[Share] Religious Dietary Law – Vegetarian

Jika sebelumnya membahas tentang Kosher, maka kali ini saya ingin berbagi cerita lain dengan genre yang sama. Untuk kesempatan kali ini, yang dibahas adalah Vegetarian. Sebelum saya membahas vegetarian-ism dari perspektif agama, let me explain basic information tentang macam-macam vegetarian. 

Mungkin sudah menjadi pengetahuan umum jika yang namanya jadi vegetarian itu ndak makan produk hewani apapun. Namun, ternyata ada beberapa tingkatan dalam menjadi vegetarian ini:

Types of Vegetarians

1. Semi Vegetarian

Untuk yang ini, mereka memang tidak lagi memakan daging merah (sebangsa sapi, dll). Untuk produk hewani, masih oke untuk makan daging unggas atau seafood, juga termasuk produk olahan seperti produk susu, telur unggas, dll.

2. Vegetarian

Untuk yang ini, mereka totally tak lagi memakan daging hewan (all kinds, termasuk unggas dan seafood). Tapi masih oke untuk makan produk susu dan telur.

3. Lacto-Vegetarian

Yang ini, mereka lebih ketat dari vegetarian. Tidak makan telur, tapi masih oke makan produk olahan susu (susu cair, keju, dll).

4. Ovo-Vegetarian

Kebalikan dari yang lacto, mereka masih oke makan telur, tapi tidak untuk produk susu.

5. Vegan

Nah, kalau yang ini bener-bener yang paling ketat, yaitu tidak makan semua produk daging, susu, telur atau turunannya. Murni hanya produk dari tumbuhan seperti kacang-kacangan, sayuran, dan buah. Sumber proteinnya berasal dari protein nabati.

Nah, sekedar tambahan, berdasarkan info dari kawanku yang vegan, mereka juga tidak boleh makan bawang-bawangan (bawang merah, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, etc). Jadi, ini harus benar-benar diperhatikan ketika ada kawan vegan yang mampir ke rumah kita dan kita memasakkan/ menyiapkan makanan untuk mereka. 

Sama seperti Halal dan Kosher, proses pengolahan makanan vegetarian juga harus bebas dari produk hewani (tidak boleh dicampur wajan dan alat masak lainnya). Juga harus diperhatikan, jangan masak dengan royco dan semacamnya (harus penyedap rasa yang berasal dari nabati), sambal terasi (soalnya kan ada udang rebon dan bawangnya), juga produk sambal lainnya (karena mostly sambal kan pake bawang ya).

Mungkin karena image-nya di Taiwan banyak produk babi dan daging tak halal, maka kebayangnya kita bakalan susah makan. 

Nggak sesulit itu koq :). 

Di Taiwan sini, karena orang yang vegan cukup banyak, maka sebenarnya ada banyak tempat makan dan produk makanan yang bisa Muslim makan. Tinggal cukup bilang apakah ini “Sùshí 素食” (artinya: vegetarian food). Maka si penjualnya akan paham. vegetarian

Oya, karena seringnya Muslim yang makan di luar selalu milih vegetarian food, banyak yang berpikir bahwa semua Muslim itu vegetarian. Sempat saat seorang kawan melihat saya makan ayam halal di masjid, ia kaget karena ia pikir saya seorang vegetarian :). Maka, akhirnya saya pun menjelaskan tentang konsep halal. Halal itu bukan hanya tidak boleh babi dan khamr, tetapi daging sapi, ayam, dll juga harus halal, yaitu setelah melewati proses penyembelihan dan pengolahan yang sesuai dengan syariat Islam (zabihah).

Kembali lagi ke topik tentang vegetarian. Tentu sudah tak asing dengan istilah ini, karena tampaknya gerakan “go veggie” sudah meluas di seluruh dunia. Mostly, alasan yang menjadi latar belakang seseorang menjadi vegetarian adalah karena alasan kesehatan, global warming ataupun peduli hewan + lingkungan alam. 

Nah, di sini yang hendak saya bahas adalah terkait vegetarian-ism yang ada di Taiwan. Menurut saya, untuk fenomena vegetarianism di Taiwan cukup berbeda dengan lainnya. Karena di sini sebagian besar alasan ber-vegetarian adalah karena alasan religious, yaitu Buddha yang menjadi agama mayoritas masyarakat Taiwan. 

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengikuti kelas “Religion in Taiwan” yang sempat membahas vegetarian-ism. Kemudian, saya juga mendapatkan kesempatan mengikuti workshop yang diadakan oleh Tzu Chi Foundation, di Hualien yang memang dikenal sebagai organisasi yang giat mempromosikan vegetarianism. Dari sini, saya mendapatkan pengetahuan tentang alasan ideologis mengapa umat Buddha di Taiwan memilih menjadi vegetarian. 

Berikut beberapa alasannya:

1) Kesehatan –> sudah umum diketahui

2) Menghormati mother nature dan welas asih terhadap bumi –> ini terkait dengan lingkungan dan global warming. Dari workshop di Tzu Chi, pemateri menyebutkan bahwa air dan tumbuhan yang diperlukan untuk memelihara ternak sangatlah banyak. Untuk memproduksi 1 kg daging, itu perlu berliter-liter air dan juga puluhan kilogram rumput/ sayuran. Bayangkan jika air dan sayuran itu dialihkan untuk mengatasi bencana kelaparan, bisa untuk menyelamatkan orang banyak. Selain itu, lahan yang diperlukan untuk ternak, bisa dimanfaatkan untuk peningkatan produksi pertanian yang ujungnya adalah untuk mengatasi krisis pangan (terutama padi-padian dan sayuran).

3) Konsep ideologis: Dari cerita kawanku, konsep utama dalam Buddha adalah karma dan reinkarnasi.dalam Buddha, disebutkan bahwa mereka tidak memiliki konsep ketuhanan seperti pada agama monotheism, juga tidak ada konsep surga + neraka, juga hidup dan mati (dalam artian setelah mati, langsung masuk surga or neraka. Yang ada adalah reinkarnasi). 

Oleh karenanya, jika menyiksa/ membunuh hewan, itu bisa berakibat pada karma buruk, dan the worst case, bisa berpengaruh pada reinkarnasi dan hidup selanjutnya. 

Selain itu, ada juga yang yakin bahwa jika membunuh hewan, sang hewan tersebut bisa jadi adalah reinkarnasi dari manusia. Jadi membunuhnya, sama dengan membunuh manusia –> untuk lebih memahaminya, bisa diingat-ingat film Sun Go Kong a.k.a Kera Sakti.

Masih terkait konsep ideologis, disebutkan juga bahwa mostly mereka percaya tentang pengaruh aliran “qi” (baca: chi) atau aliran energi. Bisa berupa negatif atau positif. Nah, chi yang negatif itu bisa merusak stabilitas hidup seseorang dan juga kehidupan (–> terkait feng-shui juga kali ya?).

Alasan bagi vegan, kenapa mereka tidak mau susu dan produk olahannya, karena mereka berprinsip bahwa pada dasarnya susu sapi itu adalah untuk anak sapi. Maka, jika produksi susu yang bukan untuk anak sapi, itu menyalahi kodrat dan bisa menyiksa sapi tersebut. Jika sapi tersiksa, maka aliran chi negatif bisa mempengaruhi produk tersebut dan akhirnya bisa berpengaruh buruk untuk badan manusia (karma). In other words, inti dari alasan ideologis tersebut adalah welas asih terhadap makhluk hidup, dan juga karma.

Salah satu kampanye go veggie
Salah satu kampanye go veggie

Setelah mengikuti workshop di Tzu Chi tersebut, saya jadi bisa paham alasan-alasan (mulai dari kesehatan hingga ideologis) tentang dunia vegetarian-ism. Hal ini sangat membantu saya untuk memahami masyarakat Taiwan secara umumnya, dan juga kawan-kawan pemeluk Buddha. At least, saya bisa tahu bagaimana caranya men-treat kawan yang vegetarian dengan makanan yang sesuai dengan ideologi mereka. 

It’s what we called as tolerance (not for aqidah, but for muammalah context).

Advertisements

13 thoughts on “[Share] Religious Dietary Law – Vegetarian

  1. ku pernah jadi vegan [cuma makan sayur buah] selama 3 tahun lebih, jadi lebih ringan badan dan otak lebih fresh, tapi ya kena asam urat pula.. lamalama jadi semi vegan aja.. sekarang sih jarang makan daging merah.. ayam juga jarang, lebih suka ikan..

  2. Kalau menurut tradisi penyembuhan China (TCM atau Traditional Chinesse Medicine) Chi adalah faktor penentu terpenting untuk menentukan sehat atau sakit serta hidup dan matinya seseorang

    1. iya, betul pakdhe :). Menarik pendekatan dan perspektifnya pengobatan China. Dulu pernah diceritain juga, konsep “dingin” dan “panas” dalam obat dan makanan.

    1. Saya pernah membaca wacana mengenai ini dalam konteks agama budha. Kurang lebih berbunyi, Secara spiritualitas, Bawang dilarang karena bawang dipercaya meyimpan energi negatif yang tinggi, sehingga bisa membangkitkan hawa napsu dalam diri kita. Jadi kalau dlm vegetarian kita membina kehidupan spiritual, maka sebaiknya menghindari makan bawang.

  3. Bisa dibilang saya jadi vegetarian dari mulai kenal makanan. Karena memang saya tidak suka makan hewan (secara harfiah). Awalnya saya malah ingin bisa suka makan daging dll, tapi emang gak enak menurut saya :p
    Dan setelah tahu kalau vegetarian baik untuk kesehatan, saya malah bersyukur terlahir dengan tidak suka makan hewan.
    😀

  4. Sebenarnya pengaruh besar utk energi chi bukan pada makanan seperti td di jelaskan di susu.. Tp utk menghindari chi.. Lakukan meditation.. Itu yg paling penting… Aliran buddh sangatlah banyak… Dan asli y adalah aliran theravada… Mereka biksu yg boleh makan dgin yg dipersembahkan umat y. Dalam vinaya (aturan kebhikkhuan, tradisi Theravada) yang ditetapkan oleh Sang Buddha tidak tertulis bahwa seorang bhikkhu harus vegetarian.

    Bukan berarti bahwa jika itu tidak ada dalam Vinaya maka para bhikkhu gemar makan daging.

    Patimokkha: Pacittiya 39
    Dalam disiplin kebhikkhuan, seorang bhikkhu tidak diijinkan untuk meminta makanan khusus tertentu.

    daging sepenuhnya murni berdasarkan tiga hal: jika tidak dilihat, didengar atau dicurigai (telah dibunuh secara khusus untuk seseorang).” dengan kata lain adalah persembahan atau pemberian dari umat y…yg diartinya tidak diminta khusus. Dan sesuai syarat itu maka bhikkhu theravada boleh memakannya.

    Alira. Buddha sudah banyak so.. Ditaiwan adalah aliran Mahayana dari China.. Sedikit berbeda aturan… Tp selama tidak menlanggar pancasila (tidak membunuh,tidak mencuri,tidak berzinah,tidakberjudi dan memabukan, tidak menfitnah) maka syah syah saja…

    Sy juga setuju utk fungsi kesehatan dan menghormati mother nature menjaga alam semesta…

    Cuma klo soal susu dan keju karena product nya takut mengandung chi (energi negative) sy rasa itu sangat lah kecil sekali… Dan utk mengeluarkan chi… Tinggal meditasi sj… Krn klo dikatakan product mengandung chi… Maka bhikkhu theravada yg sudah melakukan vassa lama (syarat dan aturan bhikkhu) yg boleh makan daging… Kenapa mereka berenergi positif…just sharing saja dan opini sj..

    Cuma masing masing mempunyai ideologi sendiri.. Dan bagi kami tidak masalah selama tidak melanggar sila…

  5. Yenny

    Sepengetahuan saya, seorang vegetarian tidak makan bawang2an karena dapat mengganggu pencernaan.

    Bawang dapat membantu proses pencernaan daging. Tapi apabila sesrorang tdak makan daging, maka bawang yang akan dikonsumsi akan merusak organ pencernaan.

  6. Halo, kebetulan lagi pelan pelan ubah gaya hidup, nggatau juga senakin lama ngrasa makan daging semakin gaenak, udah ga konsumsi tapi belum bisa move dari seafood.. hehe sementara baca2 cari tau tentang vegan ini. Sejujurnya aku lebih suka pembahasan dari sisi kultur, budaya dan religi spt ini. Lebih membuka pandangan dan jadi lebih toleran 🙂 Terimakasih udah share

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s