Menjadi Lipatan

Berikut ini adalah tulisan dari rekan kantorku, Ade Chandra yang dipostingkannya di blog pribadinya akhir tahun lalu. Tulisannya sungguh keren (mumpung orangnya gak liat, dipuji-puji di sini. Kalo di depan orangnya mah, gak bakalan. wkwkwk…). Semoga jejak-jejak kebaikan kita senantiasa membekas… aamiin… Met baca :D!

Menjadi Lipatan

Oleh: Ade Chandra

Bagaimana orang-orang baik berkumpul?

Mereka dipertemukan oleh kesempatan kebaikan.

Sedikit saya ingin bercerita ketika Pak Anies Baswedan mewawancarai saya dulu. Dia memberikan saya selembar kertas putih. Kertas biasa yang tak berwarna. Tepat di depan saya, kertas segi empat itu terlentang diam. Apakah saya disuruh menggambar? Atau menulis?

âLakukan sesuatu pada kertas itu! Do not draw or write anything on it! Dan ceritakan pada saya maksudnyaâ?! Perintah beliau.

Sejenak saya tertegun. Andai saja saya disuruh menggambar tentu jauh akan lebih mudah. Ok, saya bisa buat jadi bentuk lain. Origami? Origami kodok, kapal atau pesawat terbang? Ah saya lupa detail caranya. Tak ada waktu untuk mengingat lagi. Opsi kodok dan kawan-kawan dicoret.

Lalu, baiknya saya apakan selembar kertas putih ini?

Tiba-tiba tangan saya bergerak mengambil kertas. Pokoknya pegang dulu dan pikir belakangan.

Ok baiklah!

Tangan saya (ya, bukan saya tapi tangan saya yang melakukan control 🙂 ) membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian.

Sretâ¦sretâ¦

Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

âBisa dijelaskan atas apa yang barusan kamu lakukanâ??

Yang barusan saya lakukan? Apa yang barusan saya lakukan? Saya benar-benar tak tahu apa yang saya lakukan. Namun ketika saya melihat kertas yang tadi dilipat tersebut tiba-tiba saya membaca sesuatu. Melihat polanya dengan sangat jelas. Dan segera saya âmenerjemahkanâ? kertas saya tersebut kepada Pak Anies.

âTadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan â. Ok, saya pikir saya kerasukan 🙂

âLalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titikâ?, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. âPada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhanâ?.

âKetika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertasâ?. Saya masih kerasukan.

Pak Anies kelihatan bingung.

âJelaskan maksudnyaâ?!

âKertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan âbersentuhanâ?. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu â.

Sambil menelan ludah, saya melanjutkan, âorang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibacaâ?.

Selesai.

Saya menunggu komentar beliau.

âHmmm⦠Interestingâ?!

â¦â¦â¦â¦â¦â¦â¦â¦â¦â¦â¦â¦.

The Big Family of Indonesia Mengajar :D!!

Setelah hampir setahun di IM, saya makin sadar atas âfilosofiâ? kertas tersebut. Di sini, lipatannya bukan hanya empat, tapi banyak sekali. Sebelum jadi Pengajar Muda atau Penyala atau Tim Galuh, kita tak saling mengenal. Kita berada di ujung-ujung yang tak saling melihat. Indonesia Mengajar mempertemukan kita semua, juga dengan yang lainnya. Dengan aktivis pendidikan, dengan masyarakat-masyarakat pendukung gerakan ini, dengan keluarga baru di desa-desa, dengan murid-murid SD. Kita membuat lipatan-lipatan yang makin banyak dan kuat menjejak. Kita dipertemukan oleh kesempatan kebaikan.

06 Desember 2011, 19.34 WIB

http://mamuranu.wordpress.com/2011/12/18/menjadi-lipatan/#more-393

Advertisements

5 thoughts on “Menjadi Lipatan

  1. rizativa said: :’) mba, btw, buat tombol2 itu gimana? maksudnya yg bisa neglink ke fb, twit, google plus dll… 😀

    hoho~ aku pun taktahu nduk. Kayaknya itu dah settingan dari MP nya. Di MP mu tak ada tampak kah?

  2. tintin1868 said: cerita yang inspiratif.. jadi 4 sudut kertas itu dikruwekkruwek dulu biar ketemu ya.. ada jejak dimanamana..

    iya mbak :D, harus banyak mempertemukan berbagai sisi kertas (dikruwek) dulu supaya jejaknya semakin banyak ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s