[K-Drama] Misaeng

Saya suka sekali dengan tayangan-tayangan yang punya nilai dan makna pembelajaran filosofis mendalam. Karena, tidak hanya menghibur, tapi dari situ kita bisa mengambil hikmah dan juga sambil mengevaluasi diri. So kali ini, let me reviewed a currently airing K-drama named Misaeng (미생).

Berawal dari rekomendasi kakak saya (yang suka banget Korean-things), saya diberitahu tentang serial drama Korea baru ini. Awalnya saya tak terlalu tertarik karena “sok” sibuk dengan status pengangguran banyak acara yang baru saja saya sandang per akhir Oktober lalu :p. Tapi kemudian saya pun mencoba untuk melihatnya.

48975-266502

Misaeng (Hangul: 미생 – Misaeng) atau berarti “an incomplete life” merupakan live version dari serial komik online di Korea. Drama ini merupakan yang pertama melakukan syuting di Yordania. Episode pertamanya cukup membuat saya penasaran karena scene awalnya berlatarkan “Petra”, salah satu World Heritage yang ada di Yordania (*and aye sangat mengimpikannya untuk bisa ke sana😄. Nge-fans abis euy ama saksi peradaban yang satu ini). Selama menonton (sampai tulisan ini dibuat, sudah sampai episode 10) emosi saya dibuat naik turun karenanya (including mewek part :p).

Misaeng bercerita tentang seorang pemuda 26 tahun bernama “Geu Rae” yang tidak pernah duduk di bangku kuliah, dan hanya punya sertifikat GED saja (*semacam ijazah penyetaraan SMA). Namun ia harus menjalani kenyataan untuk masuk ke dunia kerja, di mana skill (pendidikan, bahasa asing, dll) adalah segalanya. Tentu saja, banyak yang nyinyir dengan pemuda tersebut. Bisa kerja apa dengan hanya bermodalkan GED?

Karena jaringan koneksi yang ia dapatkan, ia berkesempatan untuk magang di salah satu international trade company. Tentu saja, selama menjalani magang, ia sangat kewalahan baik dari sisi skill kerja maupun mental karena sering di-ghibah-in oleh teman magang dan kantornya. Akan tetapi, satu hal yang membedakan pemuda ini dengan mereka, bahwa walaupun ia kalah dalam hal skill, ia memiliki kemauan dan keseriusan untuk belajar (dan bekerja) secara totalitas.

Yang paling menarik buat saya, Geu Rae senantiasa mengaitkan pengalaman yang ia alami sehari-hari dengan permainan “Go” (atau dalam bahasa Korea bernama “Baduk”), yaitu semacam catur tradisional China. Ia bisa menemukan dan mengaitkan antara strategi bermain baduk dengan kehidupan yang ia alami. Di sini letak filosofisnya, bagian mencari makna, refleksi hidup dan belajar darinya. Dan saya suka sekali itu.

Di balik sosok Geu Rae yang sepertinya tidak ada apa-apanya, sebenarnya ia adalah seorang calon pemain baduk profesional. Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu berkutat dengan baduk dan menghabiskan 10 jam tiap harinya untuk berlatih. Namun, ia gagal untuk menjadi seorang pro sehingga di usianya yang 26 tahun, dia dianggap terlambat karena tidak memiliki keterampilan lain.

Saat magang, ia berada di bawah supervisi Dong Shik dan manajer Oh Sang-shik. Dua orang ini merupakan pekerja keras, ekspresif namun memiliki kepribadian yang hangat. Dari merekalah, Geu Rae banyak belajar tentang kehidupan nyata dan budaya perusahaan.

Selain Geu Rae, ada juga 3 tokoh lain (Young Yi, Baek Ki dan Yoon Shik) sesama pegawai baru, yang memiliki latar belakang pendidikan dan skill sangat menyilaukan. Geu Rae dan ketiga koleganya, di dalam drama ini, menghadapi tantangan masing-masing. Dari situ, mereka belajar tentang kenyataan yang dihadapi di dalam sebuah perusahaan.

***

Buat yang pernah (atau sedang) bekerja tentu ada pengalaman yang mirip-mirip dengan yang dikisahkan di dalam drama ini. Dari film ini saya mencoba merefleksikan pengalaman saya selama mencicipi dunia kerja formal walaupun tak terlalu lama, hanya 1 tahun 8 bulan.

Meskipun tempat saya berkarya adalah sebuah NGO (not a commercial or profit oriented company in which lebih keras persaingannya), tapi dari pengalaman tersebut saya sangat menyadari bahwa apa yang saya pelajari selama menempuh pendidikan formal mulai dari SD sampai S2 tidaklah cukup sebagai “bekal” untuk terjun di dunia masyarakat dengan tantangannya yang begitu nyata. Tidak selalu yang namanya skill dan latar belakang pendidikan adalah segalanya di dunia kerja. Banyak hal-hal praktikal yang belum pernah kita pelajari, temui atau alami selama di bangku pendidikan formal.

Menurut saya, proses belajar itu takkan pernah berhenti dimanapun kita berada, termasuk di dunia kerja. Kita tak boleh membatasi diri dan merasa “jumawa” dengan apa yang sudah kita raih dan menutup diri untuk belajar. Sangatlah penting, men-sari-kan pengalaman hidup untuk mendapat hikmah agar kita menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menjalani hidup.

Jaa, bagi yang tertarik untuk menontonnya via streaming online, bisa dilihat di tautan ini: MISAENG watch. Selamat belajar dan berjuang dalam berkarya di dunia masyarakat. Welcome to real world🙂

PS: Diterjemahkan dan diolah dari berbagai sumber (Asian Wiki dan Drama wiki)

3 thoughts on “[K-Drama] Misaeng

  1. Saya sudah nonton sampai episode 10 dan lagi stuck belum lanjut lagi ._. tapi emang pelajaran berharga banyak didapatkan di drama ini, ga melulu cinta2an yg di dapet kaya drama korea lain tapi gimana kita bisa terus survive dalam dunia kerja dan bisa belajar arti kehidupan sebenarnya🙂

  2. salam kenal mba chiku. saya juga baru nonton drama ini dan memang banyak pesan moral yang didapat. tidak seperti kebanyakan drama yang menyuguhkan romansa saja
    nice review🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s