[Share] Seleksi Beasiswa LPDP Part 4: Interview

Di bagian terakhir dari serial postingan seleksi beasiswa LPDP, saya akan membahas tentang verifikasi dokumen dan wawancara.

Verifikasi Dokumen

Untuk tahapan ini, walaupun terlihat “mudah”, namun sifatnya sangat krusial dan penting dalam proses seleksi beasiswa LPDP. Verifikasi dokumen dilakukan bisa sebelum atau sesudah tahapan essay on the spot dan LGD, tapi PASTI dilakukan sebelum wawancara. Jika ada satu saja dokumen yang ditunjukkan tidak asli dan tidak sesuai dengan saat yang digunakan saat seleksi administrasi online, maka kita tidak bisa mengikuti seleksi wawancara (means kita gugur).

Oleh karena itu, jangan sampai ada dokumen yang tertinggal sebelum menuju hari H ujian. Jangan lupa untuk double check kelengkapan dokumen yang diminta untuk diverifikasi. Dokumen yang dibawa merupakan Dokumen Asli (Bukan Fotocopy/ Legalisir/ hasil Scan), dan dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan ketentuan yang diminta (lembar kontrol verfikasi dokumen dan urutannya akan disampaikan melalui email bersamaan dengan jadwal seleksi).

download

Dokumen yang harus dibawa, antara lain:

  1. KTP (Kartu Tanda Penduduk) asli
  2. Print Lembar Kontrol Verifikasi Dokumen
  3. Print Out Formulir Pendaftaran
  4. Proposal Penelitian (Program Doktoral)
  5. Ijazah (S1/S2)
  6. Transkrip Nilai (S1/S2)
  7. Sertifikat TOEFL / IELTS/ Sertifikat Bahasa asing lainnya
  8. Surat Pernyataan Bermaterai
  9. Surat Ijin Belajar sesuai format LPDP (Bagi Yang sedang Bekerja/PNS)
  10. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP
  11. LoA Unconditional/ Conditional (Bagi Yang sudah Memiliki)
  12. STR (Program Dokter Spesialis)
  13. Surat Berbadan Sehat dan Bebas Narkoba
  14. SKCK dari Polres
  15. Foto 3×4/ 4×6 berwarna 1 lembar untuk ditempel di Kartu Peserta (untuk seleksi)

Nah, untuk verifikasi dokumen ini, peserta akan dibagi menjadi beberapa gelombang jadwal. Jadi dicek saja kapan jadwal verifikasinya. Kemudian, tiap peserta yang akan diverifikasi dokumennya akan dipanggil satu per satu ke meja verifikator, jadi gak usah khawatir akan berdesak-desakan dan rebutan siapa duluan. Yang penting siapkan telinga saat dipanggil dan bersabar aja ya 😀

WAWANCARA

Untuk bagian wawancara, ini yang paling bikin deg-degan. Tiap calon awardee pasti punya cerita dan pengalaman tersendiri. Dari info yang saya dapatkan dari rekan-rekan yang pernah wawancara, ada beberapa pertanyaan dari interviewer yang sangat substantif alias terkait dengan riset. Ada yang mix antara kehidupan pribadi plus substantif. Bahkan ada juga pertanyaan yang gak disangka-sangka.

Tapi paling tidak ada beberapa persamaan dalam proses wawancara:

  1. Ada 3 interviewers: 1 orang psikolog (yang akan memperhatikan sikap dan psikologis kita), 1 orang ahli bidang kita (minimal doktor/ professor), dan 1 orang lagi biasanya profesional (praktisi) atau akademisi.
  2. Bahasa yang digunakan dalam wawancara disesuaikan dengan tujuan (dalam negeri atau luar negeri). Karena saya program doktoral luar negeri, jadi mulai duduk sampai pamitan, all conducted in English.
  3. Interviewer biasanya baru membaca profil lengkap dan rencana studi kita saat kita sampai di meja interview. Jadi, saat ditanya, presentasikan dengan selengkap-lengkapnya proposal rencana riset kita (tapi ya jangan kepanjangan). Jangan sampai bohong juga, karena biasanya interviewer akan kroscek informasi yang kita submit online dengan jawaban lisan kita.
  4. Perkenalan diri. Di awal pasti diminta perkenalan diri, nama, latar belakang studi, mau kuliah di mana, mengapa, dan belajar/ riset apa.

Nah, selain pertanyaan di atas, ada beragam variasi pertanyaan yang kita gak bisa prediksi. Beda interviewer, beda orientasi pertanyaannya. Saran saya, keep calm dan tetep be yourself.

Kalau pengalaman saya, beberapa pertanyaan yang ditanyakan adalah sbb:

  1. Perkenalan diri secara singkat.
  2. Presentasi proposal riset dan beberapa pertanyaan substantif riset terkait latar belakang, rumusan masalah, teori, dan metode.
  3. Apa manfaat riset bagi Indonesia?
  4. Mengapa memilih Jerman? Mengapa tidak di Asia (*mengingat minat studi saya adalah Asian Studies)
  5. Rencana pasca-studi S3.

Alhamdulillah selama proses wawancara, saya bisa menyampaikan dengan lancar. Walaupun sempet keringat dingin karena “agak dibantai” dengan serangkaian pertanyaan substantif terkait riset saya. Berasa seperti sidang skripsi/ tesis lagi. hehehe…

Di akhir wawancara, salah satu interviewer memberikan beberapa masukan substantif terkait proposal riset saya. Menurut beliau, saya sebaiknya mengubah sudut pandang riset supaya lebih general dan implementatif untuk konteks di tanah air.

Kira-kira begitu gambaran singkat proses wawancara saya.

Nah, setelah menunggu kira-kira 3-4 pekan setelah jadwal seleksi substansi, akhirnya hari pengumuman pun tiba. Alhamdulillah, pada 21 Desember 2015 sore pukul 16.30 saya mendapat email notifikasi tentang penerimaan beasiswanya, dan saya resmi menjadi salah satu dari 1000-an awardee BPI LPDP Batch IV tahun 2015. Allahu Akbar! (*sujud syukur).

Pengumuman beasiswa LPDP hanyalah awal mula dari proses panjang. Masih banyak proses dan perjuangan lain yang menanti (*persiapan PK dan juga pencarian LoA. Juga persiapan administratif untuk keberangkatan lainnya). Bismillah, semoga dilancarkan, diberkahi dan diridhoi Allah swt hingga hari H keberangkatan ke Jerman tahun 2017 nanti. aamiin…

Semangat dan selamat berjuang ya, para pejuang ilmu 🙂

Advertisements

[Share] Journey to Germany: LoA – Bonn University

Setelah sebelumnya di Part 1 saya berbagi pengalaman tentang proses perjalanan menuju studi di Jerman secara umum, di bagian ini saya akan membahas khusus bagaimana proses saya bisa mendapatkan LoA dari program The Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies (BIGS-OAS).

Sesudah kesulitan, ada kemudahan. Alhamdulillah, saya merasakan betul makna dari perjuangan mendapatkan LoA di kampus Jerman (karena sudah ditolak berkali-kali). Setelah mendapat kepastian penolakan dari Hamburg University di bulan April 2016, saya mulai menyicil revisi proposal riset saya, sambil mempersiapkan aplikasi program yang ada di Bonn University.

Kenapa Bonn University? Karena setelah meng-googling, saya menemukan kecocokan antara program yang ditawarkan, kesesuaian minat saya, serta deadline aplikasinya di bulan Juni (banyak kampus lain yang sudah terlewat pendaftarannya yang mostly akhir/ awal tahun). –> hikmah dari pengalaman saya, kalau bisa, saat mencari LoA sebaiknya langsung daftar ke beberapa program/ kampus sekaligus. Kalau saya, tipenya satu per satu apply-nya. Kalau gagal, baru lanjut ke pencarian berikutnya. Ini agak berbahaya kalau waktunya mepet ^^”.

Saat browsing di website Bonn University, saya temukan 2 program doktoral yang sesuai dengan minat riset saya terkait Asian Studies yaitu di Program ZEF dan BIGS – OAS.  Mengingat batas waktu penyerahan LoA ke LPDP yang semakin mepet (6 months remaining), maka saya pun harus berkejaran dengan waktu. Terlebih, ada rezeki tak disangka-sangka di tengah perjuangan saya mencari LoA, yang menyebabkan saya harus menunda keberangkatan studi ke Jerman ke tahun 2017.  Saya merasa rezeki yang saya (dan suami) dapatkan ini jauh lebih prioritas, daripada memaksakan berangkat studi ke Jerman dalam waktu dekat.

Maka, sembari mempersiapkan aplikasi ke Bonn University, saya pun mencoba menghubungi CS LPDP terkait kemungkinan defer (penundaan) studi karena alasan kehamilan dan melahirkan. Juga kemungkinan dari program doktoral yang hendak saya daftar untuk memberikan LoA lebih awal (mid 2016) walaupun saya baru bisa intake kuliah mid 2017.

Alhamdulillah, saya mendapat sinyal positif dari CS LPDP dengan syarat saya tetap harus menyerahkan LoA sebelum batas waktu berakhir (Desember 2016), serta adanya persetujuan dari kampus yang saya apply untuk penundaan studi ke intake 2017.

Dan kemudahan lainnya saya dapatkan pula dari BIGS-OAS dan ZEF. Setelah saya mengirim email tentang kondisi saya, ZEF merespon dengan positif. Mereka meminta saya untuk segera memasukkan aplikasi saya, walaupun kemungkinan proses seleksi sampai tahap pengumuman memakan waktu sampai 3 bulan (padahal belum tentu keterima juga XD). Hal ini terjadi karena mereka perlu waktu untuk  menyeleksi berkas saya, serta mencari profesor yang bersedia dan available untuk menjadi supervisor saya di tahun 2017.

Adapun sinyal yang lebih positif saya dapatkan dari BIGS-OAS. Saya mendapat banyak bantuan dan kemudahan terkait kondisi saya di atas. Saya pun diminta untuk segera mengirimkan ringkasan proposal riset, dan kemudian menyusulkan aplikasi lengkapnya. Akhirnya, saya memilih untuk mendaftar ke BIGS-OAS dibandingkan ZEF karena pertimbangan waktu dan chance mendapatkan LoA (*pragmatis mode).

Oya, perlu menjadi catatan bahwa di program ZEF dan BIGS OAS, aplikan tidak perlu mengontak dan mendapatkan profesor terlebih dahulu. Justru dari program-lah yang akan mencarikan profesor yang sesuai dengan tema riset kita. Jadi, beda program studi, bisa beda case ya. Bisa jadi di program doktoral lainnya, mereka meminta dapat persetujuan profesor dulu baru kemudian berkas aplikasi lain menyusul.

==========================================

Berikut ini beberapa syarat dokumen yang harus saya lengkapi untuk aplikasi ke BIGS-OAS:

The application package must include the following documents:

  • a completed application form*
  • an outline of the proposed doctoral project
  • a curriculum vitae
  • two letters of recommendation
  • copies of all degrees received
  • a copy of the B.A. or M.A. thesis (or an equivalent final paper)
  • evidence of proficiency in the major source or field language relevant to source analysis or the dissertation project.
  • proof of proficiency in German or English (not applicable, if applicants are native speakers of German or/and English or if applicants have graduated from an German/English speaking university)
  • The application deadline is June 15 of any year. (Later applications may also be accepted.)
  • Please submit your application package as ONE PDF document via email.

Application requirements:

Applicants must hold a M.A. or equivalent with an above-average grade of „very good“ in a relevant doctoral studies discipline of BIGS-OAS from a German university or an equivalent degree from a foreign university (more information). The admission to the graduate program expects participants to have advanced German or English language proficiency (more information).

Proposed doctoral project:

Applicants are expected to conduct an outline of their proposed doctoral project on a maximum of six pages. Apart from a description of topics, the abstract should include the contribution to existing research, use of theoretical and methodological concepts, and also a preliminary working plan. Moreover, applicants must show evidence of proficiency in the major source or field language relevant to their dissertation project.

The outline proposed by the applicant will be considered as preliminary thoughts for possible doctoral projects. As a rule, participants do not join the program with a finished project plan, instead the first year of studies is designed for participants to formulate an adequate topic with researchers and/or scholars. Therefore the working title chosen at the beginning of the doctoral program can be changed after the first year.

Selection process:

The executive committee of BIGS-OAS selects the participants. Experts (a member of the subject or field from the university) can serve as a consultant during the selection process. An important decision criterion is the applicant’s academic qualification. Promising applicants will be contacted for a personal interview which takes place in August. These interviews can also be held in form of a telephone interview. All applicants will be notified by the end of August.

===========================

Setelah berjibaku merombak proposal (ini yang paling sulit) dan memenuhi semua persyaratan, saya pun kemudian mengirimkan aplikasi saya pada 1 Juli 2016. Beruntung, late application benar-benar masih bisa dipertimbangkan. Mungkin karena saya mendaftarnya untuk intake 2017 yaaa (?). hehehe…

Dan Alhamdulillah, setelah 20 hari aplikasi saya masuk, saya mendapatkan email pengumuman penerimaan di program BIGS – OAS, dan saya mendapatkan profesor, yang seorang etnolog dan ahli Indonesia. Beliau bersedia menjadi pembimbing saya di tahun 2017 nanti (*Alhamdulillah yaa Allah, sujud syukur TT___TT).

Dan sebulan kemudian (sekitar pertengahan Agustus 2016), saya pun resmi mendapat LoA pada program BIGS-OAS dan surat keterangan supervisi Profesor. Proses mendapatkan LoA ini pun setelah melalui serangkaian revisi agar sesuai dengan ketentuan dari LPDP dan aplikasi VISA Jerman (nanti) . *Alhamdulillah, terima kasih banyak untuk koordinator programnya yang sudah sabar dan berbaik hati membantu walaupun di Jerman lagi libur musim panas.

14138708_10157342452025402_5512131887939618982_o
Ini LoAnya

Setelah mendapatkan LoA ini, bukan berarti perjuangan sudah selesai. Masih banyak hal administratif dan birokrasi lainnya yang harus disiapkan. Jalan menuju Jerman masih panjang. Namun, semoga dimudahkan dan dilancarkan prosesnya hingga hari H keberangkatan dan mulai studi di Bonn nanti. aamiin….

PS: Intinya, saat proses mencari LoA teruslah berjuang  dan rajin-rajin berkomunikasi dengan program koordinatornya. Sesudah kesulitan, selalu ada kemudahan. Selamat berjuang, para pencari ilmu :)!

[Share] Webinar Inspira: Studi di Taiwan & Persiapan LPDP

Berikut ini adalah link rekaman webinar yang diadakan oleh Inspira pada Jumat, 23 September 2016 yang lalu. Materinya seputar pengalaman saya selama studi di Taiwan dan proses seleksi beasiswa doktoral luar negeri LPDP ke Jerman.

Untuk materi PPT nya, bisa diunduh di tautan berikut: Materi Webinar Inspira

Adapun beberapa pertanyaan yang dibahas dalam webinar ini, sbb:

  1. Seberapa besarkah peluang pelajar dari Indonesia bisa mendapatkan beasiswa dari pemerintah Taiwan? Tips-tips penting apakah yang bisa mbak Chiku bagi untuk teman-teman yang ingin kuliah di Taiwan?
  2. Apa yang harus diperhatikan saat mendaftar beasiswa selain persyaratan dokumen yang sudah jelas? Step apa saja yang bisanya terlewatkan (kesalahan umum) dalam mendaftar beasiswa dan bagaimana cara mengatasinya?
  3. Jurusan apakah yang paling digemari pelajar indonesia untuk dipelajari ketika kuliah di Taiwan?
  4. Banyak teman-teman yang kadang bingung dalam menentukan jurusan. Misalkan ada dua jurusan yang benar-benar sesuai dengan apa yang mereka cari, prospek keduanya juga sangat bagus. Nah, berikan tips bagaimana cara menentukan pilihan akhir dari jurusan dan menyelaraskannya dengan rencana masa depan?
  5. Apakah mbak Chiku bisa menjelaskan bagaimana proses transfer jurusan atau pindah jurusan bagi yang nggak krasan atau nggak betah terhadap jurusan yang pertama kali dipilih? Atau mungkin buat teman-teman D3 yang ingin kuliah S1 di Taiwan?
  6. Hal yang harus dipersiapkan sebelum berangkat kuliah ke taiwan selain persyaratan akademik, berikan tips-tipsnya?
  7. Seberapa pentingkah penguasaan bahasa mandarin/ cina di taiwan? Atau dengan modal bahasa inggris dan sertifikat bahasa inggris saja kita sudah bisa kuliah di taiwan?
  8. Untuk pelajar, visa apa yang biasa digunakan? Jika dipertengahan kuliah masa berlaku habis, bagaimanakah prosesi memperpanjangnya?
  9. Seberapa pentingkah kita memiliki surat rekomendasi. Siapa sajakah yang pantas dan sebaiknya dimintai surat rekomendasi. Bagaimanakah tips untuk mendapatkan surat rekomendasi dari orang yang kita kehendaki?
  10. Dalam seleksi adminitrasi, kita harus menulis essay. Menurut mbak Chiku essay yang baik itu seperti apa sih, terutama untuk Sukses Terbesar dan Kontribusi bagi Indonesia. Mungkin bisa diberikan 3 poin penting untuk setiap essay.
  11. Nah, untuk essay Rencana Studi, apa yang harus kita tuliskan di dalamnya. Apakah kita juga perlu menuliskan rencana anggaran jika dalam tesis/ penelitian kita mengeluarkan dana?
  12. Dalam seleksi LPDP biasanya banyak pelamar yang gagal di wawancara. Sebenarnya gambaran dalam wawancara sendiri seperti apa sih mbak? Seperti apakah pertanyaan2nya, dan apa yang harus dipersiapkan?
  13. Mungkin bisa dijelaskan tentang LGD dan On The Spot Essay Writing itu prosesnya seperti apa dan apa yang harus dipersiapkan?
  14. Seperti apakah gambaran dalam mengikuti PK (Persiapan Keberangkatan), apa yang harus dipersiapkan untuk mengikuti PK?
  15. Di LPDP jika membawa anak/ istri kabarnya akan ditanggung biaya hidupnya walaupun tidak seluruhnya. Nah, jika saat melamar dan lolos kita belum menikah, dan setelah satu tahun kuliah menikah, apakah istri/ suami juga mendapatkan tunjangan?
  16. Berikan kesimpulan dan motivasi untuk teman-teman pelajar di Indonesia yang ingin mendaftar kuliah ke luar negeri menggunakan beasiswa LPDP/ Taiwan scholarship. Bagaimanakah cara terbaik untuk memantaskan diri agar bisa meraih beasiswa yang diinginkan?

InsyaAllah dalam kesempatan postingan berikutnya, akan saya usahakan untuk memaparkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas secara tertulis. Yosh, ganbarou!

Terima kasih banyak untuk Mas Imam dan rekan-rekan Inspira Book yang sudah mengundang saya untuk share di webinarnya. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dan kurang optimal baik secara teknis maupun konten (*gak dandan euy saya –> tutup mukaaa).

[Share] Journey to Study in Germany (Part 1)

“In life, many things don’t go according to plan. If you fall, get back up. If you stumble, regain your balance. Never give up!” – Unknown

Perkenalkan, saya Retno Widyastuti yang akrab disapa Chiku. Saya adalah alumni Ilmu Hubungan Internasional UGM, Kajian Wilayah Jepang UI dan Asia Pacific Studies NCCU Taiwan. Alhamdulillah, pada Desember 2015 saya dinyatakan lolos seleksi tahap akhir beasiswa Doktoral Luar Negeri LPDP Batch IV 2015. Saat ikut seleksi beasiswa LPDP, saya belum mendapat LoA sehingga saya perlu berkejaran dengan batas waktu 1 tahun untuk diterima tanpa syarat (unconditional acceptance) di salah satu Universitas di Jerman, yang menjadi negara tujuan saya.

Mengapa Jerman? Negara ini mungkin terlihat anti-mainstream untuk para mahasiswa Indonesia yang berlatarbelakangkan ilmu Sosial Politik, apalagi dengan fokus kajian Kawasan Asia seperti saya. Jujur, sebelumnya saya tidak terpikir untuk melanjutkan di negara ini. Namun, jalan hidup saya; berjumpa dengan laki-laki yang menjadi suami saya dan rencana bersama menuntut ilmu di Jerman, membawa saya pada pilihan ini. Alhamdulillah, setelah saya pelajari dan telusuri lebih lanjut terkait kampus-kampus di Jerman dan perkembangan kajian Asianya, saya pun berangsur mulai ‘berdamai’ dengan diri sendiri dan perlahan-lahan menyukainya.

Proses dan perjalanan saya dalam berburu LoA (yang akhirnya berlabuh di Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies BIGS – OAS, Bonn University) tidaklah mulus. Selama tujuh bulan, berbagai penolakan saya hadapi: 3 program doktoral di 3 universitas (Freie Univ, Humboldt Univ dan Hamburg Univ) dan 2 profesor (karena alasan birokrasi dan masa pensiun).

Tentu, berat rasanya untuk bangkit kembali setelah terpuruk dari penolakan. Tapi, di situlah pentingnya semangat pantang menyerah dan juga dukungan serta doa dari orang-orang terdekat kita. Juga, bagaimana kita BELAJAR mengambil HIKMAH dari proses dan penolakan ini.

Saya pun berdiskusi dengan suami, dan menganalisa kira-kira apa yang menjadi alasan penolakan tersebut (terutama dari structured doctoral program). Kemudian, saya pun mengatur ulang strategi aplikasi saya. Berikut ini beberapa catatan pembelajaran aplikasi saya yang (semoga) bisa menjadi gambaran bagi rekan-rekan sekalian:

  1. Buatlah Daftar Universitas dan Program Studi yang Sesuai dengan Minat Studi dan Bidang Riset

Idealnya, kita punya daftar lebih dari satu kampus dan prodi tujuan studi. Ini penting supaya kita selalu punya pilihan dan back-up plan jika terjadi penolakan. Salah satu cara mencari daftar kampus dan prodinya adalah dengan search engine yang disediakan oleh beberapa lembaga pendidikan Jerman:

  1. Buatlah Daftar Nama Professor yang Ahli di Bidang Riset Kita

Untuk daftar nama professor ini, diperlukan in case kalau prodi yang kita ingin apply, mewajibkan adanya approval dari professor terlebih dahulu. Untuk yang ini, saya coba googling dengan kata kunci yang sesuai dengan minat studi dan riset. Misalnya: List of Southeast Asian Studies Professor in Germany. Alhamdulillah, saya mendapat data yang diinginkan dari link ini; http://goo.gl/gjMWmm . Selain mendapat daftar nama professornya, saya juga bisa mengetahui kekhususan minat riset, asal universitas, fakultas dan bahkan link profil mereka di website.

  1. Buatlah Proposal Riset/ Disertasi dengan Realistis

Maksud perlu ‘realistis’ di sini adalah jangan terlalu idealis, namun tetap sesuai dengan minat kita. Proposal riset saya untuk 3 program sebelumnya, dirasa suami dan ayah saya kurang realistis karena terlalu jauh dari kepentingan dan fokus penelitian di program studi/ fakultas atau minat riset profesornya serta kepentingan Indonesia (*nasionalisme muncul).

Saya dinilai terlalu idealis, karena memaksakan apa yang saya mau teliti tanpa melihat ‘kenyataan’ tersebut. Setelah dijedotkan dengan penolakan sebanyak tiga kali, akhirnya saya ‘sadar’ dan merombak total proposal riset saya dan mencoba lebih realistis dengan lebih mempertimbangkan fokus penelitian di jurusan dan minat Profesor ^___^”

Maka, untuk memastikan proposal kita “realistis” atau tidak, mintalah pendapat dan masukan dari orang-orang dekat yang kamu akui kapasitas atau paham tentang risetmu.

  1. Cek Website, Baca dan Catat Hal-hal Detail di Web Program Studi dan atau Universitas

Kadangkala, saking semangatnya kita dalam apply kampus, kita terlupakan dengan hal-hal detail yang penting. Dari pengalaman saya, saya harus berkali-kali membaca SEMUA isi website program studi yang saya inginkan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Sangat rugi jika kita tertolak karena simply urusan administratif.

  1. Siapkan Kelengkapan Aplikasi dan Proposal Riset Jauh-jauh Hari

Mungkin banyak dari kita yang memegang prinsip SKS (sistem kebut semalam) atau semakin mepet, semakin kreatif (*termasuk saya :p). Namun, dari pengalaman saya, prinsip mepet harus dibuang jauh-jauh, karena banyak printilan (hal-hal kecil) yang jika luput kita siapkan, itu berdampak pada timeline yang kita buat (terutama untuk hal-hal birokratis yang jika tahap 1 belum terselesaikan, maka tahap 2 tidak akan bisa dilakukan). Misalnya: rekomendasi dari dosen/ supervisor/ pembimbing kita.

Adapun untuk proposal riset, kumpulkan bahan materi dan bacaan yang relevan dengan minat studi dan risetmu sejak lama. Jangan hanya dikumpulkan, tapi harus dicicil untuk dibaca dan diolah menjadi sebuah proposal yang realistis.

  1. Jangan Pernah Patah Semangat oleh Penolakan

Untuk kita yang terbiasa ‘berhasil’ atau jarang menerima penolakan, maka berhati-hatilah ketika menghadapinya. Karena itu akan membuatmu semakin rentan patah semangat dan patah hati, bahkan nangis berhari-hari (*lebay). Bangkitkan dan tegakkan kembali semangat, luruskan niat, dan lihat kembali tujuan kita melanjutkan studi.

Selain motivasi internal (dari dalam diri), perlu juga motivasi external yang berasal dari orang-orang dekat yang kita percayai. Mereka akan sangat membantu kita untuk kembali ke jalan perjuangan, dan membantu dalam mengevaluasi kegagalan/ penolakan yang kita hadapi.

  1. Hindari Asumsi, Buktikan dengan Fakta

Seringkali dalam menjalani proses, otak kita dipenuhi dengan asumsi-asumsi. “Oh, mungkin gini, oh kayaknya gitu deh”, tapi tanpa bukti atau fakta yang jelas sumbernya dari mana. Maka dari itu, Jika ada hal yang masih tidak jelas/ asumsi, jangan ragu untuk mengontak CP dari program studi yang ingin kita daftar atau bertanya pada orang/ pihak yang tepat dalam memberikan jawaban yang jelas.

Dalam perjalanan, saya seringkali dihantui asumsi dan berprasangka buruk. Alhamdulillah, saya diingatkan oleh suami saya untuk membuktikan asumsi saya dengan bertanya. Misal: saya merasa tidak enak hati meminta rekomendasi dari Prof pembimbing saya saat kuliah S2. Saya berasumsi bahwa beliau sedang sibuk, dan sebal dengan saya yang sering merepotkan. Tapi, setelah saya berani bertanya, ternyata respon yang diberikan jauh dari asumsi saya. Prof. Pembimbing saya dengan sangat senang hati direpoti dan memberikan rekomendasinya.

Prinsipnya, malu bertanya, sesat di jalan! (*tapi jangan kebanyakan nanya-nanya juga kalau belum baca detail ^^”)

***

Sementara, itu dulu cerita dan pengalaman yang bisa saya bagi. Untuk tulisan lebih detail terkait proses teknis mendapatkan LoA dari program BIGS-OAS Bonn University, akan saya sampaikan kemudian. Selamat berjuang, wahai pencari ilmu 🙂

[Share] How to Find a PhD Supervisor

Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang berjibaku mencari supervisor untuk studi doktoral di Jerman nanti. Setelah dua kali ditolak prodi yang diinginkan dan satu calon supervisor (yang akan segera pensiun), semangat saya untuk mencari-cari sempat turun. Tapi, seperti yang suami dan ortu saya sarankan, JANGAN MENYERAH.

Setelah saya nge-blog walking, ternyata banyak dari teman seperjuangan yang mengalami hal serupa (*berkali-kali ditolak maksudnya). Dalam proses ini yang diuji adalah resilience, semangat juang dan keyakinan kita pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Maka, jangan pernah ragu akan ke-MAHA-an Nya.

Sebagai salah satu bentuk ikhtiar, saya browsing beberapa tips dalam mencari supervisor. Tips di bawah saya share ke teman-teman sebagai gambaran bagaimana teknis proses pencariannya (diterjemahkan dan disesuaikan dari website Freie Universitat Berlin).

Bagaimana Cara Mencari Supervisor?

1. Bukalah laman website dari Universitas yang departemen atau program studinya sesuai dan dekat kaitannya dengan minat topik proposal/ disertasi yang hendak kita tulis.

2. Pilih institut atau tema/ disiplin ilmu yang sesuai dengan topik penelitian. Universitas atau departemen yang besar biasanya membagi unit/ wilayah penelitian ke beberapa bidang. Sedangkan yang lebih kecil, biasanya langsung memberikan informasi tentang professor yang berada di departemennya.

3. Pelajari profil para professor dan pilihlah yang keahliannya sesuai dengan tema riset/ disertasi kita. Dalam tahap ini, jangan terburu-buru menghubungi professor yang bersangkutan. Gunakan waktu sejenak untuk membaca secara detail informasi terkait penelitian dan publikasi professornya. Apakah ia benar-benar sesuai dengan keinginan kita dan ahli dalam topik yang ingin kita tulis. Kemudian, coba googling profil dan informasi lain seputar professor tersebut dengan lebih lengkap.

4. Ketika sudah mantap, cobalah mengontak professor tersebut. Biasanya kontak/ email beliau terpampang di laman website.

5. Di email awal, usahakan untuk menulis tidak terlalu panjang. Isinya adalah perkenalkan diri mencakup nama, asal universitas, dan bidang studi yang kita pelajari. Kemudian, sampaikan  rencana penelitian/ disertasi dalam satu atau dua kalimat, serta alasan mengapa kita mengontak Professor tersebut. Sertakan pula CV terbaru kita yang menonjolkan pengalaman akademik dan riset. Tidak usah menyertakan informasi yang terlalu lengkap. Jika professornya tertarik, ia akan meminta kita untuk mengirimkan informasi secara lebih lengkap.

6. Kadang kala, perlu waktu yang lama untuk mendapat balasan dan keputusan dari professor tersebut (mau atau tidaknya). Tapi ada juga yang fast response. Pengalaman saya dua kali menghubungi professor, mereka membalas dalam waktu kurang dari 1 x 24 jam. Teman saya ada yang perlu menunggu balasan selama 2 minggu hingga bulanan. Jadi, jangan khawatir.

7. Jika belum berhasil, ulangi proses ini dan jangan putus asa ya. Walau penolakan itu menyakitkan, tapi yakinlah bahwa selalu ada hikmah di baliknya. Entah itu supaya kita memperbaiki usaha kita, atau memang rezeki kita ada di tempat lain (yang pastinya menurut Allah lebih baik untuk kita).

Terus Semangaaat!

Sekian share singkat saya seputar pengalaman mengontak professor. Proses ini masih berlangsung dan sedang saya jalani, tapi tak mengapa.  Itulah seninya berjuang 😀

[Share] Seleksi Beasiswa LPDP Part 3: LGD

Dalam postingan ini, saya akan lanjutkan bahasan tentang pengalaman proses LGD. Sedangkan untuk verifikasi dokumen dan wawancara, karena cukup panjang ceritanya, akan saya sampaikan di postingan berikutnya yaaa 😀

Leaderless Group Discussion (LGD)

LGD ini dilakukan secara berkelompok, terdiri dari 6-10 orang. Saat saya ikut seleksi beasiswa tesis LPDP (tahun 2013), kelompok saya terdiri dari 6 orang. Sedangkan saat seleksi beasiswa S3 LPDP tahun 2015 lalu, kelompok saya ada 10 orang dengan latar belakang ilmu dan tujuan kampus/ negara + jenjang yang berbeda-beda. Semua jurusan digabung, tidak dibedakan hanya sosial saja atau eksak/ sains saja. Jadi, don’t worry 🙂

Dalam sebuah ruangan khusus, 10 peserta akan duduk melingkar dengan membawa name tag masing-masing di meja. Hal ini untuk memudahkan peserta lain dan pengamat untuk mengetahui siapa nama yang berbicara. Oh ya, akan ada 2 orang pengamat yang bertugas untuk mengamati dan mereka tidak akan mengintervensi jalannya diskusi.

business-communications-icebreaker-3

Waktu yang diberikan untuk diskusi yaitu selama 30 menit. Sebelum dimulai, pengamat psikolog yang berjumlah 2 orang akan memberikan soal dan 1 lembar kertas kosong ke masing-masing peserta. Alat tulis disiapkan sendiri oleh peserta. Kemudian, proses LGD dimulai. Selama 5 menit pertama, kita perlu mempelajari soal LGD yang diberikan dan menuliskan kerangka pendapat. Isunya mostly terkait hal-hal yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat, terutama terkait kebijakan pemerintah. Mungkin topik diskusinya akan sangat “sosial” sekali, sehingga dalam beberapa kasus, teman-teman dari dunia eksak perlu usaha yang lebih untuk familiar dengan topiknya. Tapi jangan lengah juga untuk teman-teman dari dunia sosial humaniora, harus tetap update dengan isu terkini.

Kasus yang dibahas di kelompok LGD saya yaitu tentang kebijakan pemerintah dalam memberikan sanksi tambahan terhadap pelaku kejahatan seksual pada anak. Waktu itu memang sedang hangat-hangatnya kasus pelecehan dan pembunuhan anak, sehingga ada masukan tambahan sanksi berupa pengebirian.  Bagaimana pendapat kita, setuju atau tidak dan bagaimana rekomendasi kebijakan tersebut.

Kemudian, selama 25 menit kemudian peserta diminta untuk berdiskusi. Jalan dan alur diskusi diserahkan sepenuhnya kepada peserta, jadi pengamat tidak akan menyela prosesnya (hanya mengingatkan waktu jika sudah mau habis). Terserah siapa yang mau memulai terlebih dahulu, inisiatif dari masing-masing peserta.

Dalam beberapa kasus, saya pernah mendengar bahwa ada beberapa kelompok yang sebelum diskusi dimulai, melakukan pembagian tugas (siapa menjadi apa: moderator/ notulen, dll) dalam diskusi. Namun, pengalaman saya kemarin, kelompok saya tidak melakukan pembagian tugas apapun. Mengalir begitu saja diskusinya.

Fyi, LGD berbeda dengan FGD (focus group discussion). LGD digunakan untuk mengamati perilaku seseorang, sedangkan FGD digunakan untuk mengumpulkan data. Diskusi ini disebut leaderless karena tidak ada kesepakatan sebelumnya mengenai siapa yang menjadi moderator, pemimpin dan sebagainya. Hal ini untuk menunjukkan bahwa semuanya dalam posisi yang sama [*]. Yang terpenting dalam LGD ini, tidak ada orang yang mendominasi dan tidak ada yang tidak kebagian berbicara.

Selain itu, LGD lebih menitikberatkan pada perilaku tampak, atau yang ditampakkan, atau yang diharapkan ditampakkan selama proses diskusi [*]. Maka, tindak tanduk tiap peserta akan diamati selama proses diskusi oleh 2 orang pengamat tadi. Saat jalannya diskusi, akan tampak siapa yang mendominasi, siapa yang pasif, bagaimana cara berbicara, cara menyampaikan persetujuan/ tidak, dan apresiasi terhadap peserta lain.

discuss

Oya, bahasa yang digunakan saat kami seleksi LGD dulu (Batch IV 2015) dilakukan dalam bahasa Indonesia. Saya dengar ada update terbaru bahwa ada kemungkinan untuk peserta yang negara tujuan studinya di luar negeri, beberapa proses seleksi akan dilakukan dalam fully bahasa Inggris (termasuk seleksi essay on the spot dan wawancara).Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan peserta dan merasakan bagaimana suasana diskusi saat studi nanti (which is dalam bidang sosial humaniora pasti akan sering dilakukan). But, perlu dipastikan lagi pada teman-teman yang seleksi di batch setelah saya ^^”

Berikut beberapa masukan/ tips saat LGD a la saya:

  1. Sebelum hari H seleksi LGD dimulai, minimal H-7 hari, biasakan untuk menonton/ membaca berita utama (headline news) di berbagai media cetak, elektronik atau online. Silakan sesuaikan dengan waktu dan preferensi masing-masing. Kalau yang saya lakukan, sejak 2 minggu sebelum seleksi saya mengikuti diskusi di TV Berita (Metro TV dan TV One). Bukan sekedar tahu beritanya saja, tapi ada baiknya juga ikuti diskusi mendalam yang dibahas di media tersebut. Alhamdulillah, saya sangat terbantu dalam memberikan opini (setuju dan tidak setuju) terhadap isu tersebut.
  2. Setelah sesaat mendapatkan soal, di kertas kosong yang diberikan, dalam 5 menit buatlah kerangka utama dan mind map opini kita terhadap isu tersebut.
  3. Jangan pasif atau terlalu aktif dalam berbicara. Ingat-ingat bahwa dalam LGD, partisipasi dalam diskusi sangatlah penting. Beranilah berpendapat. Jangan sampai kita hanya menjadi pengamat, tidak menyampaikan apapun, atau hanya mengangguk-angguk saja. Dan jangan juga menjadi pembicara yang terlalu aktif, dalam artian mendominasi seluruh diskusi. Berikan kesempatan kepada teman lain dalam menyampaikan pendapatnya.
  4. Saat proses diskusi, jangan lupa untuk mencatat nama dan poin utama argumen dari peserta lain, hal ini penting untuk membuat argumen kita selanjutnya (setuju atau tidak dengan mereka) dan juga dalam menyusun struktur kesimpulan dari case study yang diberikan
  5. Sampaikan argumen disertai contoh/ fakta/ data dari studi kasus serupa di tempat atau negara lain.
  6. Sampaikan pendapat dengan runtut, jelas dan terstruktur.  Logika dan jawaban kita memang akan mendapat nilai, namun nilai tertinggi tetap pada bagaimana cara kita menyampaikan logika dan alur berpikir tersebut pada orang lain [*].
  7. Tidak usah terburu-buru dan emosional (apalagi kalau ada peserta lain yang “menyerang” pendapat). Orang yang sangat pandai, tapi cara menyampaikan idenya tidak karuan, tetap nilai amatannya akan jelek [*].
  8. Rangkum/ summarize pendapat peserta lain. Berbicara terlalu sedikit akan dinilai sebagai bebek pengikut, berbicara terlalu banyak akan dinilai sebagai otoriter yang dominan. Titik temunya adalah meringkas berbagai pendapat yang muncul, entah hasil pendapat pribadi atau pendapat beberapa rekan (di sini pentingnya mencatat poin penting peserta lain). Tidak perlu menjadi seorang pemimpin diskusi untuk meringkas pendapat orang lain [*]. Ketika meringkas, menemukan kesamaan pandang dalam dua pendapat yang berbeda, adalah celah yang dapat dimanfaatkan. Kita dapat menanyakan pendapat dari rekan yang cenderung diam. Hal ini akan menunjukkan kita memiliki kepekaan terhadap orang lain [*].
  9. Rileks dan jangan lupa untuk senyum. Hal ini akan sangat membantu diri sendiri dalam proses diskusi dan menunjukkan ketenangan dalam berpikir 😀
  10. Catat hasil diskusi dan kesimpulan. Walaupun tidak ada tugas khusus sebagai notulen, namun ada baiknya setiap kita mencatatnya di kertas masing-masing. Di satu sisi hal ini akan membantu proses pemahaman esensi diskusi, selain itu juga karena kertas notulen yang kita buat dikumpulkan saat diskusi sudah selesai.
  11. Jangan lupa etika dalam diskusi. Etika yang dimaksud adalah tidak menyela pembicaraan, menggunakan bahasa yang sopan, dan menyampaikan persetujuan/ tidak setuju dengan cara yang baik (maksudnya tidak menjatuhkan atau menjelek-jelekkan peserta lain ketika kita tidak setuju)

***

Satu hal yang perlu dipahami, bahwa esensi dari LGD ini bukan hanya untuk keperluan seleksi beasiswa LPDP saja, tetapi menurut saya kita jadi bisa merasakan bagaimana ketika berkuliah atau bekerja nanti kita dihadapkan hal yang serupa. Saat bekerja/ belajar dalam satu tim (team work), diskusi akan sering dilakukan dan kita dituntut untuk menemukan solusi dari permasalahan bersama untuk mencapai tujuan. Maka dari itu, tips-tips di atas tidak semata-mata “settingan” karena hendak seleksi beasiswa saja. Tapi ada baiknya untuk diterapkan setiap kali kita melakukan diskusi.

Just my two cents. Sekian.

Referensi:

[*] Menembus Seleksi Diskusi: http://lantai-13.blogspot.co.id/2013/01/menembus-seleksi-diskusi.html

[Share] Seleksi Beasiswa LPDP – Part 2

Setelah di postingan sebelumnya saya memaparkan selayang pandang LPDP, di sini akan saya share pengalaman seleksi beasiswa LPDP dari awal sampai pengumuman hasil seleksi. Jika di-googling, memang sudah banyak rekan-rekan lain yang menulis dan share pengalamannya dalam seleksi serupa, namun perkenankan di sini saya berbagi cerita versi saya, khususnya untuk seleksi program Doktoral Luar Negeri.

Sebagai informasi, LPDP memiliki 5 macam program beasiswa pendidikan Indonesia, antara lain:

1) Beasiswa Magister/ Doktoral (Dalam/ Luar Negeri)
2) Beasiswa Tesis/ Disertasi (Dalam/Luar Negeri)
3) Beasiswa Pendidikan Indonesia Dokter Spesialis (Dalam Negeri)
4) Beasiswa Presiden Republik Indonesia
5) Beasiswa Afirmasi

Sedikit mengulang kembali, ada beberapa tema/ bidang studi yang menjadi prioritas LPDP yang dipandang akan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan Indonesia di masa depan, antara lain:

  1. Prioritas pertama, antara lain: maritim, perikanan, pertanian, ketahanan energi, ketahanan pangan, industri kreatif, dan pendidikan.
  2. Prioritas kedua: manajemen pendidikan, teknologi transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi medis dan kesehatan.
  3.  Prioritas ketiga: lingkungan, agama, vokasi, ekonomi atau keuangan syariah, bahasa atau budaya, sains terapan, dan hukum bisnis internasional.

Jadi, bagi yang bidang studi atau jurusannya tercakup dalam prioritas di atas bisa ikutan daftar beasiswa LPDP. Nah, dengan beasiswa LPDP ini, kita bisa melanjutkan studi hampir di seluruh negara di dunia! Jadi, ini semacam kesempatan emas untuk menuntut ilmu di negeri impianmu, tanpa terlalu terbebani dengan biaya hidup dan biaya kuliah. Informasi lengkap tentang universitas dan negara mana saja yang menjadi rekomendasi LPDP untuk studi, bisa cek di SINI.

Then, let me explain dan share tentang proses pendaftaran dan seleksinya (versi pengalaman saya):

1. Seleksi Administratif (Online)

Untuk pendaftaran beasiswanya, seluruh proses pendaftaran dan seleksi administratif dilakukan secara online via WEBSITE LPDP. LPDP membuka kesempatan sepanjang tahun. Namun, untuk proses seleksinya dibagi menjadi 4 kali dalam setahun (untuk studi master, doktor, spesialis dan afirmasi), sedangkan untuk beasiswa tesis dan disertasi sebanyak 2 kali dalam setahun. Jadi, silakan atur strategi dan life plan-nya. Info jadwal bisa diunduh di SINI.

Screenshot 2016-02-13 19.32.04

Nah, sebelum submit aplikasi onlinenya, ada baiknya rekan-rekan menyiapkan semua berkas yang diminta dalam bentuk soft-file (scan) dan juga lengkapi isian formulir onlinenya. Persyaratan lengkap bisa dilihat di SINI. Sebagai catatan, perbedaan syarat administratif yang berbeda antara seleksi sebelumnya dengan proses yang saya jalani adalah adanya syarat surat keterangan sehat + bebas TBC (khusus untuk luar negeri) dari rumah sakit pemerintah (RSUD dan semacamnya), bukan dari puskesmas/ dokter pribadi/ klinik. Saya memperoleh surat keterangan sehat dan bebas TBC dari RSUD Pasar Rebo, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Untuk proses tes kesehatannya, kita tinggal mendatangi bagian Medical Check Up, dan petugasnya sudah paham apa saja tes yang harus diambil dan dijalani untuk keperluan LPDP.

Untuk medical check up ini, siap-siap uangnya yaaa. Karena untuk mendapatkan hasil yang valid (tidak hanya sekedar formalitas –> terkait keperluan jangka panjang), perlu tes yang cukup banyak. Biaya yang dikeluarkan bervariasi antara Rp 150.000 – Rp 700.000 tergantung fasilitas dan pelayanan rumah sakitnya.

Untuk syarat administratif lainnya seperti essay kontribusi untuk Indonesia dan sukses terbesar, bisa disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang kita masing-masing. Contoh tulisan esai yang saya buat bisa dilihat di:

Perlu menjadi perhatian bahwa dalam seleksi administratif ini, sebisa mungkin untuk dilengkapi persyaratannya sesuai dengan ketentuan yang diberikan LPDP. Jangan lupa juga untuk mengecek berulang kali, jangan sampai ada yang terlewat apalagi kita sepelekan. Karena jika ada yang kurang, kita bisa gagal di proses ini (bahkan meskipun jika kita sudah memiliki LoA dari kampus top dunia sekalipun).

Kemudian, satu hal lagi yang terpenting adalah kejujuran dalam memenuhi semua persyaratan administratif. Jangan sekali-kali berbuat curang dengan memalsukan dokumen (yang pernah saya dengar adalah pemalsuan TOEFL score report) karena ini mencederai integritas sekaligus termasuk perbuatan pidana. Sanksi dari pemalsuan dokumen ini adalah black list dari beasiswa LPDP.

2. Seleksi Substansi (Verifikasi Doukumen, Wawancara, LGD & Essay on the spot)

Proses seleksi dari satu tahap ke tahap lainnya menurut saya cukup cepat. Setelah sekitar dua minggu submit aplikasi online (15 Oktober 2015), pengumuman lulus seleksi administratif disampaikan melalui email masing-masing (check your inbox and spam as well) dan notifikasi via SMS. Alhamdulillah, saya lulus di tahap ini dan bersiap untuk lanjut ke seleksi substansi. Jadwal detail seleksi ini disampaikan ke email, jadi perhatikan baik-baik kapan dan dimana kita seleksi. Setahu saya, seleksi substansi diadakan di berbagai kota besar di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Saya kedapatan seleksi di UNJ Rawamangun, tidak terlalu jauh dari rumah :).

Ada baiknya kita hadir lebih awal dari jadwal yang ditentukan agar kita bisa cepat beradaptasi dan lebih familiar dengan situasi lokasi ujian, serta hal ini juga bisa mengurangi grogi. Saya ingat, jadwal seleksi saya adalah jam 8 sampai jam 16.30. Walau sudah sering ke UNJ, tapi saya usahakan tetap datang awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kalau datang mepet *terutama karena macet atau hujan deras. Saat sampai di sana, sudah cukup banyak calon awardee yang hadir lebih pagi dan duduk rapi di lobi gedung.

Oya, dalam beberapa kasus, ada yang jadwal seleksinya 2 hari, ada juga yang dalam 1 hari (untuk 4 rangkaian seleksi substansi). Silakan cek jadwal masing-masing. Alhamdulillah seleksi saya dilakukan dalam satu hari penuh, jadi tidak perlu repot bolak balik. Jadwal seleksi yang saya dapatkan adalah essay on the spot (30 menit) terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh leaderless group discussion/ LGD (30 menit juga). Setelah itu verifikasi dokumen. Baru kemudian setelah verifikasi dokumen beres, baru bisa mengikuti seleksi wawancara.

Essay on the Spot

Seperti namanya, seleksi ini adalah menulis esai berbahasa Indonesia di tempat. Tes yang ini relatif baru diadakan (untuk beberapa batch terakhir). Waktu yang diberikan untuk membaca soal, menulis hingga menyelesaikan esai adalah 30 menit. Ada dua soal, dan kita diminta untuk memilih salah satunya. Soal yang diberikan berupa opini/ pendapat kita terhadap suatu kasus/ permasalahan yang sedang marak diperbincangkan di tanah air beberapa waktu terakhir, serta penjelasan alasan mengapa.

Saran saya, cobalah untuk mengikuti berita yang menjadi isu utama (headline) dan pembahasannya baik di media elektronik maupun media cetak/ online). Alhamdulillah, saya banyak terbantu dalam mengerjakan seleksi esai ini karena rajin menonton dan mengikuti diskusi topik dari news channel (Metr* TV dan TV On*) setiap pagi dan petangnya. Saran lainnya, jangan lupa untuk menyiapkan alat tulis yang lengkap sendiri-sendiri (usahakan menghindari saling pinjam), seperti: bolpen + cadangan, tip ex, dan alat tulis lain sesuai keperluan.

Untuk postingan terkait LGD, Verifikasi Dokumen dan Wawancara, mohon ditunggu di postingan berikutnya yaaak XD. To be continued….