Fenomenologi Persepsi

Kemarin malam, aku dan teman-temanku berdiskusi, dan kami sedikit berdebat tentang apa itu persepsi. Teringat bahwa di masa yang lalu aku pernah membaca sebuah artikel tentang persepsi untuk tugas akhir kuliah dengan menggunakan bahasan persepsi. Maka, kuposting-lah di sini🙂. Semoga bisa menjadi tambahan pengetahuan🙂. Sumonggo🙂

Sekilas tentang Fenomenologi Persepsi

Fenomenologi adalah aliran dalam filsafat yang menekankan deskripsi terhadap struktur pengalaman yang menampakkan dirinya ke dalam kesadaran, tanpa ada bantuan teori atau asumsi-asumsi yang mendasarinya. Fenomenologi merefleksikan pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensif berhubungan dengan suatu objek. Dengan kata lain fenomenologi mempelajari fenomena yang tampak di depan manusia dan bagaimana penampakannya (Kuswarno, 2009).

Fenomenologi juga berusaha untuk memahami fenomena (konteks kehidupan) melalui situasi tertentu. Tujuan utama fenomenologi yaitu untuk mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis (2009, Hal.2). Sedangkan tugas fenomenologi adalah menghubungkan antara pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari-hari, dan dari kegiatan di mana pengalaman dan pengetahuan itu berasal. Dengan kata lain, mendasarkan tindakan sosial pada pengalaman, makna dan kesadaran (Kuswarno, 2009: Hal.17). Berdasarkan Husserl (Kuswarno, 2009: Hal.12), pokok-pokok pikiran dari fenomenologi mencakup; 1) fenomena adalah realitas sendiri yang tampak, 2) tidak ada batas antara subjek dengan realitas, 3) kesadaran bersifat intensional, dan 4) terdapat interaksi antara tindakan kesadaran (noesis) dengan objek yang disadari (noema).

Salah satu tokoh fenomenologi yang menonjol adalah Maurice Merleau Ponty (1908 â 1961), seorang ahli filsafat berkebangsaan Perancis. Karyanya yang paling terkenal yaitu Phénoménologie de la perception atau Phenomenology of Perception (Paris: Gallimard, 1945). Inti dari pemikiran Merleau Ponty adalah fenomenologi bukan semata-mata kajian tentang bagaimana objek menampakkan diri ke dalam struktur kesadaran, tapi lebih tentang bagaimana objek itu secara perseptual berkembang seiring dengan berkembangnya pengalaman. Pengalaman perseptual yang berkembang adalah dasar dari semua pengetahuan (Hartanto, 2004).

Menurut Merleau Ponty, tubuh merupakan konstruksi dari kesadaran dan pikiran yang terakumulasi dalam pengalaman perseptual yang berkembang. Melalui proses pengalaman, manusia mengkonstruksikan dunia lewat persepsi. Hal ini bermakna bahwa semua pengetahuan, sains dan termasuk kepercayaan, berbasis pada dunia yang manusia serap. Berawal dari proses penyerapan terhadap realita empiris inilah, maka kemudian terbentuklah persepsi (Hartanto, 2004). Fenomena kesadaran terkait erat dengan mata dan pikiran. Manusia hanya dapat melihat sesuatu yang secara intensional manusia serap, atau dengan kata lain terdapat keterbatasan cakrawala dalam cara pandang manusia tentang realitas.


Gambar dari tautan
INI

Merleau Ponty mengkritik cara pandang kaum empiris yang berargumen bahwa kebenaran terbentuk lewat kesadaran berpikir (rasionalisme) atau persepsi yang manusia dapat lewat pengalaman (empirisme). Menurutnya, argumen ini akan membawa kepada experience error. Manusia tidak mengalami pengalaman kesan inderawi atomistik, tapi lebih pada pengalaman Gestalt yang dialami dalam pengalaman keseharian yang bersifat objektif bagi diri manusia sendiri. Manusia hanya menemukan atau mengetahui objek dalam konteks permukaan saja. Manusia menangkap benda pada dirinya sendiri lewat persepsi, tapi hal ini bukanlah representasi benda yang manusia pikirkan, melainkan hanya sebatas apa yang manusia lihat dan kenali (Hartanto, 2004).

Untuk memahami pemikiran Merleau Ponty tentang fenomena persepsi dapat dijelaskan lewat proses penginderaan. Analogi yang digunakan adalah apabila manusia melihat sebuah rumah, maka ia tidak melihat rumah tersebut secara keseluruhan, karena ada sisi rumah yang tidak dapat terlihat (sisi dalam atau belakang). Oleh karena itu, bagaimanakah manusia dapat menjelaskan bagian yang tidak terlihat tersebut? Apabila ia tidak membuktikan seluruh bagian dan sisi dari rumah tersebut dengan mengelilinginya, maka ia hanya berasumsi tentang bagian yang tak terlihat (persepsi). Maka dari itu, manusia memerlukan lebih banyak pengalaman untuk mengembangkan persepsinya. Dalam analogi ini, manusia perlu melihat keseluruhan sisi rumah untuk mendapatkan persepsi dan gambaran yang lebih jelas dan nyata.

Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa persepsi selalu benar. Pengertian manusia terhadap bagian sebuah objek yang tidak dapat manusia serap itulah yang merupakan dasar dari persepsi. Dan hal ini berarti tidak ada asumsi dan pengertian persepsi yang bersifat universal, karena yang ada hanyalah persepsi yang manusia alami dalam kehidupan yang berkembang lewat pengalaman (Hartanto, 2004). Oleh karena itu, Merleau Ponty menekankan keutamaan pengalaman hidup agar pemikiran-pemikiran yang diserap dari pengalaman semakin bertambah. Dengan kata lain, kesadaran dapat dimengerti sebagai konstruksi perseptual yang disusun atas dasar investigasi fenomenologis melalui proses menyerap.

Sebuah persepsi menurut Davidoff (Walgito, 1994) didefinisikan sebagai proses yang digunakan oleh invidu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterprestasi masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Sedangkan menurut Horovitz (2000), persepsi didefinisikan sebagai anggapan yang muncul setelah melakukan pengamatan di lingkungan sekitarnya atau melihat situasi yang terjadi untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu. Akan tetapi, terdapat kemungkinan bahwa sejumlah informasi yang diperoleh tidak disadari, dihilangkan atau justru disalahartikan. Persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan dan keadaan individu yang bersangkutan, sehingga proses terbentuknya persepsi dapat dipengaruhi oleh adanya stereotype dan prejudice.

Menurut Horovitz, persepsi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor psikologis (pengetahuan, kepercayaan), fisik (panca indera), dan citra objek yang telah terbentuk. Sebagai tambahan, menurut Rahmat (1988) disebutkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor fungsional (bersifat personal dan berasal dari individu) dan faktor struktural (berasal dari luar individu). Faktor fungsional meliputi usia, pengalaman, proses belajar, kebutuhan, motif, masa lalu, kepribadian, kebutuhan individu, jenis kelamin dll. Sedangkan faktor struktural mencakup lingkungan keluarga, keadaan sosial, hukum-hukum yang berlaku, serta nilai-nilai dalam masyarakat.
*) Dari berbagai sumber🙂

5 thoughts on “Fenomenologi Persepsi

  1. jadi belum tentu fenomena itu adalah persepsi? karena kita punya sudut pandang yang tidak sama melihat satu fenomena ya?

    eh mbulet deh bahasannya.. kenapa posting serius gini ya? berasa jadi mahasiswa lagi..

    chiku mahasiswa psikologi?

  2. tintin1868 said: jadi belum tentu fenomena itu adalah persepsi? karena kita punya sudut pandang yang tidak sama melihat satu fenomena ya?eh mbulet deh bahasannya.. kenapa posting serius gini ya? berasa jadi mahasiswa lagi..chiku mahasiswa psikologi?

    hahaha…. sebagai penyusun tulisan ini aku pun mumet jhe mbak. ehehehe…..

    Iya nih, kadang2 klo lagi rada2 aku mosting tulisan serius hasil copas paper jaman kuliah dulu. wkwkkw….

    Hm…. mbulet banget yo mb? padahal harusnya tulisan yang baik (menurutku) adalah yang bisa dipahami oleh orang paling awam sekalipun. aku gagal TT____TT (lebay)

    Sanes mb, saya S1 nya di Fisipol – HI, S2 di politik dan diplomasi Jepang. Tapi kadang mbahas yang interdisipliner

  3. tintin1868 said: jadi belum tentu fenomena itu adalah persepsi? karena kita punya sudut pandang yang tidak sama melihat satu fenomena ya?eh mbulet deh bahasannya.. kenapa posting serius gini ya? berasa jadi mahasiswa lagi..chiku mahasiswa psikologi?

    maturnuwun sanget kagem masukannya ya mbak. Jadi pengingat buatku untuk menulis akademik dengan bahasa dan substansi yang mudah dipahami oleh kita semua.

    hm… mungkin kebiasaan di civitas akademika kita yang cenderung memakai "bahasa tinggi" sehingga orang2 sulit memahami. Padahal klo dipikir2 apa gunanya tulisan dan penelitian kita kalau tak ada yang memahami?

    TT_________TT (iki lagi PMS, harap dimaklumi lebaynya ya mbak. ahahaha… :D)

  4. tintin1868 said: jadi belum tentu fenomena itu adalah persepsi? karena kita punya sudut pandang yang tidak sama melihat satu fenomena ya?eh mbulet deh bahasannya.. kenapa posting serius gini ya? berasa jadi mahasiswa lagi..chiku mahasiswa psikologi?

    itu masalah kita sebagai mantan mahasiswa, bikin tulisan sederhana yang bisa dibaca dan dipahami semua orang.. tantangan banget..
    coba ya bikin skripsi-tesis-disertasi itu kaya bikin cerpen ato fanfic.. pasti mudah..😀

    moral of the story: jangan nulis serius kalu lagi pms.. hihihi..

  5. tintin1868 said: itu masalah kita sebagai mantan mahasiswa, bikin tulisan sederhana yang bisa dibaca dan dipahami semua orang.. tantangan banget.. coba ya bikin skripsi-tesis-disertasi itu kaya bikin cerpen ato fanfic.. pasti mudah.. :Dmoral of the story: jangan nulis serius kalu lagi pms.. hihihi..

    Heheh…. Setuju-setuju :D! Pengennya bikin karya ilmiah yang berisi tapi mudah dipahami. Pie kuwi carane?

    Eheheh… maklum mbak, klo pms aku sangat meng-geje😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s