Correspondez-Karte

Ditulis ulang dalam rangka keranjingan ber-post-crossing (saling mengirim postcard) semenjak di Formosa sini😀

Jika ada yang nanya, apakah hobiku??? (pun kalo ndak ada yang nanya, aku kasihtau aja :D), adalah (salah satunya) menulis, mengirimkan, menerima, mengumpulkan, membeli, dan mengoleksi sebuah benda “sederhana”, yang bernama KARTU POS alias POST CARD.

Postcard Script

Aku agak lupa, kapan pastinya memulai hobi ini. Yang pasti, sejak zaman SD aku sudah merintis hobi surat-menyurat (korespondensi), hingga aku beranjak SMA. Hampir setiap pekannya, aku saling menulis dan berkirim surat dengan sahabat penaku yang ada di berbagai penjuru Indonesia dan dunia (hiperbolis mode ^^). Yang paling kuingat, sahabat penaku banyak berasal dari NTB – Lombok Barat, Jawa Tengah, Sumatra, dan Kalimantan Timur (ohya, jadi keinget. Apa kabarnya ya sahabat penaku smua??). Dan sahabat pena “asing” pertamaku berasal dari Pulau Pinang – Malaysia.

Nah, mungkin saat memasuki kuliah, aku mulai beralih dari surat menyurat, menjadi kartu pos meng-kartu pos (bahasa Indonesia macam apa ini???). Mungkin waktu itu pertimbangannya karena perkembangan teknologi yang semakin menggebu (lagi awal-awal bekennya internet) juga karena faktor “M” (M untuk Malas nulis surat panjang-panjang :D). Walhasil, aku memilih kartu pos yang lebih sedikit space tulisannya.

Bagi sebagian orang, mungkin, memiliki hobi ini dianggap “tidak biasa” dan “ketinggalan zaman”, terlebih di era yang serba modern, dimana teknologi informasi kian berkembang pesat, semakin cepat dan semakin tak berbatas. Aku paham akan hal itu. Memang, mengirim surat atau kartu pos di zaman serba komputer ini, terasa lebih ribet. Harus beli (ato ambil/minta gratisan ^^) kartu pos dulu, menulisnya dengan tulisan tangan (belum lagi kalau tinta bolpennya habis, harus beli bolpennya dulu), pergi ke kantor pos, menghadapi resiko dijutekin ama mbak/bu/mas/pak posnya, beli dan nempelin perangko, mbayar retribusi parkir di kantor pos (kalo ada pak parkirnya dan pas mbawa motor), dan lain sebagainya. ha..ha.. What a complex process!!

Namun, di situlah letak SENI dan NILAI dari sebuah kartu pos. Ada sebuah perjuangan di sana, dimana seseorang harus bersusah payah demi (hanya) mengirimkan selembar kertas tebal bernama kartu pos, yang ditujukan ke suatu tempat “antah berantah” di dunia ini.

Sebelum aku memulai sesi “FILSAFAT” dari kartu pos (ha..ha.. ayo berfilsuf ria), mari beranjak sebentar kepada definisi dan sejarah dari kartu pos.

Kartu pos adalah selembar kertas tebal atau karton tipis berbentuk persegi panjang yang digunakan untuk menulis dan pengiriman tanpa amplop dan dengan harga yang lebih murah daripada surat.

Kartu pos (post card) adalah salah satu benda pos yang banyak dikoleksi oleh para penggemarnya di berbagai belahan dunia belakangan ini. Di Indonesia, belum banyak orang yang tertarik untuk mengoleksi kartu pos. Padahal, kartu pos dapat ditemukan dengan mudah di berbagai tempat terutama di daerah-daerah tujuan wisata, seperti Bali dan Yogyakarta.

Kekurangan dari kartu pos adalah adanya keterbatasan tempat untuk memberikan sesuatu informasi dan tidak ada fasilitas umpan balik bagi pelanggan. Namun, kelebihannya ialah karena ia ber-biaya (relatif) lebih rendah.

Selain, biaya yang rendah, salah satu manfaat utamanya tidak seperti paket dan surat trifold, penerima tidak perlu membuka amplop untuk membaca informasi yang ada (=> mungkin ini yang jadi pertimbanganku untuk beralih dari surat ke kartu pos).

Kemudian, ini Sejarahnya. Kartu pos yang pertama ada di dunia, diterbitkan di Austria pada 1 Oktober 1869 dengan nama Correspondenz-Karte. Kartu pos biasanya dikirimkan orang-orang saat berkunjung ke luar negeri sebagai semacam kenang-kenangan yang menandai bahwa mereka telah berkunjung ke negara tersebut. Ilmu penelitian dan pengumpulan kartu pos disebut deltiologi.

M1946061B

Correspondez-Karte ini pada perkembangan selanjutnya ternyata bukan hanya menjadi sarana berkomunikasi, tetapi juga bisa disimpan untuk dipertukarkan dengan benda serupa atau dengan benda-benda lain.

Nama Correspondez-Karte sengaja dipilih karena sesuai dengan kegunaan dari kartu tersebut, yaitu sebagai alat untuk berkorespondensi. Banyak kelebihan dengan menggunakan kartu pos dibanding menulis sebuah surat. Kelebihannya antara lain menggunakan sedikit kertas dan tak perlu menggunakan amplop. Ukuran yang kecil juga mempersingkat berita yang akan disampaikan oleh pengirim untuk penerima pesan.

Setelah kelahirannya itu, tak berapa lama ditemukan berbagai kegunaan lain. Artinya, tidak sekadar menyampaikan pesan singkat, tetapi sudah mulai jadi benda koleksi dengan penampilan yang menarik.

Fungsi lain ini dimulai pada tahun Agustus 1870. Ketika itu, Schwartz di Oldenburg, Jerman, menciptakan kartu pos dari potongan kayu. Kartu pos milik Schwartz itu adalah kartu pos bergambar pertama di dunia.

Sejak itu pula, pemerintah setempat melakukan regulasi kartu pos. Kartu pos yang bisa beredar hanya kartu pos yang diproduksi pemerintah dan pengirimannya harus menggunakan prangko yang dicetak pihak swasta, tetapi harus dibeli dari pemerintah. Nasib Schwartz berubah, yang semula bisa memproduksi kartu pos, setelah kebijakan itu ia hanya bisa melukis di atas kartu-kartu pos yang diproduksi pemerintah. Kemudian pemerintah Jerman memberikan izin kepada hotel dan tempat- tempat lain untuk mencetak kartu pos dengan berbagai gambar yang bisa digunakan sebagai alat promosi.

Pada awalnya, kartu pos bergambar itu hanya mampu membuat pesan yang disampaikan dalam lima kata, karena ruang yang tersisa sudah habis untuk menuliskan alamat dan nama si pengirim.

Kartu pos bergambar mengalami masa keemasan pada sekitar tahun 1900- 1918. Dan setelah itu, minat dari berbagai kalangan untuk mengoleksi kartu pos mulai bermunculan.

***

Setelah membaca sejarah di atas, sekarang marilah kita menuju sesi “FILSAFAT” Kartu Pos (O.o)! he..he..

Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, buatku, Kartu Pos mempunyai makna yang dalam. Ia bukan hanya sekedar selembar kertas, tetapi ia merupakan perwujudan dari perjuangan si pengirim, juga PAK POS dan BU POS yang bertugas memproses dan mengirimkannya hingga sampai ke tangan si penerima. Maka dari itu, setiap kali aku menerima kiriman atau pemberian kartu pos dari teman-temanku dan saudaraku, ada perasaan “bahagia dan menghargai” pada perjalanan secarik kertas itu.

Berbeda halnya dengan surat elektronik (email), yang begitu cepat (sekejap mata) dan praktisnya terkirim dari si pengirim menuju si penerima (tapi, tentunya masing-masing dari ini memiliki nilai plus minusnya sendiri kan ya? Email sangat diperlukan untuk keperluan mendesak dan darurat :D). Namun, untuk konteks nilai perjuangan ke-TRADISIONAL-an, aku lebih memilih KARTU POS (dan benda POS lain) :D!

Sesuatu yang “jarang”, “tradisional”, “kuno” dan “ketinggalan zaman”, di zaman serba modern seperti ini, lebih bernilai, bukan?? (ha..ha.. I am a conservative)

Kartu pos yang kumiliki saat ini, Alhamdulillah, sudah cukup banyak. Baik yang sudah “terpakai” maupun yang “belum terpakai”. Untuk kartu pos yang “terpakai”, aku mendapatkan dan menerimanya secara khusus dari sahabat-sahabatku yang ada di berbagai tempat di dunia. Dan terkadang, aku malah mengirimi diriku sendiri (ha…ha.. kurangkerjaan ^^”).

Nah, untuk yang belum terpakai (isih anyar tur kinyis-kinyis ^^), sebagian besar kubeli sendiri dalam berbagai perjalanan “get lost” yang kulakukan. Di tempat yang kukunjungi tersebut, aku menyempatkan diri maen ke TOKO BUKU atau toko souvenir yang menjual kartu pos. Untuk sebagian lainnya, kudapatkan dari kemurahan hati para sahabatku dan juga dari sanak saudaraku yang mendapat rezeki berkunjung ke bagian lain di bumi.

“Kartu Pos”, tak jarang menjadi jawabanku saat ditanya mau diberi oleh-oleh apa. It’s cheap, simple,dan yang terpenting adalah ndak memberatkan bagasi si pembawa oleh-oleh (inget, jangan ngrepotin orang lain!!). Tapi walaupun begitu, ia punya nilai yang dalam untukku. So, kalau ada teman-teman yang sedang berkunjung ke suatu tempat, aku ndak nolak untuk dikirimi atau dibelikan kartu pos koq. he..he.. (maunya ^^”!!).

In exchange, kalau aku “menghilang” ke suatu tempat lagi, kita bisa barteran saling berkirim kartu pos😀 (Oya, I do “barteran” dengan beberapa teman-ku sesama “get lost” lovers). Just give me your address, and I’ll send it for you ^___^!

* Note *

– Pesan terakhir => Ada yang mau barter?? he..he…

– Informasi seputar definisi kartu pos dan sejarah kartu pos diambil dari wikipedia🙂

18 thoughts on “Correspondez-Karte

  1. Mbak Chiku..aku juga baru memulai hobi ini lagi. Tapi, alih-alih aktif di postcrossing, aku memulainya dengan kontak lagi kawan-kawan lama dan teman sesama blogger. Nah, sepertinya kita sehati. Yuk saling berkirim kartu pos. Aku juga punya beberapa koleksi yang unik.😉

  2. Mbak Chiku kapan ke Wonosobo, aku tahun baruan di sana…o ya sama dengan Mbak Maisya, aku juga baru mulai lagi kirim2an kartu pos gara-gara nemu postcrossing, kirim ke aku ya..

  3. Dini

    What a great note…Chiku/Retno…Sebenarnya hobimu ini bs masuk kategori filateli lho…(hobi yg terkait dg benda2 seputar pos; exciting gabung disana..krn jadulkask/jaman dulu kala sekali..hehehhe sy termasuk pengurus di perkumpulan filateli – pdhl koleksi maupun pengetahuan/pengalaman filateliku saat itu msh minim-tp temen filatelisku ‘hangat’2…Seingatku dl ada bbrp filatelis yg spesifik fokus koleksinya di kartupos; wah pokoknya byk yg fokusnya unik2 lho…) sy pribadi punya bbrp postcard..trutama saat anggota keluarga ada yg k LN/k tmp wisata yg ada postcard bergambarnya…Sayangnya krn sy bbrp x pindah domisili…jd dokumentasinya ga baik. Terakhir sy alhamdulillah…sampai ke Waikiki-Hawaii & New Orleans. Louisianna-USA..sy beli beberapa postcard…u/sy kasih ke bbrp tmn & kel. Syngnya sy cm bl ms2 1bh…jd ga ada lebihnya u/dicross ke Chiku/Retno. Cb nti sy cek..ya..apa bs diakali…hehehe krn kl sy sih itu PCard cm u/ngelengkapi cerita foto2 sj…Ok..have a great success ya…Nice to meet U…(

  4. Ania juga mau barter-an, mbak..ni alamat An:
    Jalan Candi Mutiara Timur IV/ 1362, RT 12 RW 06
    Pasadena, Semarang 50183

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s