[Story] My Parents

Alhamdulillah, akhirnya kesampean juga nulis bertemakan keluarga ^^! Nah, di sini, I’d like to introduce my lovely parents. And I’ll start from my mother.

My Mother

My mom bernama Rukiyah binti Tupong. Biasanya my mom kupanggil dengan panggilan sayang emak, umi, ato ibu. Panggilannya tergantung situasi dan kondisi. But, mostly I called her “MAK” since we are Sumatranese :D!

My mom sejak lahir hingga dewasa tinggal di Sumatra Utara, tepatnya di Kota Medan dan Kerasaan. Tapi, secara darah, beliau campuran dari Sunda, Jawa, dan China :)! Kalo secara kultural, karena beliau selama 26 tahun tinggal di Sumut, alhasil menjadi campuran Batak plus Melayu ^^. Tapi sejak menikah dengan my father, beliau sudah “sedikit” beralih ke kejawa-jawaan. he..he…

Beliau dilahirkan 54 tahun yang lalu di Medan, Sumatra Utara dengan 7 saudara. Karena berbagai pertimbangan dan sikon, beberapa bulan setelah my mom dilahirkan oleh nenekku, beliau diasuh dan dibesarkan oleh kakek-neneknya (yang berarti mbah buyutku). Maka dari itu, sifat dan karakter my mom sedikit banyak dipengaruhi oleh pola didikan mbah buyutku yang tergolong “keras”. Berdasarkan cerita my mom seputar mbah buyut, semenjak kecil my mom dididik untuk tidak manja, mandiri, dan harus serba bisa dan cekatan. Mbah buyutku yang putri, memang terkenal sangat cekatan dan gesit. My mom terbiasa bangun dini hari untuk membantu mbah buyut membuat kue apem untuk dijual ke pabrik yang ada di dekat rumah. Selain itu, my mom juga terbiasa untuk “ngangon kambing” (*menggembalakan kambing) di tiap sorenya.

Oya, aku jadi ingat. Kata my mom, mbah buyutku itu sempat bekerja sebagai pembantu Meneer Belanda yang bertugas sebagai pengawas perkebunan yang ada di dekat rumah (jadi inget pelajaran sejarah kolonial). ho~ ho~  Tapi, sayangnya aku tidak tahu detail bagaimana cerita dan pengalaman mbah buyut selama bekerja dengan para meneer, karena aku ndak pernah bertemu dengan beliau. Kalau diceritakan padaku, sang cicit, pastinya seru sekali :D!!

Ada pengalaman seru lain terkait kehidupan my mom. “Mak”ku itu tergolong “wanita populer” di masa SMA dan kuliahnya. Bahkan my mom sempat menjadi ratu kampus karena my mom tidak hanya cantik (:D), tapi juga tergolong wanita tangguh, berprinsip, dan tidak manja. Kenapa begitu? Soale, berdasarkan cerita my mom ketika bliau ospek kuliah (di USU Medan), beliau tergolong “kuat” dalam menghadapi segala cobaan dari para kakak seniornya. he..he… Salut!

Terkait dengan karakter, beliau termasuk dominan sanguin yang sangat ekspresif🙂 (gue banget!!). Beliau bisa dengan sangat ramahnya menyapa dan mengobrol dengan tukang gendong belanjaan di pasar, tukang becak, ato penjual kaki lima as if mengobrol dengan sahabat lama, saking akrabnya. Padahal, kalau orang-orang tahu, itu adalah pertemuan pertama mereka :D!

Nah, di sisi lain, my mom bisa juga dengan cueknya berkata kritis dan tanpa tedeng aling-aling kalau ada sesuatu hal yang ndak sreg di hati dan menurutnya salah. Tanpa memandang posisi orang yang dianggapnya salah (entah itu istri bos atau apa), beliau secara terbuka menyampaikan uneg-unegnya. Kata beliau, “di mata Allah, semuanya itu sama kecuali imannya. Jadi kenapa harus takut dengan makhluk?” => sikap ini yang belum bisa aku contoh sepenuhnya….. SALUT for my mom!!

Dari beliau, aku belajar bagaimana bersikap “nrima dan berbaik sangka” terhadap segala keputusan-NYA. Di kala kugagal, beliaulah yang senantiasa menenangkan hatiku dengan berkata, “ndak apa-apa, dek. Itu berarti belum rejeki untuk adek dan Allah belum meridhoinya. Yang penting sudah berusaha dan mencoba, buat pengalaman hidup adek :)”. It just a simple words, tapi sangat menenangkan hatiku. Karena, terkadang aku dihantui oleh perasaan “takut mengecewakan orang tua”. Namun, beliau tidak menyalahkanku apabila aku gagal dalam sesuatu hal. Selain itu, aku juga belajar untuk memandang semua orang secara sama, dalam artian tidak membeda-bedakan jabatan atau status sosial, baik itu atasan atau bawahan, majikan atau pembantu, serta siapa yang kaya atau miskin. ho~

Ohya, jiwa sosial my mom (Alhamdulillah) cukup tersalurkan padaku. Ketika aku kecil, my mom sering mengajakku ikut kegiatan sosial di wilayah terpencil di pedalaman hutan Jambi sana, seperti mengumpulkan dan membagikan nasi bungkus untuk berbuka puasa kaum duafa. Dan kebiasaan beliau untuk berbagi ini, masih dilaksanakan hingga saat ini. Terutama jika kami pulang kampung ke desa bapakku yang ada di Wonosobo. My mom sering kali berkata, “bisa berbagi dengan orang-orang kurang mampu, mengajar ngaji anak-anak desa yang lugu serta mengobrol dan melihat senyum bahagia para simbah di desa, rasa bahagianya melebihi segalanya. Bahkan melebihi rasa seperti mendapat uang 1 milyar🙂“.

Hal lainnya terkait my mom, beliau juga mudah menangis dan terharu (Ini pula sifat beliau yang diwariskan padaku. he..he..). Selain itu juga mudah berubah pikiran dalam hitungan menit, dan lugu dalam hal teknologi informasi. Kondisi ini kadang “dimanfaatkan” oleh aku dan anggota keluarga lain untuk “mengerjai” beliau. ha…ha… => anak nakal…. :p

Nah, kayaknya segitu dulu cukup. Sekarang giliran cerita tentang my dad🙂

My Father

My dad bernama Suhartono bin Kartowikromo. Beliau dilahirkan di Wonosobo, Jawa Tengah 54 tahun yang lalu. My dad merupakan JAWA tulen, baik secara darah maupun budaya. Semenjak kecil hingga dewasa, my dad selalu tinggal di jawa tengah (Wonosobo). Keluarga my dad sangat besar, dengan 12 orang saudara. Manstab benar para keluarga jaman dulu :D!

My dad tumbuh di keluarga yang sangat sederhana dan agriculture-oriented. Hampir seluruh saudara dari bapakku adalah petani. Almarhum mbah kakung dan mbah putriku (bapak ibunya bapakku) merupakan salah satu tokoh pendiri dusun dan sempat menjadi lurah di dusun tempat kami tinggal. Jadi, harap maklum jika kami cukup “beken” di sana (ha..ha.. sombong :p). Sakjane, pada dasarnya hampir seluruh orang di dusun masih memiliki ikatan kerabat dengan keluarga besar bapak. Jadi, kalau dibuat silsilah, bakalan besar banget kertas yang diperluin buat nulisnya😀.

Nah, sekarang mau sedikit mengisahkan masa kecil dan mudanya my dad. Sejak kecil, karena keterbatasan biaya, beliau terbiasa bekerja keras demi melanjutkan pendidikannya. Kata bliau, sejak SMP sampai selesai kuliah, beliau mencari dan membiayai sendiri uang sekolahnya. Beliau bahkan rela menempuh jarak 8 km setiap harinya dengan berjalan kaki demi pergi-pulang ke sekolah. Pernah suatu ketika bapakku baru sampai di rumah pada tengah malam, which’s means berjalan kaki di tengah gulita…. Manstab!!

Berlanjut ke masa SMA, bapakku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Magelang (sekitar 2 jam dari Wonosobo) berdasarkan kemauan sendiri. Beliau bersekolah di sebuah SMK swasta jurusan mesin. Selama di Magelang, beliau menumpang di rumah kerabat sembari bekerja paruh waktu untuk membiayai uang sekolah dan hidup beliau. dengan segala keterbatasan, my dad tetap berjuang menyelesaikan studinya dan serius dalam belajar walau sikon di sekitarnya kurang mendukung. SALUT!!! Setelah menyelesaikan pendidikan SMK nya, beliau melanjutkan studi di D3 Mesin Universitas Diponegoro, Semarang. Beliau sempat magang di beberapa perusahaan seperti perusahaan kertas, listrik, dll.

Aku tidak tahu detail ceritanya bagaimana, tapi kemudian akhirnya my dad diterima bekerja di Pertamina setelah selesai kuliah. Padahal, my dad sempat bercita-cita menjadi masinis kereta api ^___^. Nah, setelah diterima di Pertamina inilah, akhirnya my dad ditugaskan di Medan, yang kemudian menjadi titik takdir beliau bertemu dengan my mom :D! Untuk cerita romantis tentang bagaimana pertemuan mereka, akan kutulis dalam tulisan tersendiri ^___^

Sekarang cerita tentang karakter beliau. My dad tergolong seorang yang plegmatis – koleris. Menurut orang-orang yang pernah bertemu dengan my dad, mereka menganggap my dad adalah seorang yang sangat serius, cenderung kaku, “kelihatan serem” (ha..ha.. maksudnya galak), hard-worker, dan pantang menyerah. Selain itu, dapat dikatakan bahwa my dad tergolong agak pendiam. Berbeda dengan ibuku yang bisa tahan ngobrol dan berbicara tanpa henti hingga berjam-jam. Maka dari itulah, antara my mom and my dad, mereka saling melengkapi :D!!

Walaupun tak banyak bicara, my dad seorang yang benar-benar hard worker, berprinsip dan pantang menyerah dalam hampir segala urusan, terutama masalah pekerjaan. Sehingga, beliau kerap menasehatiku untuk selalu mencoba semaksimal mungkin, tidak menyerah, dan selalu berusaha. Beliau juga mengajarkan kepadaku untuk lebih serius dalam menjalani hidup, mencoba segala kemungkinan, dan menambah pengalaman sebanyak mungkin😀.

Oya, dari bapakku pula, aku tumbuh menjadi seorang yang selalu ingin tahu alias curious dan suka ber-travelling alias JALAN-JALAN :D!! Semenjak kecil, beliau suka memberitahuku berbagai hal yang kami lihat di sepanjang perjalanan menuju lokasi kami berwisata. Misalnya : plat-plat mobil dari berbagai daerah, peta buta, petunjuk arah, tanda/simbol penunjuk jalan, dll. Jadinya, hampir semua kode plat mobil di Indonesia aku tahu asalnya. he..he..

Keluargaku memang gemar melakukan perjalanan, dimana my dad senantiasa berada di posisi pengemudi alias menyetir sendiri mobilnya hingga ke lokasi. Hampir semua sudut pulau Sumatra sudah kami jelajahi. Yang paling utara adalah Pulau We (Aceh) dan selatan adalah Lampung. Begitu pula dengan pulau Jawa dan Bali. Untuk ujung paling timur yang pernah kami jelajahi adalah Lombok, NTB. Nah, berhubung kampung halaman bapakku ada di Jawa, jadinya kami sering berperjalanan darat 30 jam dari Jambi (tempat tinggal masa SDku) menuju Wonosobo. Hikmahnya, aku jadi terbiasa melakukan perjalanan jarak jauh. Baik menggunakan mobil, bis, maupun kapal laut. Dan jadi terbiasa pula untuk tidur di mana saja, dengan kondisi bagaimapun (entah nyaman atau tidak, rame atau sepi), yang penting kalau ngantuk, ya tidur… hehe….

Tak lupa, sekilas info. My dad sangat terampil di dunia perpijatan. Kata beliau, sudah keturunan dari Almarhum Mbah Putri yang merupakan “tukang pijat” bayi di desa. Keahlian ini diturunkan pula padaku, karena my dad mengajari bagaimana memulihkan titik saraf/otot mana yang bermasalah. Walhasil daku juga memiliki profesi sampingan sebagai tukang pijat masuk angin (tentunya khusus wanita dan keluarga only😀. he..he…) Kayaknya begitu dulu cerita sekilas tentang my mom and dad. InsyaAllah di kesempatan lainnya, aku akan menulis tentang keluargaku secara lengkap dan juga kisah romantis mereka. he..he….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s