[Travel] Backpacking to Northern Borneo

Pernahkah kawan menginjakkan kaki ke tanah Borneo? Pulau terbesar di dunia yang lebih kita kenal dengan sebutan Kalimantan ini, memiliki wilayah yang dikelola oleh 3 negara berbeda: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Alhamdulillah, pada awal Mei 2014 lalu, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di sana, khususnya di wilayah Northern Borneo; Sabah – Sarawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam. Dengan semangat “conquering ASEAN countries before AEC 2015”, maka kulakukan misi “Backpacking to Northern Borneo”. Dengan perjalanan ini, maka dari total 10 Negara ASEAN, masih ada 3 negara lain yang belum kujelajahi; Myanmar, Kamboja dan Vietnam. Will be my next target 😀

0
Ini rute perjalanannya

Perjalanan 8 hari 7 malam ini mengunjungi 4 kota; KK, Kuching, Miri dan BSB, dengan rute sebagai berikut:

Ada banyak hal yang kupelajari dalam perjalanan kali ini, terutama dalam hal sejarah dan budaya yang ada di Eastern Malaysia dan Brunei. Menarik juga, melihat sisi lain dari Malaysia Timur yang somehow memiliki banyak perbedaan dengan Malaysia semenanjung. Di sini, mayoritas masyarakat yang tinggal adalah etnis China dan suku asli Borneo (kalo di Indonesia salah satunya Dayak).

Selama di sana, aku sering dikira sebagai orang Malaysia semenanjung. Bisa dimaklumi, selain dari jilbab, juga dari sisi komunikasi; “Saya boleh cakap Malay a ;)”. Kemampuan bahasa Melayu (dan somewhat Mandarin) sangat ditempa di sini. Dari beberapa percakapan dengan orang Malaysia etnis China, mereka menyebutkan bahwa dalam keseharian mereka lebih sering berbicara dalam bahasa Hokkian, tapi sesekali tetap berbahasa Mandarin dan Melayu logat mandarin :). Bahasa Inggris pun juga kadang-kadang dipakai. Maka, bilamana awak nak pergi ke sana, siap boleh cakap campur-campur lah 🙂

Trus, dari sisi budaya, selain budaya China yang kental (ditunjukkan dengan banyaknya temple Dao seperti di Taiwan), budaya orang asli Borneo sangat dipromosikan di sini. Dari berbagai jenis souvenir, banyak yang mirip-mirip dengan kerajinan khas daerah Kalimantan bagian Indonesia (manik-manik, dan juga ukiran khas Dayak). Dari situ, aku tersadar bahwasanya perbedaan wilayah secara politis tidak menjadikan budaya “Dayak” terbagi-bagi. Karena orang asli tersebut sudah mendiami tanah Borneo sebelum hadirnya para pendatang, jadi baik di Kalimantan bagian Indonesia, Malaysia or Brunei kebudayaan orang asli banyak kemiripan. So, I think we can’t easily claimed that kebudayaan tersebut adalah murni sepenuhnya milik Indonesia, Malaysia atau Brunei.

Selain itu, hal lain yang kualami adalah merasakan keramahan ala budaya Melayu. Sungguh, nostalgic! Berasa kembali ke masa kecil ketika tinggal di tanah Sumatera, kutemui banyak orang dengan keramahan serupa.

Dan terkait dengan pengalaman paling berkesan adalah ketika aku akhirnya memutuskan untuk mengambil perjalanan darat selama 9 jam dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu dengan bis. Berdasarkan informasi yang kukumpulkan sebelumnya, sebenarnya ada 2 cara alternatif untuk bepergian dari dan ke Bandar Seri Begawan – Kota Kinabalu (Sabah).

1
Dua alternatif rute dari dan ke BSB – KK

Begini pilihannya:

1) Jalur Darat plus Laut via Labuan

Dari BSB ke KK via darat plus laut, menghabiskan waktu sekitar 8 jam perjalanan (termasuk transit di Labuan). Keunggulan dari rute ini adalah lebih murah dibandingkan rute darat, dan cenderung lebih tidak ribet dari sisi imigrasi karena hanya perlu melewati 2 kali gerbang imigrasi (Brunei di Muara dan Malaysia di Pulau Labuan).

Kekurangannya (versiku) adalah calon penumpang harus berangkat awal dari Brunei, skitar jam 06.00 dengan harus memperhatikan detail perhitungan waktu karena harus berpindah moda transportasi beberapa kali. Mengutip dan mengadaptasikan informasi yang kudapatkan dari website INI, berikut ini detailnya:

  • 06.00 – 06.30: Menuju Bus Terminal BSB, bisa dengan shuttle bus (B$1) atau taksi. Mohon diingat, shuttle bus ini baru mulai beroperasi jam 06.30 dan selesai jam 18.00, durasi lewatnya setiap 20 menit sekali, jadi harus diperhitungkan baik-baik. Berikut di bawah ini adalah rute shuttle bus untuk dalam kota BSB dan menuju Muara.

Brunei Bus Line

 

  • 06.30 – 07.00: Dari Bus Terminal BSB, naik bus no. 39 menuju Muara. Ongkosnya B$2. Bis menuju ke sana setiap 30 menit sekali, dan beroperasi dari jam 06.30 sampai jam 19.00. Lama perjalanan sekitar 45-60 menit. Perlu diperhatikan, bis ini tidak sampai ke Ferry Terminal, sehingga di Muara perlu ganti bis nomor 33, turun di Serasa Ferry Terminal. Saat ganti bis, tidak perlu bayar lagi, tapi jangan lupa untuk minta cap transfer kepada kondektur/ sopir bis Muara
  • 08.00 – 11.00: Naik ferry dari Muara (Brunei) menuju Labuan (Malaysia). Harga tiket ferry B$18 (sekitar NTD 430 = Rp 170.000,-). Jadwal ferrynya jam 08.00, 08.30, 15.30 dan 16.00. Perlu diingat, beberapa ferry mensyaratkan untuk penumpang boarding paling lambat 30 menit sebelum berangkat. Jadi harus siap-siap yah. Waktu tempuh perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam. Fyi, ada pemeriksaan imigrasi (cap paspor) di Muara/ Serasa Ferry terminal dan di Labuan (Sabah – Malaysia). Oya, bagi yang mau stay for one night di Labuan juga bisa, sambil jalan-jalan keliling pulau. Labuan ini cukup “menarik” lho. Lengkapnya baca di SINI
  • 13.00 – 15.00: Labuan ferry menuju Jesselton Ferry Terminal di Kota Kinabalu. Ferry rute ini beroperasi pada jam 13.00 dan 15.00. Waktu tempuh perjalanan sekitar 1,5 – 2 jam dengan biaya RM 35 (lower deck) atau RM 39 upper deck (sekitar NTD 365 = Rp 142.000,-). Btw, ferry yang digunakan beda dengan ferry dari Brunei yah, jadi harus beli tiket terpisah dan ganti ferry. Ada waktu sekitar 1-2 jam untuk istirahat dan transit di Labuan ferry terminal
  • 15.00: Sampailah di Kota Kinabalu. Jarak dari Jesselton Ferry terminal ke pusat kota tidak terlalu jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit.

Oya, karena ganti-ganti moda transportasi ada baiknya siapkan mata uang dolar Brunei dan juga Ringgit Malaysia sejak awal yah, supaya gak ribet cari-cari money changer.

***

2) Jalur (full) Darat dengan Bis Jesselton Express Bus

Tiket bis, paspor plus kartu imigrasi Brunei
Tiket bis, paspor plus kartu imigrasi Brunei

Untuk jalur darat ini, keunggulannya adalah tidak terlalu ribet dari sisi gak perlu ganti-ganti moda kendaraan, trus berangkat dari hostelnya bisa lebih agak siangan dibandingkan naik ferry (hehehe…).

Bis “mangkal” di depan Waterfront BSB Jalan Mc Arthur (dekat dengan Bus Terminal BSB) jam 08.00. Nama bisnya “Jesselton Express Bus”. Kalau bingung di mana, pas di BSB Bus terminal coba aja tanya ama orang-orang di sana, direct bus to KK, ntar mereka akan bantu tunjukin jalan ke Waterfront-nya. Gak jauh koq, sekitar 5 menit aja (nyebrang jalan, langsung kelihatan bisnya).

Fyi, bis langsung dari BSB ke KK cuma beroperasi 1 kali per harinya. So, this is the only one, don’t missed it! Harga tiketnya B$ 45 (sekitar NTD 1,080 = Rp 470.000,-). Memang lebih mahal dibandingkan ferry, tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih pake jalur darat. Pertimbanganku adalah sbb:

1) Gak repot ganti bis

2) Bisa lihat pemandangan darat (mostly hutan sih) dan melewati berbagai kota dengan keunikan + karakteristiknya masing-masing

3) Bisa dapat 8 cap imigrasi di paspor sekaligus :D! –> koleksi cap supaya paspornya penuh, mumpung paspor sebentar lagi habis masa berlakunya. hehehe…

Khusus untuk bagian 8 cap imigrasi, jangan kaget yah! Karena tiap beberapa jam memang harus naik turun bis saat melewati check point perbatasan. Ini menjadi salah satu faktor kekurangan (buat beberapa orang) karena jadi gak bisa tidur tenang :p, dan juga riweuh harus naik turun, ngantri cap sambil ditanyain petugas imigrasi. But for me it’s an advantage, coz very interesting and “challenging” :D.

Sebagai gambaran, berikut peta check point imigrasi perbatasan:

Kurang mantap apa :D?
Kurang mantap apa :D?

Check point 1 & 2: Brunei – Sarawak/ Malaysia

Seperti yang kusampaikan sebelumnya, bis berangkat jam 08.00. Nah, sampai di check point ini skitar pukul 09.00 dan memakan waktu 15 menit untuk mengantri cek & cap imigrasi bersama para penumpang bis lainnya. Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi.

Check point 3 & 4: Limbang (Sarawak) – Temburong (Brunei)

Setelah melewati perbatasan, sampailah di Kota Limbang – Sarawak. Di sini, bis akan berhenti sebentar sekitar 15 menit untuk mengangkut penumpang. Perjalanan dilanjutkan, sampai di check point berikutnya jam 10.15 (bagian Malaysia), sekitar 10 menit cap, lanjut lagi naik bis sebentar, trus turun lagi check point Temburong (Brunei) jam 10.30.

Sekedar cerita, untuk imigrasi masuk wilayah Brunei, bisa dikatakan lebih ketat dibandingkan di Sabah/ Sarawak. Petugas imigrasi akan lebih banyak bertanya kepada orang-orang asal Indonesia, Vietnam dan Filipina. Mengapa? Karena banyak terjadi kasus penyalahgunaan free visa ASEAN untuk bekerja secara ilegal di Brunei. As you know, Brunei adalah negara mungil tapi kaya raya luar biasa. Orang-orang dari 3 negara ini tercatat paling banyak melanggar, maka jadilah pertanyaan yang diberikan petugas lebih banyak.

Alhamdulillah, saat itu karena aku bisa menunjukkan bukti bahwa adalah “turis” backpacker dan mahasiswa di Taiwan yang harus segera kembali ke Taipei, tidak ada masalah. Namun, ada beberapa orang Vietnam yang satu bis denganku, tertahan agak lama karena dicek segala macam dokumennya. Berhenti di check point ini agak lama, sekitar 30 menit karena kasus tadi.

Check point 5 & 6: Labu (Brunei) – Mengkalap (Sarawak-Malaysia)

Berangkat dari Temburong skitar jam 10.45, kemudian sampai di check point Labu jam 11.10 dan check point Mengkalap jam 11.17.

IMG_5578

Setelah melewati check point ini, perjalanan dilanjutkan dan berhenti untuk istirahat makan siang di terminal Kota Lawas – Sarawak (jam 11.55 – 12.45).

Check point 7 & 8: Sindumin (Sarawak) – Sipitang (Sabah)

Nah, perjuangan akan segera berakhir. Dari Lawas jam 12.45 perjalanan dilanjutkan dan tiba di check point terakhir (perbatasan Sarawak dan Sabah) pada pukul 13.20. Lho, koq perlu cap imigrasi juga? Iya, soalnya Malaysia menggunakan sistem negara bagian, jadi perlu cap juga. Untuk check point ini, sistemnya satu atap jadi petugas imigrasi Sarawak dan Sabah akan mengecap paspor kita sekaligus.

Dan setelah itu, akhirnya bisa tidur tenang hingga sampai ke Kota Kinabalu sekitar jam 16.45. Perhentian terakhir bis ini adalah di depan taman Kota KK. Sungguh, perjalanan yang panjang namun penuh pengalaman :)! Bisa melihat perbatasan negara via darat, suasana “tegang” saat di check point, hingga melihat keragaman pemandangan hutan dan kota sepanjang ujung utara Borneo. Kapan-kapan, mau coba ah yang jalur laut :D!

Selamat berpetualang buat rekan-rekan yang mau ke Northern Borneo :D!

Tips: Untuk menghemat uang, kalo mau jajan or beli sangu cemilan, mending belinya di wilayah Malaysia aja, jangan di Brunei karena lebih mahal 2,5 kali lipat! hehe…

PS: Untuk detail perjalanan di tiap kota (termasuk where to go, what to eat & visit, where to stay), akan kutuliskan dalam kesempatan yang berbeda. Matte kudasai ne 🙂

[Travel] Semenggoh Wildlife Center – Sarawak

Alhamdulillah di bulan Mei ini, aku berkesempatan untuk mengunjungi pulau terbesar di dunia, that’s Kalimantan ato globally known as Borneo. Terakhir berada di pulau ini tahun 2011, saat bersilaturrahim dengan kawan-kawan MITI Mahasiswa wilayah Kalimantan di Banjarmasin. Nah, dengan penuh perjuangan akhirnya rencana perjalanan ke sisi utara Borneo bisa terlaksana juga :).

Niat berkunjung ke sini bermula dari adanya promo tiket AA, yang (sebenernya) sangat murah pada Oktober 2013 yang lalu. Saat itu aku berasumsi bahwa skitar bulan Mei aku sedang menulis tesis dan memerlukan “pelarian sejenak”. Dan pas rezeki ada promo ini, maka jadilah aku bersemangat untuk berperjalanan dengan rute keliling sbb: Taipei – Kota Kinabalu – Kuching – Miri – Bandar Seri Begawan (Brunei) – Kota Kinabalu – Taipei. Total hari perjalanannya adalah 7 hari, kupersingkat dari sebelumnya 10 hari. Untuk detail perjalanan (termasuk tips, itinerary, place to visit, where to stay, transport, dll) akan kuposting di lain kesempatan (*kalo sempet :p).

IMG_4915

Khusus di sini, aku ingin menorehkan pengalaman selama di Kuching, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Rencana awal selama di Kuching adalah mengunjungi Sarawak Cultural Village yang terkenal dengan indigenous people-nya (orang Dayak). Sebagai seorang “penggemar” etnologi, aku pun bersemangat membara untuk bisa ke sana. Namun apa daya, berdasarkan info dari pengelola hostel di Kuching, untuk ke sana perlu biaya yang tidak sedikit (sekitar 15 ringgit transport PP + 60 ringgit biaya masuk) dan waktu perjalanan yang cukup panjang, maka rencana perjalananku pun langsung “banting stir”; “Idealisme” (dalam hal ini kesukaan) harus menghadapi kenyataan (*backpacker dengan budget mepet). hahaha….

Dari segala opsi yang disampaikan officer hostel, akhirnya kupilih untuk berkunjung ke Semenggoh Wildlife Center untuk melihat Orangutan di habitat semi-liarnya. Berikut ringkasan informasi perjalanannya:

  • Lokasi bis berangkat: Chin Liang Long Bus Station (Jalan Masjid, dekat Padang Merdeka Kuching – Lihat peta di bawah)
  • Nomor Bis: K-6 (bis warna hijau) jurusan Semenggoh Wildlife Center
  • Waktu keberangkatan bis: 07.00 a.m. dan 01.00 pm
  • Durasi perjalanan: 45 menit – 1 jam
  • Biaya bis: 3 Ringgit Malaysia = 30 NTD = Rp 10.000,- (one way)

peta kuching

Nah, berhubung waktu kunjungan ke Semenggoh ini disesuaikan dengan waktu makannya Orangutan (ada 2 sesi; jam 09.00 dan jam 15.00), maka pengunjung perlu memperkirakan waktu keberangkatan sesuai dengan pilihan waktunya. Aku memilih sesi makan yang pagi, sehingga aku pun berangkat dari hostel jam 06.30 ke stasiun bis (kira-kira 10-15 menit jalan kaki) untuk mengejar bis jam 07.00. Tidak terlalu sulit untuk menemukan terminal ini apalagi berbekal peta :D. En suasananya mirip terminal + pasar tradisional di Indonesia, jadi lebih familiar :D. Untuk bisnya pun mudah dikenali mengingat ada cukup banyak “bule” yang juga ingin ke sana. Saat itu, ada sekitar 10 bule yang sama-sama mau ke Semenggoh ini. So, akan kelihatan mencolok bis mana yang dikerumuni pelancong ;D.

Mbayarnya bisnya dengan uang cash ke pak supir saat naik bis, then langsung pilih lokasi duduk sesuka hati. As usual, my most favorite location to sit in the bus adalah kursi paling pojok belakang deket jendela; enak, bisa sambil lihat suasana sekitar en bekontempelasi (*buat yang mudah mabok or pusing, sangat tidak disarankan duduk di belakang coz sangat bumpy).

Karena suasana masih cukup pagi dan waktu tempuh cukup panjang, maka teman-teman bisa sambil nyambi sarapan or nyemil selama perjalanan, atau bisa juga nyambi baca (*sok rajin kayak aye, hahaha) atau melanjutkan tidur, silakan :D. Suasana jalan menuju ke Semenggoh mengingatkan masa kecilku saat berada di belantara Sumatra sana. Mirip-mirip lah ;), jadi sekalian nostalgia. Setelah hampir 1 jam, akhirnya kami sampai. Bis berhenti di pemberhentian terakhir, tepat di depan loket tiket Wildlife center ini.

Peta Arah ke Semenggoh Wild-life center
Peta Arah ke Semenggoh Wild-life center

Btw, sebenernya ada banyak tour package yang nyaman untuk bisa ke sana, dan cukup mengontak pihak hostel kalau tertarik pergi dengan package, biayanya sekitar 60 RM untuk transport PP hostel – Semenggoh +tiket masuk. Tapi berhubung kantong agak mepet dan dengan dalih ingin “menjelajahi” the real Kuching, akhirnya aye memilih untuk pake transport umum. More challenging :D!

Sesampainya di Semenggoh, langsung beli tiket. Awalnya pak penjual tiket mengira bahwa aku adalah “lokal” Malaysian, soale kalo saya cakap Malay, mirip-lah :D. Sempet otak jahat berpikir; “Klo ngaku-ngaku sbagai lokal, bisa dapat tiket lebih murah nih. hehehe…”. But demi keberkahan perjalanan serta nasionalisme kebangsaan, kujawab: “I am Indonesian” :).

Berikut beberapa info penting terkait Semenggoh Wildlife center:

  • Biaya tiket masuk: 10 RM (untuk orang asing non-Malaysia dewasa) dan 5 RM (untuk warga Malaysia)
  • Feeding time: 09.00 – 10.00 dan 15.00 – 16.00
  • Jarak gerbang – lokasi: 1.3 km
  • Waktu perjalanan dari gerbang masuk ke lokasi: 20-30 menit jalan kaki (dengan kontur jalan naik turun XD)
IMG_5012
Kekuatan dan keseimbangannya luar biasa! MaasyaAllah
Aww... So Cute XD!
Aww… So Cute XD!
Itadakimasu!
Itadakimasu!

Setelah berjalan dan berpeluh ria, akhirnya ketemu juga lokasi feeding orang utannya :D! Kulihat ada beberapa orang utan yang sudah sibuk bergelantungan di pepohonan mencari makanan yang sudah disiapkan petugas. Sedikit berdiskusi dengan pak cik petugas, kudapat informasi bahwa di Semenggoh ini, terdapat sekitar 26 orang utan yang “rajin” datang ke sana. Orang utan tertua bernama “Seluku”, yang sudah berumur 43 tahun dan berstatus “nenek-nenek”. Ada juga kutemui orang utan balita bernama “Gania” berumur 5,5 tahun. Dinamakan demikian untuk mengenang salah satu petugas center ini yang sudah wafat.

Pak Cik Petugas
Pak Cik Petugas

Informasi lain yang kudapat, Semenggoh wild-life center dikelola oleh pemerintah negara bagian (state-government) Sarawak dan sudah ada sejak tahun 1970-an, in which brarti skarang sudah 40 tahun. Dan si nenek “Seluku” merupakan “penghuni” pertama. Untuk petugasnya, ada sekitar 6 orang officer dan pekerja teknis (bersih-bersih dll) sekitar 9 orang.

Oya, beberapa tips kalau mau ke Semenggoh:

  • Siapkan minuman yang cukup, karena akan berjalan cukup “lumayan” ke lokasi makannya orangutan
  • Siapkan stamina! Syukur-syukur kalo rejeki pas jalan kaki, trus ada yang berbaik hati kasih tumpangan 🙂 (And I got a free ride from a very kind Malaysian lady, Alhamdulillah, trima kasih cik!)
  • Gunakan sepatu kets, selain supaya lebih nyaman berjalan, juga lebih cocok untuk situasi di hutan
  • Gunakan kaos panjang, celana/ rok panjang mengingat lokasi center yang di antara hutan (bakalan ada nyamuk en serangga sejenis)
  • Bagi yang hobi foto, jangan lupa bawa kamera dengan lensa tele atau zoom yang cukup oke karena jarak kita dengan orangutan agak jauhan. Trus tidak diperbolehkan pakai tripod (jadi gak usah repot-repot bawa) karena itu bisa membuat orangutan ketakutan (dikira senapan).

Anyway, buat pecinta binatang dan alam, lokasi ini sangat direkomendasikan untuk dikunjungi :)! Walo pernah lihat orangutan di kebon binatang, tapi tetep aja sensasinya beda jika kita melihat mereka langsung di habitat (semi) alaminya. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya di tanah air juga ada tempat semacam ini di Kalimantan Barat, tapi karena akses, transportasi dan informasi yang kurang memadai, jadinya belum sempat mengunjunginya ke sana. Smoga next time bisa berkunjung. aamiin

Jaa, untuk info lebih lanjut tentang Semenggoh wild-life center bisa dibaca di tautan BERIKUT.