Sebuah Refleksi

Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah pesan di facebook group yang kuikuti. Pada intinya, kita sebagai “kaum terdidik” diingatkan untuk bersikap secara profesional, salah satunya dalam hal komunikasi terkait konfirmasi. Ada fenomena di kalangan masyarakat kita (mungkin) yang seringkali menyepelekan sebuah konfirmasi.

Tidak adanya konfirmasi tentang suatu hal, menurutku itu sama saja dengan menggantungkan seseorang. Padahal tahukan kalau digantung itu rasanya bener-bener gak enak (bahkan menyakitkan) #eaaaa~ :p

Entah apapun peristiwanya (permintaan, undangan, dll) serta bentuknya (lewat SMS, email, pesan FB, dll) ada kalanya itu membutuhkan keputusan kita (dalam hal ini konteksnya konfirmasi) dengan segera. Tidak segera menjawab dalam waktu yang ditentukan, sama halnya dengan menggantungkan kondisi seseorang/ banyak orang dalam ketidakpastian.

Berikut tulisan dari kawanku seputar hal di atas ini (credit to Uus Hasanah ^^):

* Biar KECIL tapi penting! *

Wahai temen-temen sidang pembaca sekalian, pernah dapet sms yang isinya pemberitahuan suatu acara dan butuh konfirmasi via sms segera, tapi malah kita tunda dan akhirnya lupa? Terus rasanya kira-kira gimana sama panitia? biasa-biasa aja? Atau, pernah jadi panitia acara, trus ngirim undangan via sms (yang butuh konformasi) ke peserta, dan langsung dibalas segera? Itu gimana rasanya?

Then, kalo jadi panitia acara, trus ngundang via sms (yang juga butuh konfirmasi) ke peserta, tapi nggak di bales-bales padahal konfirmasinya penting banget, karena menyangkut jumlah konsumsi pada saat acara dan sejenisnya, pernah kah?

Terus ternyata ndilalah peserta yang nggak konfirmasi (entah karena nggak ada pulsa, lupa, hapenya rusak, sms undangnnya nggak sengaja keapus, hapenya jatuh di jalan trus kelindes truk, atau khilaf) tersebut dateng dan dengan sukses membuat konsumsinya kurang? Nah kalo gini, gimana kira-kira perasaan anda sebagai panitia?

Mungkin ada yang pernah mengalami peran yang saya tuliskan di atas, atau hanya merasakan satu peran saja, atau bahkan belum pernah sama sekali. Yah, apapun itu, yang jelas, fenomena mahasiswa (*atau siapapun) doyan nunda konfirmasi gini masih menjamur, setidaknya di lingkungan tempat saya keluyuran. Emang sih, ‘cuman’ masalah konfirmasi yang mungkin dianggap kecil, tapi penting loh untuk mencapai hal besar yang dimimpikan! Karena yang besar berawal dari yang kecil. Duit semilyar juga nggak akan jadi kalo kurang cepek (seratus rupiah).

Oke, kasus lain. Pernah kah anda janjian dengan teman jam 7 pagi misalnya, terus anda dateng telat 15 menit tanpa konfirmasi (kalo anda bakalan telat) karena sebab apapun itu (entah males, macet, ban bocor, ketiduran, lupa, atau khilaf)? Kira-kira perasaan anda gimana ke temen anda itu?

Atauuu, pernah kah anda janjian dengan temen jam 7 pagi, terus anda dateng jam 6:55 atau jam 7:00 pas, eh temen anda datengnya 7:15 atau bahkan 7:30? Kira-kira perasaan anda gimana tuh? Bahagia, biasa aja, atau males banget sampe-sampe pengen nabok temen tersebut dengan buah duren plus kulitnya? Kalo anda merasakan hal yang saya tuliskan terakhir, berarti anda nggak jauh beda dengan saya, hehehe, bersabarlah. Tapi kalo anda merasa biasa aja, maka bertobatlah (hoho).

Saya yakin pasti banyak yang pernah mengalami hal tersebut di atas, entah sebagai yang menunggu, atau yang ditunggu. Yang jelas, nunggu orang itu bukan sesuatu yang menyenangkan, pun sangat tidak efisien dan merugikan. Yaaa, emang ‘cuman’ telat ‘dikit’ siih… (#yeeh yg namanya telat mah ya telat ajah!)

Hal ini juga masih banyak yang nganggep kecil, apa lagi sama temen sendiri (nggak bakal di penjara atau di rajam). Tapi, hal kecil tu penting loooh. Pentiiing banget, buat ndapetin yang besar.

Terus, kasus selanjutnya.

Kalo janjian sama temen, terus temennya dateng telat tanpa konfirmasi dulu kan tadi udah di bahas. Kalo janjian sama temen, terus kitanya dateng telat juga udah di bahas. Dan saya yakin kita pernah mengalami entah semua atau salah satunya. Nah kalo janjian sama dosen atau orang penting lain, pernah kah? Kalo ini pasti (biasanya) datengnya nggak berani telat, malah kalo perlu 10 menit atau setengah jam atau sehari sebelumnya udah dateng sampe masang tenda segala di depan ruangnya biar nggak telat. Pun kalo terpaksa banget telat, pasti udah konfirmasi 1 jam atau sehari sebelumnya, via sms, telpon langsung, atau pake burung hantu kayak heri poter.

Beda banget dibandingin kalo janjian sama temen sendiri. Iya kan? Iya nggak? Seringnya sih saya ngalamin seperti ini, jadi sering ngerasa sedih karena merasa dinomer duakan (halah). Entah temen-temen gimana.

Dan lagi-lagi ini emang ‘cuman’ masalah menghargai dan kedisiplinan, yang masih juga sering dianggap kecil oleh berbagai manusia di sekitar wilayah saya keluyuran. Padahal, hal KECIL itu penting dalam proses pencapaian yang besar loh.

Tasbih juga nggak akan laku kalo butiran manik-manik nya yang seharusnya 99, kurang 3 butir jadi cuman 96, atau malah dilebihin (ceritanya bonus) 6 butir jadi 105? Emang beli makan di fast food restaurant, pake dikasih bonus segala? Susah kali ngitungnya kalo lebih atau kurang manik-maniknya!

Kalo diterusin nulis kasus-kasus yang berhubungan dengan integritas di kalangan kita, wah bisa lebih panjang lagi ni tulisan. Tapi segitu aja cukup ngegambarin lah ya, kalo integritas itu masih menjadi masalah, bahkan di kalangan kita sendiri. Dan cenderung sering dimaklumkan dengan kata sakti “maaf”.

Nah, meski hal-hal yang saya contohkan itu mungkin bagi sebagian orang, cuma masalah kecil, tapi dampaknya besar banget, dan akan ngaruh ke profesionalitas kita di kalangan masyarakat umum.

Maka dari itu, yuk mari bareng-bareng biasakan untuk memberi konfirmasi. Jangan jadi orang yang suka menggantungkan orang lain. Mulai dari diri sendiri dengan cara masing-masing, ubah diri (kalo masih kurang merhatiin hal kecil ini itu, pembangun integritas), ubah temen, keluarga, lingkungan, biar nanti lama-lama, eh tau-tau dunia juga berubah baik! Hehehe :p. Karenaaa, kalo ngutip kata Ippho Santosa: ‘Saldo penghasilan boleh naik turun, tapi integritas harus naik terus!’ Itu harus! Lah kalo versi saya: ‘Meski iman kadang naik kadang turun, tapi integritas harus naiiiiik terus! Ini HARUS!!!

Karena hal KECIL ini PENTING! *Ciyus??? Miapah?

**Miamuuuu.. (#pengingat untuk ku dan kamu, dengan gaya ku.. semoga nggak pusing bacanya :3)

***

Tulisan ini sebagai refleksi dan evaluasi diriku pribadi. Apapun alasannya, mari kita biasakan untuk konfirmasi🙂. Belajar untuk tidak membuat orang lain merasa dirugikan karena kurang-nya profesionalitas kita. Sebelum nunjuk orang lain, slalu ingat ada 4 jari lain yang nunjuk ke diri sendiri.

Apabila hal ini sering aku lakukan pada teman-teman, mohon untuk diingatkan ya. Mari saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Mari kita menjadi generasi yang profesional dan menerapkan pengetahuan kita (#pengetahuan bukan untuk sekedar kita ketahui).

3 thoughts on “Sebuah Refleksi

  1. Ngomong2 soal konfirmasi, aku suka dengan pernikahan bule2 di Barat sana (lihat di film) yang resepsinya sederhana. Terus mesti RSPV, karena itu ngaruh buat ngitung konsumsi dan persiapan lainnya. Bahkan di HIMYM, karena di Ted konfirm dateng sendiri, tp pas dateng malah sama pasangan, itu jadi masalah pas krn pas mau masuk mesti sesuai konfirmasi undangan. Hehe.. (OOT tapi nyambung dikit ya mbak.. :p)

    1. betul2. Klo dipikir2, klo acara nikahan di Indonesia ngitung konsumsinya minimal 3x lipat dari jumlah undangan ^^”. Ngomong2 tentang RSVP, kayaknya juga ada kecederungan untuk “asal” konfirmasi, padahal belum tentu bener2 bisa hadir (mengoreksi diri sendiri TT___TT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s