Sholat Istikhoroh

Hidup itu penuh pilihan. Ada kalanya, ketika kita berada di persimpangan jalan itu, muncul kebimbangan dalam menentukan langkah. Salah satu usaha dan ikhtiar dalam menentukan pilihan tersebut (apapun kasusnya, tidak hanya terkait urusan jodoh :D) adalah dengan Sholat Istikhoroh. Banyak hal yang perlu kita ketahui tentang Istikhoroh. So, dalam postingan ini, aku copy-paste kan tulisan terkait Panduan Sholat Istikhoroh yang kudapat dari tautan INI. Selamat membaca :D!


PANDUAN SHOLAT ISTIKHOROH

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal


Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah AllahTaâala kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan doâa supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.

Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah Taâala. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya.

Allah Taâala berfirman,

ÙÙرÙبÙ?ÙÙÙ ÙÙØ®ÙÙÙ?ÙÙ? ÙÙا ÙÙØ´ÙاءÙ? ÙÙÙÙØ®ÙتÙارÙ? ÙÙا ÙÙاÙÙ ÙÙÙÙ?ÙÙ? اÙÙØ®Ù?ÙÙرÙØ©Ù? سÙ?بÙØ­ÙاÙ٠اÙÙÙÙÙÙ? ÙÙتÙعÙاÙÙ٠عÙÙÙÙا ÙÙ?Ø´ÙرÙ?ÙÙ?ÙÙÙ (68) ÙÙرÙبÙ?ÙÙÙ ÙÙعÙÙÙÙÙ? ÙÙا تÙ?ÙÙ?ÙÙ?٠صÙ?دÙ?ÙرÙ?ÙÙ?ÙÙ ÙÙÙÙا ÙÙ?عÙÙÙ?ÙÙ?ÙÙÙ (69) ÙÙÙÙ?Ù٠اÙÙÙÙÙÙ? ÙÙا Ø¥Ù?ÙÙÙ٠إÙ?ÙÙÙا ÙÙ?ÙÙ ÙÙÙÙ? اÙÙØ­ÙÙÙدÙ? Ù?Ù?٠اÙÙØ£Ù?ÙÙÙÙ ÙÙاÙÙØ¢ÙØ®Ù?رÙØ©Ù? ÙÙÙÙÙÙ? اÙÙØ­Ù?ÙÙÙÙ? ÙÙØ¥Ù?ÙÙÙÙÙÙ? تÙ?رÙجÙعÙ?ÙÙÙ (70)

âDan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.â? (QS. Al Qashash: 68-70)

Al âAllamah Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, âSebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.â?[1]

Yang dimaksud istikhoroh adalah memohon kepada Allah manakah yang terbaik dari urusan yang mesti dipilih salah satunya.[2]

Dalil Disyariatkannya Shalat Istikhoroh

Dari Jabir bin âAbdillah, beliau berkata,

ÙÙاÙ٠رÙسÙ?ÙÙÙ? اÙÙÙÙÙÙ? – صÙ٠اÙÙ٠عÙÙÙ ÙسÙÙ – ÙÙ?عÙÙÙ?ÙÙÙ? Ø£ÙصÙØ­ÙابÙÙÙ? اÙاÙ?سÙتÙ?Ø®ÙارÙØ©Ù Ù?Ù?٠اÙØ£Ù?ÙÙ?ÙرÙ? ÙÙ?ÙÙ?ÙÙÙا Ø ÙÙÙÙا ÙÙ?عÙÙÙ?ÙÙÙ? اÙسÙ?ÙÙرÙØ©Ù ÙÙ?Ù٠اÙÙÙÙ?رÙØ¢ÙÙ? ÙÙÙÙ?ÙÙÙ? « Ø¥Ù?Ø°Ùا ÙÙÙÙ٠أÙØ­ÙدÙ?ÙÙ?Ù&
Ugrave; بÙ?اÙØ£ÙÙÙرÙ? Ù?ÙÙÙÙÙرÙÙÙع٠رÙÙÙعÙتÙÙÙÙÙ? ÙÙ?Ù٠غÙÙÙرÙ? اÙÙÙ?ÙرÙ?ÙضÙØ©Ù? Ø«Ù?ÙÙÙ ÙÙ?ÙÙÙÙ?ÙÙ? اÙÙÙÙÙÙ?ÙÙ٠إÙ?ÙÙ?Ù٠أÙسÙتÙØ®Ù?ÙرÙ?Ù٠بÙ?عÙ?ÙÙÙÙ?ÙÙ Ø ÙÙØ£ÙسÙتÙÙÙدÙ?رÙ?Ù٠بÙ?ÙÙ?دÙرÙتÙ?ÙÙ Ø ÙÙØ£ÙسÙØ£ÙÙÙ?ÙÙ ÙÙ?ÙÙ Ù?ÙضÙÙÙ?ÙÙ Ø Ù?ÙØ¥Ù?ÙÙÙÙ٠تÙÙÙدÙ?رÙ? ÙÙÙا٠أÙÙÙدÙ?رÙ? Ø ÙÙتÙعÙÙÙÙÙ? ÙÙÙا٠أÙعÙÙÙÙÙ? Ø ÙÙØ£ÙÙÙت٠عÙÙاÙÙÙÙ? اÙÙغÙ?ÙÙ?ÙبÙ? Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙ?ÙÙÙ Ù?ÙØ¥Ù?ÙÙ ÙÙ?ÙÙت٠تÙعÙÙÙÙÙ? ÙÙØ°Ùا اÙØ£ÙÙÙر٠– Ø«Ù?ÙÙ٠تÙ?سÙÙÙ?ÙÙÙÙ? بÙ?عÙÙÙÙÙ?ÙÙ? – Ø®ÙÙÙرÙا ÙÙ?Ù Ù?Ù?٠عÙاجÙ?ÙÙ? Ø£ÙÙÙرÙ?Ù ÙÙآجÙ?ÙÙ?ÙÙ? – ÙÙاÙ٠أÙÙÙ Ù?Ù?٠دÙ?ÙÙÙ?Ù ÙÙÙÙعÙاشÙ?Ù ÙÙعÙاÙÙ?بÙØ©Ù? Ø£ÙÙÙرÙ?Ù – Ù?ÙاÙÙدÙ?رÙÙÙ? ÙÙ?Ù Ø ÙÙÙÙسÙ?ÙرÙÙÙ? ÙÙ?Ù Ø Ø«Ù?ÙÙ٠بÙارÙ?ÙÙ ÙÙ?Ù Ù?Ù?ÙÙÙ? Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙ?ÙÙÙ ÙÙØ¥Ù?ÙÙ ÙÙ?ÙÙت٠تÙعÙÙÙÙÙ? Ø£ÙÙÙÙÙÙ? Ø´ÙرÙÙ ÙÙ?Ù Ù?Ù?٠دÙ?ÙÙÙ?Ù ÙÙÙÙعÙاشÙ?Ù ÙÙعÙاÙÙ?بÙØ©Ù? Ø£ÙÙÙرÙ?Ù – Ø£ÙÙÙ ÙÙاÙÙ Ù?Ù?٠عÙاجÙ?ÙÙ? Ø£ÙÙÙرÙ?Ù ÙÙآجÙ?ÙÙ?ÙÙ? – Ù?ÙاصÙرÙ?Ù?ÙÙÙ?٠عÙÙÙÙÙ? Ø ÙÙاÙÙدÙ?ر٠ÙÙ?Ù٠اÙÙØ®ÙÙÙر٠حÙÙÙØ«Ù? ÙÙاÙÙ Ø Ø«Ù?ÙÙ٠رÙضÙ?ÙÙÙ?٠بÙ?ÙÙ? »

âRasulullah shallallahu âalaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qurâan. Kemudian beliau bersabda, âJika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaâat selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdoâa: âAllahumma inni astakhiruka bi âilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa taâlamu wa laa aâlamu, wa anta âallaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta taâlamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii âaajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa maâaasyi wa âaqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta taâlamu annahu syarrun lii fii diini wa maâaasyi wa âaqibati amrii (fii âaajili amri wa aajilih) fash-rifnii âanhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bihâ?

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.â?[3]

Faedah Mengenai Shalat Istikhoroh

Pertama: Hukum shalat istikhoroh adalah sunnah dan bukan wajib. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu âalaihi wa sallam,

Ø¥Ù?Ø°Ùا ÙÙÙÙ٠أÙØ­ÙدÙ?ÙÙ?Ù٠بÙ?اÙØ£ÙÙÙرÙ? Ù?ÙÙÙÙÙرÙÙÙع٠رÙÙÙعÙتÙÙÙÙ&Ugrav
e;? ÙÙ?Ù٠غÙÙÙرÙ? اÙÙÙ?ÙرÙ?ÙضÙØ©Ù?

âJika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaâat selain shalat fardhuâ?

Begitu pula Nabi shallallahu âalaihi wa sallam pernah didatangi seseorang, lalu ia bertanya mengenai Islam. Kemudian Nabishallallahu âalaihi wa sallam menjawab, âShalat lima waktu sehari semalam.â? Lalu ia tanyakan pada Nabi shallallahu âalaihi wa sallam,

ÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙ٠غÙÙÙرÙ?ÙÙا ÙÙاÙ٠« ÙØ§Ù Ø Ø¥Ù?ÙاÙ٠أÙÙ٠تÙØ·ÙÙÙÙÙع٠»

âApakah aku memiliki kewajiban shalat lainnya?â? Nabi shallallahu âalaihi wa sallam pun menjawab, âTidak ada, kecuali jika engkau ingin menambah dengan shalat sunnah.â?[4]

Kedua: Dari hadits di atas, shalat istikhoroh boleh dilakukan setelah shalat tahiyatul masjid, setelah shalat rawatib, setelah shalat tahajud, setelah shalat Dhuha dan shalat lainnya.[5] Bahkan jika shalat istikhoroh dilakukan dengan niat shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu berdoa istikhoroh setelah itu, maka itu juga dibolehkan. Artinya di sini, dia mengerjakan shalat rawatib satu niat dengan shalat istikhoroh karena Nabi shallallahu âalaihi wa sallam bersabda,

Ø¥Ù?Ø°Ùا ÙÙÙÙ٠أÙØ­ÙدÙ?ÙÙ?Ù٠بÙ?اÙØ£ÙÙÙرÙ? Ù?ÙÙÙÙÙرÙÙÙع٠رÙÙÙعÙتÙÙÙÙÙ? ÙÙ?Ù٠غÙÙÙرÙ? اÙÙÙ?ÙرÙ?ÙضÙØ©Ù?

âJika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaâat selain shalat fardhu.â? Di sini cuma dikatakan, yang penting lakukan shalat dua rakaâat apa saja selain shalat wajib. [6]

Al âIroqi mengatakan, âJika ia bertekad melakukan suatu perkara sebelum ia menunaikan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu ia shalat tanpa niat shalat istikhoroh, lalu setelah shalat dua rakaat tersebut ia membaca doa istikhoroh, maka ini juga dibolehkan.â?[7]

Ketiga: Istikhoroh hanya dilakukan untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh), bukan pada perkara yang wajib dan sunnah, begitu pula bukan pada perkara makruh dan haram. Alasannya karena Nabi shallallahu âalaihi wa sallambersabda,

ÙÙاÙ٠رÙسÙ?ÙÙÙ? اÙÙÙÙÙÙ? – صÙ٠اÙÙ٠عÙÙÙ ÙسÙÙ – ÙÙ?عÙÙÙ?ÙÙÙ? Ø£ÙصÙØ­ÙابÙÙÙ? اÙاÙ?سÙتÙ?Ø®ÙارÙØ©Ù Ù?Ù?٠اÙØ£Ù?ÙÙ?ÙرÙ? ÙÙ?ÙÙ?ÙÙÙا

âRasulullah shallallahu âalaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan.â? Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Jamroh bahwa yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah khusus walaupun lafazhnya umum.[8] Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, âYang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.â?[9]

Contohnya, seseorang tidak perlu istikhoroh untuk melaksanakan shalat Zhuhur, shalat rawatib, puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, atau mungkin dia istikhoroh untuk minum sambil berdiri ataukah tidak, atau mungkin ia ingin istikhoroh untuk mencuri. Semua contoh ini tidak perlu lewat jalan istikhoroh.

Begitu pula tidak perlu istikhoroh dalam perkara apakah dia harus menikah ataukah tidak. Karena asal menikah itu diperintahkan sebagaimana dalam firman Allah Taâala,

ÙÙØ£ÙÙÙÙÙ?Ø­Ù?Ùا ا
ÙÙØ£ÙÙÙاÙÙÙ ÙÙ?ÙÙÙÙ?ÙÙ ÙÙاÙصÙÙاÙÙ?Ø­Ù?ÙÙÙ ÙÙ?Ù٠عÙ?بÙادÙ?ÙÙ?ÙÙ ÙÙØ¥Ù?ÙÙائÙ?ÙÙ?ÙÙ

âDan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.â? (QS. An Nur: 32)

Begitu pula Nabi shallallahu âalaihi wa sallam bersabda,

ÙÙا ÙÙعÙØ´Ùر٠اÙØ´ÙÙبÙابÙ? ÙÙÙÙ? اسÙتÙØ·Ùاع٠ÙÙ?ÙÙÙÙ?ÙÙ? اÙÙبÙاءÙØ©Ù Ù?ÙÙÙÙÙتÙزÙÙÙÙجÙ

âWahai para pemuda, jika salah seorang di antara kalian telah mampu untuk memberi nafkah, maka menikahlah.â?[10] Namun dalam urusan memilih pasangan dan kapan tanggal nikah, maka ini bisa dilakukan dengan istikhoroh.

Sedangkan dalam perkara sunnah yang bertabrakan dalam satu waktu, maka boleh dilakukan istikhoroh. Misalnya seseorang ingin melakukan umroh yang sunnah, sedangkan ketika itu ia harus mengajarkan ilmu di negerinya. Maka pada saat ini, ia boleh istikhoroh.

Bahkan ada keterang
an lain bahwa perkara wajib yang masih longgar waktu untuk menunaikannya, maka ini juga bisa dilakukan istikhoroh. Semacam jika seseorang ingin menunaikan haji dan hendak memilih di tahun manakah ia harus menunaikannya. Ini jika kita memilih pendapat bahwa menunaikan haji adalah wajib tarokhi (perkara wajib yang boleh diakhirkan).[11]

Keempat: Istikhoroh boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikhoroh pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikhoroh adalah doâa dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikhorohnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,

Ø¥Ù?ÙÙ?ÙÙ ÙÙ?سÙتÙØ®Ù?Ùر٠رÙبÙ?ÙÙ Ø«ÙÙاÙØ«Ùا Ø«Ù?ÙÙ٠عÙازÙ?Ù٠عÙÙÙ٠أÙÙÙرÙ?Ù

âAku melakukan istikhoroh pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.â?[12]

Kelima: Doâa shalat istikhoroh yang lebih tepat dibaca setelah shalat dan bukan di dalam shalat. Alasannya adalah sabda Nabishallallahu âalaihi wa sallam,

Ø¥Ù?Ø°Ùا ÙÙÙÙ٠أÙØ­ÙدÙ?ÙÙ?Ù٠بÙ?اÙØ£ÙÙÙرÙ? Ù?ÙÙÙÙÙرÙÙÙع٠رÙÙÙعÙتÙÙÙÙÙ? ÙÙ?Ù٠غÙÙÙرÙ? اÙÙÙ?ÙرÙ?ÙضÙØ©Ù? Ø«Ù?ÙÙÙ ÙÙ?ÙÙÙÙ?ÙÙ? اÙÙÙÙÙÙ?ÙÙ٠إÙ?ÙÙ?Ù٠أÙسÙتÙØ®Ù?ÙرÙ?ÙÙ …

âJika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaâat selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdoâa: âAllahumma inni astakhiruka bi âilmika …â?[13]

Syaikh Musthofa Al âAdawi hafizhohullah mengatakan, âAku tidak mengetahui dalil yang shahih yang menyatakan bahwa doâa istikhoroh dibaca ketika sujud atau setelah tasyahud (sebelum salam) kecuali landasannya adalah dalil yang sifatnya umum yang menyatakan bahwa ketika sujud dan tasyahud akhir adalah tempat terbaik untuk berdoâa. Akan tetapi, hadits ini sudah cukup sebagai dalil tegas bahwa doâa istikhoroh adalah setelah shalat. â?[14]

Keenam: Istikhoroh dilakukan bukan dalam kondisi ragu-ragu dalam satu perkara karena Nabi shallall
ahu âalaihi wa sallam
bersabda,

Ø¥Ù?Ø°Ùا ÙÙÙÙ٠أÙØ­ÙدÙ?ÙÙ?Ù٠بÙ?اÙØ£ÙÙÙرÙ? Ù?ÙÙÙÙÙرÙÙÙع٠رÙÙÙعÙتÙÙÙÙÙ? ÙÙ?Ù٠غÙÙÙرÙ? اÙÙÙ?ÙرÙ?ÙضÙØ©Ù?

ââJika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaâat selain shalat fardhuâ?. Begitu pula isi doâa istikhoroh menunjukkan seperti ini. Oleh karena itu, jika ada beberapa pilihan, hendaklah dipilih, lalu lakukanlah istikhoroh. Setelah istikhoroh, lakukanlah sesuai yang dipilih tadi. Jika memang pilihan itu baik, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka nanti akan dipersulit.[15]

Ketujuh: Sebagian ulama menganjurkan ketika rakaâat pertama setelah Al Fatihah membaca surat Al Kafirun dan di rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas. Sebenarnya hal semacam ini tidak ada landasannya. Jadi terserah membaca surat apa saja ketika itu, itu diperbolehkan.[16]

Kedelepan: Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-0rang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan.[17] Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati.[18] Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.

Tata Cara Istikhoroh

Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.

Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua rakaâat (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).

Ketiga: Setelah shalat dua rakaâat, lalu berdoâa dengan doâa istikhoroh:

اÙÙÙÙÙÙ?ÙÙ٠إÙ?ÙÙ?Ù٠أÙسÙتÙØ®Ù?ÙرÙ?Ù٠بÙ?عÙ?ÙÙÙÙ?ÙÙ Ø ÙÙØ£ÙسÙتÙÙÙدÙ?رÙ?Ù٠بÙ?ÙÙ?دÙرÙتÙ?ÙÙ Ø ÙÙØ£ÙسÙØ£ÙÙÙ?ÙÙ ÙÙ?ÙÙ Ù?ÙضÙÙÙ?ÙÙ Ø Ù?ÙØ¥Ù?ÙÙÙÙ٠تÙÙÙدÙ?رÙ? ÙÙÙا٠أÙÙÙدÙ?رÙ? Ø ÙÙتÙعÙÙÙÙÙ? ÙÙÙا٠أÙعÙÙÙÙÙ? Ø ÙÙØ£ÙÙÙت٠عÙÙاÙÙÙÙ? اÙÙغÙ?ÙÙ?ÙبÙ? Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙ?ÙÙÙ Ù?ÙØ¥Ù?ÙÙ ÙÙ?ÙÙت٠تÙعÙÙÙÙÙ? ÙÙØ°Ùا اÙØ£ÙÙÙر٠– Ø«Ù?ÙÙ٠تÙ?سÙÙÙ?ÙÙÙÙ? بÙ?عÙÙÙÙÙ?ÙÙ? – Ø®ÙÙÙرÙا ÙÙ?Ù Ù?Ù?٠عÙاجÙ?ÙÙ? Ø£ÙÙÙرÙ?Ù ÙÙآجÙ?ÙÙ?ÙÙ? – ÙÙاÙ٠أÙÙÙ Ù?Ù?٠دÙ?ÙÙÙ?Ù ÙÙÙÙعÙاشÙ?Ù ÙÙعÙاÙÙ?بÙØ©Ù? Ø£ÙÙÙرÙ?Ù – Ù?ÙاÙÙدÙ?رÙÙÙ? ÙÙ?Ù Ø ÙÙÙÙسÙ?ÙرÙÙÙ? ÙÙ?Ù Ø Ø«Ù?ÙÙ٠بÙارÙ?ÙÙ ÙÙ?Ù Ù?Ù?ÙÙÙ? Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙ?ÙÙÙ ÙÙØ¥Ù?ÙÙ ÙÙ?ÙÙت٠تÙعÙÙÙÙÙ? Ø£ÙÙÙÙÙÙ? Ø´ÙرÙÙ ÙÙ?Ù Ù?Ù?٠دÙ?ÙÙÙ?Ù ÙÙÙÙعÙاشÙ?Ù ÙÙعÙاÙÙ?بÙØ©Ù? Ø£ÙÙÙرÙ?Ù – Ø£ÙÙÙ ÙÙاÙÙ Ù?Ù?٠عÙاجÙ?ÙÙ? Ø£ÙÙÙرÙ?Ù ÙÙآجÙ?ÙÙ?ÙÙ? – Ù?ÙاصÙرÙ?Ù?ÙÙÙ?٠عÙÙÙÙÙ? Ø ÙÙاÙÙدÙ?ر٠ÙÙ?Ù٠اÙÙØ®ÙÙÙر٠حÙÙÙØ«Ù? ÙÙاÙÙ Ø Ø«Ù?ÙÙ٠رÙضÙ?ÙÙÙ?٠بÙ?ÙÙ?

Allahumma inni astakhiruka bi âilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa taâlamu wa laa aâlamu, wa anta âallaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta taâlamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii âaajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa maâaasyi wa âaqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta taâlamu annahu syarrun lii fii diini wa maâaasyi wa âaqibati amrii (fii âaajili amri wa aajilih) fash-rifnii âanhu,
waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]

Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan ia dari pilihan tersebut.

Demikian penjelasan kami mengenai panduan shalat istikhoroh. Semoga bermanfaat.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan di Pangukan-Sleman, di sore hari menjelang Maghrib, 15 Rabiâul Awwal 1431 H (01/03/2010)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com


[1] Al Jaamiâ li Ahkamil Qurâan (Tafsir Al Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqiâ Yaâsub (sesuai cetakan).

[2] Lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/184, Darul Maârifah, Beirut, 1379.

[3] HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin âAbdillah

[4] HR. Bukhari no. 2678 dan Muslim no. 11, dari Tholhah bin âUbaidillah.

[5] Lihat Fiqhud Duâaa, Syaikh Musthofa Al âAdawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

[6] Faedah dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/426, Al Maktabah At Taufiqiyah. Begitu pula terdapat penjelasan yang sama dari Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitab beliau Bughyatul Mutathowwiâ fii Sholatit Tathowwuâ (soft file).

[7] Lihat Nailul Author, Asy Syaukani, 3/87, Irodatuth Thobâah Al Muniroh.

[8] Lihat Fathul Baari, 11/184.

[9] Idem

[10] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.

[11] Contoh-contoh ini kami peroleh dari Fiqhud Duâaa, hal. 167-168.

[12] HR. Muslim no. 1333

[13] Lihat Fiqhud Duâaa, hal. 168-169.

[14] Fiqhud Duâaa, hal. 169.

[15] Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwiâ (soft file).

[16] Lihat Fiqhud Duâaa, hal. 169.

[17] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/427.

[18] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwiâ (soft file).

One thought on “Sholat Istikhoroh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s