Cerita di DPR; Kenaikan BBM

Akhir-akhir ini, ibukota dan seantero nusantara tampaknya menggeliat dan "panas" karena rencana kenaikan harga BBM. Sejujurnya, diriku yang sangaat jarang nonton televisi dan mengikuti perkembangan berita (terutama politik) tak terlalu paham dengan detail kekisruhan yang terjadi (#akibat terlalu sok sibuk dengan pekerjaan; berangkat subuh, kerja, pulang ke rumah malam, langsung tidur. hadeh… -_-").
Namun, alhamdulillah hari ini seorang adik kelasku di UGM dulu, yang kini bekerja sebagai staf ahli di DPR, menceritakan secara detail apa yang ia lihat dan saksikan langsung di sana melalui notes FB nya. His writing gives me a better understanding about our nation’s current issue. So, di sini diriku hendak berbagi tulisannya tersebut. Buat tambahan pengetahuan dan perspektif tentang perpolitikan di negeri kita. Selamat membaca :)!
(cerita di DPR)
by Adi Mulia Pradana
On Saturday, March 31, 2012 at 3:34am
Kadang kita harus melihat dari âjauhâ? agar anda lebih memahami suatu masalah. Termasuk isu BBM ini. Anda kesal dengan voting hari ini ? Tentu saja semua kesal. Ini bukan masalah April Mop, yang hanya akan âmenundaâ? demo makin raksasa sekitar akhir September dan atau awal Oktober. Disini, saya hanya mencoba mengulas sudut pandang yang berbeda, tapi tetap bernada kekesalan, yang mungkin tak bisa anda ârabaâ? karena tak berada di dalam DPR.
Sabtu 31 Maret, jam 1 pagi, lantai nusantara 1. Sepertinya lantai ini âmilikâ? PDIP. Ya, âpestaâ? kemenangan gagal tercipta. Tidak ada sampanye yang dibuka. Semua kader PDIP tumpah ruah di lantai 1 Nusantara 1. Belum lagi anggota PDIP. Rieke, kecut. Arya Bima mengobrol dengan kader PDIP lainnya, juga sambil menggerutu. Saya bahkan sempat disapa Arya Bima (dikira kader PDIP). Para kadernya naik turun lift. Jujur, PDIP yang paling terakhir pulang dibanding partai lain.
Popularitas mereka gagal terdongkrak, karena kenaikan BBM hanya penudaan, gagal untuk menghentikan total. PDIP awalnya sudah âsenangâ? setidaknya hingga sore tadi. Senang, karena peta politik menunjukkan 6 fraksi menolak harga BBM naik, melawan 3 fraksi yang setuju harga BBM naik. Hingga sore, yang benar â benar solid mendukung kenaikan, hanyalah Demokrat, PKB, PAN, dari pandangan PDIP. Sepertinya begitu.
Tapi ada konteks efek berlama â lama atas tindakan. Misalnya, dalam sepakbola, suatu tim yang mampu berlama â lama mengontrol penguasaan bola, cenderung akan menang. Termasuk dalam berlama â lama (ber) skorsing. Lucunya, taktik berlama â lama skorsing ini, awalnya dipakai PDIP.
Awalnya PDIP berpikir, dengan berlama â lama skorsing sejak jam 4 sore, akan membuat 2 hal. Pertama, jika melewati tenggat jam 24.00, harus kembali ke APBN lama (2011). Atau yang kedua, berlama â lama skors akan membuat 3 fraksi pro kenaikan BBM berubah pikiran. Ternyata Demokrat juga berpikir sama terkait berlama â lama skors. Yaitu membuat opsi yang dilematis.
Debat persentase ICP, dari angka 5 persen, 10 persen, 15 persen, 16,3 persn, hingga 20 persen, terus berputar disaat skors, diantara 6 fraksi koalisi. Belum lagi rentang bulannya. PKS masih memakai patokan paling sulit. 20 persen dengan rentang 3 bulan. Kenapa PKS berpatokan dengan angka itu ? Pertama, PKS yakin bahwa akan amat susah ditingkat harga internasional untuk membuat harga minyak dunia lebih mahal 20 persen dalam 3 bulan. Sejatinya, pandangan ini juga amat pasifis. Maksudnya, PKS yakin tidak akan ada perang (misal) Israel â Iran antara April hingga Juli ini. Unik bukan ?
Entah apa yang dibahas di lantai 9 (markas utama Demokrat, selain lantai 8, 10, 21, 22, 23) DPR, tapi dalam proses skors antara sore ke malam (setidaknya jam 7 malam), Demokrat punya tawaran dilematis, tawaran kompromistis. Mereka mau mengalah ke angka moderat, 15 persen dalam 6 bulan. Tidak terlalu tinggi persentasenya, juga tidak terlalu cepat waktunya. Intinya, jika kenaikan harga minyak internasional antara harga per Maret / April 2012 ke Oktober 2012 mencapai level 15 persen (misal 100 dollar menjadi 115 dollar, atau dari 120 dollar menjadi 140 dollar), maka pemerintah berhak menaikkan harga.
Gambar diambil dari
SINI
Angka itu, jelas, amat moderat. Disinilah kemudian tiba â tiba âkisruhâ?. Opsi kompromistis ini disebar sekitar jam 7 malam oleh Demokrat ke beberapa elit fraksi lain. Tiba â tiba, soliditas 6 fraksi pendukung harga BBM tetap. PDIP tiba â tiba panik. Taktik berlama â lama justru menjadi blunder karena bukannya 3 fraksi pro kenaikan BBM terbujuk ikut suara PDIP. Tapi sebaliknya, Demokrat berhasil memaksa 8 fraksi lainnya berpikir ulang dengan opsi â15 persen 6 bulanâ?.
Sebetulnya, diluar Demokrat, beberapa fraksi koalisi tidak masalah harga BBM naik. Tapi masalahnya, bagaimana caranya agar tak terlihat âvulgarâ? bahwa fraksi tersebut yang mendorong kenaikan harga BBM. Isu BBM amat âseksiâ?, amat populis, amat berkaitan kehidupan sehari â hari secara riil. Golkar awalnya sejak kamis sore (setelah âperintahâ? Ical pada kamis siang) mulai solid dengan menolak kenaikan harga BBM. Tapi opsi 15 persen 6 bulan membuat banyak fraksi, termasuk Golkar, berpikir ulang.
Mari kita melihat âterbalikâ?. Bagaimana jika harga minyak internasional perlahan stabil dan kemudian turun ? Bagaimana jika dalam rentang April hingga Juli, atau April hingg Oktober 2012, tak terjadi perang di Timur Tengah misalnya. Cara berpikir âterbalikâ? inilah yang dipikirkan (utamanya) PDIP dan Golkar. PDIP sadar, bahwa belum tentu harga minyak menjadi naik tiba â tiba dalam 3 â 6 bulan. PDIP sadar, bahwa opsi 15 persen 6 bulan juga bisa diterjemahkan, jika harga minyak internasional turun dalam 6 bulan (misal 100 dollar menjadi 85 dollar), maka Demokrat bisa berbalik menjadi âsinterklasâ?.
Menjadi âdewa penolongâ? lagi seperti 2009, denhgan klaim âmenurunkan 3 kaliâ? terkait harga BBM. Tentu PDIP dengan slogan kerakyatannya, sadar bahwa Demokrat ternyata berpikir sejauh itu. Reputasi PDIP sebagai âyang paling merakyatâ? akan musnah jika ternyata pada Oktober 2012 harga minyak turun drastis, dan âmemaksaâ? Demokrat untuk menurunkan harga.
Maka PDIP bersikeras agar saat rapat paripurna dilakukan lagi, jangan sampai opsi itu yang muncul (dan menguat). PDIP bersikeras jangan ada pasal tambahan (15 persen 6 bulan), agar tak ada segala âpraktek simulasiâ? terkait BBM, karena tak ada acuan angka apapun. Jadi, bukan sebatas untuk menolak kenaikan BBM. Hingga akhirnya, seperti kita lihat, PDIP WO.
Kenapa Golkar âikutâ? terpengaruh dengan opsi kompromistis dari Demokrat ini ? hampir sama seperti PDIP. Karena Golkar juga sadar, sebagai partai âsuara rakyatâ?, mereka berusaha jangan sampai agar Demokrat mengambilalih âsifat sinterklasâ? melalui mekanisme UU. Perbedaannya, PDIP sejak awal sudah dalam posisi mutlak menolak kenaikan BBM. Sementara Golkar memakai kata bersayap, âmenolak kenaikan BBM tapi menyerahkan sepnuhnya pada pemerintahâ?. Hingga akhirnya di detik â detik akhir, Golkar ikut dengan opsi Demokrat.
Perubahan peta mendadak ini membuat fraksi lain akhirnya berbalik arah. PAN akhirnya âikutâ? pula dengan opsi Demokrat ini. PDIP (dan Gerindra, Hanura) makin was â was, karena dengan dukunga â2 besarâ? (Demokrat, Golkar), partai âmenengahâ? lainnya bisa berbalik untuk mendukung âopsi Demokratâ?. Maka wajar, jika pengusung penolakan BBM sepenuhnya, malah kalah telak, dan ironinya, WO.
Bisa dikatakan, Demokrat âwinner takes allâ?, dan bahkan, menang banyak hal lain. Bukan hanya kemudian mereka bisa memperburuk citra fraksi lainnya yang malah âtiba â tibaâ? berbalik mendukung Demokrat. Demokrat (baca: SBY) kini bisa melakukan serangan tambahan, yaitu makin kuatnya untuk melakukan ancaman atau teror reshuffle. Wajar jika PKS bersikap abstain dan atau mencabut segala usulan, karena PKS bukan sebatas gagal memperbaiki citra âmerakyatâ?, tapi fatalnya, makin tak ada masalah bagi Demokrat untuk mendepak PKS karena tak ada beban kekalahan yang dialami demokrat (dalam voting).
Sebetulnya, siapa yang paling âkasihanâ?, diluar rakyat Indonesia, akibat sirkus politik ini ? Jujur, wartawan, khususnya wartawan yang meliput demo. Pada dasarnya ada 2 tim wartawan di DPR pada hari paripurna BBM ini. Tim peliput paripurna, dan tim peliput demo. Antara jam 7 malam sampai jam 9.15 malam, situasi depan DPR â perempatan Slipi â depan Kementerian Kehutanan, amat ricuh (meski tak separah 1998). Saya lihat sendiri, dari ratusan teman â teman pers yang sudah âcapekâ? meliput demo antara jam 7 â jam 9 malam, ternyata puluhan diantaranya memilih untuk tak rehat. Tapi memilih ikut memantau rapat paripurna jam 10 malam. Saya sendiri, setelah ikut meliput kejadian demo (live tweeting, jam 8 â jam 9 malam), memilih memantau dinamika terbaru BBM di lantai 12.
Bisa dibayangkan, betapa jengkel teman â teman wartawan yang harus meliput âpertunjukkanâ? paripurna tadi. Apalagi yang meliput memanasnya demo disaat malam hingga âcapekâ?, tapi masih merelakan meliput jalannya paripurna karena melengkapi âtim peliput paripurnaâ?. Jangan salah, ada juga rekan â rekan pers yang bukan hanya capek meliput kisruh demo disekitar DPR â Kemenhut dan rela meliput paripurna, tap juga dirinya melipu rapat akhir Banggar (Kamis malam â Jumat pagi, jam 10 malam sampai jam 4 pagi).
Terkait âfraksi balkonâ? (utamanya BEM UI), saya tak berani komentar jauh. Tapi setahu saya, sejak Selasa (27 Maret), teman â teman UI seperti âlebih dipermudahâ? untuk menyusuri beberapa lantai di DPR untuk menyebarkan sikap mahasiswa. Entah dengan konteks BEM UI saja, atau melingkupi / mewakili BEM Seluruh Indonesia. Sialnya, (maaf sebesar â sebesarnya teman â teman BEM UI), teman â teman ini dijadikan âalatâ? kosmetik utamnya Demokrat. Agar seolah â olah Demokrat âmemberi ruang dudukâ? (di paripurna, meskipun sebetulnya lumrah, dan bahkan Marzuki Alie berdialog langsung), padahal dimanfaatkan untuk pencitraan. Pahitnya, BEM UI ini âhabis manis, sepah dibuangâ?. Entah skenario kebetulan apa yang terjadi, citra BEM UI jadi terpuruk karena merasa digambarkan âperusuhâ?. Padahal, saya tahu, BEM UI malah jadi korban âpemberitaan dan penglihatan kameraâ? bagi awam yang hanya melihat dari TV.padahal, jauh dari itu, temn â teman BEM, diperalat. Apalagi warnanya gampang dikenal.
Begitulah secuplik kisah yang mungkin âberbedaâ?, tapi makin membuat anda kesal dengan BBM. Saya berdoa, agar teman â teman mahasiswa aktivis, entah yang tadi demo di DPR, maupun di Diponegoro, aman dan tak terluka. Saya merasakan betul pahitnya gas airmata (bersama rekan â rekan pers). Saya tak bisa bayangkan betapa marahnya mahasiswa nantinya, entah 1 April, atau nantinya 1 Oktober.
(@adimuliapradana , pencerita twitter, suka berceloteh aneh secara jujur :D)
Advertisements

2 thoughts on “Cerita di DPR; Kenaikan BBM

  1. ariefridlwan said: ini untuk kalangan sendiri? izin copas klo boleh.

    Sumonggo :). insyaAllah boleh, sudah minta ijin ama penulisnya. Mohon dilampirkan aja link aslinya (dari notes FB Prada) :D. Smoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s