[Review] J-Drama – Kounodori

800px-kounodori-main

Perjalanan menjalani proses kehamilan selama 40 minggu, plus 3 hari di ruang bersalin, plus 2 hari di ruang rawat, ditambah lagi 3 minggu menjalani peran sebagai emak-emak baru, memberikan pengalaman yang sungguh luar biasa buat saya.

Maka dari itu, saat tahu ada dorama Kounodori dari postingannya Ikkyu-mama alias jeng Riska di SINI, akhirnya saya pun langsung menontonnya (*nontonnya sambil nyambi ngemong anak). It’s been a long time not watching dorama. hahaha….

Dari dorama ini, saya semakin memahami dan mengamini bagaimana resiko para ibu dan calon bayi selama kehamilan dan persalinan. Saya harus banyak bersyukur karena saya dan debay bisa melewati proses hidup-mati ini dengan selamat dan sehat hingga sekarang. Alhamdulillah…

Selama ini, saat melihat teman saya yang hamil – melahirkan, saya kira proses tersebut mulus-mulus aja. Hahaha ^^”. Tapi kalau dipikir-pikir, asumsi ini muncul karena keterbatasan pengetahuan saya dan juga jarang banget ada orang yang share di sosial media terkait duka dan pahitnya menjalani kehamilan dan persalinan. So, saat mengalaminya sendiri, saya baru ngeh kalau hamil – melahirkan tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. 

Selain proses kehamilan dan persalinan itu sendiri, saya juga jadi belajar banyak tentang dunia per-obsgin-an dari dokter kandungan saya (dr. Kartini, Sp.OG) dan para bidan di RSIJ Pondok Kopi tentang suka duka mereka. Sehingga, saat saya menonton 10 episode dorama Kounodori ini, saya bisa memahami betul bagaimana situasi dan kondisi para dokter kandungan dan bidan yang membantu para ibu dan calon bayi untuk bisa melewati proses penuh resiko tersebut.

Banyak filosofi dan nilai pelajaran yang bisa kita ambil dari dorama ini. So, it’s really worth to watch, especially buat para calon ibu yang sedang diamanahi salah satu “keajaiban” yang Allah swt berikan khusus untuk para perempuan, juga para calon dokter yang berencana untuk jadi dokter spesialis kandungan (*ayo dong, banyakin dokter kandungan perempuan XD).

Untuk menonton dorama ini, bisa streaming di: http://kissasian.com/Drama/Kounodori

Selamat menikmati dan mencari hikmahnya 🙂

Advertisements

[Info] Buku “Dari Kami untuk Negeri”

13244632_10154208192762953_1295768004753887928_n

COMING SOON! Buku: Dari Kami untuk Negeri, 9 Pemikiran 1 Tujuan “Mencintai Indonesia dari Negeri Seberang”

Alhamdulillah, setelah berproses sekian lama, ide untuk membukukan pengalaman kami, alumni Pengurus Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 akan segera terwujud. Kalau dipikir-pikir, selama ini saya lebih sering mengambil peran sebagai editor dan proof-reader buku-buku yang ditulis rekan-rekan saya. Dan publikasi saya (pribadi), hanya berupa esai dan tulisan akademik ^^”. So, Alhamdulillah ini akan menjadi buku antologi pertama yang pernah saya tulis dan akan diterbitkan secara meluas.

Ide awal penulisan ini dimulai saat Mbak Dewi (Koord. Asia Oseania & Biro Pers) dan Bro Dudy (Koord. PPI Dunia) mencari bentuk aktivitas yang bisa tetep menyatukan kami, sembilan orang (mantan) Dewan Presidium, yang purna tugas pada Agustus 2015 yang lalu di SI PPI Dunia Singapura.

Sambil proses penulisan draft dan perbaikan di sana sini, akhirnya kami memberanikan diri untuk mengajukan ide tulisannya ke berbagai penerbit. Namun, Penerbit Inspira lah yang pertama kali menyambut dan mem-follow up dengan cepat.

Buku ini berisi proses bagaimana masing-masing dari kami yang studi di 9 negara berbeda, bisa berkuliah di luar negeri dan tergabung di organisasi PPI Negara serta Dewan Presidium PPI Dunia. Juga pengalaman yang kami rasakan selama mengemban amanah tersebut. Selain itu, kami juga bermaksud untuk memperkenalkan secara lebih rinci, apa itu PPI Negara dan PPI Dunia kepada rekan-rekan mahasiswa.

Buku tentang tips-tips studi lanjut di Luar Negeri dengan beasiswa dan kehidupan mahasiswa Indonesia di negara lain sudah cukup banyak bertebaran. Namun, harapannya dengan adanya buku ini, rekan-rekan yang ingin melanjutkan studi di luar negeri punya gambaran yang lebih lengkap tentang kehidupan mahasiswa di bidang akademis dan non-akademis (terutama berorganisasi).

Saya pribadi, sangat menganjurkan bagi para mahasiswa untuk tidak hanya berkutat di dunia akademik saja saat kuliah. Tapi juga sangat perlu memperluas jaringan dan pengalamannya melalui berorganisasi.

Bismillah, semoga lancar proses editing dan layoutingnya supaya bisa segera terbit. Mohon ditunggu terbitnya buku ini dan (diharapkan membeli) membaca isinya yaaaa. Hehehe….. 

Informasi lebih lanjut tentang bukunya, bisa baca informasinya di website Berkuliah.com SINI dan silakan kontak penerbitnya langsung ke:

Inspira Publishing

Jalan Pasir No.35, Patok, Gamping, Sleman, Yogyakarta, 55294
Telp: (0274) 5305734 | WA/SMS: 0821-3700-8000
PIN BB: 5D18C3B4 | E-MAIL: official.inspirabook@gmail.com
Facebook.com/InspiraID
http://www.inspirabook.com
ID LINE: @inspirabook

[K-Drama] Misaeng

Saya suka sekali dengan tayangan-tayangan yang punya nilai dan makna pembelajaran filosofis mendalam. Karena, tidak hanya menghibur, tapi dari situ kita bisa mengambil hikmah dan juga sambil mengevaluasi diri. So kali ini, let me reviewed a currently airing K-drama named Misaeng (미생).

Berawal dari rekomendasi kakak saya (yang suka banget Korean-things), saya diberitahu tentang serial drama Korea baru ini. Awalnya saya tak terlalu tertarik karena “sok” sibuk dengan status pengangguran banyak acara yang baru saja saya sandang per akhir Oktober lalu :p. Tapi kemudian saya pun mencoba untuk melihatnya.

48975-266502

Misaeng (Hangul: 미생 – Misaeng) atau berarti “an incomplete life” merupakan live version dari serial komik online di Korea. Drama ini merupakan yang pertama melakukan syuting di Yordania. Episode pertamanya cukup membuat saya penasaran karena scene awalnya berlatarkan “Petra”, salah satu World Heritage yang ada di Yordania (*and aye sangat mengimpikannya untuk bisa ke sana XD. Nge-fans abis euy ama saksi peradaban yang satu ini). Selama menonton (sampai tulisan ini dibuat, sudah sampai episode 10) emosi saya dibuat naik turun karenanya (including mewek part :p).

Misaeng bercerita tentang seorang pemuda 26 tahun bernama “Geu Rae” yang tidak pernah duduk di bangku kuliah, dan hanya punya sertifikat GED saja (*semacam ijazah penyetaraan SMA). Namun ia harus menjalani kenyataan untuk masuk ke dunia kerja, di mana skill (pendidikan, bahasa asing, dll) adalah segalanya. Tentu saja, banyak yang nyinyir dengan pemuda tersebut. Bisa kerja apa dengan hanya bermodalkan GED?

Karena jaringan koneksi yang ia dapatkan, ia berkesempatan untuk magang di salah satu international trade company. Tentu saja, selama menjalani magang, ia sangat kewalahan baik dari sisi skill kerja maupun mental karena sering di-ghibah-in oleh teman magang dan kantornya. Akan tetapi, satu hal yang membedakan pemuda ini dengan mereka, bahwa walaupun ia kalah dalam hal skill, ia memiliki kemauan dan keseriusan untuk belajar (dan bekerja) secara totalitas.

Yang paling menarik buat saya, Geu Rae senantiasa mengaitkan pengalaman yang ia alami sehari-hari dengan permainan “Go” (atau dalam bahasa Korea bernama “Baduk”), yaitu semacam catur tradisional China. Ia bisa menemukan dan mengaitkan antara strategi bermain baduk dengan kehidupan yang ia alami. Di sini letak filosofisnya, bagian mencari makna, refleksi hidup dan belajar darinya. Dan saya suka sekali itu.

Di balik sosok Geu Rae yang sepertinya tidak ada apa-apanya, sebenarnya ia adalah seorang calon pemain baduk profesional. Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu berkutat dengan baduk dan menghabiskan 10 jam tiap harinya untuk berlatih. Namun, ia gagal untuk menjadi seorang pro sehingga di usianya yang 26 tahun, dia dianggap terlambat karena tidak memiliki keterampilan lain.

Saat magang, ia berada di bawah supervisi Dong Shik dan manajer Oh Sang-shik. Dua orang ini merupakan pekerja keras, ekspresif namun memiliki kepribadian yang hangat. Dari merekalah, Geu Rae banyak belajar tentang kehidupan nyata dan budaya perusahaan.

Selain Geu Rae, ada juga 3 tokoh lain (Young Yi, Baek Ki dan Yoon Shik) sesama pegawai baru, yang memiliki latar belakang pendidikan dan skill sangat menyilaukan. Geu Rae dan ketiga koleganya, di dalam drama ini, menghadapi tantangan masing-masing. Dari situ, mereka belajar tentang kenyataan yang dihadapi di dalam sebuah perusahaan.

***

Buat yang pernah (atau sedang) bekerja tentu ada pengalaman yang mirip-mirip dengan yang dikisahkan di dalam drama ini. Dari film ini saya mencoba merefleksikan pengalaman saya selama mencicipi dunia kerja formal walaupun tak terlalu lama, hanya 1 tahun 8 bulan.

Meskipun tempat saya berkarya adalah sebuah NGO (not a commercial or profit oriented company in which lebih keras persaingannya), tapi dari pengalaman tersebut saya sangat menyadari bahwa apa yang saya pelajari selama menempuh pendidikan formal mulai dari SD sampai S2 tidaklah cukup sebagai “bekal” untuk terjun di dunia masyarakat dengan tantangannya yang begitu nyata. Tidak selalu yang namanya skill dan latar belakang pendidikan adalah segalanya di dunia kerja. Banyak hal-hal praktikal yang belum pernah kita pelajari, temui atau alami selama di bangku pendidikan formal.

Menurut saya, proses belajar itu takkan pernah berhenti dimanapun kita berada, termasuk di dunia kerja. Kita tak boleh membatasi diri dan merasa “jumawa” dengan apa yang sudah kita raih dan menutup diri untuk belajar. Sangatlah penting, men-sari-kan pengalaman hidup untuk mendapat hikmah agar kita menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menjalani hidup.

Jaa, bagi yang tertarik untuk menontonnya via streaming online, bisa dilihat di tautan ini: MISAENG watch. Selamat belajar dan berjuang dalam berkarya di dunia masyarakat. Welcome to real world 🙂

PS: Diterjemahkan dan diolah dari berbagai sumber (Asian Wiki dan Drama wiki)

[J-Movie] The Great Passage (2013)

Sejenak “kabur” dari buku, jurnal, dan perpustakaan. Mari rehat dengan menyaksikan J-movie yang satu ini :D.

***

Coba definisikan apa itu “kanan”. Can you?

Kalau tiba-tiba ditanya seperti itu, mungkin kebanyakan dari kita akan bingung dan tak tahu harus jawab apa. Banyak definisi dari perbendaharaan kata dalam kehidupan sehari-hari kita yang luput dari perhatian. Karena sudah saking biasanya, jadi tak pernah terlalu dipikirkan.

Tentu itu akan berbeda buat para pakar linguistik, yang memang fokus pada bidang ini. Mungkin, mereka dengan mudahnya mendefinisikan suatu kata. Apalagi kalau orang tersebut adalah pembuat kamus, pasti lebih canggih lagi. Ya, kan?

Sebelum menonton film ini, aku gak kepikiran gimana caranya proses membuat sebuah kamus. Walaupun sering pergi ke toko buku dan melihat kamus yang terpajang dengan berbagai macam versi dan jenis, tetep saja gak “ngeh” dengan “perjuangan” yang ada di baliknya.

Ternyata oh ternyata, membuat sebuah kamus yang lengkap itu benar-benar butuh proses yang panjang. Dari film ini, bahkan dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun mulai dari proses seleksi pemilihan kata, pendefinisian, pembuatan contoh kalimat, editing (almost 4-5 times!) dan percetakan.

Majime

Sedikit cuplikan isi cerita, film yang menjadi wakil Jepang dalam ajang Academy Awards 2013 ini, mengisahkan Majime yang punya kemampuan komunikasi yang minim. Namun, ia memiliki talenta untuk memahami makna dari suatu kata dan punya cara berpikir yang berbeda dari orang kebanyakan. Di tempat ia bekerja (sebuah perusahaan publishing), ia dipindahtugaskan dari departemen penjualan ke pengeditan kamus. Dari situlah, perjalanan dan perjuangan Majime dan timnya dimulai hingga 15 tahun kemudian. Untuk tahu gambarannya, sila lihat trailernya aja yak :D.

Btw, film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul “Fune o Amu” oleh Shion Miura (dipublikasikan pada 17 September 2011 oleh Kobunsha). Buatku, film ini sungguh menarik karena mengangkat kisah yang jarang terpikirkan. Apalagi, dengan kecanggihan teknologi yang ada saat ini, kamus “tradisional” tentunya kalah saing dengan kamus elektronik. Namun, kalau memahami bagaimana nilai di balik proses tersebut, kita jadi semakin lebih menghargai dan menikmati “uniknya” sebuah proses komunikasi, perbendaharaan kata hingga perubahan zaman.

Bagi yang ingin menontonnya secara online, bisa streaming di tautan: INI.

Please, enjoy and get the lesson learned.

PS:
– Klo untuk konteks di Indonesia, bahasa “Alay” ada kamusnya gak? Mungkin proses pembuatannya gak sampe serumit yang ada di film ini (?)
– Tokoh yang paling kusuka di film ini adalah “Taro-san”, the yellow-fat-cute cat :D. Mau punyaaaa XD

[Movie] The Kite Runner

Barusan tiba-tiba saja aku teringat dengan sepasang anak laki-laki dan perempuan yang kutemui di Masjid Itaewon, Seoul. Mereka sungguh spesial. Dua kali kunjunganku ke sana, selalu kutemui mereka. Dengan tindak tanduk yang sama; mengucapkan salam, dan mencium tanganku sebagai hormat. Sungguh, bagiku yang sempat merasa asing di negeri ginseng saat itu, tiba-tiba saja merasakan kehangatan dan keterbukaan. Kudapatkan itu dari anak-anak sholeh sholehah tersebut.

Wajah mereka sungguh cantik dan ganteng; perpaduan Timur Tengah dan sedikit Eropa. Untuk memenuhi rasa penasaranku, kali kedua pertemuanku dengan mereka, kusapa dan salam mereka. Kutanyakan darimana asal mereka.

Dongseng, annyeonghaseyo. Odie owassoyo?” (Adik, halo. Kamu berasal dari mana?)

Karena tampaknya mereka tidak fasih berbahasa Inggris, dan aku tidak bisa berbicara bahasa Farsi, kucoba-coba bertanya dalam bahasa Korea yang agak nge-pas.

“Afghanistan”, jawab sang anak laki-laki.

MaasyaAllah. Sungguh takjub hatiku, Subhannallah. Ini kali pertama aku bertemu dengan anak-anak dari Afghanistan.

Tentu kasus dan peristiwa di Afghanistan terekam cukup jelas dalam ingatan kita. Terlebih untukku yang berlatar-belakangkan jurusan ilmu Hubungan Internasional. Namun aku tak pernah tahu bagaimana pastinya, aku hanya bisa menerka-nerka tentang bagaimana kedua anak itu bisa berada di Korea.

***

Mungkin sudah jodoh, saat membongkar-bongkar koleksi data bakaran di DVD, kutemukan sekeping yang berisi file film “The Kite Runner”. Film ini sudah bertahun-tahun yang lalu kuunduh, namun baru sekarang terlaksana untuk menontonnya.

the-kite-runner-01

Bagi beberapa di antara kita, mungkin familiar dengan judul film ini. Ya, ini diadaptasi dari sebuah novel agak kontroversial dengan judul yang sama. The Kite Runner berlatarkan kehidupan anak-anak Afghanistan sebelum dan sesudah terjadinya invasi Rusia pada tahun 1970-an akhir, dan kondisi saat Taliban berkuasa di sana.

Adalah 2 anak Afghan; Hassan dan Amir. Hassan, seorang anak “Hazaara” (sebutan untuk anak pembantu) dengan Amir, anak orang kaya dan cukup tersohor di Kabul. Ayah Hassan sudah menjadi pembantu bagi keluarga ayah Amir selama 40 tahun. Dua anak tersebut, tanpa melihat status, sangat akrab dan menikmati masa kecil mereka. Amir yang terdidik, suka sekali menulis cerita fiksi dan membaca. Ia kerap membacakan buku untuk Hassan. Di sisi lain, Hassan sangat pemberani dan loyal dalam melindungi Amir, walau tubuhnya lebih kecil.

Kota Kabul di tahun 1978, amat terkenal dengan kompetisi layang-layang. Tentu saja, kesempatan ini tak dilewatkan oleh Amir dan Hassan. Dengan kecerdasan dan strategi yang diarahkan Hassan, Amir dapat memenangkan kompetisi tersebut.

Namun kemudian Russia datang menginvasi Afghanistan di tahun 1979. Amir dan ayahnya terpaksa melarikan diri ke luar negeri mengingat ayah Amir adalah seorang pengecam Russia dan komunis yang cukup keras. Mereka pergi ke Amerika Serikat, dan hidup di sana. Ini berat bagi Ayah Amir, karena ia sangat mencintai tanah airnya. Sayang, sebelum bisa kembali ke tanah air, ia menghembuskan napas terakhirnya di tanah asing.

California di tahun 2000, Amir akhirnya berhasil meraih mimpinya untuk menulis sebuah buku. Kemudian, ia mendapat telepon yang cukup mengejutkan dari sahabat ayahnya yang kini tinggal di Pakistan. Ia meminta Amir untuk kembali ke tanah air, untuk mengetahui sebuah rahasia yang telah terkubur lebih dari 20 tahun terkait Hassan dan ayahnya.

***

Sungguh, film ini mengharukanku. Tak terbayang, bagaimana kehidupan anak-anak dan orang-orang di Afghanistan dan daerah peperangan lain di dunia. Keceriaan dan kesenangan mereka untuk bermain dengan leluasa terenggut. Kehidupan mereka selalu dibayang-bayangi peluru dan kekejian.

Sisi lain dari the Kite Runner ini, adalah tentang persahabatan, loyalitas dan perjuangan. Tak hanya menyentuh sisi humanis kita, tapi juga menggedor kesadaran kita tentang pentingnya sebuah perdamaian.

1790881348370105220813

[Review] Dislocating China – Dru C. Gladney

Daripada “mubadzir” hanya sebagai tugas kampus, lebih baik di share di sini. Siapa tahu ada yang tertarik untuk baca bukunya :D! Khusus buat teman-teman yang tertarik seputar studi Muslim Hui di China. Here, another book written by Dru C. Gladney.

BOOK REVIEW II
Dislocating China: Reflections on Muslims, Minorities, and Other Subaltern Subjects
Dru C. Gladney, London, Hurst & Company, 2004, 414 pages

Image

Gladney is one of the leading scholars who have expertise in China’s ethnic minorities, especially on Muslim minorities such as the Hui. Gladney’s Dislocating China is an excellent introduction into the ways in which ethnicity and religion intersect in contemporary China today. Many of the chapters discussed about China’s Muslims, but the book as a whole is more wide ranging examining ethnic representation in Chinese cinema, ethnic ‘culture parks’ and in popular culture. The purpose of this book is seeks to understand how disenfranchised groups and other subaltern subjects (whether they be Muslims, minorities, students, or gendered others) might enhance our understanding of “nation-ness” and “Chinese-ness” in the context of China.

Image
Dru C. Gladney

One of the central themes of the book is Gladney’s contestation of “Han” as a legitimate ethnic group. In some discussions, most scholars still tend to accept that Chinese representation is dominated by Han groups, and ethnic minorities is marginalized minorities. In other words, there is a tendency on homogenization of Chinese culture. This is assumed homogeneity of China as a nation-state made up of a unified and undifferentiated Han majority and a few ethnic groups in its border areas that Gladney sets out to challenge; through giving voice to some subalterns, in order to gain a better understanding of the dynamics of Chinese society and culture. Gladney challenges this view and argued that the dichotomy of majority and minority, also primitive and modern, is historically constructed. He shows consistency in whole chapters in this book on pursuing his main idea about understanding Chinese society and culture from the subaltern perspective, and to deconstruct notions of a monolithic Han majority.

The book consists of 7 parts, which consist of 16 chapters talking about dislocating ethnic identity in China from various aspects, such as: recognitions, representations, folklorizations, ethnicizations, indigenizations, socializations and politizations. In part I about Recognitions, include background of cultural nationalism and forms of displaying nationalism in China. Gladney argues that nationalism is not simply a set of imagined ideas, but constitutes powerful styles of representations. He points out the selectivity within the cultural taxonomy of nationalities in China. The emerging and strengthening forms of cultural nationalisms of various groups in turn influence Chinese nationalism.

Part II consists of two chapters on Representations. Majority/ minority objectifications are commodified in the Chinese public sphere, reifying certain notions of minority primitivity in order to establish majority modernity. The main argument is that in art (one of the examples is on contemporary Chinese cinema), the objectified portrayal of minority groups is essential for the construction of the “unmarked”, modern, civilized Han majority. Part III is about “Folklorizations”, starts with concern on the Chinese Muslims (the Hui) “hybridity” in which is shown to challenge Samuel Huntington’s theory about the clash of civilizations. He also explained the Hui’s interconnections of localism and transnationalism to the Muslim world.

Part IV about “Ethnicizations”, explains the contradictory nature of Muslim hybridity, suggesting that essentialized and static theories of identity, ethnicity, and nationality fail to take account of simultaneous selves and the oppositional shifting of highly politicized identities. He proposes that ethnic identity is shaped by the dialogical interaction of traditions of descent and state policy, and is continuously negotiated and re-defined. Gladney also writes a similar case/ analogy to the Han majority about the homogeneity of the majority groups of other countries, such as the Turks of Turkey and the Russians of the former Soviet Union.

In Part V, “Indigenizations”, discuss about the role of the state in channeling identities and local resistances to those state-defined histories. Gladney examine the role of indigeneity in shaping Uyghur identity in northwest China. It focuses on the dynamic nature of ethnic identity, in which the state is a regulatory, channeling force, and also suppression towards local resistance. The next chapter in this part talking about Uyghur “cyber-separatist” movement (imagined homeland of East Turkestan) that underlines how transnationalism as well as the representations of the Uyghur by the state all promote an objectified representation of Uyghur identity.

In Part VI “Socializations”, Gladney argues about centralized educational system to Hui ethnography. Centralized state education has been one of the most powerful tools for acculturating China’s subalterns along predetermined path, other traditions of knowledge transmission that have maintained parallel kinds of knowledge and history. In other means, it creating and integrating them into the Chinese nation state. Education remains a contested arena in which competing and often conflicting sets of norms are negotiated. Chapter 13 compares attitudes to prosperity between Hui and Han.

As for in the latest part, about “Politicizations”, focused on local responses in China to world events. In chapter 14 discusses the views of Hui and Uyghur subalterns about the Gulf Wars in 1991 and 2003, which demonstrates the diversity of China’s Muslims; how they participate in international relations. Chapter 15 connects Chinese subalterns’ responses to global events about student protests in Tiananmen Square to the end of the Cold War.

In the conclusion part, Gladney argued that the categorization and taxonomization of all levels of Chinese society, from political economy, to social class, to gender, to ethnicity and nationality indicates a wide-ranging and ongoing project of internal colonialism. What make this part more interesting that is Gladney resume some of the current issues in China such as China after 9/11, subaltern perspectives on the Chinese geo-body, Chinese nationalism and its subaltern implications, subaltern separatism and Chinese response, and argument about “China’s expanding internal colonialism”.

Gladney ends his book by raising new questions; what will happen to those Chinese citizens on its borders should a nationalist movement rise up that sees them as more of a threat than as part of a China that is multinational and multi-ethnic? If nationalist sentiments prevail during this time of transition, what will happen to those subaltern subjects currently living in China, but beyond the Great Wall? (page 367).

[Share] National Geographic Magazine

1888-National Geographic-Magazine
First cover!

One of my most favorite reading materials adalah National Geographic Magazine! WHY? Because life is full of curiosity… Mulai dari hal terkecil di bumi hingga galaksi dunia, semua dibahas di NGM. Majalah yang terbit premiere pada tahun 1888 ini, kini sudah tersebar di seluruh penjuru negera dan telah diterjemahkan ke dalam 33 lebih bahasa dunia.

Hm.. Sakjane daku sedang mencoba mengingat-ingat kapan pastinya aku mulai tertarik membaca NGM ini. Sik jelas, ketika majalah NG versi Indonesia terbit untuk pertama kalinya pada Bulan April 2005, aku sudah mengikutinya.Why aku suka dengan NGM? Selain karena konten/isinya yang oke punya, dan foto-foto kelas dunia yang slalu bikin mupeng, plus bonus-bonus petanya, juga karena kualitas kertasnya. Aku sangat suka dengan buku yang memiliki jenis kertas ala ensiklopedi. Bisa tahan lama dan skaligus bisa jadi investasi di masa depan :D! Hope that my children will love to read them all ;D

Selain sebagai pembaca, bisa dikatakan pula bahwa aku seorang kolektor NGM berbagai versi. So far, NGM yang paling banyak kumiliki adalah versi bahasa inggris (versi Amrik), Bahasa Indonesia, juga ada beberapa yang berbahasa Jepang dan Mandarin (RRC).

Alhamdulillah, hingga saat ini koleksi NGM ku yang tertua dipublikasikan pada tahun 1961 yang berarti NGM ku yang satu ini, jauuuuh lebih tua daripada umurku. Hahaha…. And slain itu, tampaknya aku perlu membeli rak buku yang baru untuk menampung seluruh koleksiku tersebut :p

Oya, terkadang aku suka hunting NGM di beberapa pasar buku bekas yang ada di TMII (pasar buku langka), samping rel stasiun Pondok Cina UI, juga berbagai event pameran buku. Selain hunting sendiri, aku juga bekerjasama dengan salah satu provider NGM (istilah keren untuk pak penjual buku bekas :D) yang memang khusus mengumpulkan NGM untuk para kolektor. Melalui merekalah, aku bisa melengkapi dan mendapatkan satu per satu NGM dari berbagai tahun terbit hingga nyaris lengkap :D! Senangnya~ (ckck.. memang daku sangat boros untuk hal macam ini)

Btw, sebelumnya aku sempet menyebut tentang investasi. Jenis investasi apakah itu? Menurutku, investasi tersebut berupa info serta sejarah tentang perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa, yang bisa terus diingat dan dibaca. Tak hanya bagi generasi senior, tetapi tentu saja juga generasi muda imut-imut yang akan menjadi penerus bangsa kita. ha..ha..

Senang rasanya bisa mengamati dan mengetahui perkembangan teknologi dan bahasan sosial masyarakat dari masa ke masa. Sebab, ada kekaguman dan keanehan tersendiri ketika membaca NGM terbitan tahun jadoel. Bisa kebayang gak, suatu teknologi yang skarang ini dianggap ketinggalan abis, pernah menjadi primadona dan pusat pesona berjuta pasang mata di masanya. That’s the world that always changing ya…. MasyaAllah…. Mantabs 😀

ngm_jan_2013_cvr_set_01-558x400