The Japanese Mind; Understanding Contemporary Japanese Culture

Wis suwi ndak mengubrak-abrik paper zaman kuliah. Berikut ini adalah salah satu review bahasan di chapter buku The Japanese Mind; Understanding Contemporary Japanese Culture yang ditulis oleh Roger J. Davies and Osamu Ikeno. Tulisan ini ditujukan untuk mata kuliah Masyarakat dan Budaya. Chapter yang kuambil untuk dibahas tersebut adalah "iitoko dori". Here it is… Selamat membaca :)!


Iitoko dori; Fleksibilitas dan Keingintahuan Masyarakat Jepang
Keberhasilan Jepang sebagai negara industri yang dapat sukses dalam waktu singkat menyebabkan banyak para ahli, praktisi maupun akademisi yang melakukan pembahasan maupun penelitian tentang ârahasiaâ? kesuksesan masyarakat Jepang. Jikalau alasan kesuksesan tersebut adalah karena pengadaptasian teknologi dari negara yang lebih maju saja, maka China dan India yang lebih awal melakukan kontak dengan dunia Barat seharusnya telah jauh lebih maju daripada Jepang. Namun, pada kenyataannya Jepang lebih dahulu mencapai kesuksesan ekonomi. Oleh karenanya, perlu dipahami secara mendalam faktor apa yang menjadikan Jepang berbeda dengan negara lain dalam hal kecepatan modernisasinya.
Dari berbagai pendapat ahli yang meneliti hal ini, disebutkan bahwa terdapat faktor sejarah yang menjadi penyebab cepatnya Jepang melakukan modernisasi dan industrialisasi. Dalam buku the Japanese Mind, dipaparkan bahwa Jepang memiliki tradisi yang panjang dan mapan dalam mengadopsi elemen budaya asing (iitoko dori). Sedangkan ditilik dari aspek sejarah lingkungan budayanya, menurut Egami, bangsa Jepang mendapat banyak pengaruh dari berbagai budaya, seperti budaya benua Eurasia yang sederhana, budaya berkuda yang berprinsip logis, realistis, internasional, mampu menyerap dan meniru budaya lain (terbuka dan positif), juga dipengaruhi oleh budaya pertanian yang tertutup dan negatif, serta adanya interaksi dan persentuhan dengan budaya asing. Dengan berbagai pengalaman tersebut, terbentuklah karakteristik ini.
Ini gambar cover bukunya🙂
Penerapan iitoko dori tidak hanya dalam aspek pengadaptasian teknologi saja, tetapi juga dalam sistem etika. Di Jepang, agama dan kepercayaan dapat tumbuh secara damai dan bersamaan, sehingga jarang terjadi konflik keagamaan. Dan apabila ada nilai dan konsep baru yang masuk ke Jepang, masyarakat tidak menolaknya langsung karena mereka memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, dimana nilai-nilai yang dianggap terbaik akan diadaptasikan, digunakan dan dikembangkan.
Contoh nyata dari praktik tradisi itu dapat ditemukan dalam pelaksanaan kepercayaan dan agama masyarakat Jepang pada zaman dahulu, dimana terdapat harmonisasi antara penerapan ajaran Shinto, Budha, dan Konfusianisme. Oleh Pangeran Shotoku, keharmonian ini diumpamakan sebagai berikut ; âShinto sebagai batangnya, Budha sebagai cabangnya, dan Konfusianisme sebagai daunnyaâ?. Begitu pula ketika agama Kristen yang tergolong âbaruâ? diperkenalkan ke Jepang, masyarakat menerimanya dengan relatif terbuka dan tidak langsung menolaknya.
Melalui cara pandang ini, Jepang dapat relatif dengan mudah menerima agama-agama serta filosofi baru, serta nilai budaya dan teknologi yang datang bersamanya. Dengan kata lain, mereka mampu menyatukan/merekonsiliasi suatu hal yang bertentangan/kontradiksi. Proses tersebut tidak berhenti sampai disini. Masyarakat Jepang juga mengembangkan kebiasaan atau nilai-nilai yang mereka anggap paling berguna dari suatu budaya asing. Setelah proses ini menjalani waktu yang panjang hingga berabad-abad, kebiasaan Jepang tersebut menjadi mengakar dalam masyarakat. Dari proses inilah iitoko dori terbentuk.
Sejalan dengan pendapat di atas, menurut Ueyama, ciri khas budaya Jepang antara lain; menerima apa adanya budaya yang datang dari luar secara antusias, memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap budaya luar, serta memiliki kemampuan mengembalikan budaya asing tersebut secara natural. Disebutkan pula bahwa peradaban apapun dilihat secara natural & netral, sehingga menghasilkan rasa ingin tahu dan semangat baru untuk meniru.
Sedangkan menurut Matsuda, semangat orang Jepang ini sama seperti cara orang Jerman dalam menerima budaya Latin dan Islam karena sama-sama memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bagi orang Jepang, dalam mengadopsi suatu budaya asing dilakukan secara jujur dan sederhana. Namun, ditilik dari kemandiriannya tergolong lemah dan diperlukan proses yang lama untuk menjadi suatu bagian dari budaya lokal. Selama pengadaptasian tersebut, budaya atau nilai yang diserap akan mengalami proses modernisasi ala Jepang (Jepang-isasi).
Namun, di sisi lain dampak negatifnya adalah sulit bagi orang Jepang untuk secara frontal melawan ketidakadilan atau sesuatu hal yang bertentangan dengan idealismenya tanpa adanya dukungan dari mayoritas. Sehingga, daripada menjadi seseorang dengan prinsip-prinsip yang absolut, mereka lebih memilik untuk relatif mudah mengubah/ mengadaptasikan prinsip-prinsip mereka sesuai dengan situasi, kondisi dan keinginan dari mayoritas kelompoknya. Sebagai contoh dalam kasus ijime di sekolah, walaupun seorang siswa mengetahui bahwa perbuatan ijime itu adalah salah, namun mereka tidak berani untuk melawan atau menentangnya karena hal itu berarti tidak sejalan dengan pendapat mayoritas. Oleh karenanya, ia memilih untuk diam atau mengikuti pendapat mayoritas yang berarti bertentangan dengan prinsipnya sendiri.
Kesimpulan
Pendapat Ueyama dan Matsuda sejalan dengan pendapat yang ada di dalam buku The Japanese Mind, yang juga menjelaskan tentang fleksibilitas dan tingginya pengadaptasian elemen-elemen budaya asing atau iitoko dori (adopting elements of foreign culture) yang merupakan fenomena yang sudah ada sejak awal sejarah Jepang. Hal ini sangat mempengaruhi cara berpikir orang Jepang.
Sikap tersebut menjadi salah satu faktor terpenting dalam membangun kebangkitan dan kesuksesan ekonomi Jepang, karena teknologi dan sistem nilai baru yang ada di dalamnya sangat mudah ditiru dan diterapkan oleh orang Jepang. Dalam konteks etika sekalipun, hasil dari penerapan iitoko dori dapat terlihat secara nyata dalam Jepang kontemporer, yaitu jarangnya terjadi konflik keagamaan diantara orang Jepang.
Dari sini, dapat kita pahami bahwa iitoko dori mencerminkan fleksibilitas perilaku orang Jepang yang mendorong pencapaian kesuksesan Jepang hingga seperti sekarang ini. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa karakter ini juga memiliki sisi negatif. Karena, bagaimanapun pendapat atau prinsip seseorang, mereka harus menyesuaikan / mengadaptasikan dengan pendapat kelompoknya yang lebih besar (walaupun pendapat itu salah) agar dapat menjaga keharmonisan hubungan diantara mereka.
Sumber lain :
Anwar, Etty N. 2008. Materi Kuliah Matrikulasi KeJepangan (MKJ) Semester Ganjil TA 2008/2009. Depok ; KWJ UI
Davies, Roger J. and Ikeno, Osamu (eds). 2002. The Japanese Mind ; Understanding Contemporary Japanese Culture. USA ; Tuttle Publishing. Hal. 127 – 131

2 thoughts on “The Japanese Mind; Understanding Contemporary Japanese Culture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s