[Video] Kontribusi untuk Tanah Air

I’m posting this video not simply because his candidacy as Indonesian President through Democrat Party’s Convention. Since I’ve ever had some discussions with him personally, I learned many things; one of them is about “what the values and meaning of politics are”.

Sempat saya menjadi antipati dengan politik, padahal latar belakang pendidikan dan juga gelar S1 saya adalah SARJANA ILMU POLITIK. Mungkin seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, ada makna peyoratif saat mendengar kata politik atau politisi. Bahasanya, degradasi. Politik di masa kini, bukan dipandang secara terhormat. Kacau balau dan carut marut tanah air, mengoyak harapan dan kita cenderung semakin mengutuki. Padahal, kalau kita menilik sejarah Indonesia masa lalu, ada banyak tokoh politik yang tersohor dan harum namanya. Mereka kita sebut negarawan. Bagaimana dengan sekarang?

Setelah melihat video ini, saya teringat kembali dengan jawaban dari pertanyaan yang saya sampaikan kepada Kang Emil a.k.a Ridwan Kamil, (walikota terpilih Bandung) saat mengisi diskusi dalam acara CISAK di Daejeon, Juli 2013 lalu (saksi matanya banyak ni, hahaha….). Pertanyaannya: mengapa seseorang seperti beliau, yang sudah malang melintang dan sukses di dunia profesional, memilih untuk terjun ke dunia politik praktis yang dianggap kotor?

Mengejutkan. Jawaban dari beliau, dan juga penjelasan dari Pak Anies dalam video ini, sama-sama mengetuk hati saya yang terdalam.

***

Politik itu kotor. Benarkah begitu? What I’ve learned and got dari dua tokoh tersebut, mereka menyampaikan bahwasanya politik itu sejatinya sungguh luar biasa berdampak besar. Bukan tujuan sempit seperti kekuasaan semata. Tapi ada idealisme dan nilai yang dipegang teguh, yang dijunjung tinggi serta diperjuangkan untuk tanah air tercinta.

Kemudian kembali saya bertanya. Kontribusi apa yang sudah saya berikan untuk negeri ini?

Air mata mengalir.

***

Jangan keburu apatis dan anti dulu dengan kata “politik”. Toh di manapun kita berada, yang namanya politik digunakan, bahkan di rumah sekalipun –> teringat contoh yang diberikan Kang Emil adalah “politik” untuk mendapatkan makan siang dengan 2 telur dadar, instead of cuma 1. Bagaimana caranya merayu sang ibu mau memberikan keinginan kita :D? Haha… itu namanya juga berpolitik

***

Jalanan ini memang terjal, kawan. Jangan takut dikritik, dicaci. Hadapi ini, lewati rute ini. Ikut turun tangan, pilih untuk turun tangan.

Mari, jadilah seseorang yang berfokus pada KERJA NYATA dan kontribusi. Tak harus di ranah politik praktis, tapi bisa dimanapun kita berada.

Mari turun tangan. Luruskan niat kita, tegaskan sikap kita.

Mari ikut mewarnai dan memberi makna bagi tanah air kita.

Apapun bentuk keterlibatan dan kontribusi kita, sekecil apapun, semoga itu bermanfaat untuk bangsa. aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s