[Share] Life Reflection – Esensi Nilai

Suatu ketika, adik kosku bertanya padaku, apa arti kesuksesan untukku. Saat itu, aku terdiam cukup lama. Pertanyaan yang terlihat mudah, tapi sangat sulit untuk kujawab. Aku tak ingin memberikan jawaban yang normatif; spesifik dan terarah. Pengalaman hidup sampai sejauh ini membentuk pola pikirku menjadi seperti itu.

Setelah berpikir panjang, kujabarkan jawabanku padanya. Dan ia mengangguk perlahan, sambil terlihat berpikir, menganalisa. Kemudian ia bertanya; “kakak orangnya idealis dan perfeksionis ya.”

Terhenyak. Kutanyakan apa maksud dari pernyataan itu. Kuminta penjelasan darinya, hingga ia pun bertanya kembali padaku. “Pernahkah kakak merasa jenuh dan kering?”

Kujawab, “Ya, pernah.”

Dan ia bertanya lagi, “Seperti apakah konsep bahagia untuk kakak? Sampai taraf mana kakak merasa sukses?”

Kembali aku terdiam. Kali ini lebih lama.

Ia melanjutkan, “Apa tujuan hidup kakak?”

Kujawab, “untuk berdakwah”.

Lama adik kosku terdiam, dan kemudian terucap, “kalau begitu, di manakah Allah dalam hidup kakak?”

Seketika, aku benar-benar merasa ditampar sangat keras dan hatiku terhujam. Aku merasa bahwa apa yang kulakukan selama ini tidak ada artinya. Apa yang kulakukan itu tak ada bedanya dengan ritual dan rutinitas belaka, walau itu berkemas “untuk dakwah” sekalipun. Astaghfirullah….

***

“Kita sebagai aktivis sering sekali sibuk dengan Islam-nya, tapi tidak sibuk dengan Allah-nya. Kita belajar Islam tapi belum tentu belajar serius untuk dekat dengan Allah. Karena ada kalanya ilmu yang kita pelajari justru untuk kepentingan duniawi kita. Ingin nama, ingin besarnya organisasi, malah ada yang lebih mencintai organisasinya daripada mencintai Allah, mencintai kelompoknya daripada mencintai Allah. Kita mencari dalil yang sohih tapi kadang akhlak kita tidak sohih. Itu yang harus kita tafakuri pada diri kita.” [Aa Gym, 2011]

Kadangkala, kesibukan dunia acapkali membuat kita terlupa tentang tujuan semula, esensi/ nilai, serta pentingnya proses daripada hasil; menjadikan target dan hasil sebagai satu-satunya tujuan. Seabrek kegiatan dan aktivitas, kadang menjadikan kita merasa “puas” karena “dirasa” sudah banyak berkontribusi, aktif, banyak prestasi, melanglang buana dan terlihat “wah” di mata manusia.

Namun, pernahkah merasa jenuh, kering dan penat?

ImageItu adalah salah satu tanda, bahwasanya “esensi” dari semuanya itu tak ada. Kering.

Maka, ke manakah seharusnya niat dan tujuan kita berlabuh?

Entah seberapa sering kita melihat orang-orang yang menjadi sangat pragmatis, dan berorientasi pada hasil duniawi semata (uang, jabatan, posisi, ketenaran dll). Menurut saya, menjadi pragmatis boleh-boleh saja. Namun tidak serta merta menjadikan kita boleh “menghalalkan” segala cara, melupakan etika dan esensi dalam prosesnya.

Maka, mari telaah lagi kehidupan kita, refleksikan pengalaman diri, kemudian luruskan kembali niatan dan perbaiki prosesnya. Karena sejatinya hasil/ target duniawi bukanlah segalanya. Ada hal yang jauh lebih berarti dari itu; ketenangan hati yang sejati dan keyakinan pada Sang Maha.

# Refleksi hidup dan pengingat diri. Mari banyak-banyak beristighfar dan kembali luruskan niat…

Special thanks untuk adinda Ni’matun Nasim yang sudah mengingatkan. Jazakillah khoir ^^

2 thoughts on “[Share] Life Reflection – Esensi Nilai

  1. kemarin juga sempat merasa itu, tapi saat-saat “membina” yang akhirnya mengobatiku, mbak. apalagi ketika ada saudara yang memberikanku apresiasi terbesarnya sebagai saudara: meminta pertolongan padaku. itu yang menyuburkan taman hatiku hingga mengganti kering itu.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s