[Travel] Berkunjung ke Brunei, Negeri para Sultan

Brunei. Yang terbayang adalah negeri mungil namun kaya raya dan banyak minyaknya. Sewaktu kecil dulu, ibu saya pernah mengatakan bahwa di Brunei sana ada istana dan masjid berkubah emas. hoho~ Langsung kebayang kisah-kisah negeri 1001 malam.

Untuk para traveler pada umumnya, bisa dikatakan bahwa Brunei bukanlah destinasi wisata yang jadi prioritas untuk dikunjungi, terutama jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Hal ini terlihat dari beberapa postingan dan review beberapa orang backpackers yang berseliweran di dunia maya. Kebanyakan dari mereka menyebutkan bahwa Brunei itu “membosankan”. Pun lagi dari sisi akomodasi dan transportasi di Brunei tidak semudah negara lainnya.

uy

Tapi, kata-kata mereka tak menyurutkan niat saya untuk berkunjung ke negeri Sultan ini. Karena saya yakin, se-apa-pun sebuah kota atau negara, pasti punya keunikan dan kekhasan masing-masing yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Tak hanya dari sisi alamnya, tetapi juga dari sisi orang-orang dan budayanya. Terlebih setelah mengenal dunia antropologi dan sosiologi, jadilah setiap tempat, budaya dan orang-orang itu UNIK!

Berbekal jaringan pertemanan dan rencana “escape from thesis” menuju Northern Borneo (baca di SINI), sampailah saya di negeri para Sultan pada pertengahan Mei 2014 lalu.  Alhamdulillah, saya memiliki seorang kawan asli Brunei, yang saya jumpai pada tahun 2007 di Vientiane, Laos pada sebuah event mahasiswa dan akademisi se-ASEAN.

Ini foto tahun 2007 itu. Saat masih muda dan langsing. Aih~
Ini foto tahun 2007 itu; Indonesian feat Bruneian

Langsung menuju cerita. Kunjungan saya ke Brunei ini hanya sebentar saja, kalau dihitung jam, gak sampai 24 jam; sampai di lokasi hari Jumat siang, berangkat lagi Sabtu pagi menuju Kota Kinabalu. Sungguh sangat singkat (*nyesek TT____TT). Belum lagi saya kurang informasi, bahwa hari Jumat adalah hari libur di Brunei. Jadi banyak lokasi dan tempat yang tidak beroperasi. Tapi tak mengapa. Waktu yang terbatas tersebut tetap bisa saya optimalkan dengan sebaiknya. Alhamdulillah, memiliki kenalan yang tinggal di daerah tersebut sangat membantu proses mengenal lokasi dengan efektif dan efisien.

Sebelum ke bagian jalan-jalannya, sedikit informasi, saat saya ke Brunei, jalur masuk yang saya lalui adalah lewat darat dari Miri (Sarawak) dengan menggunakan mobil sewa bersama yang saya pesan melalui penginapan backpackers di Miri. Sesampainya di perbatasan imigrasi Brunei, saya sempat dicegat. Kaget, karena untuk warga negara Indonesia, diwajibkan untuk menunjukkan uang cash sebesar B$ 300 (sekitar NTD 7,200 atau Rp 2.900.000) XD! Saya mendadak panik, karena saya tidak tahu persyaratan ini dan tidak pernah ada yang menyebutkan tentang hal tersebut di berbagai blog.

Saat itu, saya hanya memiliki beberapa Ringgit Malaysia dan Taiwan dollar saja, yang jumlahnya tidak sampai sepertujuh yang diminta. Alhamdulillah, dengan bantuan pak supir mobil sewa tersebut, saya bisa melewati imigrasi dengan lancar. Namun saya harus tetap bisa meyakinkan mereka dengan menunjukkan kartu mahasiswa Taiwan, tanda booking penginapan dan informasi seputar kawan saya yang orang Brunei itu.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada syarat “uang tunjuk” seperti ini? Berdasarkan penjelasan pak supir, beliau menyebutkan bahwa banyak sekali WNI yang secara ilegal bekerja di Brunei dan menyalahgunakan izin visa turis. Memang, gaji di Brunei (walo untuk pekerjaan informal or domestik) terbilang cukup tinggi, sehingga banyak orang yang mengadu nasib walaupun itu dengan cara yang nekat. Selain WNI, warga negara Vietnam termasuk juga sebagai “patut dicurigai”. Kebijakan ini mungkin tidak berlaku jika kita berkunjung ke Brunei melalui jalur udara.

Sekarang, mari menuju ke cerita jalan-jalannya. Terkait akses transportasi umum, jika dibandingkan ibukota negara lainnya, di Bandar Sri Begawan (BSB) bisa dikatakan cukup sulit untuk mendapatkannya. Hanya ada sedikit mini-bus yang beroperasi di jam-jam tertentu dan tidak setiap wilayah terlewati. Salah satu alasannya adalah karena tingkat ekonomi masyarakat Brunei yang cukup tinggi dan harga mobil serta bensin tergolong “murah”, maka transportasi umum tidak populer di negeri ini. Kebanyakan masyarakat menyetir sendiri kendaraannya. Saya sempat panik saat mengetahui kondisi ini. Tapi, Alhamdulillah kawan saya berbaik hati mengantar saya berkeliling BSB dengan mobil pribadinya. But, jangan khawatir, walau terbatas masih ada transportasi umum koq. Biayanya hanya B$ 1 per sekali naik per orang. Terlampir peta rute bisnya:

Brunei Bus Line
Brunei Bus Line

Nah, untuk akomodasi selama di BSB, bisa cek informasi lengkapnya bisa click di SINI. Biaya penginapannya berkisar B$ 10 – 20 per orang per malam, tergantung jenis akomodasinya. Kalau saya, sewaktu di sana dibantu oleh kawan saya dalam mencari penginapan 😀

IMG_5460
Halte bisnya seperti ini

Where to go in Bandar Sri Begawan? Yang pasti harus berkunjung ke SOAS alias masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang menjadi icon kota BSB ini. Kubahnya asli emas lho :D. Kalau gak percaya, silakan cek sendiri keasliannya :b. Di sekitar SOAS, ada beberapa tempat wisata lainnya, seperti gedung pemerintahan dan juga pusat oleh-oleh. Untuk menuju ke daerah ini, ada cukup banyak transportasi umum karena letaknya memang berdekatan dengan terminal pusat kota.

SOAS!
SOAS!
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
Tampilan samping SOAS
Tampilan samping SOAS

Selain ke SOAS, kita bisa juga berkunjung ke Kampong Ayer (kampung Air) atau juga dikenal sebagai Venice of the East (Antonio Pigafetta).  Ada banyak rumah yang didirikan di atas sungai, bahkan menurut beberapa sumber, kampung ayer ini dihuni oleh lebih dari 30,000 orang! Bisa dibayangkan betapa luasnya kawasan di atas air ini. Orang-orang Brunei sudah tinggal di sini lebih dari 1300 tahun. Dari cerita kawanku yang seorang dosen Sejarah di UBD, ia menyebutkan bahwa pusat perdagangan dan juga kesultanan Brunei pada awalnya semua berada di atas air. Barulah di era modern kesultanan pindah ke daratan. Informasi lengkap tentang Kampong Ayer bisa dibaca di SINI. Buat yang ingin berkeliling, bisa menyewa perahu.

IMG_5474
Kampung Ayer!

Kemudian, setelah itu bisa berkeliling kota BSB, melewati istana Sultan yang benar-benar megah, museum nasional Brunei, makam para keluarga Kerajaan Sultan, dsb. Menurut penuturan kawan saya, untuk mengelilingi BSB tidak perlu sampai sehari karena memang dari ukurannya, ibukota negara ini cukup kecil. Dengan mobil pribadi, bisa ditempuh 4-5 jam saja sambil mampir ke beberapa tempat. Tapi ingat, kalau mau ke Brunei sebisa mungkin selain hari Jumat ya supaya bisa masuk ke tempat-tempat tersebut. Khusus untuk istana sultan, masyarakat umum hanya bisa masuk ke sana saat Idul Fitri saja. Mungkin kalau ada yang mau berlebaran di Brunei, bisa tuh mampir ke istana sambil bertemu para Sultan dan keluarganya 🙂

Setelah puas berkeliling, kawan saya mengajak makan makanan khas Brunei di sebuah restoran yang sangat terkenal di Brunei bernama Aminah Arif Restaurant. Masakan Brunei dari sisi tampilan dan rasa, tidak jauh berbeda dengan yang ada di tanah air. Hanya nama makanan dan juga beberapa campuran bumbunya saja yang berbeda. Ada semacam papeda bernama Ambuyat yang terbuat dari tepung sagu. Biasanya ia dimakan dengan kuah gulai bercampur durian (seperti tempoyak). Kawan saya memberikan tips bagaimana membuat ambuyat yang “berhasil” (sagu tercampur rata dengan air). Oya, tak disangka, pramusaji di restoran tersebut adalah mas-mas yang berasal dari Jawa Tengah. Saya pun takjub, sambil kemudian mengajak ngobrol mas tersebut dengan bahasa Jawa. Dunia terasa sempit 🙂

IMG_5548
Makanan khas Brunei. Ada Ambuyat, semacam papeda dari Indonesia Timur

Then, bagi yang mencari oleh-oleh, untuk pusat perbelanjaan dan jajanan, bisa berkunjung ke daerah Gadong. Terdapat sebuah mall di sana, dan juga beberapa tempat makan semacam McD. Tapi saya tidak sempat masuk ke mall tersebut, hanya saja saya sempat diantarkan kawan ke sebuah craft center untuk membeli beberapa magnet Brunei, kartu pos dan Sampul Hari Pertama (buat para filatelis pasti suka ini :D). Di sana, saya berjumpa ibu-ibu penjual souvenir yang ternyata berasal dari Nusa Tenggara Barat 🙂

Ngomong-ngomong soal McD, saya teringat, saya mengalami kesulitan dalam menemukan akses internet yang gratis (*maklum backpacker gak modal :p). Setelah berkeliling, akhirnya saya temukan juga ada akses wifi gratis di McD. Namun untuk mendapatkan passwordnya, saya perlu bertanya ke mbak-mbak pramusajinya. Dengan membeli segelas es krim (menu yang paling murah :p), kemudian saya bertanya apa passwordnya :D. Setelah itu, cukup berdiri di luar McD, tanpa perlu jajan lagi, akses wifi bisa didapat. hahaha….

Oya, saya sempat mampir juga ke UBD alias Universiti Brunei Darussalam. Kampus ini terletak agak jauh dari pusat kota (walau sebenarnya gak jauh-jauh amat). Kampus UBD memiliki beberapa fakultas, dan juga asrama mahasiswa. Menurut kawan saya, di sini ada asrama super lux dan mahal luar biasa untuk para anak orang kaya Brunei. Dari situ, ada subsidi silang untuk mahasiswa yang kurang mampu agar bisa tinggal dan menuntut ilmu di UBD.  Belum terlalu banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Brunei. Tapi bagi yang tertarik, terdapat beasiswa yang ditawarkan oleh Pemerintah Brunei untuk warga negara Indonesia. Bagi yang berminat bisa cek informasinya via googling ya 🙂

Suasana kampus UBD yang asri
Suasana kampus UBD yang asri

Terakhir, satu hal yang berkesan dari kunjungan saya ke Brunei. Saat mampir ke sebuah masjid untuk sholat Ashar, saya sempat menyaksikan prosesi pernikahan khas Brunei di masjid tersebut. MaashaAllah, sungguh terpana. Secara kultural, tidak jauh berbeda dengan yang ada di Malaysia dan Indonesia bagian Sumatra. Pakaiannya sangat khas Melayu sekali. Kawan saya berkata, memang untuk akad nikah di Brunei biasanya diadakan pada hari Jumat sore, setelah sholat Ashar. Kemudian walimatul ursy-nya diadakan pada Jumat malam atau hari Sabtunya.

Pernikahan ala Brunei
Pernikahan ala Brunei

Selain itu, hal lain yang cukup membuat saya terkesan adalah diskusi saya dengan kawan saya terkait penerapan syariat Islam di Brunei, yang sempat mengguncang dunia melalui sikap tegas dan berwibawanya Sultan Bolkiah. Menurut pandangan kawan saya, banyak orang yang kontra belum mengerti benar tentang apa itu syariat Islam yang sesungguhnya, namun mereka sudah keburu “anti” dan menganggap kejam. Ia menambahkan, dengan penerapan syariat Islam ini, Sultan Bolkiah berusaha untuk menjaga kehidupan masyarakat Brunei dengan lebih baik lagi.

Ah, andai saja saya punya waktu lebih, bisa berdiskusi panjang tentang hal ini dan juga Brunei secara keseluruhan. Semoga di waktu yang akan datang, saya bisa mendapat kesempatan berkunjung lagi dan belajar lebih dalam tentang negeri para Sultan ini. aamiin…

Advertisements

[Travel] Backpacking to Northern Borneo

Pernahkah kawan menginjakkan kaki ke tanah Borneo? Pulau terbesar di dunia yang lebih kita kenal dengan sebutan Kalimantan ini, memiliki wilayah yang dikelola oleh 3 negara berbeda: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Alhamdulillah, pada awal Mei 2014 lalu, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di sana, khususnya di wilayah Northern Borneo; Sabah – Sarawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam. Dengan semangat “conquering ASEAN countries before AEC 2015”, maka kulakukan misi “Backpacking to Northern Borneo”. Dengan perjalanan ini, maka dari total 10 Negara ASEAN, masih ada 3 negara lain yang belum kujelajahi; Myanmar, Kamboja dan Vietnam. Will be my next target 😀

0
Ini rute perjalanannya

Perjalanan 8 hari 7 malam ini mengunjungi 4 kota; KK, Kuching, Miri dan BSB, dengan rute sebagai berikut:

Ada banyak hal yang kupelajari dalam perjalanan kali ini, terutama dalam hal sejarah dan budaya yang ada di Eastern Malaysia dan Brunei. Menarik juga, melihat sisi lain dari Malaysia Timur yang somehow memiliki banyak perbedaan dengan Malaysia semenanjung. Di sini, mayoritas masyarakat yang tinggal adalah etnis China dan suku asli Borneo (kalo di Indonesia salah satunya Dayak).

Selama di sana, aku sering dikira sebagai orang Malaysia semenanjung. Bisa dimaklumi, selain dari jilbab, juga dari sisi komunikasi; “Saya boleh cakap Malay a ;)”. Kemampuan bahasa Melayu (dan somewhat Mandarin) sangat ditempa di sini. Dari beberapa percakapan dengan orang Malaysia etnis China, mereka menyebutkan bahwa dalam keseharian mereka lebih sering berbicara dalam bahasa Hokkian, tapi sesekali tetap berbahasa Mandarin dan Melayu logat mandarin :). Bahasa Inggris pun juga kadang-kadang dipakai. Maka, bilamana awak nak pergi ke sana, siap boleh cakap campur-campur lah 🙂

Trus, dari sisi budaya, selain budaya China yang kental (ditunjukkan dengan banyaknya temple Dao seperti di Taiwan), budaya orang asli Borneo sangat dipromosikan di sini. Dari berbagai jenis souvenir, banyak yang mirip-mirip dengan kerajinan khas daerah Kalimantan bagian Indonesia (manik-manik, dan juga ukiran khas Dayak). Dari situ, aku tersadar bahwasanya perbedaan wilayah secara politis tidak menjadikan budaya “Dayak” terbagi-bagi. Karena orang asli tersebut sudah mendiami tanah Borneo sebelum hadirnya para pendatang, jadi baik di Kalimantan bagian Indonesia, Malaysia or Brunei kebudayaan orang asli banyak kemiripan. So, I think we can’t easily claimed that kebudayaan tersebut adalah murni sepenuhnya milik Indonesia, Malaysia atau Brunei.

Selain itu, hal lain yang kualami adalah merasakan keramahan ala budaya Melayu. Sungguh, nostalgic! Berasa kembali ke masa kecil ketika tinggal di tanah Sumatera, kutemui banyak orang dengan keramahan serupa.

Dan terkait dengan pengalaman paling berkesan adalah ketika aku akhirnya memutuskan untuk mengambil perjalanan darat selama 9 jam dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu dengan bis. Berdasarkan informasi yang kukumpulkan sebelumnya, sebenarnya ada 2 cara alternatif untuk bepergian dari dan ke Bandar Seri Begawan – Kota Kinabalu (Sabah).

1
Dua alternatif rute dari dan ke BSB – KK

Begini pilihannya:

1) Jalur Darat plus Laut via Labuan

Dari BSB ke KK via darat plus laut, menghabiskan waktu sekitar 8 jam perjalanan (termasuk transit di Labuan). Keunggulan dari rute ini adalah lebih murah dibandingkan rute darat, dan cenderung lebih tidak ribet dari sisi imigrasi karena hanya perlu melewati 2 kali gerbang imigrasi (Brunei di Muara dan Malaysia di Pulau Labuan).

Kekurangannya (versiku) adalah calon penumpang harus berangkat awal dari Brunei, skitar jam 06.00 dengan harus memperhatikan detail perhitungan waktu karena harus berpindah moda transportasi beberapa kali. Mengutip dan mengadaptasikan informasi yang kudapatkan dari website INI, berikut ini detailnya:

  • 06.00 – 06.30: Menuju Bus Terminal BSB, bisa dengan shuttle bus (B$1) atau taksi. Mohon diingat, shuttle bus ini baru mulai beroperasi jam 06.30 dan selesai jam 18.00, durasi lewatnya setiap 20 menit sekali, jadi harus diperhitungkan baik-baik. Berikut di bawah ini adalah rute shuttle bus untuk dalam kota BSB dan menuju Muara.

Brunei Bus Line

 

  • 06.30 – 07.00: Dari Bus Terminal BSB, naik bus no. 39 menuju Muara. Ongkosnya B$2. Bis menuju ke sana setiap 30 menit sekali, dan beroperasi dari jam 06.30 sampai jam 19.00. Lama perjalanan sekitar 45-60 menit. Perlu diperhatikan, bis ini tidak sampai ke Ferry Terminal, sehingga di Muara perlu ganti bis nomor 33, turun di Serasa Ferry Terminal. Saat ganti bis, tidak perlu bayar lagi, tapi jangan lupa untuk minta cap transfer kepada kondektur/ sopir bis Muara
  • 08.00 – 11.00: Naik ferry dari Muara (Brunei) menuju Labuan (Malaysia). Harga tiket ferry B$18 (sekitar NTD 430 = Rp 170.000,-). Jadwal ferrynya jam 08.00, 08.30, 15.30 dan 16.00. Perlu diingat, beberapa ferry mensyaratkan untuk penumpang boarding paling lambat 30 menit sebelum berangkat. Jadi harus siap-siap yah. Waktu tempuh perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam. Fyi, ada pemeriksaan imigrasi (cap paspor) di Muara/ Serasa Ferry terminal dan di Labuan (Sabah – Malaysia). Oya, bagi yang mau stay for one night di Labuan juga bisa, sambil jalan-jalan keliling pulau. Labuan ini cukup “menarik” lho. Lengkapnya baca di SINI
  • 13.00 – 15.00: Labuan ferry menuju Jesselton Ferry Terminal di Kota Kinabalu. Ferry rute ini beroperasi pada jam 13.00 dan 15.00. Waktu tempuh perjalanan sekitar 1,5 – 2 jam dengan biaya RM 35 (lower deck) atau RM 39 upper deck (sekitar NTD 365 = Rp 142.000,-). Btw, ferry yang digunakan beda dengan ferry dari Brunei yah, jadi harus beli tiket terpisah dan ganti ferry. Ada waktu sekitar 1-2 jam untuk istirahat dan transit di Labuan ferry terminal
  • 15.00: Sampailah di Kota Kinabalu. Jarak dari Jesselton Ferry terminal ke pusat kota tidak terlalu jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit.

Oya, karena ganti-ganti moda transportasi ada baiknya siapkan mata uang dolar Brunei dan juga Ringgit Malaysia sejak awal yah, supaya gak ribet cari-cari money changer.

***

2) Jalur (full) Darat dengan Bis Jesselton Express Bus

Tiket bis, paspor plus kartu imigrasi Brunei
Tiket bis, paspor plus kartu imigrasi Brunei

Untuk jalur darat ini, keunggulannya adalah tidak terlalu ribet dari sisi gak perlu ganti-ganti moda kendaraan, trus berangkat dari hostelnya bisa lebih agak siangan dibandingkan naik ferry (hehehe…).

Bis “mangkal” di depan Waterfront BSB Jalan Mc Arthur (dekat dengan Bus Terminal BSB) jam 08.00. Nama bisnya “Jesselton Express Bus”. Kalau bingung di mana, pas di BSB Bus terminal coba aja tanya ama orang-orang di sana, direct bus to KK, ntar mereka akan bantu tunjukin jalan ke Waterfront-nya. Gak jauh koq, sekitar 5 menit aja (nyebrang jalan, langsung kelihatan bisnya).

Fyi, bis langsung dari BSB ke KK cuma beroperasi 1 kali per harinya. So, this is the only one, don’t missed it! Harga tiketnya B$ 45 (sekitar NTD 1,080 = Rp 470.000,-). Memang lebih mahal dibandingkan ferry, tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih pake jalur darat. Pertimbanganku adalah sbb:

1) Gak repot ganti bis

2) Bisa lihat pemandangan darat (mostly hutan sih) dan melewati berbagai kota dengan keunikan + karakteristiknya masing-masing

3) Bisa dapat 8 cap imigrasi di paspor sekaligus :D! –> koleksi cap supaya paspornya penuh, mumpung paspor sebentar lagi habis masa berlakunya. hehehe…

Khusus untuk bagian 8 cap imigrasi, jangan kaget yah! Karena tiap beberapa jam memang harus naik turun bis saat melewati check point perbatasan. Ini menjadi salah satu faktor kekurangan (buat beberapa orang) karena jadi gak bisa tidur tenang :p, dan juga riweuh harus naik turun, ngantri cap sambil ditanyain petugas imigrasi. But for me it’s an advantage, coz very interesting and “challenging” :D.

Sebagai gambaran, berikut peta check point imigrasi perbatasan:

Kurang mantap apa :D?
Kurang mantap apa :D?

Check point 1 & 2: Brunei – Sarawak/ Malaysia

Seperti yang kusampaikan sebelumnya, bis berangkat jam 08.00. Nah, sampai di check point ini skitar pukul 09.00 dan memakan waktu 15 menit untuk mengantri cek & cap imigrasi bersama para penumpang bis lainnya. Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi.

Check point 3 & 4: Limbang (Sarawak) – Temburong (Brunei)

Setelah melewati perbatasan, sampailah di Kota Limbang – Sarawak. Di sini, bis akan berhenti sebentar sekitar 15 menit untuk mengangkut penumpang. Perjalanan dilanjutkan, sampai di check point berikutnya jam 10.15 (bagian Malaysia), sekitar 10 menit cap, lanjut lagi naik bis sebentar, trus turun lagi check point Temburong (Brunei) jam 10.30.

Sekedar cerita, untuk imigrasi masuk wilayah Brunei, bisa dikatakan lebih ketat dibandingkan di Sabah/ Sarawak. Petugas imigrasi akan lebih banyak bertanya kepada orang-orang asal Indonesia, Vietnam dan Filipina. Mengapa? Karena banyak terjadi kasus penyalahgunaan free visa ASEAN untuk bekerja secara ilegal di Brunei. As you know, Brunei adalah negara mungil tapi kaya raya luar biasa. Orang-orang dari 3 negara ini tercatat paling banyak melanggar, maka jadilah pertanyaan yang diberikan petugas lebih banyak.

Alhamdulillah, saat itu karena aku bisa menunjukkan bukti bahwa adalah “turis” backpacker dan mahasiswa di Taiwan yang harus segera kembali ke Taipei, tidak ada masalah. Namun, ada beberapa orang Vietnam yang satu bis denganku, tertahan agak lama karena dicek segala macam dokumennya. Berhenti di check point ini agak lama, sekitar 30 menit karena kasus tadi.

Check point 5 & 6: Labu (Brunei) – Mengkalap (Sarawak-Malaysia)

Berangkat dari Temburong skitar jam 10.45, kemudian sampai di check point Labu jam 11.10 dan check point Mengkalap jam 11.17.

IMG_5578

Setelah melewati check point ini, perjalanan dilanjutkan dan berhenti untuk istirahat makan siang di terminal Kota Lawas – Sarawak (jam 11.55 – 12.45).

Check point 7 & 8: Sindumin (Sarawak) – Sipitang (Sabah)

Nah, perjuangan akan segera berakhir. Dari Lawas jam 12.45 perjalanan dilanjutkan dan tiba di check point terakhir (perbatasan Sarawak dan Sabah) pada pukul 13.20. Lho, koq perlu cap imigrasi juga? Iya, soalnya Malaysia menggunakan sistem negara bagian, jadi perlu cap juga. Untuk check point ini, sistemnya satu atap jadi petugas imigrasi Sarawak dan Sabah akan mengecap paspor kita sekaligus.

Dan setelah itu, akhirnya bisa tidur tenang hingga sampai ke Kota Kinabalu sekitar jam 16.45. Perhentian terakhir bis ini adalah di depan taman Kota KK. Sungguh, perjalanan yang panjang namun penuh pengalaman :)! Bisa melihat perbatasan negara via darat, suasana “tegang” saat di check point, hingga melihat keragaman pemandangan hutan dan kota sepanjang ujung utara Borneo. Kapan-kapan, mau coba ah yang jalur laut :D!

Selamat berpetualang buat rekan-rekan yang mau ke Northern Borneo :D!

Tips: Untuk menghemat uang, kalo mau jajan or beli sangu cemilan, mending belinya di wilayah Malaysia aja, jangan di Brunei karena lebih mahal 2,5 kali lipat! hehe…

PS: Untuk detail perjalanan di tiap kota (termasuk where to go, what to eat & visit, where to stay), akan kutuliskan dalam kesempatan yang berbeda. Matte kudasai ne 🙂