[Story] Menikmati Layanan Kesehatan Jerman – Part 1

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Qodarullah, pekan lalu saya kena kecelakaan kecil, jatuh dari tangga di gedung apartemen. Saat itu, saya sedang menggendong si nona dan memang agak tergesa-gesa karena mengejar jadwal tram & bus menuju lokasi playgroup pekanan.

Mungkin karena gak fokus, di anak tangga ketiga dari bawah, saya kehilangan pijakan. Dan sepersekian detik sebelum jatuh, saya refleks berpegangan ke tiang tangga agar si nona gak kegencet atau terluka.

Saya mendarat di lantai dengan posisi dengkul di bawah, dan pergelangan kaki masih tertinggal di anak tangga kedua (kaki ketekuk gitu), dan kedua tangan berpegangan di sisi tangga menahan badan agar tidak jatuh (*kalau jatuh, nona yang ada di badan depan saya bisa kegencet/ terbentur kepalanya XD)

Alhamdulillah si nona baik-baik saja di gendongan, malah ketawa senang (*dikira diajak emaknya main perosotan kali ya XD). Tapi, subhannallah, pergelangan kaki kanan saya sakit luar biasa. Saya kira ini wajar, layaknya orang keseleo. Tapi ada rasa yang berbeda dari keseleo umumnya.

Akhirnya saya memilih untuk istirahat dulu di rumah, gak langsung ke dokter karena anggapan “keseleo itu biasa” dan saya dengar urusan bikin appointment di praktik dokter/ klinik di Jerman agak panjang, terlebih saya baru saja pindah asuransi ke publik (sebelumnya privat). Saat telpon klinik ortopedi dekat rumah, jadwal yg available (dengan asuransi publik) baru lowong bulan Juni (^^”). Ya, wis selak mari larane XD. Akhirnya saya memilih home rest sampai lumayan bisa jalan. Berharap kondisi kaki membaik.

Nah, seminggu setelah kejadian, kaki saya takkunjung membaik, bahkan bengkak lumayan besar dan ada semacam gumpalan darah di sisi pergelangan kaki dan punggung kaki. Ini membuat warna kulit jadi kebiruan/ ungu.

Dengan dorongan suami dan tips dari temen-teman, akhirnya saya disarankan untuk langsung datang ke klinik ortopedinya. Biasanya, kalau datang langsung, dokternya bisa nerima pasien dadakan walau tidak membuat perjanjian sebelumnya. Saya dan suami pas ada termin untuk tanda tangan kontrak apartemen yang baru di kantor STW. Jadi setelah dari sana, kami memutuskan sekalian ke klinik dokter ortopedi dekat kantor, sekitar 400 meter.

Alhamdulillah, petugas kliniknya langsung mau menerima saya walau dengan asuransi publik dan dokternya mau memeriksa tanpa perjanjian. Sang dokter melihat bengkak di kaki, dan meminta untuk rontgen. Hasilnya, ternyata ada retak di pergelangan kaki saya.

It’s bad. Your ankle is broken“, kata dokternya. Saya yang mendengar kenyataan ini langsung shock, karena gak mengira kalau tulang saya sampai retak. Takkira cuma keseleo biasa 😭

Warna biru di kaki menunjukkan adanya gumpalan pendarahan akibat adanya retakan di tulang tadi. Begitu penjelasan dokter. Untuk opsi penanganannya, di gips atau operasi.

Mendengar kata operasi, saya langsung ngilu. Jadi saya meminta untuk di gips saja. Tapi berhubung klinik tidak bisa menangani tindakan medis yang agak parah, maka saya dirujuk untuk berobat di RS dekat klinik. Ini RS memang spesialisasi untuk ortopedi. Alhamdulillah, lokasinya dekat, hanya 200 meter dari klinik.

Sesampainya di RS, saya dan suami langsung menyerahkan surat rujukan. Dan kami diminta untuk antri menunggu panggilan pemeriksaan. Nah, ini lumayan lama. Saya menunggu giliran hampir 4 jam, karena memang banyak antrian pasien lainnya.

Sembari menunggu antrian, saya mencoba menelaah apa hikmah dari kejadian ini. Sambil membunuh waktu, saya juga mencoba mengobservasi dan menelaah bagaimana sistem layanan kesehatan di Jerman. Mulai dari klinik dokter (praxis), asuransi kesehatan privat vs asuransi publik, administrasi/ birokrasi rumah sakit, alur pengobatan dan layanan kesehatan di Jerman, dsb. Intinya, saya jadi bersyukur mendapat pengalaman ini, karena bisa mengamati dan mengalami secara langsung seperti apa dan bagaimana layanan kesehatan di Jerman :D.

Nah, setelah diperiksa dokter RS, saya diminta untuk rontgen kaki lagi karena hasil rontgen di klinik kurang menyeluruh. Di RS, mereka punya CT scanner/ MRI.

Saya pun kagum, wow, pertama kali lihat en nyoba alat CT scanner langsung XD. Biasanya cuma lihat di film-film aja. Perawat dan petugasnya ramah en mostly bisa bahasa Inggris, juga mengajak saya becanda agar gak stres.

Beberapa saat kemudian, dokter melihat hasil CT scan dan kemudian beliau memutuskan: “It’s better to do an operation for your broken ankle”

Whaaaat 😨😖😫😰

To be continued….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.