dan kebetulan apa yang saya mau, harganya tidak mahal.

Your wedding is your day so you should be able to do it your way.

Rancanglah acaramu sesuai dengan apa yang kalian berdua inginkan. Menurut saya, acara pernikahan adalah momen terbaik untuk menunjukkan kreatifitas lewat ide-ide orisinal serta menyatakan prinsip-prinsip yang kalian pegang teguh. Bagi saya, prinsip-prinsip itu adalah anti-formalitas, kepraktisan/efisiensi, dan peduli bumi.

2 thoughts on “Your Day, Your Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s