[Story] Birokrasi di Jerman

Salah satu hal yang paling membuat saya gegar budaya (alias culture shock) sesampainya di Jerman adalah birokrasi. Wajar, jika seseorang memiliki ekspektasi tertentu sebelum mengalaminya langsung. Itu yang terjadi pada saya sebelum berangkat ke Jerman untuk menimba ilmu.

Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Jerman – sebagai negara maju – memiliki berbagai kecanggihan dan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk layanan publik dan birokrasi. Apa yang saya dambakan, minimal seperti layanan publik dan birokrasi yang saya alami saat tinggal di Taipei – Taiwan beberapa tahun yang lalu. Layanan yang cukup ramah, mudah dan cepat.

Nah, inilah yang membuat saya gegar budaya. Bayangan saya tentang birokrasi di Jerman semuanya runtuh saat beberapa minggu pertama tinggal di sana. Ternyata, proses birokrasi tak jauh beda dengan di tanah air; banyak berkas, berbelit, panjang dan lama. Apalagi orang Jerman terkenal dingin, kaku, jutek dan galak 😆😅

*eh, tapi beberapa layanan birokrasi di tanah air sudah mulai oke, sejak adanya layanan berbasis e-government system, apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum*

Sebagai gambaran pengalaman, untuk bisa mengurus registrasi diri di city hall, saya dan keluarga perlu waktu menunggu 3 minggu sejak kedatangan, dan hampir semua urusan di Jerman perlu bukti registrasi diri tersebut.

Maka otomatis 3 minggu pertama kami di sini, terkatung-katung tanpa bisa akses beberapa layanan (misal: aktivasi simcard HP, buka rekening bank –> penting untuk turunnya uang beasiswa, langganan internet –> akses informasi, registrasi kampus, dll).

Belum lagi saat hendak memperpanjang izin tinggal (resident permit). Saat itu visa kami habis masa berlakunya, sementara masih harus menunggu hampir 2 bulan untuk mendapat kartu resident permitnya. Ini bukan karena kami terlambat mendaftar atau mengurus perpanjangan, tapi memang kami harus menunggu agak lama sampai kartunya jadi.

Selain pengalaman di atas, saat mengurus surat keterangan untuk keringanan biaya kursus integrasi suami, itu perlu waktu hampir 3 bulan dengan tektok surat berkali-kali, dan menambah kelengkapan berkas yang tidak kunjung lengkap dan perlu ditambah ini itu. Hampir saja kami menyerah, tapi Alhamdulillah, pengalaman riweuh dan panjang itu menjadikan kami jadi punya segala macam berkas/ dokumen untuk segala urusan (*kurang lengkap apa coba, sampai bukti transaksi akun paypal pun saya punya XD).

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video singkat tentang apa yang menjadi khas/ tipikalnya orang Jerman. Kemudian, ada satu scene yang membuat saya jadi terinspirasi untuk menulis tentang ini. Bahwa, Birokrasi di Jerman memang dikenal riweuh dan lama. Sampai-sampai ada satire, “I Love German Bureaucracy“.

Ini videonya (dari DW)

*Oot: yang bagian tes fisik pas masukin belanjaan di supermarket, memang bener-bener terjadi. Pun sampai sekarang saya masih selalu deg-degan kalau harus masukin belanjaan 😆

Kemudian, saya browsing dan menemukan tips “Tujuh Cara untuk Atasi Birokrasi Jerman” yang dikutip dari The Local.de:

Seven ways to beat German bureaucracy

  1. Bring a good dose of patience. Do not expect to conquer German bureaucracy with a quick hit.
  2. Follow the rules. If you can’t beat them, join them. It is no good arguing with a bureaucrat. You have to jump through their hoops and follow their rules to get anywhere.
  3. Don’t be a comedian. German bureaucrats do not often appreciate jokes when processing your paperwork. If you want to try to break the ice, do it very, very carefully – there is always the danger of falling into extremely cold waters.
  4. If you don’t speak German, bring a letter from your employers or a friend who does. Officialese is often a different language and that is no exception in German.
  5. Take small steps. Government forms are normally excessively long requiring lots of detail about you. Don’t be overwhelmed by the number of forms you need to fill in or offices you need to visit. Tick them off one by one.
  6. Don’t expect to be able to pay with a card. Germans still like to pay for goods in cash and this often applies to officialdom too. Bring enough money to cover your back.
  7. Bring every possibly relevant bit of paper you can find. You may lose your temper if a carefully planned trip to a government office has to be repeated if you are missing one last piece of paperwork.

Walaupun begitu menantang, bedanya, birokrasi di Jerman itu adil dan pasti. Maksudnya, walaupun banyak berkas, panjang dan lama, saat kita memenuhi semua persyaratan dan sesuai prosedur, pasti terlayani. Tidak ada namanya pilih kasih, KKN, jalan belakang, suap menyuap, atau semacamnya.

Yang terpenting kata kuncinya dua, sabar dan nikmati saja proses birokrasinya 😁.

Jaa, selamat bersiap-siap bagi Anda yang akan tinggal dalam waktu agak panjang di Jerman. Enjoy Germany!

Advertisements

[Share] Pembelajaran dari Kolokium

Selama studi di Uni Bonn, saya berada di bawah institut BIGS Oriental and Asian Studies dan mengerjakan disertasi di bawah bimbingan Prof. Antweiler.

Sistem perkuliahan di institut saya, tidak menerapkan jam kantor; maksudnya tidak harus masuk setiap hari kerja pada jam tertentu. Saya hanya perlu mengambil beberapa courses dan seminar terkait academic dan soft-skills, year group meeting berkala, mengikuti konferensi (baik sebagai presenter maupun panitia), serta menyelesaikan riset yang sifatnya individu.

Nah, ada satu lagi aktivitas akademik lain yang saya ikuti secara rutin, yaitu kolokium bersama Prof dan teman-teman lain (S1, S2 dan S3) yang berada dalam satu bimbingan Prof. Antweiler.

Prof. Antweiler merupakan seorang Antropolog dengan kekhususan studi Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya. Beliau juga merupakan kepala Departemen Southeast Asian Studies di Institute of Oriental and Asian Studies.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, beruntung mendapat supervisor seperti beliau yang sangat ramah, humoris, inspiratif dan motivatif. Mulanya, saya sempat khawatir seperti apa supervisor saya. Saya baru bisa bertemu profesor setelah sebulan+ dari kedatangan di Jerman. Selama masa penantian itu, saya dipenuhi asumsi yang kurang baik tentang “supervisor”, terlebih saat mendengar cerita teman lain yang mendapat supervisor yang strict dan tak bersahabat.

Alhamdulillah, setelah mendengar testimoni teman lain yang satu bimbingan dan kemudian bertemu langsung dengan beliau, bayangan negatif dan asumsi saya tentang supervisor tidak terbukti 😆.

***

Saya baru pertama kali ikut kegiatan belajar yang bentuknya kolokium. Kolokium Prof. Antweiler diadakan seminggu sekali selama 90 menit. Kolokium ini sifatnya tidak wajib, tapi disarankan untuk ikut.

Kolokium kami diadakan di ruang kerja Prof. Biasanya ada sekitar 6-10 orang mahasiswa yang ikut dalam kolokium ini. Kami duduk melingkar sehingga proses diskusi lebih mudah dan terasa lebih “informal” dan santai.

Aktivitas yang dilakukan dalam kolokium, antara lain sharing informasi penting (misal konferensi/ seminar, call for proposal, info buku atau jurnal, job vacancy, dll), presentasi dan sharing progres penelitian/ abstrak konferensi, juga “curhat” tentang permasalahan/ stagnansi yang dihadapi saat melakukan penelitian.

Buat saya, ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang saya dapatkan dari kolokium ini.

Setiap kali ada konferensi atau presentasi progress, saya latihan alias gladi bersih dulu di kolokium ini. Profesor dan teman-teman memberikan pertanyaan sekaligus masukan yang konstruktif terkait konten maupun teknis presentasi.

Oya, manfaat ikut kolokium tidak selalu terkait dengan penelitian, tapi ada kalanya ide-ide lain bermunculan terkait rencana masa depan saya jika menjadi akademisi (dosen) dan peneliti kelak (aamiin). Salah satunya, bentuk/ model dosen yang baik, inspiratif dan menumbuhkan.

Prof tidak melulu membahas seputar dunia penelitian dan tugas akhir yang kami jalani sekarang. Beliau juga sering mengingatkan kami tentang bagaimana rencana studi dan karir ke depan, khususnya bagaimana riset yang kami lakukan sekarang, tidak membatasi pilihan karir atau kerja nanti.

Juga yang saya sangat suka, tips-tips aplikatif dalam menjalankan tugas sebagai mahasiswa dan peneliti. Dari pengalaman puluhan tahun, banyak hal yang beliau sarikan dan bagikan kepada kami. Misal, tips bagaimana membuat power point dan cara presentasi yang tidak membosankan, dan sebagainya.

***

Selain info dan tips dari Prof, kami para peserta kolokium juga berkesempatan untuk mendengarkan presentasi dan curhatan akademik mahasiswa lain. Dengan topik penelitian yang beragam dan studi kasus di berbagai negara, dari mereka saya mendapatkan pengetahuan baru tentang isu tertentu. Kemudian saya mencoba mengaitkannya dengan kondisi di Indonesia.

Tak hanya mendengarkan, kami juga bebas untuk memberikan feedback, pertanyaan, masukan atau rekomendasi terkait presentasi curhat akademik mereka. Dari sinilah, saya merasa dilatih untuk menganalisa, menelaah, dan berpikir kritis dalam problem solving.

***

Jika suatu hari nanti saya menjadi dosen, tampaknya model kolokium ini menjadi pilihan “menarik” dan efektif dalam memberikan “bimbingan” tambahan bagi para mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhirnya. Jadi, bimbingan yang dilakukan tidak hanya pertemuan one by one saja. Menurut saya, kolokium ini bisa jadi sumber penyemangat tambahan dalam mengerjakan tugas akhir.

Hmm… Mengingat model ini belum biasa diterapkan di tanah air, bisa jadi akan ada tantangan dalam penerapannya. Tapi ini hanya asumsi. Semoga bisa saya buktikan dan laksanakan di masa depan. Aamiin 😊

[Share] Jerman dan Kartu Pos

Setelah hampir dua tahun vakum dari dunia kirim-terima kartu pos (terakhir kali pertengahan 2016), akhirnya saya aktifkan lagi hobi saya ini pada Rabu pagi. Akun postcrossing pun juga saya activate. Ternyata, jiwa yang suka mengirim dan menerima kartu pos tidak mau lama-lama tidur. hehehe

Aktifnya kembali saya di dunia perkartuposan, didorong oleh banyaknya kartu pos yang bisa saya lihat hampir di setiap kota di Jerman. Saya jadi teringat, bahwa memang “budaya” kartu pos dan kebiasaan mengirim kartu pos di Jerman sangat tinggi.

Hal ini terlihat dari data statistik Postcrossing yang saya cek Rabu, 11 April 2018 jam 06.40 am. Data ini menunjukkan bahwa jumlah kartu pos terbanyak dikirim oleh anggota Postcrossing yang berasal dari Jerman (jumlahnya 6,6 juta kartu pos).

Jika dibandingkan dengan jumlah anggotanya (50 ribuan), perbandingannya sekitar 130 : 1. Ini berarti rata-rata 1 anggota dari Jerman, bisa mengirim 130 kartu pos. MaasyaAllah, luar biasa! Untuk anggota dari Rusia perbandingannya 60 : 1, sedangkan Amerika Serikat 72 : 1.

postcrossing
Data statistik jumlah kartu pos dikirim dan jumlah anggota Postcrossing berdasarkan asal negaranya (screenshoot per 11 April 2018 jam 06.40 CET)

 

Wajar, jika dulu saat masih ber-postcrossing di Taiwan dan di tanah air, kartu pos yang paling sering saya dapatkan berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Kalau dipikir-pikir, beberapa alasan yang membuat Jerman memiliki rasio jumlah kartu pos terkirim tertinggi, adalah sbb:

1. Kartu Pos Ada Banyak dan Mudah Didapatkan

Seperti yang saya kemukakan di awal, kartu pos bisa dengan mudahnya didapatkan (hampir) di setiap toko souvenir, toko buku, pusat wisata/ turis atau stasiun kereta api di seluruh Jerman. Gambarnya pun bervariasi, biasanya sesuai dengan landmark atau ikon kota tersebut. Maka, kartu pos di Jerman menjadi souvenir yang unik karena beda kota, beda gambar kartu posnya. Mirip-mirip seperti saat di Taiwan dulu, dimana kartu pos menjadi salah satu souvenir favorit yang mudah didapatkan.

Setiap kali saya berkunjung ke satu kota di Jerman, saya selalu sempatkan membeli beberapa kartu pos untuk saya koleksi dan kirim ke kerabat/ kawan/ postcrossing. Sejauh ini, kartu pos kota yang saya miliki, antara lain: Bonn, Cologne, Duisburg, Berlin, Koblenz, Munchen, Trier, Heidelberg, dan Frankfurt.

Kayaknya memang kartu pos menjadi peluang bisnis yang bagus di Jerman ini, sehingga penawarannya banyak (*tentu karena permintaan yang juga tinggi). Saya sering sedih, kalau di tanah air, agak sulit menemukan kartu pos, apalagi yang gambarnya bagus dan khas dari tiap kota. Pun kalau saya temukan, gambarnya kurang variatif (itu-itu aja) dan kadang malah gambarnya blur (gambar jadul gitu). Mungkin suatu saat nanti, ketika industri wisata di tanah air semakin bangkit, bisnis kartu pos akan semakin marak. Semoga (*aamiin).

2. Harga yang Relatif Murah

Harga kartu posnya bervariasi. Rata-rata untuk postcard ukuran standar, harganya 40 sen – 60 sen. Sedangkan kartu pos besar/ maxi, harganya 80 sen – 1 euro. Untuk ukuran harga oleh-oleh di Jerman, ini cukup murah. Tapi jangan dikonversikan ke rupiah atau dibandingkan dengan harga kartu pos di tanah air yaaa (*bikin sakit hati. hahaha)

Adapun untuk ongkos kirim kartu pos, flat – pukul rata. Untuk pengiriman di dalam Jerman, biayanya 70 sen. Sedangkan untuk luar negara Jerman, ke manapun, 90 sen.

3. Ternyata Ide Kartu Pos Berasal dari Jerman

Mengutip dari artikel DW yang berjudul The German Postcard Craze: Then and Now, ternyata kartu pos idenya bermula dari Jerman. Sebelumnya, saya tahunya kemunculan kartu pos berasal dari Austria (terlihat dari postingan saya sebelumnya terkait kartu pos di SINI).

Di artikel DW tersebut, disebutkan bahwa  ide “mailing card” (kartu pos) diperkenalkan oleh Heinrich von Stephan, postmaster general Imperium Jerman pada tahun 1865. Namun ide ini ditolak karena kartu pos dianggap tidak dapat menjaga privasi pengirimnya, dimana siapapun bisa membaca pesan di kartu pos tersebut.

Di lain pihak, Austria justru menyetujui ide ini, sehingga pada tahun 1869 dikeluarkanlah “Correspondenz-Karte” (correspondence card). Barulah setahun kemudian, beberapa wilayah di Jerman seperti Bavaria, Wuerttemberg and Baden mengakui pula. Nah, walaupun begitu, tidak perlu waktu yang lama bagi Jerman untuk bisa mempimpin dalam produksi kartu pos.

Sekian sharing singkat tentang pengamatan saya tentang Jerman dan kartu pos. Semoga bisa rajin menjalin silaturrahim via kartu pos dan selalu ada rezeki untuk kirim-terima kartu pos :D. aamiin.

PS: Yang mau saling mengirim kartu pos dengan saya, silakan japri yaaa 😀

[Share] Refleksi 6 Bulan: Life in Bonn

Alhamdulillah, tidak terasa hari ini genap enam bulan saya sekeluarga tinggal di Bonn (7 Oktober 2017 – 6 April 2018). Ada banyak hal yang kami alami dalam kurun yang cukup singkat tersebut. Berbagai pengalaman naik dan turun, sudah kami rasakan, dan ke depannya tentu akan ada pengalaman “tak terduga” lainnya.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa nyaman dan beradaptasi di tanah rantau ini, walaupun senyaman-nyamannya di luar negeri, masih tetap enak tinggal di tanah air. Perlu waktu yang agak lama, khususnya bagi saya pribadi, untuk bisa menemukan rasa nyaman tersebut. Enam bulan untuk proses adaptasi, menurut saya terlalu lama. Mulanya, saya masih belum “ikhlas” untuk tinggal di Jerman karena berbagai hal, utamanya, ketidaktahuan/ minimnya pengetahuan saya tentang Jerman dan Eropa.

shutterstock_638545531
Tampilan pemandangan Kota Bonn (sumber: google image)

Dua bulan pertama di sini, sepertinya bulan terberat bagi saya untuk beradaptasi. Culture shock saya alami. Ada banyak ekspektasi tentang Jerman yang saya setting terlalu tinggi. Jadi wajar saja, ketidaknyamanan itu terjadi.

Birokrasi

Hal pertama yang harus kami urus adalah birokrasi. Saat menjalani, saya agak stress dan juga pusing karena birokrasi di sini tidak semudah yang saya bayangkan. Ekspektasi saya, birokrasi di negara maju, akan mudah, lancar dan cepat. Kenyataannya, birokrasi di Jerman cukup membingungkan, panjang dan lama, walaupun positifnya, birokrasi di sini pasti asal syarat terpenuhi.

Untuk lapor diri di stadhaus (city hall), kami perlu menunggu 3 minggu untuk bisa mendapatkan jadwal untuk mendaftar (termin). Padahal, segala sesuatunya (urusan lain yang terkait administrasi dan birokrasi lanjutan) perlu tanda registrasi di city hall ini. Otomatis, urusan lain jadi tertunda (*paling signifikan saat mengurus akun bank, yang sangat diperlukan untuk turunnya uang hidup XD). Oh ya, setelah ditelusuri, penyebab lamanya kami baru bisa mendapatkan termin adalah penuhnya antrian akibat banyaknya pendatang dan juga bertepatan dengan mulainya semester baru bagi pelajar asing ke Kota Bonn.

Begitu pula untuk resident permit (KTP sini). Kami baru mendapatkannya setelah lebih dari 5 bulan di sini (Maret 2018). Banyak fasilitas publik yang belum bisa kami akses jika belum ada permit ini.

Untuk student ID (yang sekaligus sebagai semester ticket/ tiket transportasi) pun, baru saya bisa dapatkan 2 bulan setelah kedatangan. Hal ini terjadi karena sistem pendaftaran untuk mahasiswa doktoral, tidak sama seperti mahasiswa jenjang lainnya dari sisi waktu dan proses. Juga disebabkan oleh syarat kelengkapan lain yang terlambat saya peroleh karena disebabkan proses registrasi di city hall , jadwal profesor yang padat dan verifikasi dokumen ijazah di Jerman. Ini berdampak pada terbatasnya gerak, karena tanpa semester ticket, saya tidak bisa banyak bepergian (*transportasi publik di sini lumayan mahal).

Aaah, bagaimanapun, alhamdulillah ala kulli haal. Walau stress dan pusing, akhirnya semuanya bisa dilalui dan diselesaikan. Hanya perlu kesabaran panjang dan terus berdoa + bersyukur atas semua pengalaman ini.

Studi

Kewajiban dan tugas utama saya selama di Jerman ini adalah sebagai pelajar, jadi refleksi tentang studi juga wajib saya sampaikan. hehehe… Program riset yang saya jalani di sini sifatnya adalah mandiri (riset individu). Tidak ada kuliah rutin yang harus saya ikuti tiap harinya, begitu pula jam kerja/ jam riset yang fleksibel. Sehingga progress riset tergantung dari kedisiplinan dan motivasi diri.

slider-UniBonnExcellence
Ini landmarknya Kota Bonn yang juga merupakan rektorat Uni Bonn (source: Uni Bonn website)

Tiap pekannya, ada kolokium bersama supervisor dan mahasiswa lain yang satu bimbingan dengan profesor. Selain kolokium, ada juga kursus/ seminar pengayaan soft-skill yang diadakan oleh Bonn Graduate Center yang saya ikuti. Juga ada year-group meeting (pertemuan dengan teman seangkatan satu program) sebulan sekali, dimana kami wajib presentasi terkait progres riset (khususnya expose/ proposal) dan persiapan dies academicus.

Untuk konferensi, baru ada satu yang saya ikuti (maksudnya submit paper dan presentasi). Tapi itu pun menunggu hasil review abstraknya XD. Memang, saya belum “berambisi” untuk ikut konferensi di sana sini, karena fokus untuk pengumpulan data lapangan akhir tahun nanti, insyaAllah. Setelah ada data empiris, baru-lah saya berani untuk nulis paper dan submit abstrak ke konferensi-konferensi terkait bidang riset saya.

Komunitas

Dengan menjadi orang rantau di negeri asing, maka berkumpul bersama saudara se-tanah air sangatlah menyenangkan dan menenangkan. Alhamdulillah, sesampainya saya sekeluarga di Jerman, kami banyak dibantu oleh rekan-rekan warga Indonesia, khususnya sesama awardee LPDP dan Indo Muslim Bonn (IMB) di sini. Beragam tips dan informasi kami dapatkan dari mereka seputar adaptasi dan lainnya. Bahkan, kami banyak diberikan beragam barang kebutuhan rumah tangga dan pakaian bayi (special thanks untuk rekan-rekan yang sangat murah hati. Jazakumullah khairan katsir).

Pertemuan bulanan pun dilakukan oleh IMB. Alhamdulillah, di sini ada pengajian rutin yang bisa kami ikuti (baik khusus muslim, khusus muslimah, ada juga pengajian gabungan). Pesertanya adalah warga mukim (warga Indonesia yang sudah tinggal lama di Bonn), orang-orang Indonesia yang bekerja di Bonn, dan para mahasiswa. Sistem pengajiannya dilakukan sebulan sekali, berputar bergantian di rumah-rumah para warga mukim (biasanya yang  ruang tamunya cukup luas menampung kami-kami). Selain tausiyah dan ilmu seputar Islam, tak lupa di setiap pengajian, kami bisa saling berbagi dan mencicipi panganan khas Indonesia yang bisa mengobati rasa kangen terhadap tanah air (*hidup mahasiswa :p!).

27073319_1664513110277029_1607235571984245246_n
Foto bersama anggota IMB (Source: FB Group IMB by Asyraf) *Jangan cari foto saya di sini, soalnya pas gak ikutan karena anak sakit 

Selain IMB, sesekali saya dan kawan-kawan awardee LPDP di Bonn, kumpul-kumpul dan masak-masak. Bahkan, beberapa bujang Bonn berinisiatif untuk belajar memasak (yeah, it’s a cooking class) di apartemen kami. Alhamdulillah, saya tinggal kasih instruksi, mereka yang memasak. Saya cukup cek rasa, habis itu makan-makan 😀

Travel

Alhamdulillah, kami sekeluarga dapat kesempatan dan rezeki untuk menyambangi beberapa tempat dan kota di Jerman. Ada yang bepergian bersama teman-teman awardee LPDP di Jerman dan di Kota Bonn, ikutan pengajian di kota tetangga, ada juga yang inisiatif sendiri. Alhamdulillah, dengan adanya tiket sakti yang bernama student semester ticket, saya sekeluarga bisa menghemat biaya transportasi untuk jalan-jalan seputar bundesland North Rhein Westphalia/ NRW (bahkan gratis untuk daerah VRS pada hari libur dan akhir pekan :D). Selain itu, ada pula group ticket yang semakin membuat biaya perjalanan menjadi sangat hemat (*akan saya bahas khusus tentang ini).

Kota-kota yang sudah kami kunjungi selama 6 bulan ini antara lain:

  1. Bonn dan sekitarnya (NRW)
  2. Cologne (NRW)
  3. Duisburg (NRW)
  4. Dusseldorf (NRW)
  5. Aachen (NRW)
  6. Mulheim an der Ruhr (NRW)
  7. Frankfurt (Hesse)
  8. Koblenz (Rhineland-Palatinate)
  9. Trier (Rhineland-Palatinate)
  10. Heidelberg (Baden-Württemberg)
  11. Munich (Bavaria)

 

IMG_2728
Ini Istana Heidelberg, ikon kota utama (Source: dokumentasi pribadi)

Perkembangan Anak

Alhamdulillah, selama di sini Zahra banyak belajar baik dari sisi fisik maupun psikologis. Mulanya, Zahra sering menangis karena jetlag dan kondisi cuaca yang kurang nyaman baginya (*dan juga kami, yang sangat orang tropis). Keterbatasan interaksi dengan anak seusianya dan juga orang lain, membuat Zahra menjadi sangat pemalu dan takut jika bertemu orang-orang yang tak dikenal (terutama laki-laki).

Walau masih penakut dan pemalu, paling tidak dengan adanya Baby playdate yang diinisasi oleh para expatriat (warga pendatang) di Bonn, Zahra punya teman main sepantaran tiap seminggu sekali. Playdate ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi para Ibu expatriat. Inisiasi tersebut dibuat karena adanya permasalahan terkait kemampuan bahasa Jerman, lama antrian dan biaya childcare yang cukup mahal (terutama yang swasta). Rata-rata, kami harus menunggu 1 tahun sampai bisa mendapat kuota childcare milik pemerintah kota.

Oya, playdate ini tempatnya berpindah dari satu rumah anggota, ke rumah lainnya. Kami jadi belajar tips-tips kehidupan para ibu dan anak non-Jerman selama tinggal di sini. Para ibu expatriat ini berasal dari berbagai negara; ada Perancis, Bulgaria, Polandia, Rumania, Amerika Serikat, Filipina, Australia, dan tentu Indonesia (saya maksudnya :D).

Selain itu, satu hal yang saya cermati, taman bermain anak (gratis) bisa dengan mudah kami temui di sini. Saat cuaca cerah, biasanya saya dan suami membawa Zahra ke Rheinaue park, taman kota dekat rumah. Alhamdulillah, Zahra bisa belajar berjalan sambil melihat berbagai tanaman dan hewan yang ada di taman tersebut.

Yup, sementara itu dulu refleksi 6 bulan pertama kami di sini. Tidak semuanya bisa saya tulis, tapi semoga ini bisa menjadi catatan khususnya buat kami. Bismillah. Terus semangat mencari ilmu dan hikmah di bumi Allah ini :)!

[Share] Tempat Belanja di Bonn

Sebagai seorang emak-emak, tentunya kondisi perut suami dan anak serta kebutuhan kenyamanan tempat tinggal menjadi prioritas bagi saya. Apalagi dengan kondisi finansial yang mepet-mepet di tanah rantau ini, saya harus putar otak agar kebutuhan dasar manusia bisa selaras dengan kondisi dompet :D.

Untuk itu, di dalam postingan ini saya sampaikan beberapa informasi hasil tanya sana sini dan pengalaman pribadi, seputar tempat membeli kebutuhan sandang, pangan dan papan di Bonn. Semoga info ini bisa bermanfaat terutama buat yang baru saja settlement di Kota Bonn :).

Belanja Harian

Untuk memenuhi kebutuhan harian, belanja bahan makanan mentah/ jadi dan juga shampo sabun dll bisa didapatkan di supermarket berikut ini:

  • Penny Market: Menurut info dari teman-teman saya, Penny cukup lengkap dan harganya cukup murah. Sayangnya jumlah tokonya tidak terlalu banyak. Tapi Alhamdulillah, supermarket terdekat dari apartemen kami adalah Penny ini :D. Sahabat yang selalu kami kunjungan tiap awal pekan
  • Aldi Sud: Aldi ini jumlah tokonya menurut saya paling banyak, hampir ada di berbagai sudut kota Bonn. Barangnya lumayan banyak, harganya standar, yang asyik kadang ada diskon juga. Aldi jadi alternatif buat saya kalau belanja karena ada beberapa barang yang gak ada di Penny, sehingga saya belinya di Aldi ini.
  • Kaufland: Untuk Hypermarket, Kaufland lah juaranya. Hanya ada satu di Bonn, yaitu di Tannenbusch Center. Super lengkap, harga lumayan bersaing (11-12 dengan Aldi). Kelebihan Kaufland adalah karena statusnya sebagai hypermarket, sehingga hampir semua kebutuhan harian ada di sini. Selain itu, yang cukup menarik adalah ada kasir self-service dimana kita sendiri yang men-scan bar-code barang belanjaan dan membayarnya ke mesin.
  • Lidl: Lidl statusnya 11-12 seperti Aldi. Namun jumlahnya tidak sebanyak Aldi. Saya jarang belanja ke sini karena lokasinya agak jauh dari rumah.
  • Edeka: Edeka juga gak jauh berbeda dengan Aldi dan Lidl. Tapi beberapa barang menurut saya harganya lebih mahal. Kalau kata teman, kelebihan Edeka adalah sayur dan buahnya yang fresh.
  • Netto: Netto termasuk supermarket yang murah juga produknya, tapi tidak terlalu signifikan bedanya dengan Penny. Jumlah tokonya agak terbatas. Saya baru sekali belanja di sini karena dari rumah lumayan jauh juga.
  • REWE: Nah, REWE termasuk supermarket “elit” karena biasanya terletak di pusat-pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis/ tengah kota. Barang-barangnya high quality, sehingga harganya sebanding dengan kualitasnya 🙂

toko

Oya, perlu diperhatikan bahwa supermarket dan toko di Jerman pada umumnya tutup pada hari Ahad. Selain itu juga jam tutupnya lebih awal dibandingkan dengan di Indonesia. Jadi baiknya cek dulu jam buka tutup tokonya ya.

Toko Produk Halal

Untuk produk daging, kehalalan mesti jadi prioritas. Mencari toko halal di Jerman umumnya tidaklah susah (masih bisa diakses walau sedikit jauh dari tempat tinggal). Selain itu, harganya juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di supermarket umum. Beberapa toko ini menjadi favorit saya dan keluarga untuk belanja produk daging halal dan juga beras plus bumbu-bumbu khas Turki/ Timur Tengah.

  • SES Friesdof: Toko ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Toko SES ini lumayan lengkap dan besar. Harga barangnya menurut saya sedikit lebih mahal dibanding toko halal lainnya. Lokasinya lumayan, sekitar 20 menit jalan kaki. Kalau lagi rajin dan pengen olahraga, biasanya kami ke sini.
  • Oba Market – Tannenbusch Center: Ini toko halal paling favorit kami. Akses ke sini lebih mudah (walau jauh), hanya perlu duduk cantik 20 menit tanpa ganti tram dan banyak jalan XD. Selain itu, lokasinya berdekatan dengan Action dan Kaufland. Jadi kami senang ke sini karena one stop di Tannenbusch Center tanpa perlu ke sana sini lagi. Dibanding SES, barangnya lebih sedikit dan tidak terlalu lengkap, tapi cukup sesuai dengan kebutuhan kami. Harganya juga lebih murah. Kadang ada promo ayam dan beras pulen 😀
  • Umit Markt – Rosental: Umit Market jadi alternatif belanja daging halal. Untuk ke sini lumayan agak ribet (baca: malas XD) karena harus ganti tram. Jadi, kalau Umit Markt yang di Rosental kalau pas sekalian ke toko Asia aja. hehehe…. Oya, barangnya cukup banyak tapi tidak sebesar SES. Harganya 11-12 dengan toko halal pada umumnya.

Toko Asia

  • Thai-Viet Asian Markt – Rosental: Toko Asia ini bisa dikatakan paling lengkap untuk ukuran Bonn. Ukuran tokonya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk belanja dan barangnya lengkap. Ada berbagai macam beras, tempe, kangkung segar, lele, bahkan daun jeruk beku XD. Biasanya kalau di sini saya membeli tauge, tepung tapioka, sambal dan kecap ABC, mie instan, kacang tanah dan beberapa bumbu khas Asia. Kalau beras, saya prefer di Oba Markt karena harganya lebih murah.
  • Chana Asian Store – Bad Godesberg: Yang ini bisa jadi alternatif kalau belanja produk Asia. Lokasinya lebih dekat dari rumah, bisa diakses dengan jalan kaki 30 menit (ini juga kalau lagi rajin olahraga XD). Tokonya agak kecil dan sempit, tapi untuk produk lumayan lah, walau gak selengkap Asian Markt di Rosental.
  • Seng Heng Market, Cologne: Kalau mau lebih lengkap dan agak jauhan perginya, bisa ke Seng Heng di Cologne. Ini super lengkap, so far. Tapi ya perlu effort yang lebih besar untuk ke sana. Mampir ke sini kalau pas ke Cologne aja dan nyari sesuatu yang gak ada di Toko Asia Rosental.

Obat, Kosmetik dan Perlengkapan Bayi

  • Drogerie Markt (DM): DM menjadi sahabat yang sering kami kunjungi selain Penny. Biasanya kami ke sini kalau mencari produk-produk bayi seperti susu, jus bayi, bubur dan biskuit bayi, popok dan salep + sabun bayi. Selain itu, produk terkait tubuh manusia lengkap terjual di sini, seperti obat generik, produk kosmetik dan perawatah tubuh, dll. Jumlah tokonya banyak ada di berbagai penjuru Bonn.  Oya, tips penting. Ada apps dari DM yang memberikan kupon-kupon diskon, penting dan sangat membantu bagi emak-emak seperti saya :D. Namanya: Gluckskind

1200px-Dm-drogerie-Logo.svg

Perlengkapan Rumah

  • Action: toko perlengkapan rumah dan alat kantor ini menurut saya adalah yang harganya paling murah dibandingkan yang lain. Tapi harga berbanding lurus dengan kualitas. Buat kami, kualitas barang di sini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu awal settlement di Bonn, kami memborong berbagai produk rumah seperti tempat cuci piring, sendok, mangkok, pisau, baterai, jam dinding, buku tulis dll. Tokonya ada beberapa di berbagai penjuru Bonn. Barangnya cukup lengkap dan tempatnya nyaman.

o

  • Woolworth (Bad Godesberg): Selain Action, toko perlengkapan rumah dan kantor yang cukup oke adalah Woolworth. Bedanya dengan Action, di Woolworth ada baju-baju yang harganya miring. Kualitas barangnya menurut saya lebih oke dibanding di Action, tapi ini berarti berpengaruh di harga juga. hehehe… So far ada beberapa barang di Action yang gak ada, bisa saya jumpai di sini.

Toko Buku

  • Thalia Bookstore – Zentrum: Thalia adalah toko buku terbesar dan ter”mewah” yang ada di Kota Bonn. Lokasinya juga di pusat keramaian. Saya ke sini mulanya karena mencari kartu pos (saja). Untuk buku, koleksinya sangat banyak, sayangnya dalam bahasa Jerman. hehehe… Untuk buku berbahasa Inggris ada juga, tapi gak banyak (mostly novel/ karya fiksi).
  • Amazon: Amazon bukan toko fisik sih, as you know. Tapi saya biasanya cari buku berbahasa Inggris di Amazon.de. Gak perlu pusing cari kemana-mana, tinggal search and click aja secara online XD.  Semua buku literatur untuk riset, saya beli di sini. Ada opsi buku bekas juga, jadi bisa lebih murah. Yang menarik, dengan jaringan Amazon, kita bisa akses buku murah walau penjualnya di UK bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kita cuma perlu nunggu lebih lama aja sampai bukunya sampai ke rumah.

Barang Bekas

  • Flohmarkt: flohmarkt itu mirip-mirip pasar kaget kalau di Indonesia. Flohmarkt biasanya diadakan sebulan sekali. Di Bonn yang terbesar adanya di Rheinaue Park, diadakan hari Sabtu (cek di sini). Ada juga flohmarkt di Tannenbusch Center, diadakan hari Minggu (cek jadwal). Yang dijual ada yang bekas (berkualitas), ada juga yang baru. Barang yang dijual bervariasi mulai dari baju, peralatan rumah tangga, buku, hingga barang antik. Saat ke sana, yang kami beli adalah baju musim dingin, sepatu kets dan karpet kecil. Harganya murah-murah, dan kadang bisa ditawar juga. Hati-hati jangan sampai kalap ya.
  • Toko Secondhand: toko secondhand ada cukup banyak di seputaran Bonn dan Cologne. Yang pernah kami kunjungi adalah Humana Cologne (mostly baju untuk dewasa) dan Lolipop (khusus baju dan mainan bayi/ anak). 
  • eBay Kleinanzeigen (online dan apps playstore): belanja online memang lebih praktis. Kita bisa mencari dan memilih barang dengan jari. Bedanya adalah sebagian besar barang yang kita ingin beli merupakan barang bekas dan harus dijemput sendiri ke tempat penjualnya. Memang agak riweuh kalau harus nyamperin satu per satu ke rumah penjualnya, tapi sebanding dengan harga barang yang murah :). 

    Sementara itu tips singkat berbelanja di Bonn 🙂

    [Share] Mencari Family Apartment di Jerman (2)

    Setelah bercerita tentang tips dan tahapan mencari wohnung di Jerman dari tanah air, di tulisan ini saya akan berbagi lika liku dan drama dalam pencariannya.

    Dalam 6 bulan terakhir, saya telah mengirim (mungkin) ratusan aplikasi ketertarikan wohnung. Ini contoh format aplikasi wohnung (dalam bahasa Jerman) yang saya dapat dari Teh Risma yang sudah diedit oleh native speaker:

    Sehr geehrte Damen und Herren,

    mein Name ist (nama). Ich bin (umur) Jahre alt und komme aus Indonesien. Ich bin wissenschaftliche Angestellte an der (nama universitas) und schreibe meine Doktorarbeit im (nama jurusan/ institut).

    Ich werde in (nama kota) von (bulan tahun mulai studi) bleiben. Ich suche eine Familienwohnung für zwei Personen und ein Baby (umur bayi jahre alt). Ich bin an Ihrer Wohnung interessiert.

    Ich habe keine Tiere. Wir sind Nichtraucher und ordentliche Personen. Ich mag Ruhe und feiere keine Parties. 

    Ich freue mich auf Ihre Antwort. Danke im Voraus. 

    mit freundlichen Grüßen

    (Nama)

    ————————–

    Kurang lebih artinya seperti ini:

    Dear Sir or Madam,

    My name is Retno Widyastuti. I am 30 years old and I come from Indonesia. I am a research assistant at the University of Bonn and I write my dissertation at the Institute of Oriental and Asian Studies.

    I will stay in Bonn from Oct 2017. I am looking for a family apartment for two people and a baby (0 years old). I am interested in your apartment.

    I have no animals. We are non-smokers and ordinary persons. I like peace and do not celebrate parties.

    I look forward to your reply. Thank you in advance.

    Best regards,

    Retno Widyastuti

    ——————-

    Dari sekian ratus aplikasi tersebut, saya hanya mendapat beberapa belas balasan aplikasi/ email/ telepon yang sebagian besar menolak, dan 7x kesempatan untuk apartment visit
    Beberapa alasan penolakan landlord nya sbb:

    1. Wohnung tidak cocok untuk family (walaupun syarat standar jumlah kamar dan luasnya memenuhi). Di sini saya merasa bahwa keputusan cocok atau tidaknya syarat luas dan kamar ditentukan oleh landlord.
    2. Wohnung tidak cocok untuk bayi atau keluarga dengan anak kecil. Misal karena ada tangga, kamar tidak bersekat, kurang luas (yang pertimbangan luas atau tidaknya wohnung sangat subjektif)
    3. Wohnung sudah occupied alias disewa orang lain (kalah cepat).
    4. Wohnung harus disewa dan dibayar per bulan Juli or Agustus walau kita baru memakainya bulan September. It means wohnungnya nganggur 2 bulan. Kalau mau opsi ini, siapkan uang ekstra ya 🙂

    Saya paling sering mengalami penolakan nomor 1 & 2. Di samping alasan resmi di atas, kalau menurut teman saya orang Jerman, ada kemungkinan penolakan disebabkan oleh sentimen terhadap orang asing, terutama pasca meningkatnya jumlah imigran/ refugees di Jerman dua tahun terakhir. 

    Sulitnya mencari wohnung, tidak hanya saya saja yang merasakan. Berdasarkan riset dan survey online terhadap 4800 mahasiswa yang dilakukan oleh AsTA Bonn (2012) tentang kondisi dan situasi tempat tinggal para mahasiswa di Bonn, sekitar 90% responden menyatakan sulit dan sangat sulit mendapatkan wohnung yang sesuai. 

    Mayoritas tawaran wohnung yang ada, memberikan tarif sewa yang tinggi, masih diperlukannya renovasi wohnung yang juga memerlukan biaya, atau lokasinya jelek (maksudnya jauh dari kampus atau akses ke transportasi/ pasar yang sulit). 

    Di sisi lain, housing market di sana cukup ketat, karena banyaknya permintaan tempat tinggal, makelar/ perantara yang menyulitkan, dan landlord yang rempong dan suka minta macem-macem.

    Selama dua tahun terakhir, perburuan wohnung semakin sengit, yang bisa dilihat dari peningkatan jumlah landlord yang perlu dihubungi penyewa hingga akhirnya berhasil. Sekitar 30% responden mengatakan mereka perlu mengontak setidaknya 20 landlord. Saya pribadi, harus mengirimkan ratusan email aplikasi dan berkomunikasi dengan lebih dari 50 landlord ^^”.

    Untuk mengetahui laporan riset dan survey ini secara lengkap, bisa membaca di tautan ini (dalam bahasa Jerman).

    Paparan hasil temuan survey di atas, saya alami dan rasakan juga. Terutama saat proses mengontak landlord dan apartment visit. 

    Adapun pengalaman dalam apartment visit yang alami, sbb:

    1. Visit pertama: wohnung cukup oke, tapi landlord meminta bayaran per Juli walaupun baru dipakai bulan September. Sayangnya kondisi keuangan kami belum memungkinkan.
    2. Visit kedua: kondisi wohnung agak kotor, spooky dan berada di basement (minim cahaya dan sirkulasi udara) sehingga kurang baik untuk kesehatan bayi. Selain itu, landlord meminta bayaran sewa yang cukup tinggi untuk kondisi dan fasilitas wohnung yang kurang memadai. Biaya sewanya tidak sesuai dengan yang tertera di iklan.
    3. Visit ketiga: saat visit, orang yang saya kontak tidak datang di waktu yang telah dijanjikan. Ternyata saat dikonfirmasi, ybs bukan landlord melainkan penyewa sebelumnya. Saat dikontak lagi, ybs tidak membalas.
    4. Visit keempat: wohnung cukup oke untuk keluarga. Tapi proses negosiasi dilakukan dengan perantara, bukan dengan landlordnya langsung. Yang ini cukup alot karena mereka meminta berbagai dokumen tambahan yang mustahil didapatkan, seperti surat jaminan dari KBRI Berlin. Selain itu, mereka meminta deposit 3x sewa (ini normal) + 4x sewa (ini yang abnormal) sebagai pengganti surat jaminan. Besaran depositnya saja, total mencapai 4900 Euro, yang impossible buat keuangan kami. Kemudian ini jadi dasar kecurigaan kami kalau ada “permainan” yang dilakukan oleh perantara tersebut.
    5. Visit kelima: kami kalah cepat, karena saat apartment visit berlangsung di pagi hari, landlord berkata bahwa wohnungnya baru saja laku pada malam sebelumnya.
    6. Visit keenam: Untuk wohnung ini, cukup oke dan landlordnya baik hati, namun karena masalah birokrasi (perlu kontrak wohnung segera) dan komunikasi dengan landlord harus via telepon dan kontrak dikirim via pos which takes time, akhirnya terpaksa dibatalkan. Deadline termin visa suami dan anak sangat mepet. Terlebih di waktu peak season (Juli dan Agustus), sulit mendapat termin yang baru di Kedutaan.
    7. Visit ketujuh: Alhamdulillah, ini adalah visit terakhir dan kami akhirnya mendapat kontrak wohnung. Landlordnya sangat baik hati, fast response via email, sopan dan bisa bahasa Inggris. Awalnya sempat curiga karena beliau langsung memberikan draft kontrak, padahal belum melakukan apartment visit. Memang perlu hati-hati, karena kasus penipuan berkedok meminta bayaran deposit wohnung cukup banyak terjadi di Jerman. Alhamdulillah kecurigaan tidak terbukti setelah visit. Walaupun cukup mahal, tapi Alhamdulillah masih bisa kami usahakan.

    Drama nangis-nangis biasanya terjadi karena ekspektasi/ harapan yang berlebih, ditambah rasa panik karena jadwal visa + keberangkatan yang mepet, plus rasa baper emak-emak yang membayangkan harus meninggalkan bayi dan suami di tanah air.

    Tapi dari pengalaman ini saya sungguh bersyukur karena saya:

    • Diingatkan oleh-Nya untuk hanya bergantung dan menaruh segala harap pada-Nya semata. 
    • Belajar untuk mengelola harapan. 
    • Belajar untuk sabar dalam mencari rezeki wohnung, yang mirip-mirip seperti mencari jodoh; tepat kriterianya, tepat waktunya, tepat landlordnya, tepat kondisi keuangannya, dan menerima kenyataan bahwa tidak ada wohnung yang sempurna.
    • Bersyukur karena Dia mempertemukan kami dengan orang-orang yang baik hati dan senantiasa memberi semangat serta bantuan (special thanks untuk Abel, mas Ardhy dan keluarga Formal Jerman).

    Begitulah cerita lika liku dalam mencari wohnung keluarga di Jerman dari tanah air. Semoga bisa menjadi gambaran untuk teman-teman seperjuangan :). Feel free to contact apabila mau menanyakan hal detail atau info lainnya :). Selamat berjuang!!

    [Share] Aplikasi Visa Jerman: Family Reunion

    Alhamdulillah, setelah perjuangan yang mengharu biru, akhirnya suami dan anak saya sudah mengajukan visa family reunion ke Jerman pada Selasa, 1 Agustus 2017 kemarin. Proses untuk bisa memenuhi persyaratan visa ini cukup panjang, terutama karena kami baru mendapatkan kontrak sewa apartemen (mietvertrag) pada 28 Juli 2017.

    Kami pun terpaksa mengubah jadwal pengajuan visa 3x karena saat itu belum juga berhasil mendapatkan mietvertrag tersebut. Belum lagi deg-degan tidak dapat termin karena bulan Agustus-September biasanya adalah peak-season nya kedutaan Jerman karena musim liburan serta persiapan sebelum mahasiswa mulai studi. Namun, Allah sungguh luar biasa memberikan kekuatan dan kemudahan dalam perjuangan kami.

    Di dalam postingan ini, saya hendak berbagi pengalaman bagaimana mengurus visa family reunion (kumpul keluarga) untuk suami dan anak. Adapun visa studi saya, sudah diajukan pada 19 Juli 2017.

    Syarat-syarat yang harus dipenuhi, sbb:

    I. Membuat Jadwal Termin Kedutaan Jerman di Jakarta

    • Jenis National Visa (Resident Permit) untuk Kumpul Keluarga/ Family Reunion. Perjanjian bisa dibuat di tautan INI.
    • Kita bisa memilih hari dan waktu yang tersedia.
    • Kita bisa membuat termin paling cepat 3 bulan sebelumnya.
    • Termin bisa dibatalkan paling tidak 24 jam sebelum jadwal termin (tautan pembatalan ada di email). Dan setelah dibatalkan, bisa mengajukan lagi jadwal yang lain (dalam kasus urus visa suami dan anak, saya sampai 3x mengubah jadwal karena tak kunjung mendapat apartemen keluarga)
    • Termin paling pagi adalah jam 7.30 dan paling siang jam 11.00.
    • Print email konfirmasi termin

    II. Menyiapkan dokumen Visa Kumpul Keluarga

    Untuk Suami/ Istri (dibuat 2 rangkap), antara lain:

    1. Foto Biometrik ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar, background putih/ abu-abu muda (keterangan lengkapnya di SINI). Foto jangan dilem/ ditempel di formulir. Cukup dilampirkan di bagian depan formulir dengan paper clip.
    2. Formulir permohonan visa nasional yang sudah diisi lengkap dan sudah ditandatangani (Unduh di SINI)
    3. Lembar Periksa Perjalanan Pasal 54 dan 55 yang sudah ditandatangani (Unduh di SINI)
    4. Surat Undangan dari Pasangan yang ke Jerman. (Contoh suratnya bisa diunduh di sini: Invitation letter)
    5. Terjemahan Akta Nikah dalam Bahasa Jerman
    6. Fotokopi akta nikah yang telah dilegalisir di 3 kementerian dan Kedutaan Jerman
    7. Fotokopi bukti Sewa/ kontrak Apartemen Keluarga (mietvertrag)
    8. Letter of Acceptance (Surat penerimaan dari kampus)
    9. Letter of Guarantee/ Letter of Scholarship (Surat jaminan finansial) yang menyatakan biaya pertanggungan untuk keluarga (pasangan)
    10. Surat izin dari profesor/ jurusan yang menyatakan boleh membawa keluarga (tambahan untuk penguat dokumen)
    11. Fotokopi Kemampuan Bahasa Jerman Level A1 (Dalam beberapa kasus, bisa diganti dengan fotokopi ijazah S1 dan transkrip nilai yang dilegalisir dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Lengkapnya tentang peraturan bahasa ini, bisa dilihat di sini: Syarat A1 dan Pengecualiannya)
    12. Fotokopi Polis Asuransi Perjalanan (saya dan keluarga menggunakan Mawista karena lebih murah dan mudah pendaftarannya)
    13. Fotokopi Paspor yang masih berlaku minimal 1 tahun dan fotokopi paspor milik pasangan yang ke Jerman. Paspor asli juga harus diserahkan untuk pengecekan dan pemrosesan. Setelah selesai, paspor akan dikembalikan
    14. Uang senilai 60 Euro dalam bentuk rupiah sesuai kurs pada hari itu (usahakan dengan uang pas). Saat suami mengajukan visa, kurs 60 Euro senilai dengan Rp 940.000,-
    • Sebagai penguat aplikasi visa, suami saya menambahkan surat rekomendasi dari mentor orang Jerman dan sertifikat saat suami ikut pelatihan di Jerman.

    Untuk Anak (dibuat 2 rangkap), antara lain:

    1. Foto Biometrik ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar, background putih/ abu-abu muda (keterangan lengkapnya di SINI). Foto jangan dilem/ ditempel di formulir. Cukup dilampirkan di bagian depan formulir dengan paper clip.
    2. Formulir permohonan visa yang sudah diisi lengkap dan sudah ditandatangani oleh kedua orang tua (Unduh di SINI)
    3. Lembar Periksa Perjalanan Pasal 54 dan 55 yang sudah ditandatangani oleh kedua orang tua (Unduh di SINI)
    4. Surat Undangan dari Ibu/ Ayah yang ke Jerman. Contoh suratnya bisa diunduh di sini: Invitation letter)
    5. Terjemahan akta kelahiran anak dalam Bahasa Jerman
    6. Fotokopi akta kelahiran anak yang telah dilegalisir di 3 kementerian dan Kedutaan Jerman
    7. Fotokopi bukti Sewa/ kontrak Apartemen Keluarga (mietvertrag)
    8. Letter of Acceptance (Surat penerimaan dari kampus) milik Ayah/ ibu yang studi di Jerman.
    9. Letter of Guarantee/ Letter of Scholarship (Surat jaminan finansial) yang menyatakan biaya pertanggungan untuk keluarga.
    10. Surat izin dari profesor/ jurusan yang menyatakan boleh membawa keluarga (tambahan untuk penguat dokumen)
    11. Fotokopi Polis Asuransi Perjalanan (saya menggunakan Mawista karena lebih murah dan mudah pendaftarannya)
    12. Fotokopi Paspor yang masih berlaku minimal 1 tahun dan fotokopi paspor milik ayah/ ibu yang studi di Jerman. Paspor asli anak juga harus diserahkan untuk pengecekan dan pemrosesan. Setelah selesai, paspor akan dikembalikan
    13. Uang senilai 30 Euro dalam bentuk rupiah sesuai kurs pada hari itu (usahakan dengan uang pas). Saat mengajukan visa, kurs 30 Euro senilai dengan Rp 470.000,-

    Nah, berikut detail proses pengurusannya:

    • Hadir paling lambat 30 menit sebelum jadwal visa/ termin. Saya memilih termin paling pagi (jam 07.30) dan stand by di depan kedutaan Jerman pukul 07.00. Pintu bagian konsuler kedutaan dibuka pukul 07.15.
    • Untuk anak yang masih bayi, tidak harus datang (sebaiknya tidak usah dibawa supaya tidak mengganggu kalau rewel/ menangis).
    • Tunjukkan paspor dan print termin kepada petugas keamanan Kedutaan di pintu masuk.
    • Pengecekan barang dan badan. Untuk alat elektronik (HP, laptop, dll), akan disimpan di loker petugas keamanan dan tidak diperbolehkan dibawa ke dalam kedutaan.
    • Menuju lantai 2 ke bagian pengurusan visa (lewat tangga samping pos petugas keamanan)
    • Tunjukkan paspor dan serahkan print termin kepada satpam di ruang visa. Satpam akan mengecek kesesuaian termin dengan data kedutaan, kemudian baru duduk.
    • Satpam mengarahkan kita untuk menyusun berkas aplikasi visa studi sesuai urutan dokumen dengan arahan kedutaan (seperti list di atas).
    • Dalam menyusun berkas-berkas dokumen, gunakan paper clip saja, jangan di-staples/ hekter dan juga jangan diberi map.
    • Tunggu panggilan petugas loket. Untuk visa resident permit, ada di loket 4.
    • Setelah dipanggil, serahkan dokumen 2 rangkap (dengan urutan dokumen yang sama).
    • Petugas loket akan bertanya perihal keperluan visa, dan juga mengecek kelengkapan dokumen. Contoh pertanyaannya: berapa besaran beasiswa dan family allowance-nya, alamat apartemen keluarganya, dll.
    • Seberapa detail pertanyaannya, tergantung karakter petugas loket yang bertugas. hehehe… Yang penting, jawablah dengan tenang apabila ditanya. Jangan emosi, apalagi ngeyel.
    • Untuk memperkuat jawaban dan argumen, sampaikan berkas-berkas pendukung jika diperlukan.
    • Apabila ada yang kurang sesuai isian formulir atau urutannya, akan diberitahukan petugas loket. Dan apabila ada dokumen yang tidak diperlukan, akan dikembalikan.
    • Pengambilan sidik jari kedua tangan (untuk bayi dan anak yang masih terlalu kecil, tidak perlu pengambilan sidik jari)
    • Jika sudah lengkap, petugas loket akan meminta biaya visa.
    • Setelah itu, dipersilakan duduk sambil menunggu proses visa diselesaikan.
    • Setelah selesai, akan diberikan lembar pengecekan data dan diminta untuk mengisi nama, email, nomor HP dan tanda tangan di lembar pengecekan tersebut.
    • Setelah selesai, kemudian paspor asli dikembalikan beserta kwitansi pembayaran visa. Jangan lupa mengecek kembali paspornya (jangan sampai tertukar)

    WAKTU

    • Proses pengurusan visa bergantung ramai atau tidaknya pemohon. Saat saya dan suami ke sana, masuk ruang visa jam 07.30, bertemu petugas loket jam 07.40 untuk penyerahan berkas anak saya. Kemudian, karena pengajuan visanya sekalian untuk suami, jadi berkas anak dan suami diserahkan bersamaan. Selesai proses urus visa jam 08.15.
    • Untuk visa sendiri memerlukan waktu 6 – 8 minggu proses. Berkas akan dikirim langsung ke Imigrasi kota tujuan di Jerman. Apabila sudah 4 minggu, coba tanyakan progress visa via email kedutaan.
    • Jika sudah jadi, pemohon akan dikontak melalui email untuk penempelan visanya. Jangan lupa bawa paspor dan kwitansinya ya.

    TIPS

    • Bawalah buku bacaan untuk menunggu giliran panggil visa
    • Lebih enak mengambil termin paling pagi, karena bisa lebih awal dan antrian tidak terlalu banyak
    • Jangan lupa membawa bolpoin sendiri untuk jaga-jaga
    • Bawa semua dokumen/ berkas asli dan juga rangkapan fotokopian dokumen untuk jaga-jaga.
    • Tempat fotokopian letaknya cukup jauh dari Kedutaan Jerman, dan biayanya lebih mahal. Pun kalau terpaksa harus fotokopi, bisa ke Grha Mandiri yang letaknya di seberang belakang Kedutaan.

    Begitulah pengalaman aplikasi visa suami dan anak untuk kumpul keluarga. Kalau ada yang hendak ditanyakan, feel free to ask :). Semoga sukses dan lancar 🙂

    PS: Alhamdulillah visa suami dan anak selesai dalam waktu 8 minggu (nyaris 9 minggu) setelah harap-harap cemas. Walau mepet dengan tanggal mulai perkuliahan, Alhamdulillah masih bisa berangkat awal Oktober 2017.