[Share] Let’s be a smart and wise social media user

Semenjak awal tahun ini, tampaknya banyak dari kita yang mengalami kejengahan dan merasakan suasana “panas” yang ditimbulkan oleh postingan-postingan yang ada di facebook. Ya, karena “pesta” demokrasi lima tahunan ini, banyak warga negara Indonesia dimanapun berada menjadi sangat “aktif” dan “partisipatif” dalam meramaikannya. 

Kalau diperhatikan, jarang sekali saya memposting atau mengomentari pileg maupun pilpres. Selain karena saya terikat dengan sumpah sebagai anggota KPPS Luar Negeri yang dituntut untuk netral, juga karena saya pribadi tidak menyukai perdebatan (apalagi debat kusir). Akan tetapi, saya diam bukan berarti saya tidak peduli.

Baru saja saya membaca postingan yang ditulis oleh mas Sunu Wibirama, suami dari mbak Ratih, kawan dekat ketika di HLN MITI Mahasiswa dulu. Dari tulisan beliau di NOTE Facebook tersebut, ada hal yang saya kembali pelajari; yaitu betapa pentingnya kaidah dalam mengutip sebuah informasi.

Setelah beberapa lama melakukan observasi dari postingan yang ada di timeline facebook, entah berapa kali saya “ngomel-ngomel” sendiri karena miris dengan share-link suatu berita yang sumbernya tidak jelas dan tidak bisa dipercaya. Tidak hanya di dunia akademik dan paper-paper konferensi, sebagai seorang yang mengaku “terpelajar”, ada baiknya kita juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari termasuk di dunia maya. Let’s be a smart and wise social media user 🙂

Berikut ini adalah copy paste dari notes mas Sunu tersebut. Mari kita simak dan terapkan bersama 🙂

Menerima dan Membagi Berita dari Media Islam dengan Bijak
May 23, 2014 at 10:23am
# Sekedar catatan untuk saya sendiri 🙂

Timeline di social media (terutama Twitter, FB) akhir-akhir ini kembali ‘hangat’ karena even nasional yang akan segera digelar. Berbagai macam kabar dan berita pun beredar luas. Tak ketinggalan, beberapa “media Islam” dan “blog Islam” pun ikut serta memberitakan berbagai hal. Beberapa media Islam tersebut terkadang menjadi rujukan banyak orang, terbukti dari ribuan orang yang me-like halaman FB-nya, menjadi follower Twitter-nya, dan berkomentar di artikelnya.

Sayangnya, terkadang kita tidak ‘peka’ dengan kebenaran konten berita. Hal ini lebih disebabkan karena kita tidak memiliki filter yang baik, dan juga karena fanatisme kelompok (ashobiyyah) yang kelewat tinggi. Padahal berita-berita di dalam situs berita Islam atau blog-blog tersebut tidak semuanya benar dan oleh karena itu tidak semuanya layak untuk kita bagikan. Kredibilitas media Islam jauh lebih berat mempertahankannya, karena masyarakat akan menyandarkan media-media tersebut dengan kesempurnaan ajaran Islam itu sendiri.

Lebih mudahnya, pertanyaan “Katanya media Islam, kok beritanya tidak kredibel?” akan lebih berat pertanggungjawabannya.

Bagaimana kita menyikapinya?

Saya pun juga sedang belajar. Riset kecil-kecilan, lebih tepatnya. Dari beberapa buku dan sumber yang saya baca, ada yang menarik dari buku “Approaching The Sunnah” (terjemahan bahasa Inggris dari buku Kaifa Nata’amal Ma’as Sunnah), karangan Dr. Yusuf Al Qardhawi. Di dalam buku itu, halaman 70 (atau halaman 73 di edisi bahasa Arab – terbitan Al Ma’had Al ‘Alamiy Lil Fikratil Islamiy) tentang kaidah-kaidah menggunakan hadits dhaif (lemah) untuk tujuan targhib dan tarhib (penyemangat dalam beribadah dan ancaman supaya kita menjauhi hal-hal tercela). Kaidah ini diambil dari Ibnu Hajar, yang kemudian ditulis ulang oleh As Suyuti dalam buku “Tadrib Ar Raawii”. Kaidahnya sebagai berikut (saya coba membahasakan dengan apa yang saya pahami dari buku tersebut, semoga tidak keliru):

1. Muttafaq ‘Alaih (disepakati atasnya), bahwa perawinya memiliki hafalan yang lemah, tapi bukan yang terlalu lemah hafalannya. Juga perawi ini tidak dikenal sebagai orang yang suka berbohong, tertuduh berbohong, atau dikenal sering berbuat kesalahan.

2. Hadits tersebut tidak keluar dari koridor syar’i yang sudah disepakati ulama (jadi hadits tersebut mendukung dan tidak bertentangan dengan hukum syariah dan agama). Oleh karena itu, hadits-hadits palsu (atau hadits yang sudah dirubah redaksinya) dan yang tidak jelas sumber referensinya dikecualikan (tidak dimasukkan dalam hadits dhaif dan tidak boleh dipakai).

3. Jika ingin menjadikan hadits tersebut sebagai landasan amal, jangan menganggap amal tersebut pernah dilakukan oleh Nabi SAW. Hal ini agar apa yang tidak tidak pernah diucapkan oleh Nabi SAW. tidak dinisbatkan kepada beliau. Amal apapun yang disandarkan pada hadits tersebut lebih kepada kehati-hatian.

Lalu, bagaimana dengan media sosial? Bagaimana menyaring berita sebelum membagikannya ?

1. Ambil berita dari media islam setelah jelas sumber kutipannya. Kalau berita mengacu ke situs lain, ambil dari sumber pertama. Cek juga sumber pertama, terpercaya atau tukang bohong. Kalau tidak terpercaya, lebih baik tidak kita bagikan beritanya.

2. Berita yang disebarluaskan, jika maksudnya untuk menyeru kepada kebaikan, tidak boleh bertentangan dengan kaidah syari’i dari quran dan hadits yang shahih. Begitu juga jika bertujuan untuk mencegah kemungkaran, tidak boleh menyebabkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar. Juga harus dihindari berita-berita yang cenderung membongkar aib seseorang, atau tidak benar (bohong) hanya untuk menjatuhkan kredibilitas seseorang.

3. Jika ingin melakukan tindakan/action berdasar berita tersebut, nisbatkan tindakan itu pada diri kita sendiri, sehingga jika kita keliru, orang tidak memandang jelek Islam karena kekeliruan kita.

4. Cek apakah situs berita tersebut mendapatkan berita dengan menerjunkan reporter, atau hanya me-relay (mengambil) dari situs berita lain. Kalau cuma mengambil dari situs berita lain (apalagi cuma mengambil sepotong dan membuang yang lain), atau kopi paste status FB dan Twitter tanpa konfirmasi langsung ke pemilik akun, tingkat kepercayaan media ini patut dipertanyakan. Banyak media-media Islam yang membuat artikel seperti ini. Sedihnya, diambil dari sumber yang tidak terpercaya. Manakala berita dipandang baik bagi afiliasi atau kelompok media Islam tersebut, berita ditampilkan begitu saja tanpa ada konfirmasi dan riset tentang sumber pertama berita tersebut.

5. Membangun kewaspadaan pribadi dengan belajar. Misal, mengetahui hadits-hadits palsu yang populer di masyarakat, sehingga kita memiliki ‘kekebalan’ jika ada artikel yang menggunakan hadits-hadits palsu. Secara umum, saya mendapatkan banyak manfaat dari mempelajari buku-buku Syaikh Yusuf Qardhawi, maupun buku-buku Syaikh Nashiruddin Al Albani.

6. Jika tidak memiliki jalur untuk tabayyun (memastikan kebenaran berita itu dari sumber pertama, atau meminta pendapat ahli jika terkait dengan hal-hal teknis di luar kemampuan kita), lebih baik diam dan tidak membagikan berita.

7. Cek tanggal berita, masih relevankah dengan kondisi saat ini? Berita politik, yang cenderung dinamis dan berubah-ubah sangat cepat tentunya lebih cepat “expired”. Dapatkan berita terbaru dan shahih sumbernya.

Mungkin itu sedikit rangkuman. Masih butuh banyak belajar tentang hal ini 🙂
Maaf kalau ada yang keliru atau kurang tepat.

Tokyo, Jepang
23 Mei 2014
11:19 (sesaat sebelum sholat Jumat)

Advertisements

2 thoughts on “[Share] Let’s be a smart and wise social media user

  1. The problem is, people seem to have the tendency to simply spread the news because they think it will make them look cool as someone who are “updated”, and most of them don’t even bother to check.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s