Wanita dan Angan

Beberapa waktu lalu, daku membaca sebuah buku karya Bang Darwis aka Tere Liye yang berjudul “Berjuta Rasanya”. Buku ini menjadi teman bacaku selama perjalanan “pulang” dari Jakarta ke Taipei via Singapore. Memang, perjalanan senantiasa menjadi masa yang paling tepat dan efektif untuk membaca habis sebuah buku😀. Perjalanan gak akan terasa membosankan, walaupun itu berjam-jam lamanya (*pesan moral, rajin-rajinlah membaca, terutama ketika menunggu. hohoho~)

Kembali ke topik awal. Sudah lama rasanya daku ndak membaca buku bertemakan “beginian”. Tapi karena tertarik dengan tulisan-tulisannya Bang Darwis (terutama dari update status and notes beliau di FB), jadi penasaran dengan karya-karya tercetak beliau (*saya dah punya beberapa karyanya, tapi belum kebaca semuanya ^^”). Eniwei, buku ini punya cover yang cukup unik dan menarik lho:

tere liyeKemudian, di dalam buku ini ada satu bagian yang cukup “nyentil” dan membuatku menertawakan diriku sendiri (*inget pengalaman jaman “muda” dan “lugu” dulu). Terkait kadar Ge-eR para kaum hawa yang menurutku memang irasional dan lebay (silakan jika ada yang mau protes ke saya, soalnya pernah ngalamin sendiri *oops)

Begini cuplikan paragrafnya (oleh Tere Liye, “Berjuta Rasanya” halaman 28):

“Mungkin ada benarnya juga buku-buku itu bilang. Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu.

Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah, siapa yang mempermainkan siapa, coba?

Berbagai kejadian remeh-temeh justru dianggap seperti pertanda terbesar dalam kehidupan cintanya. Ternyata perasaan itu semua hanya ada di hati kalian….”

Setelah membaca bagian ini, sempat tertohok juga ^^”, wanita itu memang kadang terlalu gampang terbuai oleh angannya sendiri. Kalau bahasa temanku “terbang melayang, lupa menginjakkan kaki di bumi”. Untuk tetap logis dan rasional saat jatuh hati, mungkin akan sulit rasanya. Maka, menurutku sangat diperlukan “penyetir” dalam mengelola “fitrah manusia” akan rasa ini, yaitu dengan “iman”.

Pernah beberapa kali berdiskusi dengan banyak teman (*wanita tentunya), bahwasanya kejadian ini memang lumrah terjadi. So, kita-kita jika punya sahabat yang seperti itu, haruslah saling mengingatkan untuk menginjakkan kaki di bumi. Apalagi, jangan sampai perasaan fitrah ini diganggu-gugat oleh para setan yang menggoda hati dan pikiran.

Yang perlu ditanamkan dan dicamkan, jika memang sudah jodohnya, percayalah ia takkan kemana. Karena ia sudah ditetapkan oleh-Nya sejak di Lauh Mahfudz. Bahasa “mak” saya, jodoh yang diridhoi oleh Allah. Kalau sudah jodoh, jalannya menuju ke sana pun akan dimudahkan dan dilancarkan.

So, no need to lebay yah~ Inget-inget selalu untuk menginjakkan kaki di bumi, dan berpikir logis🙂. Jangan terlalu tinggi terbang, karena jika jatuh akan sakit sekali rasanya🙂

#pengingat untuk diri sendiri juga niy😀

7 thoughts on “Wanita dan Angan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s