[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi NTB (on the spot)

 

Kali ini, saya bercerita tentang bagaimana mengurus surat rekomendasi penelitian di Bakesbangpoldagri Nusa Tenggara Barat di Mataram. Pengurusannya dilakukan langsung di kantor Bakesbangpoldagri NTB, yang beralamat di Jl. Pendidikan No.2, Dasan Agung Baru, Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat 83125 (lihat peta). Ruang pengurusan surat rekomendasi penelitian terletak di bagian belakang. Jika bingung, bisa tanyakan ke satpam yang ada di depan pintu masuk.

Syarat pengurusan surat rekomendasi penelitian bisa dilihat di gambar berikut ini:

kesbangpol ntb
Ini syarat permohonan rekomendasi penelitian di Kesbangpol Prov NTB

Beberapa syarat di atas, sudah saya miliki semua kecuali nomor 6, yaitu amplop putih 5 buah. Amplop ini perlu kita siapkan untuk digunakan sebagai amplop surat tembusan ke berbagai instansi dan juga lembaga/ lembaga yang jadi tujuan penelitian kita. Karena saya sudah terlanjur ke Bakesbangpol, makan saya serahkan dulu persyaratan dan permohonannya ke petugas, baru kemudian menyusulkan amplopnya.

Proses pengurusannya sekitar 1 hari kerja. Namun mengingat saya perlunya mendesak karena waktu penelitian yang terbatas, maka bisa selesai dalam hari yang sama tapi sore hari. Saya datang sekitar pukul 08.30 dan mengambil suratnya pukul 15.00 WITA. Nah, saat mengambil suratnya, ternyata saya masih perlu memfotokopi surat yang ada sebelum dicap basah. Agak repot memang, karena jadinya bolak balik ke tempat fotokopian (awalnya untuk membeli amplop), ternyata masih harus ke fotokopian lagi untuk menggandakan surat yang ada (sesuai jumlah yang diperlukan). Alhamdulillah saya ada pinjaman motor, jadi tidak terlalu sulit harus ke tempat fotokopian yang agak jauh jika harus jalan kaki.

Memang, birokrasi antar instansi daerah yang satu dengan yang lain punya sistem dan kekhasan masing-masing, walaupun sama-sama instansi pemerintah. Jadi, yang bisa saya lakukan sekarang ya cuma ikuti alurnya saja, walaupun sempat agak berekspektasi lebih (dan membandingkan dengan daerah lain yang lebih simpel dan memudahkan).

Semoga layanan birokrasi di tanah air semakin mempermudah dan memperlancar urusan pihak-pihak yang memerlukan dan memenuhi syarat :). Kurang lebih itu pengalaman saya. Semoga bisa menjadi gambaran bagi teman-teman yang memerlukan.

Advertisements

[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi Jawa Tengah (Online)

Pertengahan Desember lalu, sehabis subuh saya nglaju dari Jogja ke Semarang demi mengurus surat izin penelitian di Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah. Sesampainya di Semarang, saya sempat kaget karena ternyata pengurusan surat ini tidak diurus di Bakesbangpol Provinsi Jawa Tengah, tetapi sudah satu atap di Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Lebih kagetnya lagi, ternyata pengurusan surat ini diajukan secara online 😂😅. Jadi sebenarnya saya gak perlu berpeluh jauh-jauh nglaju ke Semarang. Hahaha… Tapi diambil hikmahnya saja, saya jadi dapat rezeki bisa makan tahu bakso, lumpia basah, belanja oleh-oleh, dan berjumpa kawan lama di Semarang 😆.

Ini kantor DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah

Nah, mulanya saya mau mengerjakan pengajuan online di rumah, tapi daripada tertunda lagi, sekalian saja saya ajukan permohonan onlinenya di kantor DPMPTSP. Alhamdulillah petugasnya sangat membantu emak-emak yang kadung panik ini 😅. Di sana ada fasilitas komputer yang terhubung internet, yang memang disediakan bagi masyarakat yang mau mengajukan permohonannya. Yang terpenting, kita harus sudah siap segala dokumen persyaratan dalam bentuk softfile. Alhamdulillah saya sudah menyiapkannya di dropbox, jadi walau gak ada flashdisk (asal ada internet), dokumen sudah standby di awan-awan sana dan tinggal dipanggil (unduh) 😆.

Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi:

  • Surat Pernyataan bermaterai Rp. 6.000,00, kecuali dari Universitas tidak perlu materai (form dapat didownload pada Tab Formulir). Surat pernyataan ini harus di-scan (pdf, bisa minta bantuan petugas di kantor DPMPTSP)
  • KTP asli (scan, pdf)
  • Proposal lengkap dengan cover (softcopy, pdf)
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari Lembaga/PT (Bagi pemohon yang lembaga/ PT nya berasal dari wilayah Jawa Tengah)
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari lembaga/institusi yang berwenang mengeluarkan rekomendasi perizinan tingkat provinsi bagi pemohon yang lembaga/PT nya berasal dari luar Wilayah Jawa Tengah;
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari Dirjen Kesbangpol Kementrian Dalam Negeri RI bagi pemohon izin yang wilayah jangkauan penelitiannya meliputi 2 provinsi/ lebih.
  • Akte Pendirian Perusahaan (untuk Badan Lembaga/Instansi berbadan hukum kecuali Unversitas)

MEKANISME PELAYANAN REKOMENDASI PENELITIAN ON-LINE

  1. Pemohon melakukan input data melalui Website BPMD Prov. Jateng yaitu http://dmptsp.jatengprov.go.id pada Penelitian Mahasiswa : REKOMLIT ONLINE atau langsung ke url
  2. Melakukan Register dengan mengisi Username, E-mail, dan Isi Kode. Setelah itu cek email dan klik link yang masuk di email dari UPT.PTSP. Selanjutnya lakukan Registrasi kemudian Log In.
  3. Masuk ke Pengajuan Permohonan Baru kemudian pilih Rekomendasi sesuai yang diperlukan, setelah itu klik Detail, kemudian klik Pendaftaran:
  4. Form Pendaftaran (wajib diisi semua secara lengkap)
  5. Lokasi Penelitian (ditulis lengkap secara jelas/tidak berupa singkatan)
  6. Upload Kelengkapan Permohonan (KTP, Surat Pengantar, Surat Pernyataan, dan Proposal)
  7. Setelah meng-upload klik ajukan permohonan sampai muncul Tanda terima
  • Selanjutnya, pemohon menunggu konfirmasi dengan selalu memeriksa status izin yang diajukan di dalam system user masing-masing.
  • Apabila ada persyaratan yang kurang lengkap akan dikonfirmasi melalui system.
  • Dokumen Rekomendasi akan dikirimkan melalui email untuk dapat dicetak dan dipergunakan sebagaimana mestinya.

(Sumber syarat dan mekanisme dari SINI)

Nah, praktis kan? Surat rekomendasinya saya dapatkan melalui email, 2 hari setelah permohonan. Jadi gak perlu repot jauh-jauh ke Semarang kecuali punya modus lain seperti saya. Hahaha

Btw, belum semua daerah seperti ini. Jadi perlu perhatikan apakah kita harus datang ke kantornya langsung atau cukup online.

Semoga pelayanan berbasis online ini semakin menyebar ke berbagai provinsi dan kabupaten di tanah air. Supaya proses penelitian lapangan bisa makin mudah, tanpa menghiraukan urusan dan persyaratan birokrasi.

Selamat menikmati proses penelitiannya yaaa 🙂

[Tips] Mendaftar Bonn Ausweis

Setelah hampir setahun di sini, saya dan suami merasa bahwa Jerman memang negara yang berusaha menjamin kesejahteraan warganya, even untuk orang asing/ imigran sekalipun. Walau dengan pajak yang tinggi (terutama untuk gaji dan jasa), hal itu digunakan dan dikembalikan untuk kemaslahatan warganya.

Ada beberapa fasilitas sosial dari pemerintah Jerman yang diberikan untuk warga dan keluarga dengan pendapatan di bawah rata-rata. Khususnya untuk daerah Bonn, ada namanya Bonn Ausweis (Bonn ID Card atau Bonn Badge), sedangkan di daerah Koln, ada Koln-Pass.

Bonn Ausweis ini ditujukan bagi resident Kota Bonn (dibuktikan dengan kepemilikan kartu resident permit) yang memiliki pendapatan rendah, dan punya izin bekerja penuh (bukan mahasiswa). Bonn Ausweis berlaku juga untuk anggota keluarganya. Untuk konteks saya sekeluarga, yang bisa mendapatkan Bonn Ausweis hanyalah suami dan anak, saya tidak dapat karena saya adalah mahasiswa (benefit untuk mahasiswa sudah banyak XD).

Bonnausweis-0001
Ini tampilan Bonn-Ausweis nya (sumber: google)

Mulanya, kami tidak tahu tentang adanya fasilitas Bonn Ausweis ini. Kami baru mendaftar Bonn Ausweis karena “terpaksa” harus mencari bukti dari pemerintah kota bahwa kami berpendapatan di bawah rata-rata. Standar pendapatan rata-rata di sini yaitu sekitar 22.000 Euro per tahun atau 1.833 euro per bulan untuk pasangan suami istri, dan sekitar 27.000 euro per tahun atau 2.250 euro per bulan untuk keluarga kecil (suami, istri dan 1 anak). Jika jumlah anak bertambah, maka standar pendapatannya juga harus meningkat.

Saat mengurus resident permit pada Januari 2018 lalu, suami saya diwajibkan oleh imigrasi untuk mengikuti integration course (bahasa dan sospolbud Jerman) selama 7 bulan. Biaya untuk mengikuti kursus integrasi intensif ini sebenarnya sudah didiskon menjadi 195 euro per modulnya (satu modul untuk satu bulan). Tapi, dengan beasiswa yang sangat ngepas untuk hidup, tentu membayar kursus integrasi semakin memberatkan kami.

Supaya bisa gratis, kami harus menunjukkan semacam “keterangan tidak mampu” dari pemerintah kota. Setelah konsultasi ke berbagai pihak (salah satunya dengan Caritas), dari berbagai jenis bantuan social benefit “tidak mampu” yang disediakan pemkot, kami disarankan untuk mendaftar Bonn Ausweis.

Bonn Ausweis ini sebenarnya lebih umum digunakan untuk mendapatkan diskon tiket transportasi di Kota Bonn. Selain untuk tiket, bisa juga digunakan untuk diskon berbagai fasilitas umum seperti kolam renang, museum kota, public events, dan juga perpustakaan umum. Untuk yang memiliki anak yang sekolah (daycare/ TK atau sekolah lain milik kota), bisa mendapatkan makan siang gratis plus susu untuk sarapan gratis.

Berikut proses dan tips pendaftarannya:

1. Pendaftaran Bonn Ausweis bisa dilakukan dengan mengirimkan formulir syarat dan dokumen yang diperlukan melalui email, fax, submit langsung ke kantornya atau kirim via pos. 

Alamatnya: Federal City Bonn, Office for Social Affairs and Housing
Hans-Böckler-Straße 5, 53225 Bonn (Beuel)

Tel. (0228) 77 57 57
Fax: (0228) 77 47 35
E-mail: bonn-ausweis(at)bonn.de

2. Sebaiknya yang mendaftar adalah pasangan yang bukan mahasiswa (untuk kasus saya, yang mendaftar adalah suami)

3. Syarat-syarat dokumennya, sbb:

  1. Formulir aplikasi Bonn Ausweis yang sudah diisi lengkap (formulir bisa diunduh di website SINI)
  2. Jika mendapat social benefit lainnya, seperti: unemployment benefit II, social assistance, benefits under the Asylum Seekers Benefits Act, bisa disertakan surat persetujuannya.
  3. Jika tidak punya social benefit lainnya, perlu dokumen untuk membuktikan pendapatan dari seluruh anggota keluarga dan juga pengeluaran rutin bulanan (sewa tempat tinggal dan asuransi kesehatan)
  4. Dokumen lain yang sekiranya dibutuhkan dan diminta oleh pemkot

Untuk konteks kami, dokumen yang diminta oleh Pemkot dan kami kirimkan adalah sbb:

  1. Formulir pendaftaran diisi lengkap, yang diajukan oleh pasangan yang bukan mahasiswa
  2. Letter of Guarantee (LoG) dari pemberi beasiswa yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jerman
  3. Letter of Scholarship (LoS) dari pemberi beasiswa yang berisi rincian komponen apa saja yang ditanggung dalam beasiswa. Diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman
  4. Bukti pendapatan per bulan, seperti slip gaji. Untuk konteks saya, saya kirimkan bukti uang masuk/ transfer dari pemberi beasiswa yang masuk ke rekening bank.
  5. Bukti approval kindergeld (jika memiliki anak). *Info tentang kindergeld akan dibahas di postingan lainnya
  6. Bukti kontrak dan besaran bayaran premi asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga
  7. Bukti kontrak sewa apartemen yang berisi informasi besaran sewa apartemen per bulannya (termasuk untuk nebenkosten/ biaya lain-lain)

4. Proses pengurusan Bonn Ausweis ini gratis/ tidak dipungut biaya, dan lama prosesnya bervariasi

Untuk konteks kami, formulir pendaftaran dan dokumen dikirimkan melalui email. Kemudian, beberapa waktu kemudian, kami dikirimi surat via pos oleh pemkot karena ada dokumen tambahan yang perlu dikirimkan. Nah, berhubung saat itu banyak dokumen tambahan yang belum ada (approval kindergeld) dan ada dokumen yang belum diterjemahkan ke bahasa Jerman, akhirnya proses pengurusan Bonn Ausweis ini memakan waktu hampir 3 bulan. Kalau lengkap, sepertinya bisa cepat 😀

5. Setelah dokumen lengkap dan tidak ada permintaan lagi dari pemkot, Bonn Ausweis dikirimkan ke alamat kita

Alhamdulillah setelah perjuangan panjang (*saya menuliskannya dengan “mudah”, padahal prosesnya berliku XD), aplikasi Bonn Ausweis kami diterima dan aktif per 1 Juni 2018. Suami dan anak saya mendapatkan Bonn Ausweis. Masa berlaku Bonn Ausweis adalah satu tahun sejak diterbitkan, dan bisa diperpanjang. Apabila ada perubahan pendapatan, harus dilaporkan ke pemkot.

Alhamdulillah, biaya kursus integrasi bulan ke-3 sampai bulan ke-7 digratiskan. Kami hanya perlu membayar kursus 2 bulan pertama (dengan dicicil) karena saat itu belum ada Bonn Ausweis. Biaya transportasi untuk suami saya pergi sekolah integrasi tiap harinya pun juga terbantu dengan adanya Bonn Ausweis ini. Untuk biaya tiket bulanan orang dewasa di daerah zona 1b (dalam kota Bonn), normalnya sekitar 95 euro per bulan. Alhamdulillah, dengan Bonn Ausweis, biaya tiket bulanannya jadi hanya sekitar 34.90 euro per bulan.

Sebagai gambaran, berikut besaran biaya transportasi dengan Bonn Ausweis (per 1 Januari 2018):

csm_MobilPassTarife_BonnAusweistarifes_73e4f5b92a

Yah, kira-kira begitu share dari saya. Kalau ada yang hendak ditanyakan, feel free to contact or simply leave a comment. Semoga lancar dan sukses 🙂

PS:

  • Special thanks untuk Caritas yang sudah memberi saran terkait Bonn Ausweis
  • Mb Rere + Mas Nur yang sudah membantu proses penerjemahan dokumen ke Bahasa jerman. Jazakumullah khairan katsir :”)

[Resep] Home-made Teokpokki Halal

Postingan ini sebagai bentuk menghibur diri sehabis menyesal panjang gara-gara gak teliti en memubadzirkan uang 6 euro

Bermula dari “tragedi” salah beli bahan-bahan jadi Teokpokki di toko Korea (bahannya mengandung rice wine), saya kemudian melihat-lihat tutorial cara membuat home-made Teokpokki di youtube. Kalau dipikir-pikir, kenapa gak dari dulu nyobain bikinnya XD. Padahal bahan-bahannya gak sulit didapatkan dan semuanya ada di rumah.

Jadi, sehabis menangis tersedu sedan (*lebay), saya langsung eksekusi membuat teokpokki. Alhamdulillah, dari kesalahan dan kekurang-telitian saya beli bahan makanan, berujung pada “kerajinan” membuat teokpokki sendiri (terharuuuu TT____TT).

P_20180315_162800
Ini Teok (rice cake) dan saus instan yang saya beli di Toko Korea. Ternyata ada kandungan alkohol dan rice wine (murni kesalahan saya karena kurang teliti membaca ingredients-nya TT__TT)

Berikut resep a la Chikupunya’s Kitchen (modifikasi resep dari youtube dan cookpad):

Bahan-bahan

Untuk Tteok (Rice Cake):

  • 200 gr tepung beras
  • 1/4 sdt garam
  • 2 sdm minyak wijen
  • 1 sdm minyak sayur
  • Air mendidih secukupnya

Bahan gochujang (saus pedas):

  • 2 siung bawang putih (haluskan)
  • 1 siung bawang merah (haluskan)
  • 2 siung bawang bombay ukuran sedang, cincang
  • 2 buah paprika merah (haluskan)
  • 1 sdm minyak sayur
  • 6 sdm sambal botol
  • 1 sdm saus tomat
  • 2 sdm cabe bubuk
  • 1 buah terasi ukuran kecil (bisa diganti dengan minyak ikan)
  • 300 ml air
  • Gula, garam, merica secukupnya
  • 1 butir gula merah ukuran kecil

Bahan Tambahan

  • 100 gr Daging ayam potong dadu
  • 2 Sosis ayam/ sapi potong memanjang
  • 2 Telur ayam ceplok
  • Kubis/ sawi putih diiris-iris
  • Wortel dipotong korek api
  • Daun bawang iris miring kasar

Cara Membuat

Teok

  1. Campur tepung beras dan garam, kemudian tuang air mendidih sedikit demi sedikit, aduk sampai adonan kalis.
  2. Saat mengadon, agar tidak lengket, campurkan minyak sayur/ minyak wijen. Ini juga membantu saat membuat adonan berbentuk silinder.
  3. Rebus adonan yang sudah dibentuk di air mendidih, campur dengan sedikit minyak agar tidak lengket. Tunggu sampai adonan mengapung dan matang.
  4. Potong-potong adonan rice cake sesuai dengan selera.
  5. Tiriskan, kemudian lumuri dengan minyak sayur. Sisihkan.

Sebagai bayangan, bisa  melihat tutorial membuat rice-cakenya di video ini:

Perbedaannya, kalau di video di atas, adonan mentah dikukus dahulu, baru kemudian dibentuk silinder. Kalau saya, dibentuk dulu, baru kemudian dikukus/ rebus.

Gochujang

  1. Tumis bawang putih, bawang merah dan bawang bombay dengan minyak sayur hingga layu.
  2. Masukkan terasi sampai tercampur merata.
  3. Tambahkan air, masak hingga mendidih.
  4. Masukkan saus tomat, saus cabe, paprika merah halus, minyak wijen, dan cabe bubuk. Jika suka pedas, bisa ditambahkan cabe rawit merah yang sudah dihaluskan.
  5. Masukkan gula, gula merah, garam dan merica. Aduk aduk hingga air sedikit menyusut.
  6. Koreksi rasa sesuai selera

Teokpokki Lengkap

  1. Setelah saus pedasnya matang, masukkan bahan tambahan.
  2. Setelah bahan tambahan matang, kemudian masukkan teok (rice cake).
  3. Jika kuah menyusut, tambahkan sedikit air agar rice cake terendam saus.
  4. Masak hingga semua tercampur rata dan kuah meresap ke rice cake.
  5. Sajikan hangat.

Selamat menikmati 🙂

PS: Alhamdulillah, special thanks untuk mas suami yang sudah menghibur hati si istri karena bolak balik mewek karena menyesal salah beli XD dan memotivasi untuk mencari hikmah dari kesalahan

P_20180315_201756
Ini tampilan teokpokki buatan saya XD. Sampai postingan ini diunggah, teokpokki masih di wajan, belum saya sajikan di piring. hahaha

[Share] Berburu Barang di Flohmarkt

Salah satu hal menarik yang saya temui di Jerman adalah Flohmarkt (flea market/ pasar kaget untuk barang loak/ barang murah). Gambarannya, seperti suasana pasar kaget sunmor UGM Jogja, hanya saja waktunya tidak serutin sunmor (sekali dalam satu bulan saja).

Pengalaman mengunjungi flohmarkt di Bonn untuk pertama kalinya saya alami dua minggu setelah kedatangan saya di kota kecil ini (sekitar pertengahan Oktober 2017). Flohmarkt yang saya datangi, merupakan yang terbesar skalanya di Bonn dan diadakan untuk terakhir kalinya sebelum musim dingin tiba.

Saat mengetahui adanya flohmarkt ini (dapat info dari teman sesama Mahasiswa Indonesia di Bonn), saya langsung semangat dan memasukkan agenda kunjungan ke flohmarkt tersebut. Saya dan suami hendak mencari beberapa perlengkapan apartemen, keperluan bayi dan pakaian musim dingin.

Oya, lokasi flohmarktnya ternyata tak jauh dari apartemen kami. Terletak di Rheinaue Park, jarak yang ditempuk kurang lebih hanya 1.5 km, atau sekitar 20 menit jalan kaki.

Rheinaue Flohmarkt ini biasanya diadakan 8 kali dalam setahun atau hampir sebulan sekali di hari Sabtu di setiap bulannya. Khususnya selama musim dingin, flohmarkt ditiadakan mengingat suhu udara yang dingin dan kondisi lapak yang di luar ruangan. Untuk mengetahui jadwalnya selama setahun, kita bisa cek di website Rheinaue Flohmarkt.

Rheinaue merupakan taman kota Bonn yang besar, sehingga bisa dibayangkan seberapa luas, banyak dan besarnya flohmarkt ini. Kegiatan jual beli dimulai pada jam 08.00 sampai 18.00. Tapi, ada juga beberapa pelapak yang membuka lapaknya lebih terlambat atau menutup lebih awal. Jadi, waktu terbaik untuk mengunjunginya adalah saat siang hari (antara jam 11 – 14).

Ada berbagai lapak dan barang yang dijual, mulai dari makanan, pakaian bekas (paling banyak), peralatan dapur, perlengkapan bayi, hingga benda-benda antik. Harganya pun beragam. Mulai dari 1 euro hingga puluhan euro, tergantung jenis barang dan kualitasnya.

Btw, walaupun barang yang dijual kebanyakan adalah barang bekas, tapi kualitasnya masih bagus sehingga tetap worthed untuk dibeli. Daripada membeli baru, harganya bisa berkali-kali lipat. Oleh karenanya, opsi beli barang bekas di Rheinaue flohmarkt ini sangat cocok untuk pendatang baru di Bonn yang kondisi keuangannya mepet-mepet seperti saya XD.

Selamat menikmati flohmarkt dan aktivitas berburu barang kebutuhannya ya 😀

[Share] Tempat Belanja di Bonn

Sebagai seorang emak-emak, tentunya kondisi perut suami dan anak serta kebutuhan kenyamanan tempat tinggal menjadi prioritas bagi saya. Apalagi dengan kondisi finansial yang mepet-mepet di tanah rantau ini, saya harus putar otak agar kebutuhan dasar manusia bisa selaras dengan kondisi dompet :D.

Untuk itu, di dalam postingan ini saya sampaikan beberapa informasi hasil tanya sana sini dan pengalaman pribadi, seputar tempat membeli kebutuhan sandang, pangan dan papan di Bonn. Semoga info ini bisa bermanfaat terutama buat yang baru saja settlement di Kota Bonn :).

Belanja Harian

Untuk memenuhi kebutuhan harian, belanja bahan makanan mentah/ jadi dan juga shampo sabun dll bisa didapatkan di supermarket berikut ini:

  • Penny Market: Menurut info dari teman-teman saya, Penny cukup lengkap dan harganya cukup murah. Sayangnya jumlah tokonya tidak terlalu banyak. Tapi Alhamdulillah, supermarket terdekat dari apartemen kami adalah Penny ini :D. Sahabat yang selalu kami kunjungan tiap awal pekan
  • Aldi Sud: Aldi ini jumlah tokonya menurut saya paling banyak, hampir ada di berbagai sudut kota Bonn. Barangnya lumayan banyak, harganya standar, yang asyik kadang ada diskon juga. Aldi jadi alternatif buat saya kalau belanja karena ada beberapa barang yang gak ada di Penny, sehingga saya belinya di Aldi ini.
  • Kaufland: Untuk Hypermarket, Kaufland lah juaranya. Hanya ada satu di Bonn, yaitu di Tannenbusch Center. Super lengkap, harga lumayan bersaing (11-12 dengan Aldi). Kelebihan Kaufland adalah karena statusnya sebagai hypermarket, sehingga hampir semua kebutuhan harian ada di sini. Selain itu, yang cukup menarik adalah ada kasir self-service dimana kita sendiri yang men-scan bar-code barang belanjaan dan membayarnya ke mesin.
  • Lidl: Lidl statusnya 11-12 seperti Aldi. Namun jumlahnya tidak sebanyak Aldi. Saya jarang belanja ke sini karena lokasinya agak jauh dari rumah.
  • Edeka: Edeka juga gak jauh berbeda dengan Aldi dan Lidl. Tapi beberapa barang menurut saya harganya lebih mahal. Kalau kata teman, kelebihan Edeka adalah sayur dan buahnya yang fresh.
  • Netto: Netto termasuk supermarket yang murah juga produknya, tapi tidak terlalu signifikan bedanya dengan Penny. Jumlah tokonya agak terbatas. Saya baru sekali belanja di sini karena dari rumah lumayan jauh juga.
  • REWE: Nah, REWE termasuk supermarket “elit” karena biasanya terletak di pusat-pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis/ tengah kota. Barang-barangnya high quality, sehingga harganya sebanding dengan kualitasnya 🙂

toko

Oya, perlu diperhatikan bahwa supermarket dan toko di Jerman pada umumnya tutup pada hari Ahad. Selain itu juga jam tutupnya lebih awal dibandingkan dengan di Indonesia. Jadi baiknya cek dulu jam buka tutup tokonya ya.

Toko Produk Halal

Untuk produk daging, kehalalan mesti jadi prioritas. Mencari toko halal di Jerman umumnya tidaklah susah (masih bisa diakses walau sedikit jauh dari tempat tinggal). Selain itu, harganya juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di supermarket umum. Beberapa toko ini menjadi favorit saya dan keluarga untuk belanja produk daging halal dan juga beras plus bumbu-bumbu khas Turki/ Timur Tengah.

  • SES Friesdof: Toko ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Toko SES ini lumayan lengkap dan besar. Harga barangnya menurut saya sedikit lebih mahal dibanding toko halal lainnya. Lokasinya lumayan, sekitar 20 menit jalan kaki. Kalau lagi rajin dan pengen olahraga, biasanya kami ke sini.
  • Oba Market – Tannenbusch Center: Ini toko halal paling favorit kami. Akses ke sini lebih mudah (walau jauh), hanya perlu duduk cantik 20 menit tanpa ganti tram dan banyak jalan XD. Selain itu, lokasinya berdekatan dengan Action dan Kaufland. Jadi kami senang ke sini karena one stop di Tannenbusch Center tanpa perlu ke sana sini lagi. Dibanding SES, barangnya lebih sedikit dan tidak terlalu lengkap, tapi cukup sesuai dengan kebutuhan kami. Harganya juga lebih murah. Kadang ada promo ayam dan beras pulen 😀
  • Umit Markt – Rosental: Umit Market jadi alternatif belanja daging halal. Untuk ke sini lumayan agak ribet (baca: malas XD) karena harus ganti tram. Jadi, kalau Umit Markt yang di Rosental kalau pas sekalian ke toko Asia aja. hehehe…. Oya, barangnya cukup banyak tapi tidak sebesar SES. Harganya 11-12 dengan toko halal pada umumnya.

Toko Asia

  • Thai-Viet Asian Markt – Rosental: Toko Asia ini bisa dikatakan paling lengkap untuk ukuran Bonn. Ukuran tokonya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk belanja dan barangnya lengkap. Ada berbagai macam beras, tempe, kangkung segar, lele, bahkan daun jeruk beku XD. Biasanya kalau di sini saya membeli tauge, tepung tapioka, sambal dan kecap ABC, mie instan, kacang tanah dan beberapa bumbu khas Asia. Kalau beras, saya prefer di Oba Markt karena harganya lebih murah.
  • Chana Asian Store – Bad Godesberg: Yang ini bisa jadi alternatif kalau belanja produk Asia. Lokasinya lebih dekat dari rumah, bisa diakses dengan jalan kaki 30 menit (ini juga kalau lagi rajin olahraga XD). Tokonya agak kecil dan sempit, tapi untuk produk lumayan lah, walau gak selengkap Asian Markt di Rosental.
  • Seng Heng Market, Cologne: Kalau mau lebih lengkap dan agak jauhan perginya, bisa ke Seng Heng di Cologne. Ini super lengkap, so far. Tapi ya perlu effort yang lebih besar untuk ke sana. Mampir ke sini kalau pas ke Cologne aja dan nyari sesuatu yang gak ada di Toko Asia Rosental.

Obat, Kosmetik dan Perlengkapan Bayi

  • Drogerie Markt (DM): DM menjadi sahabat yang sering kami kunjungi selain Penny. Biasanya kami ke sini kalau mencari produk-produk bayi seperti susu, jus bayi, bubur dan biskuit bayi, popok dan salep + sabun bayi. Selain itu, produk terkait tubuh manusia lengkap terjual di sini, seperti obat generik, produk kosmetik dan perawatah tubuh, dll. Jumlah tokonya banyak ada di berbagai penjuru Bonn.  Oya, tips penting. Ada apps dari DM yang memberikan kupon-kupon diskon, penting dan sangat membantu bagi emak-emak seperti saya :D. Namanya: Gluckskind

1200px-Dm-drogerie-Logo.svg

Perlengkapan Rumah

  • Action: toko perlengkapan rumah dan alat kantor ini menurut saya adalah yang harganya paling murah dibandingkan yang lain. Tapi harga berbanding lurus dengan kualitas. Buat kami, kualitas barang di sini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu awal settlement di Bonn, kami memborong berbagai produk rumah seperti tempat cuci piring, sendok, mangkok, pisau, baterai, jam dinding, buku tulis dll. Tokonya ada beberapa di berbagai penjuru Bonn. Barangnya cukup lengkap dan tempatnya nyaman.

o

  • Woolworth (Bad Godesberg): Selain Action, toko perlengkapan rumah dan kantor yang cukup oke adalah Woolworth. Bedanya dengan Action, di Woolworth ada baju-baju yang harganya miring. Kualitas barangnya menurut saya lebih oke dibanding di Action, tapi ini berarti berpengaruh di harga juga. hehehe… So far ada beberapa barang di Action yang gak ada, bisa saya jumpai di sini.

Toko Buku

  • Thalia Bookstore – Zentrum: Thalia adalah toko buku terbesar dan ter”mewah” yang ada di Kota Bonn. Lokasinya juga di pusat keramaian. Saya ke sini mulanya karena mencari kartu pos (saja). Untuk buku, koleksinya sangat banyak, sayangnya dalam bahasa Jerman. hehehe… Untuk buku berbahasa Inggris ada juga, tapi gak banyak (mostly novel/ karya fiksi).
  • Amazon: Amazon bukan toko fisik sih, as you know. Tapi saya biasanya cari buku berbahasa Inggris di Amazon.de. Gak perlu pusing cari kemana-mana, tinggal search and click aja secara online XD.  Semua buku literatur untuk riset, saya beli di sini. Ada opsi buku bekas juga, jadi bisa lebih murah. Yang menarik, dengan jaringan Amazon, kita bisa akses buku murah walau penjualnya di UK bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kita cuma perlu nunggu lebih lama aja sampai bukunya sampai ke rumah.

Barang Bekas

  • Flohmarkt: flohmarkt itu mirip-mirip pasar kaget kalau di Indonesia. Flohmarkt biasanya diadakan sebulan sekali. Di Bonn yang terbesar adanya di Rheinaue Park, diadakan hari Sabtu (cek di sini). Ada juga flohmarkt di Tannenbusch Center, diadakan hari Minggu (cek jadwal). Yang dijual ada yang bekas (berkualitas), ada juga yang baru. Barang yang dijual bervariasi mulai dari baju, peralatan rumah tangga, buku, hingga barang antik. Saat ke sana, yang kami beli adalah baju musim dingin, sepatu kets dan karpet kecil. Harganya murah-murah, dan kadang bisa ditawar juga. Hati-hati jangan sampai kalap ya.
  • Toko Secondhand: toko secondhand ada cukup banyak di seputaran Bonn dan Cologne. Yang pernah kami kunjungi adalah Humana Cologne (mostly baju untuk dewasa) dan Lolipop (khusus baju dan mainan bayi/ anak). 
  • eBay Kleinanzeigen (online dan apps playstore): belanja online memang lebih praktis. Kita bisa mencari dan memilih barang dengan jari. Bedanya adalah sebagian besar barang yang kita ingin beli merupakan barang bekas dan harus dijemput sendiri ke tempat penjualnya. Memang agak riweuh kalau harus nyamperin satu per satu ke rumah penjualnya, tapi sebanding dengan harga barang yang murah :). 

    Sementara itu tips singkat berbelanja di Bonn 🙂

    [Share] Persiapan Keberangkatan ke Jerman: Packing

    Alhamdulillah, akhirnya saya sekeluarga bisa tiba di Bonn dengan selamat pada 7 Oktober 2017. Walau sudah dipersiapkan sejak berbulan-bulan yang lalu, keberangkatan kami ke Jerman ini bisa dikatakan cukup mendadak dikarenakan visa suami dan anak baru terbit menjelang jadwal kegiatan perkuliahan dimulai. Hal ini tentu berdampak pada rencana keberangkatan. Dari yang seharusnya tanggal 23 September, menjadi tanggal 6 Oktober 2017. Ini berarti kami hanya memiliki satu minggu persiapan dan finalisasi packing serta urusan-urusan lain sebelum berangkat.

    Jika ditanya mengapa tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari? Sudah. Tapi untuk memastikan apakah suami dan anak bisa berangkat bareng, kami harus menunggu keluarnya visa. Saya pribadi sudah menyiapkan barang bawaan sejak sebulan sebelumnya (visa saya terbit 25 Agustus).

    Bagaimanapun siapnya, H-1 sebelum keberangkatan somehow kita masih harus bongkar pasang barang bawaan untuk memastikan mana barang-barang yang prioritas, yang juga sesuai dengan kapasitas bagasi yang didapatkan dari maskapai. Banyak printilan dan detail yang tidak boleh ketinggalan. Terlebih, barang-barang milik Zahra, walau kecil-kecil, tapi sangat banyak jenisnya.

    Dari pengalaman ini, saya hendak berbagi cerita dan tips, apa saja yang perlu dibawa dan disiapkan sebelum berangkat terutama jika berangkatnya boyongan dengan pasangan dan anak.

    1. Pastikan Berapa Fasilitas Bagasi + Bawaan Kabin dan Ketentuannya dari Maskapai

    Sebelum packing, pastikan berapa total berat dan jumlah tas/ koper yang diberikan gratis oleh maskapai. Jangan sampai saat di bandara kita harus membayar kelebihan barang bawaan.

    Saat berangkat, saya menggunakan Turkish Airlines. Untuk kapasitas bagasinya sebagai berikut:

    • Bagasi : per orang dewasa seberat 30 kg. Untuk bayi/ infant sebesar 10 kg + 1 stroller
    • Kabin : per orang dewasa 1 tas kabin seberat 8 kg, dan 1 tas personal berukuran kecil

    Untuk pengalaman kami, total berat bagasi yang bisa dibawa seberat 30 kg + 30 kg + 10 kg + 1 stroller plus kabin 8 kg + 8 kg + 3 hand carry, yang dikemas dalam 6 jenis tas/ koper di bagasi plus 5 tas di kabin (hahaha… mau pindahan rumah XD).

    Terkait ketentuan dari Turkish Airlines, tiap barang di bagasi jika dimungkinkan maksimal beratnya 23 kg per piece agar tidak menyulitkan petugas yang mengangkat-angkat barang.

    1. Buat Daftar Barang Bawaan

    Membuat daftar barang bawaan sifatnya wajib. Terutama karena terlalu banyak printilan keperluan, terutama buat si dedek bayi. Saran saya, buat daftar sedetail mungkin (nama barang dan jumlahnya).

    Daftar bawaan ini dibagi menjadi beberapa bagian:

    1. Pakaian
    2. Alat Mandi
    3. Elektronik
    4. Alat makan dan dapur
    5. Bumbu dan makanan
    6. Obat-obatan
    7. Peralatan Bayi

    Walaupun beberapa barang bisa dibeli di kota tujuan, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan dengan mudah. Misalnya: obat-obatan. Dari informasi yang saya dapatkan dari teman-teman di Jerman, obat-obatan tidak dijual sebebas di tanah air, dan ada prosedur yang cukup panjang untuk bisa berobat. Apalagi ada obat yang biasa dipakai kita, yang belum tentu cocok jika mengganti merk/ jenisnya, contohnya kalau saya balsem dan minyak kayu putih.

    3. Gunakan Plastik Vacuum

    Untuk memudahkan packing, suami mendapat tips dari teman untuk menggunakan plastik vacuum agar ruangan di koper bisa lebih banyak. Plastik vacuum ini bisa dibeli secara online atau di toko-toko perlengkapan seperti IKEA atau ACE Hardware. Ada beberapa ukuran plastik vacuum, disesuaikan saja ukurannya dengan ukuran koper kita.

    977635_A1_V5
    Sumber: Google

    4. Timbang Barang Bawaan

    Menimbang barang bawaan baik untuk bagasi maupun di kabin hukumnya wajib supaya saat check in di bandara kita tidak perlu kelabakan bongkar pasang bagasi karena kelebihan muatan. Kalau ada modal lebih, bisa saja membayar kelebihan bagasinya. Tapi berhubung biasanya mahal, lebih baik dihitung secara cermat berat bawaannya :D.

    Untuk menimbang, bisa menggunakan timbangan gantung khusus untuk traveling yang bisa dibeli secara online atau di toko-toko (saya beli di Ace Hardware). Bisa juga sih pakai timbangan badan, tapi agak repot kalau angka di timbangannya tertutup kopernya  :D.

    254575_luggage-scale-electronic-slv-50kg-el10_1
    Timbangan Koper. Sumber: Ace Hardware

    Jangan lupa beri selisih 1-2 kg, karena biasanya ada perbedaan berat saat ditimbang di rumah dengan di bandara. Saat di rumah, total berat barang kami sekitar 70 kg, tapi saat di bandara ada kelebihan sekitar 3 kg. Alhamdulillah, oleh petugasnya masih diberikan toleransi sehingga tidak perlu bayar kelebihannya

    5. Pembagian Barang ke Koper

    Saat packing, bagi rata jenis barang ke beberapa koper agar beratnya merata. Hal ini juga sebagai antisipasi jika ada pemeriksaan di bea cukai bandara asal/ tujuan dan antisipasi kalau ada bagasi yang hilang/ tersesat (semoga tidak).

    Sementara itu dulu tips persiapan packingnya 🙂