Me & Traveling

Bagi sebagian orang yang mengenalku, aku dicap sebagai “tukang jalan-jalan”, atau istilah bekennya Traveler a.k.a Backpacker. Alasannya, menurut mereka, statusku di fb maupun YM, seringkali menunjukkan aku hendak “ngabur” ke suatu tempat. Bisa dikatakan, aku memang seorang ‘backpacker’ sejati (untuk konteks harafiah), secara aku memang selalu menggunakan tas punggung (backpack), ke manapun aku pergi. wkwkwkwk… Bahkan, aku dijuluki sebagai ‘kura-kura’ karena selalu membawa backpack-ku kemana-mana :-p. Tapi untuk konteks backpacker yang sebenarnya, mungkin aku belum bisa digolongkan ke dalamnya. Karena aku masih sangat amatir, dan juga kadang-kadang aku ndak selalu menggunakan tas punggung ketika berperjalanan. Soalnya sesekali aku pake koper gitu :p

Menurut wikipedia, kegiatan backpacking yang dilakukan oleh para backpackers memiliki definisi sbb: Backpacking is a term that has historically been used to denote a form of low-cost, independent international travel. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di SINI.

Berlandaskan definisi tersebut, aku bisa sedikit “ngaku-ngaku” sebagai backpacker😀. Karena kegiatan ber-backpacking ala backpackers ini cukup rutin kulakukan, terutama semenjak tahun 2005 ke berbagai pelosok tanah air dan juga sisi lain dunia. Mulai dari yang paling sederhana (ber-backpacker-an ke seputaran Jabodetabek) dengan peralatan seadanya, sampai yang paling complicated (saking rumitnya perencanaan dan banyaknya peralatan yang dibawa :D) ke negeri seberang.

Hobiku ini bisa dikatakan sebagai efek samping dari program pertukaran mahasiswa yang kudapatkan. Alhamdulillah, Oktober 2005 aku meninggalkan tanah air untuk pertama kalinya, menuju ke tanah para samurai. Setelah itu, keinginan untuk terus berperjalanan semakin menjadi-jadi.

Alhamdulillah, karena rezeki dari NYA yang begitu melimpah, aku diberikan banyak kesempatan untuk meninggalkan tanah air. Sejak tahun 2005 telah berkesempatan untuk mengunjungi 9 negara (dalam 15 kali perjalanan). Ke-9 negara tersebut antara lain; Jepang (3), China (1), Malaysia (2), Singapura (3), Thailand (1), Laos (1), Turki (1), Arab Saudi (1) dan Taiwan (1). Perjalanan tersebut ada yang kulakukan karena dalam rangka “nyambi” jalan-jalan di tengah kegiatan akademis dan tugas kampus yang gratisan  (wehehehe… ketahuan :p), ada juga yang karena hasil penyisihan uang saku selama bertahun-tahun.

Oya, bukan berarti untuk melakukan backpacking itu harus ke luar negeri. Negeri kita ini takkalah indah dan kerennya untuk disambangi. Selama 25 tahun hidup di dunia, Alhamdulillah telah menginjakkan kaki di 19 propinsi (dari total 33 propinsi di Indonesia). Berarti masih ada 14 propinsi laen yang belum kuhampiri. Ke-14 Propinsi yang belum dikunjungi antara lain; 1) Kep. Riau 2) Bangka Belitung 3) Kalimantan Timur 4) Kalimantan Barat 5) Kalimantan Tengah 6) Sulawesi Utara 7) Sulawesi Tenggara 8) Sulawesi Barat 9) Sulawesi Tengah 10) Gorontalo 11) NTT 12) Maluku 13) Papua Barat 14) Papua #Segera susun rencana dan strategi😀 (eheheh…). Tunggu aku, 14 laennya :D!

Hm…. sakjane, inti dari tulisan ini bukan sekedar cerita jalan-jalan yang telah kulakukan. Tapi lebih pada bagaimana makna sebuah perjalanan buatku. Mengutip dari sebuah buku yang berisi catatan perjalanan Bapak Heru Susetyo, dosen FH UI, yang sudah mengunjungi berbagai tempat di seluruh penjuru dunia, beliau menyebutkan bahwa ada baiknya “hobi” jalan-jalan ini memiliki muatan yang lain; muatan nilai, muatan transendental, muatan idealisme, muatan dakwah, dll (Heru Susetyo, 2009; hal. vii).

Selain itu, jangan pula menganggap ‘remeh’ nilai dari sebuah “jalan-jalan”. Jikalau kita mengetahui, sebenarnya di dalam perjalanan (safar) terdapat lima keuntungan, yaitu; menghibur diri dari kesedihan, mencari hasil usaha (mata pencaharian), memperoleh tambahan ilmu, lebih banyak mengenal adab kesopanan, dan menambah kawan yang baik (mulia) => dikutip dari perkataan ulama dalam buku “Kewajiban dan Adab Musafir” (Aziz Salim Basyarahil, 1992) dalam Heru Susetyo, 2009; Hal. ix.

Jadi, dalam berjalan-jalan, ada baiknya jikalau kita menambah esensi dalam setiap perjalanan yang kita lakukan; tak sekedar berdecak kagum dan bernarsis ria dalam sesi foto-foto (hayo deh, ngaku. he..he… :D!)

Namun, alangkah lebih baik apabila perjalanan yang dilakukan itu, bisa menambah kedekatan dan kecintaan kita kepada Sang Pencipta Alam; sambil menikmati perjalanan, sambil “membaca” alam, sambil mengumpulkan serpihan hikmah yang ada di setiapnya

(* Dan hikmah itu pasti adanya, namun hanya bagi yang mau berpikir…..)

So, bagi yang suka berjalan-jalan dan (ikutan) ngaku-ngaku sebagai seorang “BACKPACKER”, ayo kita menambah NILAI ato ESENSI dalam perjalanan kita. Agar ia tidak sia-sia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s