Islam di Nepal, Berkembang dalam Keterbatasan

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman lama mengirimkan sebuah email. Karenanya, pikiranku kembali ke suatu masa di tahun 2005, teringat saat dimana pertama kalinya aku bertemu dengannya, teman yang berasal dari negeri di sisi Pegunungan Himalaya, Nepal. Di postingan ini aku copas-kan artikel tentang Islam yang ada di negeri kawanku itu🙂. Selamat membaca ^^!

Republika Online

Koran » Berita Utama » Dunia Islam

Ahad, 18 Desember 2011 pukul 12:53:00

Islam di Nepal, Berkembang dalam Keterbatasan

Sejak memasuki Nepal ratusan tahun lalu, kaum Muslim harus mengikuti aturan-aturan non-Islam dalam berbagai hal.

Negeri Seribu Kuil. Begitulah Nepal-negara yang berada di kawasan pegunungan Himalaya-biasa dijuluki. Islam adalah agama minoritas ketiga di negeri yang memiliki Gunung Everest itu. Nepal menjadi rumah bagi sekitar 1,23 juta kaum Muslim atau 4,2 persen dari total populasi.

"Umat Islam diperbolehkan menjalankan keyakinan agamanya dengan sejumlah pembatasan yang diberlakukan kerajaan," ujar R Upadhyay dalam Muslim of Nepal: Becoming an Assertive Minority. Selain masih menghadapi berbagai pembatasan, Muslim di Nepal pun masih dihadapkan pada islamofobia dan serangan dari kelompok ekstremis.

Pada 26 September lalu, misalnya, Sekretaris Jenderal Organisasi Islam, Islami Sangh, Faizan Ahmad, meninggal dunia setelah diberondong senjata api oleh dua orang tak dikenal. Tak lama sebelumnya, seorang Muslim yang juga pengusaha media bernama Jamin Shah juga dibunuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas Kristen dan Muslim memeng kerap menjadi target aksi kekerasan dari kelompok Hindu radikal. Pada 26 April 2008, di Birabtnagar, sebuah serangan menghancurkan sebuah masjid dan menewaskan dua orang dan puluhan terluka.

Setahun kemudian, di bulan yang sama, sebuah bom di Gereja Katedral Katolik Kathmandu menewaskan tiga orang. Kebencian secara spesifik juga pernah ditujukan kepada Muslim Nepal setelah terjadi pembantaian 12 orang Nepal yang bekerja di Irak. Pembantaian itu menimbulkan sentimen anti-Islam dan anti-Arab di Nepal. Menyusul peristiwa itu, pada 1 September 2004, Masjid Jami’ yang terletak di jantung Kota Khatmandu dibakar massa.

Dunia mengenal Muslim Nepal paling tidak lewat tiga buku: Muslim of Nepal (Shamima Siddiqa, 1993), Religious Minorities in Nepal (Mollica Dastider, 1995), dan Understanding Nepal (Mollica Dastider, 2007).

Meski data pada Pew Research Center menyebut jumlah pemeluk Islam di Nepal hanya 1,23 juta jiwa, sejumlah pihak mengklaim total kaum Muslim mencapai 10 persen. Struktur etnis di wilayah Terai, seperti dipaparkan Dastider dalam Understanding Nepal, menguatkan hal itu.

Saat ini, empat distrik di Terai, yakni Banke, Kapilbastu, Parsa, dan Rautahat, lebih dari separuh persen penduduknya yang beragama Islam. Di lima distrik lain-Bara, Mahottari, Dhanusha, Sirha, dan Sunsari-Muslim merupakan mayoritas kedua. Sedangkan, di dua distrik lainnya-Rupandehi dan Sarlahi-Islam menjadi agama ketiga yang paling banyak dipeluk oleh masyarakatnya.

Saat ini, terdapat 181 madrasah dan 282 masjid di Nepal. Muslim Nepal berbicara dengan menggunakan beberapa bahasa, di antaranya Nepal, Urdu, Maithali, Bhojpuri, dan Awaidhi. Mayoritas mereka tinggal di Terai-wilayah padang rumput, savana, hutan di sebelah selatan bagian terluar kaki perbukitan Himalaya-dan daerah pegunungan yang berdekatan dengan perbatasan India.

Dari segi ekonomi, Muslim Nepal masih cukup tertinggal karena tidak terlibat dalam usaha-usaha industri dan komersial. Selain itu, mayoritas mereka adalah kaum Muslim yang tak memiliki keterampilan, kecuali pertanian dalam skala kecil. Keterbelakangan itu membuat mereka kehilangan hak asasi di negara mereka sendiri.

Keterbelakangan itu terjadi juga di bidang pendidikan. Meski banyak terdapat madrasah, sekolah Islam di seluruh penjuru Nepal, seperti disebutkan dalam situs nepalimuslims.org, sekolah-sekolah itu tidak mampu menghasilkan individu-individu terampil dan profesional yang banyak dibutuhkan negara.

Akibatnya, lulusan madrasah-madrasah itu tidak mampu mendapatkan pekerjaan dalam sektor pemerintah. Mereka pada umumnya bekerja tidak jauh dari maktab (madrasah kecil) dan masjid (sebagai imam atau muazin) dengan gaji yang kecil.

Kondisi itu diperparah oleh sikap Pemerintah Nepal yang tidak membawa Muslim dalam salah satu prioritas negara. Mereka tidak menyokong madrasah-madrasah itu, baik secara finansial maupun moral. Pemerintah bahkan tidak memberikan hak penuh kepada Muslim untuk menjalankan syariat Islam, termasuk hal-hal bersifat personal.

Sejak Islam masuk Nepal ratusan tahun lalu, Muslim Nepal harus mengikuti aturan-aturan dalam berbagai hal, seperti pernikahan, perceraian, bahkan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha.Seakan tak mau terus hidup terbelakang, beberapa organisasi Islam mulai menunjukkan kiprahnya meningkatkan pendidikan Muslim Nepal. Salah satunya adalah Islami Sangh (berarti Persatuan Islam). Tiga tahun lalu, Muslim Nepal untuk pertama kalinya memiliki Alquran dengan terjemahan bahasa Nepal.

Proyek penerjemahan yang memakan waktu hingga sekitar lima tahun itu sukses diterbitkan atas kerja sama Organisasi Islam Nepal (al-Munadhamah al-Islamiyah Nepal) dan Akademi Alquran London (Akadimiya Alquran bi London).

Asisten Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Syekh Muhammad Nassir al-Abboudy mengatakan, Muslim Nepal belum cukup mampu memberantas keterbelakangan mereka di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Ketidakmampuan itu juga berlaku dalam menghadapi aktivitas misionaris dan daya pikat mereka.

Para misionaris di Nepal berhasil membuka sejumlah sekolah, klinik kesehatan, perpustakaan, dan fasilitas lainnya, termasuk pemberian uang tunai. Sejauh ini, salah satu penyokong Muslim Nepal hingga mampu bertahan adalah bantuan yang diberikan dua negara Islam, Arab Saudi dan Mesir. Keduanya banyak membantu dalam bentuk beasiswa bagi Muslim Nepal yang ingin belajar di universitas di kedua negara tersebut.

Jejak Islam di Himalaya

Para ahli sejarah Nepal percaya bahwa Muslim pertama bermukim di Kathmandu pada masa kekuasaan Raja Ratna Malla (1484-1520) pada akhir abad ke-15 M atau 5 H. Diperkirakan, Muslim pertama yang datang ke Nepal adalah para pedagang dari Kashmir. Kedatangan mereka disusul oleh Muslim dari Afghanistan, Persia, dan juga Irak.

Selain itu, raja-raja Nepal Barat juga mempekerjakan Muslim Afghanistan dan India untuk melatih tentara Nepal dalam menggunakan senjata api dan amunisi. Utusan yang dikirim Raja Ratna Malla ke Lasha mengundang Muslim Kashmir untuk datang ke Kathmandu. Hal itu demi meraup keuntungan dari permadani, karpet, selendang, serta barang-barang dari wol yang diperdagangkan antara Kashmir, Ladakh, dan Lhasa.

Menurut laman nepalimuslims.org, pihak kerajaan mengundang para Muslim India untuk dipekerjakan di istana. Mereka juga mengajak Muslim India dari Kekaisaran Mughal untuk bergabung di Istana Ratna Malla sebagai musisi dan spesialis parfum atau ornamen.

Sejarawan Baburam Acharya percaya kaum Muslim juga bekerja melindungi Raja Ratna Malla dari gangguan para pemberontak. Kelompok pertama Muslim konon datang bersama seorang suci Kashmir yang kemudian membangun masjid pertama, Kashmiri Taquia, pada 1524.

Gelombang kedua datang pada abad ke-17 M dari India Utara. Mereka adalah para pembuat perlengkapan perang bagi negara-negara bagian di wilayah perbukitan. Pada waktu terjadi blokade ekonomi di bawah pemerintahan Raja Prithvi Narayan Shah (1751-1777), banyak Muslim yang melarikan diri ke India, terutama para pedagang Kashmir.

Setelah berhasil menyatukan Nepal pada 21 Desember 1768, Prithvi mendorong para pedagang Islam untuk menetap di wilayahnya dengan keluarga mereka. Di samping berdagang, para Muslim dari Afghanistan dan India ahli membuat senapan, peluru, dan senjata kanon. Selain itu, sebagian lainnya sangat berguna dalam hal diplomasi internasional karena memiliki pengetahuan tentang Persia dan Arab.

Pada 1774, tinggal segelintir saudagar Kashmir yang bertahan. Meski begitu, para pedagang Kashmir itu menyumbangkan bantuan yang besar dalam proses penyatuan Nepal. Para sejarawan mengatakan, Prithvi mempekerjakan mereka sebagai mata-mata dan informan.

Sebab, mereka memiliki kontak dengan orang-orang Malla. Setelah mencapai kemenangan yang diinginkannya, Prithvi memberi izin pada Muslim untuk membangun sebuah masjid (sekarang berada di dekat Kampus Tri-Chandra, Kathmandu).

Di sepanjang rezim kekuasaan Jang Bahadur Rana (pemimpin Nepal pada 1873-1877 yang menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Nepal), sejumlah besar Muslim bermigrasi dari India ke Tarai untuk lari dari penganiayaan yang dilakukan tentara Inggris selama Pemberontakan Sepoy pada 1857. Para pengungsi itu kemudian bermukim di Terai dan menjual barang-barang kulit serta bekerja sebagai buruh tani di sana. Seorang anggota senior Kekaisaran Delhi, Bahadur Shah Zafar, ikut mengungsi ke Kathmandu. Dialah yang kemudian merenovasi Masjid Jami dan dimakamkan di sana.

Selama Pemberontakan Sepoy, istri Nawab (sebutan bagi raja) Wajid Ali Shah, Begum Hazrat, juga melarikan diri melalui Nepalganj dan diizinkan oleh Jang Bahadur Rana untuk mengungsi ke Nepal. Ia kemudian tinggal di Thapathali Durbar, meninggal di Kathmandu, dan dimakamkan di masjid Nepal tersebut. Wajid Ali Shah adalah nawab terakhir dari Kerajaan Oudh di wilayah yang kini bernama Uttar Pradesh, India.

(ed: heri ruslan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s