[Share] Webinar Inspira: Studi di Taiwan & Persiapan LPDP

Berikut ini adalah link rekaman webinar yang diadakan oleh Inspira pada Jumat, 23 September 2016 yang lalu. Materinya seputar pengalaman saya selama studi di Taiwan dan proses seleksi beasiswa doktoral luar negeri LPDP ke Jerman.

Untuk materi PPT nya, bisa diunduh di tautan berikut: Materi Webinar Inspira

Adapun beberapa pertanyaan yang dibahas dalam webinar ini, sbb:

  1. Seberapa besarkah peluang pelajar dari Indonesia bisa mendapatkan beasiswa dari pemerintah Taiwan? Tips-tips penting apakah yang bisa mbak Chiku bagi untuk teman-teman yang ingin kuliah di Taiwan?
  2. Apa yang harus diperhatikan saat mendaftar beasiswa selain persyaratan dokumen yang sudah jelas? Step apa saja yang bisanya terlewatkan (kesalahan umum) dalam mendaftar beasiswa dan bagaimana cara mengatasinya?
  3. Jurusan apakah yang paling digemari pelajar indonesia untuk dipelajari ketika kuliah di Taiwan?
  4. Banyak teman-teman yang kadang bingung dalam menentukan jurusan. Misalkan ada dua jurusan yang benar-benar sesuai dengan apa yang mereka cari, prospek keduanya juga sangat bagus. Nah, berikan tips bagaimana cara menentukan pilihan akhir dari jurusan dan menyelaraskannya dengan rencana masa depan?
  5. Apakah mbak Chiku bisa menjelaskan bagaimana proses transfer jurusan atau pindah jurusan bagi yang nggak krasan atau nggak betah terhadap jurusan yang pertama kali dipilih? Atau mungkin buat teman-teman D3 yang ingin kuliah S1 di Taiwan?
  6. Hal yang harus dipersiapkan sebelum berangkat kuliah ke taiwan selain persyaratan akademik, berikan tips-tipsnya?
  7. Seberapa pentingkah penguasaan bahasa mandarin/ cina di taiwan? Atau dengan modal bahasa inggris dan sertifikat bahasa inggris saja kita sudah bisa kuliah di taiwan?
  8. Untuk pelajar, visa apa yang biasa digunakan? Jika dipertengahan kuliah masa berlaku habis, bagaimanakah prosesi memperpanjangnya?
  9. Seberapa pentingkah kita memiliki surat rekomendasi. Siapa sajakah yang pantas dan sebaiknya dimintai surat rekomendasi. Bagaimanakah tips untuk mendapatkan surat rekomendasi dari orang yang kita kehendaki?
  10. Dalam seleksi adminitrasi, kita harus menulis essay. Menurut mbak Chiku essay yang baik itu seperti apa sih, terutama untuk Sukses Terbesar dan Kontribusi bagi Indonesia. Mungkin bisa diberikan 3 poin penting untuk setiap essay.
  11. Nah, untuk essay Rencana Studi, apa yang harus kita tuliskan di dalamnya. Apakah kita juga perlu menuliskan rencana anggaran jika dalam tesis/ penelitian kita mengeluarkan dana?
  12. Dalam seleksi LPDP biasanya banyak pelamar yang gagal di wawancara. Sebenarnya gambaran dalam wawancara sendiri seperti apa sih mbak? Seperti apakah pertanyaan2nya, dan apa yang harus dipersiapkan?
  13. Mungkin bisa dijelaskan tentang LGD dan On The Spot Essay Writing itu prosesnya seperti apa dan apa yang harus dipersiapkan?
  14. Seperti apakah gambaran dalam mengikuti PK (Persiapan Keberangkatan), apa yang harus dipersiapkan untuk mengikuti PK?
  15. Di LPDP jika membawa anak/ istri kabarnya akan ditanggung biaya hidupnya walaupun tidak seluruhnya. Nah, jika saat melamar dan lolos kita belum menikah, dan setelah satu tahun kuliah menikah, apakah istri/ suami juga mendapatkan tunjangan?
  16. Berikan kesimpulan dan motivasi untuk teman-teman pelajar di Indonesia yang ingin mendaftar kuliah ke luar negeri menggunakan beasiswa LPDP/ Taiwan scholarship. Bagaimanakah cara terbaik untuk memantaskan diri agar bisa meraih beasiswa yang diinginkan?

InsyaAllah dalam kesempatan postingan berikutnya, akan saya usahakan untuk memaparkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas secara tertulis. Yosh, ganbarou!

Terima kasih banyak untuk Mas Imam dan rekan-rekan Inspira Book yang sudah mengundang saya untuk share di webinarnya. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dan kurang optimal baik secara teknis maupun konten (*gak dandan euy saya –> tutup mukaaa).

[Travel] Keliling Taiwan dengan TR Pass

TRPASS-B

Ingin tahu bagaimana caranya ber-backpacking keliling Taiwan dengan (cukup) nyaman dan murah meriah? Nah, salah satu caranya adalah dengan TR Pass. Apa itu TR Pass? TR (Taiwan Railway) Pass adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh Taiwan Railway Company untuk memberikan kesempatan kepada para (khususnya) mahasiswa lokal dan asing/ internasional untuk berkeliling Taiwan dengan menggunakan kereta api.

TR Pass ini sangat membantu bagi para low-cost backpacker/ traveler untuk menyambangi berbagai tempat di seantero Taiwan. Cukup dengan (sekitar) Rp 250.000 rupiah, kita bisa menaiki kereta sepuasnya selama 5 hari (*hanya kereta jenis tertentu tapinya).

Tapi, ada harga, ada barang. Maksudnya, karena harganya tergolong murah banget, fasilitas yang didapatkan tidak seleluasa penumpang reguler. Tidak semua jenis kereta bisa dinaiki (hanya terbatas kereta lokal, Fu Hsing Semi express dan Chu Kuang saja). Untuk kereta jenis yang cepat (Tze Chiang) dan super cepat (THSR – macam shinkansen), tidak termasuk dalam TR Pass.

Selain itu, kalau lagi peak season alias kereta penuh, ya mau gak mau harus siap dengan konsekuensi no-seat alias gak duduk. Kalau pas rejeki, Alhamdulillah bisa duduk nyaman. Tapi kalau nggak, ya terpaksa berdiri. hehehe…. Pas saya pergi dari Taipei ke Taitung, saya terpaksa ngelesot dan tidur over-night di lantai (Alhamdulillah pas sedia sajadah untuk duduk). But, overall, TR Pass ini sangat ngebantu banget untuk menekan budget.

Pas libur musim panas 2014 (bulan Agustus), saya menyempatkan diri untuk solo traveling ke beberapa kota di Taiwan. Saya belinya yang 5-day pass aja (kalo kelamaan, gempor juga ^^”). Berikut itinerary saya saat keliling Taiwan dengan TR Pass Student:

Sabtu, 16 Agustus 2014: Taipei – Taitung

  • Berangkat dari Taipei ke Taitung jam 23.30
  • Overnight sleep di kereta

Ahad, 17 Agustus 2014: Taitung – Kaohsiung

  • Sampai Taitung jam 05.30.
  • Lanjut kereta dari Taitung ke Kaohsiung jam 06.14 – 10.20
  • Istirahat di rumah kawan
  • Keliling Kota Kaohsiung (Lotus Pond)
  • Menginap di rumah kawan orang Taiwan
TWS010003_2
Ini Lotus Pond: Landmark kota Kaohsiung. Foto dari google

Senin, 18 Agustus 2014: Kaohsiung – Chiayi

  • Jalan-jalan bersama keluarga kawan ke Fo Guang Shan – Buddhist Monastery
  • Perjalanan kereta dari Kaohsiung ke Chiayi jam 17.16 – 19.34.
  • Menginap di Chiayi Assemble! Backpacker Hostel (Deket stasiun)
20150306055238_1552092510_10964_9
Ini Fo Guang Shan: Buddhist monastery terbesar di Taiwan. Berasa nonton film Shaolin Kungfu. Foto dari google 😀

Selasa, 19 Agustus 2014: Chiayi – Alishan – Taipei

  • Ke Alishan naik bus pagi dari stasiun jam 06.10 – 08.10
  • Keliling Alishan dan hiking di hutan sampai jam 13.30
  • Kembali ke Chiayi dengan bus jam 14.00
  • Kereta kembali ke Taipei jam 16.48 – 21.54
53131_og_1
Ini hiking track di Alishan. Mantep deh, naik turunnya ^^”. Foto dari google
alishan-railroad-alishan-taiwan
Ini Alishan Forest Railway yang terkenal itu. Klasik en kereeen, bisa merasakan suasana rel di tengah hutan yang berkabut. Foto dari google

Untuk memudahkan penyusunan itinerary, berikut link untuk tahu jadwal kereta di Taiwan dan juga jenis keretanya: Taiwan Railway – Train Schedule

En berikut di bawah ini saya copaskan informasi tentang TR PASS dari: TR Pass Information

The validity period of pass usage:

  1. Foreign student: every day.
  2. Domestic student (termasuk mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan):
  • Winter period:15th January ~ 15th March.
  • Summer period:15th June ~ 15th September.

Type and price:

  • 5-day pass: $599 (sekitar Rp 250.000,-)
  • 7-day pass: $799 (sekitar Rp 330.000,-)
  • 10-day pass: $1,098 (Only foreign student permit – ISIC Card ato Student ID) (sekitar Rp 450.000,-)

Type/Group:

  • Domestic student: 5-day pass and 7-day pass only (permit to purchase on winter/ summer vacation)
  • Foreign student: 5, 7 and 10-day pass (permit to purchase every day)

Train accommodations:

During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains.

Points of Sale for the TR-Pass (Student):

Taitung、Yuli、Shoufeng、Zhixue、Ji’an、Hualien、Xincheng、Su’ao、Luodong、Yilan、Jiaoxi、Toucheng、Fulong、Ruifang、Keelung、Badu、Qidu、Xizhi、Nangang Songshan、Taipei、Wanhua、Banqiao、Shulin、Shanjia、Yingge、Taoyuan、Neili、Zhongli、Puxin、Yangmei、Hukou、Xinfeng、Zhubei、Hsinchu、Zhunan、Houlong、Tongxiao、Yuanli、Dajia、Shalu、Miaoli、Sanyi、Houli、Fengyuan、Tanzi、Taichung、Xinwuri、Changhua、Yuanlin、Tianzhong、Ershui、Douliu、Dounan、Dalin、Minxiong、Chiayi、Xinying、Longtian、Shanhua、Xinshi、Yongkang、Tainan、Bao’an、Zhongzhou、Dahu、Luzhu、Gangshan、Nanzi、Xinzuoying、Kaohsiung、Fengshan、Pingtung、Chaozhou、Fangliao.

Credentials:

1. Foreign student:

(1) Passport (Must)
(2) International Student Identity Card (ISIC) or The Youth Travel Card (international version, red version) published by YDA, Ministry of Education, Taiwan. (choose one)

Note:
The Youth Travel Card (National version) is forbidden.
Foreign student visiting Taiwan from abroad for sight-seeing.

2. Domestic student: (the same as Chinese version)

The period of sale:

  • Foreign student: 7 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 1st July to 7th July).
  • Domestic student: 3 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 5th July to 7th July).

Note:

If the passage takes the train with forbid pass, it will be regarded as travelling without a valid ticket and pay the excess fare with penalty.

TRPASS
Tampilan Cover depan TR Pass Student
1
Tampilan dalam TR Pass (yang ini contoh yang TR Pass Group).

Remark:

The TR-PASS (student version) is not valid for any seats on Tze-Chiang Limited Express (Including “TAROKO” and “PUYUMA” Limited Express), if you must be take Tze-Chiang Limited Express, should purchase other ticket.

The conditions of use:

1. During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains. It cannot be used to travel on tourist trains, group e trains, special trains, cruise type trains or other trains designated by TRA. (These train numbers are showed on TRA’s website.) If the pass holder takes any of these trains it will be regarded as travelling without a valid ticket.

2. Seats will not be allocated on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express trains.

3. It is void without the name on the cover. The name must be writing on the train pass cover and the same as that of person using it. Please carry your student ID during the journey for inspection by station staff or train masters.

4. The expiry date of the pass cannot be changed. If trains do not run because of force majeure, for example a typhoon, the pass can be choose one of methods as following after verification by station staff or train masters.

(1) The ticket can be extended for one day.
(2) The value of unused period can be refunded.

5. If the record on the train pass cover is altered the pass will be rendered invalid and the ticked taken back.

6. Because there is no restriction on the numbers of journeys or sections, this pass cannot be returned after it is purchased. It also does not qualify for the TRA train delay compensation scheme.

7. This pass will not be replace if it is lost or stolen, so please take good care of it.

8. Don’t lean against the door and stand or sit at entrance.

9. Other matters not mentioned will be dealt with according to TRA regulations. The integral regulations show on the website.(http://www.railway.gov.tw/en/)

10. The Traditional Chinese edition of these conditions shall have precedence over translations into other languages, which are made for convenience.

The forbidden list of trains with TR-PASS (student version):

  • Train type Train Number Note
    Tourist trains 1、2、51、52 All class is forbidden.
    Group trains 71、74、73、72 All class is forbidden.
    others 606、655、607、751 Business class is forbidden.
    All special trains, cruise type trains are forbidden.

 

[Story] Ramadhan di Taiwan dan 6 Negara Lain

Bagaimana rasanya menjalani Ramadhan jauh dari tanah air? Tentu bervariasi pengalamannya, tergantung individu yang bersangkutan dan juga negara di mana ia menetap untuk sementara. Nah, dalam serial Ramadhan di Negeri Seberang yang dibuat oleh Penerbit Inspira dan Berkuliah.com, saya bersama rekan-rekan eks Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 turut berbagi pengalaman.

Berikut ini adalah copas dari postingan cerita pengalaman Ramadhan di Taiwan. Sumbernya dari tautan berikut: “RETNO WIDYASTUTI: Pengalaman Menarik Selama Menjalani Bulan Puasa Ketika Kuliah di Taiwan”.

2
Masjid di Taiwan

Suasana Ramadhan

Suasana saat saya menjalani Ramadhan di Taipei, Taiwan, cukup menantang. Karena pada saat itu sedang musim panas. Tapi tidak hanya panas, cuaca di Taipei sangat lembab, sehingga tubuh menjadi lebih mudah berkeringat dan jadi dehidrasi. Beruntung, saat Ramadan, aktivitas kuliah sudah selesai (masuk liburan musim panas), jadi bisa fokus melaksanakan ibadah selama Ramadan. Durasi puasa di Taiwan sekitar 15 jam (subuh sekitar jam 3.45, dan magrib sekitar jam 7 malam).

Buka Bersama dan Shalat Tarawih

Buka bersama dan shalat tarawih biasanya diadakan di masjid. Ada 2 masjid utama di Kota Taipei. Saya biasanya memilih untuk ikut berbuka bersama dan shalat tarawih di Taipei Grand Mosque, yang lokasinya sekitar 45 menit dari lokasi kos saya. Di Taipei Grand Mosque disediakan ta’jil dan makanan buka bersama gratis dengan menu bervariasi setiap harinya (masakanTimur Tengah atau Asia Tenggara). Selain itu, ceramah Ramadan di Taipei Grand Mosque menggunakan Bahasa Inggris, karena banyak Muslim dari negara asing yang datang kesana.

Saya pernah mengikuti buka bersama di masjid kota lain di Taiwan, seperti Taipei Cultural Mosque, Longgang Mosque, Taichung Mosque dan Kaohsiung Mosque. Karena sebagian besar Muslim di sana adalah Muslim China, maka ceramah disampaikan dalam Bahasa Mandarin.

Selain di Masjid, buka bersama dan shalat tarawih juga beberapa kali dilaksanakan di Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. KDEI Taipei adalah kantor perwakilan Indonesia di Taiwan. Banyak mahasiswa dan warga Indonesia yang datang kesana untuk mengikuti buka bersama dan sholat tarawih. Jarak dari kos ke KDEI sekitar 1 jam perjalanan.

Makanan untuk Berbuka

Untuk berbuka puasa, saya lebih sering masak sendiri dengan menu khas Indonesia. Tapi sesekali saya membeli makanan siap santap di “Warung Sakura”, yaitu warung Masakan Indonesia Halal yang lokasinya ada di sebelah Taipei Grand Mosque dan Taipei Cultural Mosque.

Tanggapan Teman tentang Puasa

Sebagian besar teman-teman Taiwan dan teman Internasional lain yang tidak terlalu banyak tahu tentang Islam, banyak bertanya mengapa berpuasa? Apa tidak haus dan lapar? Apakah tidak takut sakit dan mati karena berpuasa? Namun kemudian saya jelaskan latar belakang puasa dan hal-hal yang mereka belum ketahui sebelumnya. Beberapa teman ada yang sudah tahu tentang Ramadan (khususnya teman-teman dari Eropa), mengapresiasi saya dalam menjalankan puasa. Mereka menyampaikan selamat menjalankan ibadah puasa, dan bercerita tentang kenalan Muslim di negara asal mereka yang menjalankan puasa.

Acara PPI Taiwan pada Bulan Ramadhan

PPI Negara biasanya mengadakan acara buka bersama, silaturrahim, kajian/ ceramah dan sholat tarawih bekerjasama dengan kampus-kampus yang memiliki jumlah mahasiswa Indonesia yang banyak, juga dengan KDEI Taipei, serta dengan para organisasi Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Taiwan. Khusus di kampus dengan jumlah mahasiswa Muslim Indonesia terbanyak, mereka memiliki aktivitas khusus sahur, buka bersama dan sholat tarawih berjamaah di kampus.

1

Kejadian Menarik Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

Kejadian yang menarik bagi saya adalah ketika saya ikut serta menjadi volunteer panitia buka bersama di Taipei Grand Mosque. Bersama-sama dengan Muslim dari negara lainnya, kami bekerjasama untuk menyiapkan ratusan porsi makanan ta’jil dan makan besar untuk para Muslim yang berbuka di masjid. Dari pengalaman ini, saya benar-benar merasakan betapa indahnya melaksanakan ibadah di bulan Ramadan bersama-sama dengan Muslim dari berbagai belahan dunia. Selain itu saya jadi bisa mengetahui dan belajar bagaimana kebiasaan dan budaya Muslim dari negara lain.

Tips Tetap Fit Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

Agar tetap fit menjalani ibadah di bulan Ramadan saat di luar negeri, kita perlu mengatur strategi dan manajemen waktu. Rancanglah aktivitas dengan seefisien dan seefektif mungkin, dan kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat di luar ruangan (terlebih karena cuaca yang sangat panas). Makan-makanan yang segar dan sehat, juga multi vitamin agar stamina terjaga.

***

Nah, untuk mengetahui cerita bagaimana Ramadhan di 6 negara lainnya (ditulis oleh rekan-rekan eks Depres), sila baca di tautan berikut yaa 🙂

[Share] Belajar dari Taiwan – Kesehatan untuk Semua

Baru saja saya mengobrak-abrik file-file lama saya untuk menulis sebuah “tugas”. Dan yang paling saya suka ketika melakukan hal ini adalah menemukan sesuatu yang nostalgic atau tulisan-tulisan yang sayang kalau tidak dibagi.

Maka dari itu, perkenankanlah saya berbagi sebuah catatan pelajaran dari sistem kesehatan Taiwan yang saya ulas untuk “bahan belajar” kita bersama, untuk Indonesia yang lebih baik. Selama dua tahun lebih berada di bumi Formosa, saya merasakan benar manfaat dan kenyamanan dengan sistem kesehatan ini. Jaa, selamat membaca 🙂

Belajar dari Taiwan; National Health Insurance (NHI), Kesehatan Milik Semua

Oleh: Retno Widyastuti*
*Mahasiswa S2 Jurusan Asia Pacific Studies
National Chengchi University, Taipei – Taiwan (ROC)

Taiwan dikenal dunia dengan berbagai produk elektronik dan industri berbasis teknologi dan semi-konduktornya. Selain itu, ada hal lain yang patut kita ketahui tentang keunggulan Taiwan, yaitu sistem pelayanan dan asuransi kesehatannya yang bernama National Health Insurance (NHI). Sistem asuransi kesehatan nasional Taiwan ini didaulat sebagai salah satu yang terbaik di dunia, sehingga berbagai negara maju dunia melakukan studi banding tentang sistem ini. Apa dan bagaimanakah sebenarnya NHI itu? Apakah keadilan sosial dan slogan “kesehatan milik semua” benar adanya di Taiwan?

Jika melihat logo ini di klinik atau apotik, kartu NHI kita bisa dipergunakan :)
Jika melihat logo ini di klinik atau apotik, kartu NHI kita bisa dipergunakan 🙂

Sistem pelayanan kesehatan sangat terkait dengan kualitas hidup manusia. Dengan semakin mudahnya akses kesehatan bagi masyarakat, maka akan semakin baik pula kualitas hidup manusia negara tersebut. Salah satu keberhasilan Taiwan dalam mensejahterakan dan meningkatkan taraf hidup manusianya adalah melalui program asuransi kesehatan nasional (NHI) ini. NHI merupakan sistem perencanaan asuransi sosial yang bersifat nasional dan wajib bagi setiap warga Taiwan (termasuk warga asing yang menjadi residen di Taiwan). Sistem ini memberikan akses kesehatan yang sama untuk setiap warga.

Sistem pelayanan dan asuransi kesehatan nasional Taiwan yang dikelola oleh Ministry of Health and Welfare ini, diperkenalkan pada Maret 1995. Kebijakan ini bermula dari reformasi kesehatan yang dilakukan Taiwan pada era 1980-an, terutama setelah mengalami pertumbuhan ekonomi. Pemerintah membentuk komisi dan melakukan perbandingan sistem pelayanan kesehatan di 10 negara lain, dan mencoba mengkombinasikan kebaikan dari tiap sistem, dan membentuk sistem uniknya sendiri.

Dr. Michael Chen, wakil presiden Biro NHI Taiwan tahun 2009, menyampaikan bahwa pada dasarnya model NHI diambil dari Medicare di Amerika Serikat, namun yang berbeda adalah program NHI mencakup seluruh masyarakat, sedangkan Medicare hanya untuk lansia.

Setiap warga Taiwan dan residen mendapatkan Health IC smart card, semacam kartu sehat, yang mencakup data dan profil pasien, rekam medis, dan resep obat. Adanya kartu ini tidak hanya mencegah penipuan asuransi, pelayanan dan pengujian yang berulang, serta pembayaran yang tidak semestinya, tetapi juga memudahkan dokter untuk mengetahui seluruh rekam medis pasien dengan menggunakan card reader dan komputer. Keunggulan lainnya adalah sistem pembiayaan yang otomatis tercatat, dan segala rekam medis (tes kesehatan maupun resep obat) yang terdata, dapat mencegah terjadinya pemberian pengobatan yang berlebihan oleh dokter, sekaligus mencegah pasien menyalahgunakan sistem.

Menurut Wu, Majeed dan Kuo (2010), keistimewaan NHI lainnya antara lain akses yang baik, mencakup masyarakat secara luas, jangka waktu menunggu yang singkat, harga yang cukup murah, dan sistem data pengumpulan nasional untuk perencanaan dan penelitian.

Per tahun 2004, tingkat jangkauannya mencapai 99% dari seluruh total populasi Taiwan yang mencapai 23 juta jiwa (sebelumnya keterjangkauan hanya 97% pada 2001). Tidak hanya jangkauannya saja, tetapi berdasarkan poling opini publik yang dilakukan oleh Biro NHI, tingkat kepuasan pasien secara keseluruhan mencapai lebih dari 70%.

Sedangkan terkait pembiayaan, sebagai gambaran, untuk pelayanan kesehatan standar, pasien hanya perlu membayar NTD 100 atau sekitar Rp 40.000,- per kunjungan. Biaya ini ini sifatnya tetap dan tidak dibeda-bedakan berdasarkan tingkat ekonomi pasien.

Kuo membandingkan sistem kesehatan Taiwan dengan Amerika dan Inggris. Asuransi kesehatan di Amerika Serikat yang cenderung komersial dan berorientasi pasar dan sistem pelayanan kesehatan nasional Inggris yang sepenuhnya dibiayai pemerintah. Sedangkan di Taiwan, Pemerintah mensubsidi penuh masyarakat miskin dan veteran, sedangkan masyarakat yang bekerja, membayar premi dengan harga yang cukup terjangkau.

Dengan model yang ditawarkan NHI, masyarakat memiliki kebebasan untuk memilih rumah sakit dan dokter tanpa harus mencemaskan daftar tunggu. NHI memberikan keuntungan dan paket yang lengkap, yang mencakup pelayanan kesehatan dan pencegahan, resep obat, pelayanan kesehatan gigi, pengobatan China, kunjungan rumah oleh perawat, dan sebagainya. Selain itu, melalui NHI orang yang bekerja tidak perlu mengkhawatirkan hilangnya asuransi mereka apabila mereka berganti pekerjaan atau pensiun.

Namun, masih ada beberapa permasalahan misalnya pendeknya jangka waktu konsultasi antara pasien dengan dokter dan kualitasnya karena masih rendahnya rasio jumlah dokter dengan total populasi, yang menyebabkan tingkat ketergantungan pasien yang tinggi.

Dampaknya, dengan semakin banyaknya jumlah pasien dan tingkat kunjungan yang meningkat, menyebabkan dokter harus membatasi konsultasi sekitar 2-5 menit per pasien. Sedangkan dari sisi pemerintah, tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, sambil tetap menjaga pengeluaran pembiayaan kesehatan nasional ini di bawah kontrol.

Sumber:

  • Kuo, Yu-Ying. Cross-National Comparison of Taiwan, Japan, US, and UK’s Health Insurance System. Department of Public Policy and Management, Shih Hsin University, Taipei, Taiwan
  • Wu, Tai Yin, Majeed, Azeem and Kuo, Ken N. (2010). An overview of the healthcare system in Taiwan. London Journal of Primary Care 2010; 3:115–19,Royal College of General Practitioners

[Foto] Fabulous Taiwan – Photo Competition

Image
Winner List 2014 Contest

Alhamdulillah, satu lagi nikmat dan rezeki dari Allah, di bumi Formosa ini, karya kuro-chan bisa dilihat secara publik. Bermula dari sebuah kompetisi foto yang diadakan oleh MOE Taiwan untuk para alumni dan fellow Taiwan Scholarship bertajuk “Fabulous Taiwan” aku pun kemudian memutuskan untuk mengirimkan jepretannya kuro-chan. Dalam kompetisi ini, masing-masing peserta dari berbagai negara diminta untuk mengirimkan set foto yang terdiri dari 4 foto dengan tema yang sama, disertai dengan caption berbahasa Mandarin dan Inggris.

Dalam kesempatan ini, aku mengirim 3 set foto dengan berbagai tema, dan Alhamdulillah, salah satunya (terkait budaya dan agama di Taiwan) terpilih sebagai “honorable mention” :). Berikut adalah foto dan caption tersebut:

2014-05-23 16.35.24
Foto tersebut kuambil dari dua lokasi: Zhinan Temple di Maokong dan di Magong, Penghu

我在政大亞太研究碩士學程副修社會與文化。我很榮幸在過程中,我發現自己對人類學以及民族學的熱愛,尤其是中華與台灣文化。在台灣做研究的期間,我最喜歡的就是直接接觸台灣文化了,親自去接觸、瞭解第一手的資料。不只有從課本與課堂中學習,同時我也有機會探訪廟宇,以及親眼目睹宗教在中華文化的實踐。

I took society and culture as my minor during my study in IMAS, NCCU. I’m really happy that I can finally find my passion on anthropology and ethnology, especially in Chinese and Taiwanese culture. What I like most during my study in Taiwan is the opportunity to experience Taiwan’s culture directly, learn and understand it from the first hand. Not only learn from the books and class that I took, but I also have chances to visit temples and observe the Chinese religion’s practice.

***

Semoga ke depannya bisa berkontribusi lebih luas dan hasil jepretan kuro-chan bisa lebih bermanfaat lagi untuk berbagai hal 🙂

2014-05-23 16.35.35
“numpang nampang” :p
2014-05-23 16.44.50
Alhamdulillah

Untuk melihat foto-foto dari kontestan lainnya, silakan dilihat di Facebook Fanpage Fabulous Taiwan Photo and Caption Contest 2014 di SINI.

[Travel] Berburu Stroberi di Neihu, Taipei

Ingin mencoba jalan-jalan di Taiwan dengan tema yang berbeda? Bisa coba berburu stroberi :D! Fyi, stroberi merupakan buah musiman yang dapat dipanen sekitar bulan November – April. So, kalau rekan-rekan berada di negara empat musim dan daerah yang cukup dingin, bisa tuh berkunjung dan mencoba memetik stroberi 🙂

Sejenak kuceritakan agro-wisata yang ada di Taiwan. Di Taiwan sendiri, pusat stroberi sebenarnya ada di Dahu, Miaoli sekitar 3 jam perjalanan dari Taipei. Dahu memproduksi sekitar 90% dari total jumlah stroberi yang ada di Taiwan. Stroberi pertama kali diperkenalkan di Dahu pada 1957 dengan melakukan percobaan menanam beragam jenis stroberi. Namun, perkebunan dengan konsep “memetik sendiri” baru muncul pada tahun 1976.

Dari nge-googling
Dari nge-googling

Di Dahu, setiap tahunnya diadakan Festival Stroberi dimana para pengunjungnya dapat menikmati stroberi hasil petikannya sendiri. Oleh karenanya, selain bisa memilih dan memetik sendiri stroberi di ladangnya, kita juga bisa makan sepuasnya! Sepanjang jalan di daerah Dahu, kita bisa melihat perkebunan stroberi di kanan dan kiri jalan, khususnya Provincial Highway No.3 dan rute menuju Tai An hot springs. Pengunjung bisa memilih perkebunan stroberi yang ingin didatangi, dan pastikan terlebih dahulu biaya masuk perkebunannya. Harga normalnya sekitar NT$160 – NT$200 untuk setiap 600 gram stroberi (khususnya selama musim Lantern Festival di bulan Februari), dan sekitar NT$100 – NT$ 160 setelahnya. Namun, di penghujung musim semi, biasanya harganya turun jauh menjadi sekitar NT$60.

Nah, itu tentang Dahu. Bagaimana jika kawan-kawan ingin memetik stroberi, tapi tak ada waktu yang cukup untuk pergi ke sana? Alternatifnya adalah pergi ke Neihu, sebelah utara kota Taipei. Selain tak terlalu jauh, di sekitar Neihu ada berbagai perkebunan dan kafe stroberi. Lengkapnya daftar lokasi bisa lihat link berikut: Strawberry Picking in Taipei

Gambar dari googling
Gambar dari googling

Berhubung tahun 2014 ini adalah tahun terakhirku di Taiwan (inshaAllah), dan karena keterbatasan waktu akhirnya ambisi berburu stroberi kuarahkan ke Neihu ini. Bersama dengan dua orang kawanku, kami pergi dengan nekatnya :D. Mengapa nekat? Karena keputusan untuk jalan-jalan ke sini, hanya dalam hitungan menit, di hari menjelang sore dan hujan turun cukup deras pula XD. Tapi demi memenuhi hajat ini, dan juga untuk menemani salah seorang kawan yang keesokannya akan pulang ke tanah air, dengan kemantapan hati, pergilah kami bertiga ke sana.

Oya, sebagai informasi, sebagian besar kebun strober tersebut hanya buka pada akhir pekan (Sabtu dan Ahad), dan jika ingin berkunjung secara khusus pada hari kerja, harus membuat janji dan itu berarti harga stroberinya akan “khusus” pula. Namun, Alhamdulillah, setelah kawanku yang sudah expert tentang per-Taiwan-an mencoba menelepon satu per satu kebun stroberi tersebut, ada satu yang “kebetulan” buka pada hari itu (tanpa harus pesan khusus). Alhamdulillah, memang kalo sudah rezeki tak akan kemana :D.

Kebun yang menjadi tujuan kami bernama Neihu Recreational Farm, yang beralamat di No.49, Bishan Rd., Neihu Dist., Taipei City. Pemiliknya bernama Mr. & Mrs. Jin-Chi Guo.

Ini dia No. 49
Ini dia No. 49

Saat mencari tahu informasi alamat dan transportasi ke sana, ada mini-bus yang beroperasi rutin. Namun karena kondisi hujan cukup deras, maka cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan taksi dari MRT Neihu. Karena lokasi kebun stroberi itu ada di puncak bukit, pada awalnya pak supir taksi sempat agak keder karena khawatir dengan kabut tebal dan tanjakan plus tebing. Tapi Alhamdulillah, setelah coba tanya dan lihat petunjuk arahnya, kami tiba dengan selamat sampai ke lokasi.

Gambaran lokasi Bishan Road dari MRT Neihu
Gambaran lokasi Bishan Road dari MRT Neihu

Biaya yang harus dibayar dengan taksi sebenarnya cukup murah, sekitar 150 NTD. Namun, pak supir minta tambahan 100 NTD disebabkan jalanan menanjak tersebut. So, buat yang seneng hiking, bisa aja ke sini dengan jalan kaki (nanjak). hahaha… Oya, lama perjalanannya sekitar 15-20 menit dengan taksi.

Kembali lagi ke cerita awal. Sesampainya kami di kebun No.49 ini, kami disambut oleh Mrs. Guo, yang sudah menunggu pasca temanku mengontak sebelumnya. Setelah itu, kami langsung diberi seperangkat alat berburu; keranjang buah dan gunting, dan langsung saja beliau mengajak kami menuju ke kebunnya.

Image
Ini suasana kebun stroberi yang ada di Bishan Road, Neihu

Berhubung aku dan kawanku baru pertama kali ke kebun stroberi, kami pun bersorak kegirangan. Bukannya berburu stroberi, awal-awal tiba di sana malah sibuk bernarsis ria dan jepret sana sini. Alhamdulillah, si Ibu Guo memaklumi tindakan kami yang “ndeso” ini XD. Beliau dengan ramahnya mengajak berbincang, setia menemani sambil menjelaskan ini itu serta nyambi bersih-bersih kebun stroberinya dari daun yang layu.

Image
This is it 😀
Image
Dan akupun sibuk berburu, sambil self-talk to the strawberries
Image
Model for commercial ads di kebon stroberi :p

Ibu Guo dan suaminya, sudah memulai bisnis ini sejak awal tahun 2000-an. Mereka memiliki dua macam jenis kebun; yang stroberinya tumbuh langsung di tanah, ada juga stroberi yang tumbuh di pot. Tentu, ada kelebihan masing-masing berburu stroberi di dua jenis kebun ini. Kalau kebun bertanah, kalau lagi musim hujan perlu hati-hati karena tanah yang basah dan berlumpur. So, perlu siapin sepatu yang nyaman ya. Sedangkan yang ber-pot, selain lebih bersih, stroberinya tertata lebih apik dan bertingkat-tingkat. Membuat orang jadi lebih “lapar stroberi” alias kalap menggunting stroberi :D. Oh ya, walau hujan, tak perlu khawatir kehujanan, karena dua macam kebun ini dilindungi oleh atap terpal.

Image
Bener-bener bikin kalap XD

Nah, setelah beberapa waktu berkalap-ria berburu stroberi dan puas jadi “model” narsis di kebon stroberi, akhirnya saatnya menyudahi aktifitas kami. Sekeranjang penuh stroberi kemudian diserahkan ke Ibu Guo untuk ditimbang. Per “jin” stroberi (satuan untuk di Taiwan, 1 jin sekitar 600 gram) adalah NTD 450. Lumayan mahal memang, karena stroberi yang kami pilih adalah yang berukuran besar, mantab dan bentuknya bagus. hehehe… Fyi, pas lagi metik, jangan dimakan dulu ya, soalnya harus ditimbang en bayar dulu, baru setelah itu bisa dimakan sepuasnya (pake home made es krim stroberi lebih nikmat 😀 ).

Image
Ditimbang, then dimasukkan ke kotak khusus
Image
Home made es krim stroberi seharga NTD 30, fresh en enak!

Sebelum berpamitan, kami menyempatkan diri berbincang dengan Mr & Mrs. Guo, sambil main tebak-tebakan asal negara. Untuk kedua temanku, mereka dengan mudahnya dikira sebagai orang Indonesia. Namun tidak untukku XD. Pertama kali, mereka menebak bahwa aku dari Amerika :D! Hahaha… En then, kubilang bukan, then mereka tebak lagi kalau aku dari China daratan ^^”. Saat kukatakan bahwa ortuku benar-benar Indonesian (bukan keturunan Tionghoa), mereka tak percaya. Ya sudahlah, it’s not for the first time for me. hahaha…

Bersama Mrs. Guo, si pemilik kebun nan ramah
Bersama Mrs. Guo, si pemilik kebun nan ramah

Oya, kami menyempatkan diri pula untuk sholat ashar di sana. Alhamdulillah, mereka memberi izin dan tempat untuk kami sholat. Dan kemudian, beliau memberi saran kepada kami untuk pulang dengan menggunakan mini-bus yang melewati depan kebun mereka. Interval bisnya tak terlalu lama, tiap 20-30 menit sekali. Sebagai penutup tulisan ini, berikut kuberikan ancer-ancer peta dan juga mini-bus untuk ke Bishan road:

IMG_2128

  • Dari MRT Neihu, keluar ke exit 1. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan sebentar ke bus stop Bihu Elementary School, sekitar 5 menit dari exit MRT
  • Naik bis jalur small-2 (xiao 2) menuju Shikan. Turun di kebon stroberi yang ingin dikunjungi. Bisa turun dimana aja, gak harus persis di bus stop (berhubung lokasinya di tengah-tengah bukit. hehe)
  • Biaya: Easy card mahasiswa NTD 12, umum 15 NTD, koin NTD 15

Berhubung sekarang sudah penghujung bulan April, kemungkinan besar stroberi sudah pada habis. So, selamat menikmati perjalanan dan perburuan stroberi di Neihu pada musim dingin mendatang 🙂

Image

[Travel] Pingxi Sky Lantern Festival 2014

Pingxi Sky Lantern Festival atau 平溪放天燈 (Píngxī fàng tiān dēng) merupakan salah satu festival terbesar tahunan yang ada di Taiwan, bahkan festival ini terkenal hingga ke berbagai negara. Discovery Channel bahkan menyebutnya sebagai the world’s second largest festival at night. Festival ini diadakan setiap tahunnya di hari ke-15 bulan pertama (sekitar pertengahan Januari atau Februari) tahun baru China di Taiwan. Setiap pelaksanaan perayaan ini, tak kurang dari 100,000 – 200,000 lentera diterbangkan.

Tradisi menerbangkan lentera ini ternyata sudah sejak lama dirayakan lho, kira-kira sejak 100 tahun yang lalu. Tapi, khususnya festival massal ini baru 13 tahun, dan setiap kali diadakan, ribuan ribu orang datang ke Pingxi untuk menyaksikan secara langsung keindahan langit malam yang dihiasi kerlap kerlip lentera berterbangan.

Secara pengorganisasiannya, festival ini dikelola oleh Pemerintah New Taipei City, yang dengan baiknya, mengatur segala hal teknis mulai dari bus transportasi murah dan mudah untuk para pengunjung, hingga ke pengaturan lainnya.

Image
Ini poster promosi eventnya

Pada mulanya, maksud dari penerbangan lentera ini adalah untuk memberikan tanda bagi para penduduk Han yang tinggal di daerah ini bahwa kondisi mereka aman. Memang, pada masa itu ada banyak sekali tindakan kriminalitas. Daerah Pingxi ini dulunya merupakan daerah pertambangan batu bara, namun karena pertambangan ini akhirnya berhenti beroperasi pada akhir tahun 1990, penduduk memerlukan sumber penghasilan lainnya. Kemudian, jadilah aktifitas lentera ini dibuat secara massal dan dikemas dalam bentuk festival.

Bagi masyarakat Taiwan, mereka menuliskan harapan dan doanya di lentera kertas ini. Mereka percaya bahwa doa tersebut akan sampai ke surga dan akan membawa keberuntungan baik di tahun yang baru.

Selama festival berlangsung, ada banyak kios yang menjual lentera kertas, souvenir miniatur lentera, makanan cemilan, serta kembang api di sepanjang jalanan Pingxi. Pada malam harinya, ratusan lentera secara terus menerus diterbangkan di area terbuka. Untuk hari tertentu, khususnya di akhir pekan, panitia festival menyediakan lentera gratis untuk para pengunjung yang telah mendaftar. Bagi yang tidak kebagian, jangan khawatir. Karena pengunjung bisa membeli sendiri lentera dengan berbagai ukuran dan bentuk, dengan harga sekitar NTD 100 – 200 (sekitar Rp 35.000 – 65.000).

Pada tahun 2014 ini, puncak Pingxi sky lantern diadakan pada tanggal 3, 8 dan 14 Februari. Buatku, ini kali kedua aku menghadirinya. Tahun lalu (2013) benar-benar jadi pengalaman yang “traumatis”. Kenapa traumatis? Karena saking padatnya manusia, diperlukan waktu mengantre bis pulang yang lama. Sekitar 4 jam, dan itu pun berdiri dengan berdesak-desakan! Dari pengalaman tersebut, kuambil pelajaran dan kuatur strategi agar kejadian yang sama tak terulang lagi di tahun ini (2014) maupun di tahun-tahun mendatang.

Berikut beberapa tips untuk teman-teman yang hendak berkunjung ke sana:

1) Atur jadwal dan pilih waktu yang tepat

Tahun lalu, aku dan kawan-kawan NCCU memilih datang di hari paling puncak festival dan berencana untuk ikut menerbangkan lentera gratis secara massal. Karena acara ini diadakan pada jam 18.30, paling tidak kami harus sudah berangkat pada pukul 10.00 siang. Perjalanan dari MRT Taipei Zoo station (tempat bus shuttle disiapkan) ke lokasi, sekitar 1 jam. Oya, biaya yang diperlukan adalah NTD 50 (sekitar Rp 20,000) untuk bis PP (bayar pas berangkat, pulang gak usah bayar lagi). Tapi kalau seandainya gak mau ikutan nerbangin yang gratisan itu, bisa berangkat sekitar jam 2 atau 3 sore dari bus shuttle station.

Berangkatnya jangan terlalu sore ya, khawatir jalanan sudah keburu macet oleh kendaraan dan jalanan di sekitar Pingxi yang lumayan sempit (letaknya di antara perbukitan). Kan gak asik, karena kejebak macet, sesampainya di lokasi, acara penerbangan massalnya kelewat XD

2) Siapkan stamina

Untuk bisa ke sini, yang harus benar-benar dipersiapkan adalah stamina! Kenapa? Sesampainya di lokasi, supaya bisa dapat giliran untuk menerbangkan lentera gratis tersebut, harus mengantri (lagi), dan yang ini cukup “gila”. Karena stand pendaftaran baru dibuka jam 2 siang, orang-orang yang terlalu bersemangat sudah stand-by sejak jam 11 siang. Walhasil antrian jadi mengular panjang dan begitu lama XD.

Belum lagi antrian untuk menerbangkan lentera, yang bisa memakan waktu 1,5 jam. Dan perjuangan berlanjut saat mengantri naik bis pulang.

3) Bawa perbekalan yang cukup

Siapkan makanan cemilan, makan siang dan makan malam (kalau perlu) serta air minum. Mengingat kepadatan pengunjung, ini akan menghambat ruang gerak kita kesana kemari cari makanan. Belum lagi cemilan or jajanan yang kita temukan belum tentu “aman” dan halal. Jadi baiknya siapkan sendiri yaaaah. Oya, kalau ada kesempatan, sebenarnya saat di sana aku sempat menemukan satu stall kebab halal yang dijalankan oleh suami istri Pakistan – Taiwan.

Untuk peralatan sholat, jangan lupa bawa alas koran plus sajadah juga ya. Soalnya agak sulit menemukan tempat yang cukup bersih dan rata.

4) Siapkan perlengkapan Foto yang lengkap

Buat para toekang poto, siapkan lensa tele dan tripod. Ini dua benda yang paling penting. Fyi, saat festival berlangsung, smua jenis tukang foto mulai dari amatir hingga profesional, berlomba mencari lokasi/ spot memoto yang paling bagus. Bahkan mereka sudah stand-by sejak siang demi mendapatkan spot terbaik. Kalaupun misalnya belum rejeki karena gak kebagian tempat, disitulah peranan lensa tele dan tripod. Agak jauhan dari lokasi, gak masalah. Masih bisa dapat foto yang bagus. hehehe…

5) Pilih Antrian Bis yang “Berdiri”, bukan “Duduk”

Walau lelah setelah seharian berjuang, ada baiknya saat mengantri bis untuk pulang kita ambil yang jalur “berdiri”. Mengapa? Karena tahun lalu aku dan kawan-kawan mengantri di jalur duduk, dan itu memakan waktu 4,5 jam XD. Jadi, lebih baik bercapai-capai untuk beberapa menit di bis, tapi cepat sampai rumah (dan gak kelamaan antri en berdiri).

***

Sekian tips dan cerita tentang pengalamanku mengikuti festival ini selama 2 tahun berturut-turut. Alhamdulillah, pelajaran dari trauma tahun lalu bisa diterapkan tahun 2014 ini. Dan cukup efektif menghemat waktu, tenaga dan stamina :D!

Berikut adalah hasil jepretanku feat Kuro-chan yang cukup berhasil tahun 2014 ini :D! Alhamdulillah… Selamat melihat-lihat 😀

Image

Image

Image