[Share] Pembelajaran dari Kolokium

Selama studi di Uni Bonn, saya berada di bawah institut BIGS Oriental and Asian Studies dan mengerjakan disertasi di bawah bimbingan Prof. Antweiler.

Sistem perkuliahan di institut saya, tidak menerapkan jam kantor; maksudnya tidak harus masuk setiap hari kerja pada jam tertentu. Saya hanya perlu mengambil beberapa courses dan seminar terkait academic dan soft-skills, year group meeting berkala, mengikuti konferensi (baik sebagai presenter maupun panitia), serta menyelesaikan riset yang sifatnya individu.

Nah, ada satu lagi aktivitas akademik lain yang saya ikuti secara rutin, yaitu kolokium bersama Prof dan teman-teman lain (S1, S2 dan S3) yang berada dalam satu bimbingan Prof. Antweiler.

Prof. Antweiler merupakan seorang Antropolog dengan kekhususan studi Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya. Beliau juga merupakan kepala Departemen Southeast Asian Studies di Institute of Oriental and Asian Studies.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, beruntung mendapat supervisor seperti beliau yang sangat ramah, humoris, inspiratif dan motivatif. Mulanya, saya sempat khawatir seperti apa supervisor saya. Saya baru bisa bertemu profesor setelah sebulan+ dari kedatangan di Jerman. Selama masa penantian itu, saya dipenuhi asumsi yang kurang baik tentang “supervisor”, terlebih saat mendengar cerita teman lain yang mendapat supervisor yang strict dan tak bersahabat.

Alhamdulillah, setelah mendengar testimoni teman lain yang satu bimbingan dan kemudian bertemu langsung dengan beliau, bayangan negatif dan asumsi saya tentang supervisor tidak terbukti 😆.

***

Saya baru pertama kali ikut kegiatan belajar yang bentuknya kolokium. Kolokium Prof. Antweiler diadakan seminggu sekali selama 90 menit. Kolokium ini sifatnya tidak wajib, tapi disarankan untuk ikut.

Kolokium kami diadakan di ruang kerja Prof. Biasanya ada sekitar 6-10 orang mahasiswa yang ikut dalam kolokium ini. Kami duduk melingkar sehingga proses diskusi lebih mudah dan terasa lebih “informal” dan santai.

Aktivitas yang dilakukan dalam kolokium, antara lain sharing informasi penting (misal konferensi/ seminar, call for proposal, info buku atau jurnal, job vacancy, dll), presentasi dan sharing progres penelitian/ abstrak konferensi, juga “curhat” tentang permasalahan/ stagnansi yang dihadapi saat melakukan penelitian.

Buat saya, ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang saya dapatkan dari kolokium ini.

Setiap kali ada konferensi atau presentasi progress, saya latihan alias gladi bersih dulu di kolokium ini. Profesor dan teman-teman memberikan pertanyaan sekaligus masukan yang konstruktif terkait konten maupun teknis presentasi.

Oya, manfaat ikut kolokium tidak selalu terkait dengan penelitian, tapi ada kalanya ide-ide lain bermunculan terkait rencana masa depan saya jika menjadi akademisi (dosen) dan peneliti kelak (aamiin). Salah satunya, bentuk/ model dosen yang baik, inspiratif dan menumbuhkan.

Prof tidak melulu membahas seputar dunia penelitian dan tugas akhir yang kami jalani sekarang. Beliau juga sering mengingatkan kami tentang bagaimana rencana studi dan karir ke depan, khususnya bagaimana riset yang kami lakukan sekarang, tidak membatasi pilihan karir atau kerja nanti.

Juga yang saya sangat suka, tips-tips aplikatif dalam menjalankan tugas sebagai mahasiswa dan peneliti. Dari pengalaman puluhan tahun, banyak hal yang beliau sarikan dan bagikan kepada kami. Misal, tips bagaimana membuat power point dan cara presentasi yang tidak membosankan, dan sebagainya.

***

Selain info dan tips dari Prof, kami para peserta kolokium juga berkesempatan untuk mendengarkan presentasi dan curhatan akademik mahasiswa lain. Dengan topik penelitian yang beragam dan studi kasus di berbagai negara, dari mereka saya mendapatkan pengetahuan baru tentang isu tertentu. Kemudian saya mencoba mengaitkannya dengan kondisi di Indonesia.

Tak hanya mendengarkan, kami juga bebas untuk memberikan feedback, pertanyaan, masukan atau rekomendasi terkait presentasi curhat akademik mereka. Dari sinilah, saya merasa dilatih untuk menganalisa, menelaah, dan berpikir kritis dalam problem solving.

***

Jika suatu hari nanti saya menjadi dosen, tampaknya model kolokium ini menjadi pilihan “menarik” dan efektif dalam memberikan “bimbingan” tambahan bagi para mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhirnya. Jadi, bimbingan yang dilakukan tidak hanya pertemuan one by one saja. Menurut saya, kolokium ini bisa jadi sumber penyemangat tambahan dalam mengerjakan tugas akhir.

Hmm… Mengingat model ini belum biasa diterapkan di tanah air, bisa jadi akan ada tantangan dalam penerapannya. Tapi ini hanya asumsi. Semoga bisa saya buktikan dan laksanakan di masa depan. Aamiin 😊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s