Kenapa S2 lagi?

Banyak yang bertanya pada saya, kenapa S2 lagi? Kenapa gak langsung S3? Let me explain….

17 thoughts on “Kenapa S2 lagi?

  1. Many people ask the same question to me, terutama setelah pengumuman dari Taiwan.

    Sebelumnya mohon maaf kalau mungkin terdengar agak egois.
    Berikut ini jawaban saya (#berasa konferensi pers :D):

    Mengapa saya kuliah S2 lagi? Saya lebih mempertimbangkan kesiapan hati dan keilmuan saya. Basis riset saya masih minim, jadi belum pantas kalau langsung S3. Saya ambil S2 lagi supaya pengalaman riset bener2 mantap dan secara moral dan etika bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya.

    Saya bercita-cita jadi dosen. Dan ingin agar kelak orang yang saya didik benar2 paham esensi menuntut ilmu itu apa, bukan sekedar mengejar gelar.

    mungkin ini jadi agak panjang, ceritanya. tapi gpp ya ^^ ?

    Saya dapat pemahaman seperti ini berdasarkan pengalaman dan masukan dari para sensei saya sewaktu di jepang. Pas di sana, saya seperti bener2 dihempaskan karena apa yang saya kira sudah cukup baik (risetnya) ternyata tidak ada apa-apanya. Jepang terkenal dengan basis risetnya. Dan dari beliau2 lah saya dipahamkan apa itu esensi menuntut ilmu.

    Maka, saya tidak menganggap kuliah S2 saya sebelumnya itu mubadzir, begitu pula dengan mengambil S2 ini lagi. Keduanya memberikan sy kesempatan untuk belajar dan memahami lebih banyak hal. Dan di kesempatan kedua inilah, saya benar2 ingin mendalami riset.

    S3 menurut saya bukan sekedar "tambahan" kuliah 3 tahun setelah S2. Di sepanjangnya, terdapat tanggung jawab yang luar biasa dimana mahasiswa doktoral diamanahkan untuk membuat teori baru. Saya tidak ingin disertasi saya hanya sebagai kewajiban tugas akhir, tapi benar2 sesuatu yang bisa bermanfaat dan diterapkan di masyarakat.

    East asian studies dan contemporary islamic studies sudah menjadi minat saya sejak dahulu. Di S1 saya nulis minoritas muslim di AS, S2 tentang minoritas muslim di Jepang, dan insyaAllah di taiwan nanti saya nulis minoritas muslim di china. khususnya yang jepang dan china, mereka ada keterkaitan. maka saya ingin mendalami ini di S3 nanti. Dengan bekal persiapan 2 tahun ke depan, insyaAllah saya siap untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa S3.

    Kalau dari sisi umur, saya juga melihatnya bukan sebagai sebuah kemubadziran. insyaAllah, saya berprinsip sebagai seorang yang long life learner. akan terus belajar hingga akhir hayat nanti. tapi ini bukan berarti jadi melupakan sisi lain dari hidup saya, yaitu berkeluarga. Saya tipe yang multi-tasking, insyaAllah bisa menjalani lebih dari satu hal bersamaan. Tentunya tetap memegang prinsip prioritas….

    Sekian penjelasan dari saya🙂

  2. menutut ilmu sih ga perlu s1 s2 s3 kalu ga ada esensinya.. konsepmu sudah bener chiku, biar lebih paham esensi ilmunya.. menarik juga topiknya minoritas muslim..
    sukses ya chiku..

  3. chikupunya said: benar2 paham esensi menuntut ilmu itu apa, bukan sekedar mengejar gelar.

    Tosssss..
    Belajar / menuntut ilmu itu yang lebih utama adalah pemahamannya bukan gelarnya. Seperti kebanyakan orang Indonesia yang bangga dengan gelar yang berderet deret tapi ilmunya belum tentu paham.

  4. chikupunya said: saya berprinsip sebagai seorang yang long life learner. akan terus belajar hingga akhir hayat nanti.

    Tosssss lagi deh :))
    Belajar dimana saja kapan saja tanpa memandang tempat dan waktu.

  5. chikupunya said: Di S1 saya nulis minoritas muslim di AS

    Aih jadi pengen tahu apa inti tulisannya.
    Apakah berdasarkan riset lewat media2 mainstream atau ada wawancara ke para narasumber?
    Bolehkan berbagi sedikit?

  6. enkoos said: Tosssss..Belajar / menuntut ilmu itu yang lebih utama adalah pemahamannya bukan gelarnya. Seperti kebanyakan orang Indonesia yang bangga dengan gelar yang berderet deret tapi ilmunya belum tentu paham.

    toosss, mbakyuuu :D! hehehe…
    iya mbak, maka dari itulah daku punya misi. jika nanti bisa jadi seorang pendidik, ingin sekali memahamkan esensi ilmu. bukan sekedar gelar yang dicari…

  7. enkoos said: Tosssss lagi deh :))Belajar dimana saja kapan saja tanpa memandang tempat dan waktu.

    tooss balik mbaaak ^^. Betul2, dan juga bisa belajar dari siapa saja, right?

  8. enkoos said: Aih jadi pengen tahu apa inti tulisannya. Apakah berdasarkan riset lewat media2 mainstream atau ada wawancara ke para narasumber? Bolehkan berbagi sedikit?

    hoho~ ntar aku cari dulu filenya ya mbaaak. itu sudah 5 tahun lalu, jadi lupa (#alasan nih :p)

    itu aku cuma berdasarkan sumber data sekunder mbak; dari buku, jurnal, media. ndak pake wawancara. sayang banget…. tapi insyaAllah suatu saat nanti pengen melakukan riset sejenis, dan dioptimalkan lagi ;D

  9. tintin1868 said: menutut ilmu sih ga perlu s1 s2 s3 kalu ga ada esensinya.. konsepmu sudah bener chiku, biar lebih paham esensi ilmunya.. menarik juga topiknya minoritas muslim.. sukses ya chiku..

    pemahaman ini aku dapetnya agak telat, baru setelah selesai S1. jadi sempet merasa bersalah sewaktu kuliah S1 dulu, belajarnya ndak terlalu serius TT_____TT, cuma karena pragmatis, ngejer nilai en gelar TT____TT

    terima kasih banyak ya mbaaak…. semoga kita semua bisa menjadi lebih baik lagi dalam menuntut ilmu🙂

  10. chikupunya said: hoho~ ntar aku cari dulu filenya ya mbaaak. itu sudah 5 tahun lalu, jadi lupa (#alasan nih :p)itu aku cuma berdasarkan sumber data sekunder mbak; dari buku, jurnal, media. ndak pake wawancara. sayang banget…. tapi insyaAllah suatu saat nanti pengen melakukan riset sejenis, dan dioptimalkan lagi ;D

    ditunggu yo chiku.
    Trus apa kesimpulan Chiku berdasarkan data data yang didapat itu?
    Buku apa saja yang jadi referensi? Pernah baca bukunya James Yee? Judulnya "for God and Country, Faith and Patriotism Under Fire."

    Kalau nanti mau riset lagi dan akan wawancara, aku punya nara sumber banyak yang layak dijadikan referensi. Latar belakang mereka bervariasi, etnisnya bervariasi begitu juga tempat tinggalnya. Jadi bisa mendapatkan masukan yang majemuk dan tidak selalu tercover oleh media mainstream.
    Salah satu temanku adalah mahasiswa kedokteran, bapaknya orang Mesir ibunya native American (yang sering disalah kaprahkan menjadi orang Indian).
    Ada lagi keluarga dari Malaysia, anaknya 6 orang, aktif di mesjid plus juga dikenal baik dengan lingkungan tempat tinggal mereka yang tentunya non muslim.
    Dan masih banyak lagi.
    Trus satu lagi, yang sedang nulis komen ini *nyengir*
    Pertengahan 2009, aku berdua dengan anakku keliling Amerika backpacking menyusuri jalur kereta api, bertemu aneka ragam manusia. Kalau ketemu sesama muslim, mereka heran dan cenderung kuatir. Apa yang mereka kuatirkan tak berdasar sama sekali karena mereka hanya membaca dan mendengar tanpa terjun langsung.
    Kalau ketemu non Muslim, nah ini yang sangat menarik. Panjang sekali kalau diulas di sini. Pada intinya, apa yang ditulis di media main stream tidak selalu merepresentasikan apa yang terjadi dan apa yang dialami semua orang.

  11. chikupunya said: hoho~ ntar aku cari dulu filenya ya mbaaak. itu sudah 5 tahun lalu, jadi lupa (#alasan nih :p)itu aku cuma berdasarkan sumber data sekunder mbak; dari buku, jurnal, media. ndak pake wawancara. sayang banget…. tapi insyaAllah suatu saat nanti pengen melakukan riset sejenis, dan dioptimalkan lagi ;D

    nanti kalo punya suami pasti mikirnya lain…
    biasanya sih…

  12. akinaspeedstar said: nanti kalo punya suami pasti mikirnya lain…biasanya sih…

    iyaaa ^^, soalnya akan ada kompromi2 terkait life plan bersama. apalagi kalau ada dede’ kecil ^^. tapi semoga semangat long life learningnya tetap menyala, dimanapun dan kapanpun🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s