Mengusap Sepatu/Kaus Kaki dalam Wudhu

Barusan daku ber-surfing di dunia maya dan menemukan laman yang membahas tentang mengusap sepatu/ kaus kaki dalam wudhu. Pertama kali tahu tentang hukum mengusap sepatu/ kaus kaki saat membaca postingan Ust. Nanung Danardono (dosen UGM yang lagi S3 di UK) di notes facebook beliau. Nah, di kesempatan ini, daku menemukan kembali bahasannya yang kudapat dari website rekan-rekan kita di Jepang. Isi postingan di-copas dari
SINI.
Jaa, selamat membaca ya🙂. Semoga bermanfaat!

(buat aye yang sering ber-backpacking en jalan-jalan, penting banget nih :D)
Mengusap Sepatu/Kaus Kaki sebagai Pengganti Membasuh Kaki dalam Wudhu
Ditulis oleh : Abdur Rohman
Diperiksa dan disetujui oleh: Ust Jailani Abdul Salam, Lc, MA

Kaum muslimin yang hidup di Jepang tentu pernah mengalami kesulitan dalam berwudhu di tempat umum. Salah satu bentuk kesulitan itu adalah dalam membasuh kaki dengan air. Apabila kita berwudhu di wastafel toilet-toilet umum, tentu dengan mudah kita bisa membasuh wajah, tapi akan sulit untuk membasuh kaki. Selain karena bisa membuat tempat kita berdiri menjadi becek, membasuh kaki dengan air di tempat umum, apalagi dengan mengangkat kaki ke wastafel, sangatlah tidak lazim di mata orang Jepang. Bisa jadi kita dianggap tidak sopan bila melakukannya.
Ternyata, ada solusi praktis untuk mengatasi persoalan ini, yaitu dengan mengusap sepatu atau kaus kaki tanpa membasuh kaki saat berwudhu. Berikut ini akan diuraikan ketentuan hukumnya dan cara mempraktikkannya.
Istilah-Istilah Penting
Sebelum kita membahas solusi praktis ini, mari kita kenali istilah-istilah berikut.
1. Membasuh(bahasa Arab:Ghusl) yaitu mengalirkan air pada permukaan sesuatu.
2. Mengusap (bahasa Arab:Mash) yaitu menggerakkan tangan yang basah pada permukaan sesuatu.
Perbedaan antara membasuh dengan mengusap : Dalam membasuh, air mesti mengalir pada permukaan benda yang dibasuh, sedangkan dalam mengusap, air cukup membasahi permukaan yang diusap tanpa harus mengalir.
Gambar diambil dari
SINI
Bolehnya Mengusap Sepatu dalam Berwudhu
Ibnu Hajar dalam bukunya Fathul Bari menyatakan bahwa para Ulama penghafal hadits telah mencoba mengumpulkan riwayat hadits-hadits mengenai bolehnya mengusap sepatu, dan ternyata jumlah sahabat Nabi yang meriwayatkannya mencapai lebih dari 80 orang, di antaranya 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga. Karena itu, para Ulama sepakat bahwa Nabi saw pernah mengusap sepatu sebagai pengganti membasuh kaki ketika berwudhu itu merupakan suatu kabar yang mutawatir, yaitu kabar yang terjamin kebenarannya karena disampaikan begitu banyak orang yang tidak mungkin mereka semua bersepakat atas dusta. Di antara hadits-hadits itu adalah hadits-hadits berikut ini.
1. Seorang sahabat Nabi saw bernama Al Mughirah bin Syu`bah ra berkata, âAku pernah bersama Nabi saw, lalu beliau berwudhu. Aku ingin membantu beliau melepaskan kedua sepatunya, tapi beliau berkata,`Biarkan saja karena aku mengenakan keduanya dalam keadaan suci`. Kemudian, beliau mengusap keduanyaâ? (riwayat Al Bukhari dan Muslim)
2. Hammam an Nakh`i ra, seorang sahabat Rasulullah saw berkata, âJabir pernah buang air kecil, lalu berwudhu seraya mengusap kedua sepatunya. Lalu ada yang menegurnya: (Hai Jabir), kenapa engkau melakukan ini padahal engkau telah buang air kecil?Jabir menjawab: Iya, sebab aku pernah melihat Rasulullah saw buang air kecil, lalu berwudhu dan mengusap dua sepatu beliauâ? (riwayat Ahmad, Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At Turmudhi)
3. Imam Ahmad meriwayatkan dari `Auf bin Malik Al Asyja`i bahwasanya Rasulullah saw memerintahkan mengusap kedua sepatu pada perang Tabuk selama tiga hari tiga malam untuk musafir dan sehari semalam untuk yang bermukim.
Hadits pertama menjelaskan tindakan Nabi saw mengganti membasuh kaki dengan mengusap dua sepatu yang beliau kenakan. Hadits kedua Hammam an Nakhâi ra menceritakan apa yang dilakukan Jabir bin Abdillah ra, yang mengusap sepatunya ketika berwudhu tanpa membasuh kakinya berdasarkan apa yang dia saksikan dari Rasulullah saw.
Fakta-Fakta Menarik
1. Hadits ketiga dengan jelas menyebutkan bahwa mangusap sepatu itu diperintahkan Rasulullah saw saat Perang Tabuk. Di samping itu, menurut Imam Malik dan Abu Dawud, kebersamaan Al Mughirah dengan Rasulullah saw dalam hadits pertama di atas konteksnya juga perjalanan dalam Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H.
2. Al Quran Surat Al Maidah ayat 6 yang mewajibkan membasuh kaki dalam berwudhu turun pada saat terjadinya Perang Al Muraisi`, yaitu bulan Sya`ban tahun 6 H.
Kedua fakta tersebut menunjukkan bahwa tindakan mengusap sepatu ketika berwudhu dilakukan Rasulullah saw (dan disaksikan oleh Al Mughirah dan Jabir ra) beberapa tahun setelah turunnya ayat yang mewajibkan membasuh kaki. Hal ini berarti bahwa kewajiban membasuh kaki saat berwudhu itu berlaku hanya bagi orang-orang yang tidak bersepatu. Adapun orang-orang yang bersepatu, boleh mengusap sepatu saja tanpa membasuh kaki.
Bagaimana dengan Mengusap Kaus Kaki?
Mengusap kaus kaki pun boleh. Dalilnya adalah hadits berikut.Al Mughirah bin Syuâbah ra, pernahãberkata: âRasulullah saw berwudhu seraya mengusap dua sandal dan dua kaus kaki.â? (riwayat Ahmad, at Thahawi, Ibnu Majah, dan at Turmudzi).
Menurut at Turmudhi, hadits ini berkualitas baik dan sahih, tapi menurut Abu Dawud hadits ini lemah Meski demikian, Abu Dawud mengatakan bahwa mengusap kaus kaki saat berwudhu dipraktekkan oleh banyak sahabat Nabi saw. Di antara mereka ialah Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas`ud, Al Barra` bin `Azib, Anas bin Malik, Abi Umamah, Sahl bin Saâd, dan `Amr bin Harits ra. Selain itu, menurut Abu Dawud, diriwayatkan pula bahwa Umar bin Khattab dab Ibnu Abbas ra juga mempraktekkannya. Para Ulama yang menyatakan bolehnya mengusap kaus kaki di antaranya Sufyan al Tsauri, Ibnul Mubarak, Athoâ, Hasan, dan Sa`id bin al Musayyibb. Imam Abu Hanifah sebelumnya tidak memperbolehkan mengusap kaus kaki, tetapi beliau kemudian memperbolehkannya bahkan beliau mempraktekkannya dengan mengusap kaus kaki beliau yang tebal saat beliau sakit.
Syarat-Syarat Bolehnya Mengusap Sepatu/Kaus Kaki
Menurut para Ulama, sepatu/kaus kaki yang dikenakan harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1) Tidak terkena najis
2) Saat mengenakannya, kita dalam keadaan sudah berwudhu.
3) Masih berfungsi dengan baik. Sepatu atau kaus kaki yang rusak berat sehingga tidak berfungsi lagi tidak sah diusap. Tetapi yang rusak ringan misalnya berlubang kecil, tidak masalah.
4) menutupi kaki sampai mata kaki
5) tidak berasal dari harta yang haram
Cara Mengusap Sepatu/Kaus Kaki
1. Basahi tangan dengan air.
2. Percikkan air di tangan supaya air tidak mengumpul di tangan.
3. Gunakan tangan kanan untuk mengusap sepatu/kaus kaki kanan bagian atas. Usap ujung kaki sampai mata kaki dengan jemari agak terbuka. Lakukan usapan sekali saja.
4. Bersamaan dengan nomor 3, gunakan tangan kiri untuk mengusap sepatu/kaus kaki bagian kiri dengan cara yang sama dengan nomor 3.
5. Selesai.
Catatan : Bagian sepatu/kaus kaki yang menutupi telapak kaki tidak perlu diusap.
Menurut Ulama, cara no.3 dan 4 di atas bukanlah syarat. Andaikata mengusap kedua sepatu/kaus kaki dilakukan dengan satu tangan, atau mengusap sepatu/kaus kaki kanan dengan tangan kiri, dan sebaliknya, maka itu tidak masalah.
Masa Berlaku
Hadits riwayat Imam Ahmad yang lalu menyebutkan periode mengusap sepatu/kaus kaki, yaitu tiga hari tiga malam untuk musafir dan sehari semalam untuk yang bermukim. Tapi, periode ini terputus apabila orang yang mengenakannya berada dalam keadaan junub (misalnya karena mengeluarkan sperma atau bersetubuh). Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Shofwan bin âAssal ra. Dia berkata: âBeliau (Rasulullah saw) menyuruh kami untuk mengusap dua sepatu apabila kami memasukkan kaki ke dalamnya dalam keadaan suci, selama tiga (hari) apabila kami sedang dalam perjalanan dan sehari semalam apabila kami sedang bermukim dan kami tidak melepaskan keduanya karena buang air besar dan tidak pula karena buang air kecil dan kami tidak melepaskan keduanya kecuali karena keadaan junub.â? (riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimah, an Nasai, at Turmudzi, asy Syafii, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, ad Daruquthni, dan al Bayhaqi. Dinilai sahih oleh at Turmudzi dan Ibnu Khuzaimah dan dinilai baik oleh al Bukhari)
Perlu diperhatikan bahwa masa ini dimulai ketika mengusap, bukan ketika mengenakan. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak contoh berikut ini.
Contoh
Pada tanggal 6 April 2012 Hirano berwudhu di rumahnya jam 8 malam lalu mengenakan kaus kaki. Kemudian, dia salat Isya lalu tidur tanpa melepas kaus kakinya. Esoknya pukul 4 pagi menjelang salat subuh, dia berwudhu dengan mengusap kaus kakinya. Bagaimana ketentuan mengusap kaus kaki untuk Hirano?
Jawab
Karena Hirano berada di rumah, maka statusnya mukim, bukan musafir. Karena itu, periode yang dimilikinya adalah sehari semalam atau 24 jam terhitung sejak ia mengusap pertama kali (pukul 4 pagi 7 April 2012), bukan sejak ia mengenakan kaus kakinya (pukul 8 malam 6 April 2012). Dengan demikian, hingga pukul 4 pagi esok harinya (8 April 2012) ia boleh mengusap kaus kakinya setiap kali berwudhu. Kalau misalnya pada pukul 4 pagi 8 April 2012 itu ia berwudhu dengan mengusap kaus kakinya, lalu wudhunya tidak batal hingga waktu Zhuhur, maka ia boleh langsung salat Zhuhur tanpa berwudhu. Tapi, kalau wudhunya batal, maka ia harus berwudhu dengan membasuh kaki, tidak boleh lagi mengusap kaus kaki karena periode mengusap yang ia punya sudah habis. Setelah berwudhu dengan membasuh kaki, ia boleh mengenakan kaus kakinya lagi dan untuk masa 24 jam berikutnya ia boleh mengusap kaus kaki setiap kali berwudhu.
Referensi
1. Tausiyah Online KAMMI Jepang Edisi 24 Maret 2012 bersama Ust Jailani Abdul Salam, Lc, MA.
2. Fiqh al Sunnah karya Sayyid Sabiq
3. Al Fiqh Al Islamiy wa Adillatuh karya Prof. Dr. Wahbah al Zuhailiy

11 thoughts on “Mengusap Sepatu/Kaus Kaki dalam Wudhu

  1. jangankan di jepang, temenku di kanada dan london pernah cerita gini juga.. mereka mengusap kaki kalu berwuduh.. pernah baca di milis.. ada yang pro dan kontra..

  2. Iya, dulu kalo mau wudhu celingak celinguk tunggu orang-2 ngga ada, cepat-2, repot keringkan wastafel & lantai. Apalagi waktu musim dingin…brrr kaki kedinginan karena air di toilet biasanya air dingin.
    Alhamdulillah makin mantap deh pakai cara ngusap sepatu…banyak referensi yang mendukung…:)
    Jazakillah khoiran ya udah posting..:)

  3. Di mushola kampusku (UMD = University of Minnesota Duluth), tempat wudhunya seruangan dengan mushola. Tempat wudhunya berupa pojok terbuka, ada kran air setinggi pinggang orang dewasa dengan selang air yang cukup panjang, ada air panas dan air dingin. Bisa untuk membasuh kaki.

    Toiletnya KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Washington DC, ada pojok buat wudhu. Keliatan kalau untuk wudhu karena disainnya.

    Di luar itu, selama ini kalau mau wudhu, celingak celinguk dulu. Kalau gak ada orang, kaki diangkat ke wastafel. Sesudah itu, lantainya dilap (iya dilap, bukan dipel) pake kertas tissue.

  4. aku dulu sering ngelakuinnya kalo tempatnya gak memungkinkan buat buka kaos kaki. pertama tahu dari temen ibu, pas SMA dulu, mbak..dan ini berguna banget…🙂

  5. tintin1868 said: jangankan di jepang, temenku di kanada dan london pernah cerita gini juga.. mereka mengusap kaki kalu berwuduh.. pernah baca di milis.. ada yang pro dan kontra..

    iy mb, praktik ini bisa dilakukan dimana saja, terutama di negara-negara yang jumlah muslimnya sedikit.

  6. junjungbuih said: Iya, dulu kalo mau wudhu celingak celinguk tunggu orang-2 ngga ada, cepat-2, repot keringkan wastafel & lantai. Apalagi waktu musim dingin…brrr kaki kedinginan karena air di toilet biasanya air dingin.Alhamdulillah makin mantap deh pakai cara ngusap sepatu…banyak referensi yang mendukung…:)Jazakillah khoiran ya udah posting..:)

    Sami-sami mbakyu ^^
    Iyaa, jaman dulu saya juga begitu. Karena belum tahu tentang mengusap ini sebelumnya. Trus selalu bawa tisu atau lap untuk mengeringkan lagi wastafel or lantai, supaya gak becek.

  7. enkoos said: Di mushola kampusku (UMD = University of Minnesota Duluth), tempat wudhunya seruangan dengan mushola. Tempat wudhunya berupa pojok terbuka, ada kran air setinggi pinggang orang dewasa dengan selang air yang cukup panjang, ada air panas dan air dingin. Bisa untuk membasuh kaki. Toiletnya KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Washington DC, ada pojok buat wudhu. Keliatan kalau untuk wudhu karena disainnya. Di luar itu, selama ini kalau mau wudhu, celingak celinguk dulu. Kalau gak ada orang, kaki diangkat ke wastafel. Sesudah itu, lantainya dilap (iya dilap, bukan dipel) pake kertas tissue.

    ho~ terima kasih infonya mb🙂. Jadi tahu klo di UMD ada musholanya ^^. Mantaps

    hehe.. sama mb, selalu siap sedia tisu supaya gak becek. Supaya smuanya nyaman

  8. ayyeshakn said: aku dulu sering ngelakuinnya kalo tempatnya gak memungkinkan buat buka kaos kaki. pertama tahu dari temen ibu, pas SMA dulu, mbak..dan ini berguna banget…🙂

    great :)! daku baru tahunya belum lama ini. harus belajar lebih sering lagi nih

  9. ayyeshakn said: aku dulu sering ngelakuinnya kalo tempatnya gak memungkinkan buat buka kaos kaki. pertama tahu dari temen ibu, pas SMA dulu, mbak..dan ini berguna banget…🙂

    ijin fwd, boleh?

  10. ayyeshakn said: aku dulu sering ngelakuinnya kalo tempatnya gak memungkinkan buat buka kaos kaki. pertama tahu dari temen ibu, pas SMA dulu, mbak..dan ini berguna banget…🙂

    mhon bimbingan`nya,,,saya berada di jepang,,di kmr saya ada wastefel,,waktu malam saya tidak berani keluar.saat terasa kencing saya sering kencing di wastafel itu,,,tp ketika wudhu,,saya terkadang juga menggunakan wastafel itu,,,apakah wudhu saya tidak sah,??mohon bimbingan`nya,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s