[Share] Membuat Paspor Bayi

Sebagai bagian dari proses administratif untuk ke luar negeri, satu hal yang pasti adalah membuat PASPOR. Hal ini juga berlaku untuk bayi sekalipun. Oleh karenanya, saya pun mulai menyusun strategi sejak sebulan yang lalu dan berjuang ngantri-ngantri lagi hari ini.

Berdasarkan info dari kakak saya yang baru saja membuat paspor Januari lalu, antrian di kantor imigrasi Bekasi sudah ramai sejak pagi-pagi. 

Akhirnya saya pun berangkat dari rumah pukul 05.30 dan sampai di Kanim Bekasi jam 06.10. Sesampainya di sana, sungguh luar biasa. Antrian di depan gerbang Kanim sudah mengular panjang, padahal gerbang baru dibuka pukul 06.30. Berdasarkan info dari penjual materai keliling yang membantu mengurus barisan antrian, biasanya orang-orang sudah mulai mengantri dari jam 4 pagi. Subhanallah XD

Suasana jam 6.15 pagi. Gapura di ujung itu Kantornya. Bisa dibayangin berapa panjangnya antrian.

Mengapa sebegitunya? Hal ini karena ada batas maksimal pemohon walk in hanya 250 orang saja per hari, sehingga mau nggak mau memang harus datang pagi untuk dapat nomor antrian dan gak kehabisan.

Selain itu, entah mengapa sistem pendaftaran online paspornya sedang under maintenance dalam waktu yang cukup lama. Sehingga, opsi satu-satunya adalah dengan pendaftaran manual (walk in) langsung di kanim.

Saat mengantri pengecekan dokumen asli dan pengambilan nomor antrian, saya mendapat nomor 107 sekitar pukul 07.20. Lumayan lah berdiri sejam lebih. Jadi siap-siapin aja tenaga, hiburan dan cemilan sarapan selama mengantri 😀

Oh ya, berhubung kasihan si dedek bayi kalau ikut ngantri pagi-pagi, ada baiknya yang ngantri ngambil nomor adalah ayah atau ibunya si debay. Kita berangkat duluan habis subuh. Debay baru datang nyusul setelah urusan nomor antrian beres supaya gak kelamaan nunggu dan rewel.

Nah, berikut ini syarat dokumen untuk pembuatan paspor baru bayi:

  1. E-KTP Asli dan 1 fotokopi e-KTP kedua orang tua (Fotokopian KTP ortunya dijadikan satu dalam 1 lembar kertas A4 yang sama, tidak dipotong)
  2. Akta kelahiran anak asli dan 1 fotokopi
  3. Kartu Keluarga (KK) asli dan 1 fotokopi. Pastikan anak yang akan dibuatkan paspor sudah masuk di KK tsb.
  4. Buku nikah ortu dan 1 fotokopi
  5. Paspor asli orang tua dan fotokopi
  6. Formulir permohonan paspor (dikasih di Kanim, gratis)
  7. Formulir pernyataan belum memiliki paspor (dikasih di Kanim, gratis)
  8. Formulir pernyataan orang tua (dikasih di Kanim, gratis)
  9. Materai 6000 rupiah sebanyak 2 (dua) lembar untuk formulir pernyataan nomor 7 & 8.
  10. Bawa alat pendukung: lem kertas untuk menempel materai, bolpoin warna hitam dan botol minum.
Syarat pembuatan paspor

Dokumen asli akan dicek dan diperlihatkan saat pengambilan nomor antrian. Pastikan syarat-syarat di atas disiapkan ya. Kalau gak lengkap, akan ditolak dan terpaksa ngantri lagi. Saat saya antri, banyak kasus orang yang tidak membawa dokumen aslinya, karena mengira hanya akan ambil nomor.

Kalau belum ada fotokopian dokumen or ada yang belum sesuai formatnya dan juga belum bawa materai, jangan khawatir. Di dekat Kanim ada tempat fotokopian dan penjual materai. Sayangnya saya kurang tahu harganya berapa.

Lanjut lagi ceritanya. Setelah mendapat nomor antrian, saya masuk ke ruang Kanim. Alhamdulillah tempatnya sudah jauh lebih nyaman dibanding saat saya ke sana tahun 2015 lalu. Renovasi sudah selesai. Ruangannya ber-AC, lantai marmer bersih, kursi pengunjung yang banyak, ada sistem antrian yang jelas, dispenser + air minum gratis dan ruang menyusui.

Kemudian, saya pun duduk sambil mengisi formulir. Setelah saya selesai mengisi formulir, sekitar jam 8 saya mengontak ortu di rumah untuk datang membawa debay. Perjalanan dari rumah ke Kanim Bekasi sekitar satu jam.

Sekitar jam 8.30  saya pun mengantri untuk submit dokumen ke customer service. Walaupun saya dapat nomor 107, tapi ada pengecualian untuk bayi dan manula. Bisa langsung submit dokumen tanpa menunggu antrian (*saya nunggu dan menyesuaikan waktu dedek mandi, siap-siap dan perjalanan ke Kanim Bekasi). Alhamdulillah saya dapat nomor antrian foto dan wawancara nomor 34. 

Kalau normalnya, untuk proses submit dokumen nomor 100an baru bisa dilakukan jam 10-11, dan foto wawancara sekitar jam 14.

Saat ibu saya dan dedek tiba di Kanim jam 9, alhamdulillah pas banget dipanggil untuk giliran foto. Sesi pengambilan foto pun gak terlalu susah. Dek zahra cukup kooperatif, sekali jepret langsung oke. Fotonya walaupun bermuka cemberut galak, tapi mata fokus ke kamera dan kepala tegak. Hehehe… 

Overall, dedek langsung masuk, cek ulang data untuk paspor, jepret foto, trus pulang. Gak sampai 15 menit selesai :D. 
Walaupun dedek udah bisa pulang, saya tetap harus menyelesaikan proses birokrasi yang tersisa. Saya perlu mengambil bukti resi pembayaran, kemudian membayarnya di teller bank saat perjalanan pulang. Total biayanya adalah Rp 355.000,- untuk paspor 48 halaman. Paspor baru bisa diambil setelah 5 hari kerja. InsyaAllah pekan depan Dek Zahra punya paspor :). 

Bismillah. One step closer to go to Germany. Semoga lancar!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s