[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca 🙂

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry Port yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

“Justru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

“Kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s